NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Jejak Kapal di Balik Akar

Adrian berdiri sendirian di tengah ruangan bundar yang sekarang bergetar hebat. Rasa sepi mendadak nyergap dia, jauh lebih ngeri daripada pas dia dikepung pasukan perak tadi. Sekar cewek yang selama ini jadi satu-satunya orang yang dia percaya di tengah kegilaan ini baru aja ngaku kalau dia harus "bangun" jadi orang lain.

"Kar! Lu jangan bercanda ya! Buka pintunya!" teriak Adrian sambil gedor-gedor dinding logam yang sekarang kerasa anget. Tapi nggak ada jawaban. Yang ada cuma suara dengungan mesin yang makin kenceng, suaranya mirip lebah raksasa yang lagi marah. Adrian ngelihat ke arah tabung hibernasi di tengah ruangan.

Sosok wanita di dalem sana, yang wajahnya mirip banget sama Sekar tapi versi lebih dewasa dan tegas, kelihatan mulai gerak. Jari-jarinya yang pucat ngetuk-ngetuk kaca tabung dari dalem.

Adrian mundur, napasnya tersengal. Dia ngerasa kayak lagi nonton film fiksi ilmiah, tapi bedanya, dialah pemeran utamanya yang nggak dapet naskah. Dia ngelihat sekeliling.

Dinding ruangan ini bukan cuma logam biasa. Pas dia fokusin matanya, yang sekarang punya kemampuan "zoom" otomatis gara-gara jantung emasnya, dia liat kalau dinding itu terbuat dari susunan sel-sel organik yang digabung sama sirkuit emas.

"Gila... ini bukan kapal selam. Ini beneran kapal ruang angkasa," gumam Adrian. Tiba-tiba, layar kecil di samping tabung itu ganti tampilan. Bukan lagi pesan siaga, tapi peta bintang yang sangat rumit. Titik merah berkedip di sebuah galaksi yang Adrian nggak kenal, terus ada garis lurus nuju ke arah Bumi, tepat di koordinat Malabar.

Di bawah peta itu, ada barisan teks yang pelan-pelan berubah dari bahasa aneh jadi bahasa yang bisa dia mengerti “Log Kapten: Hari ke-365.000. Hibernasi dilanjutkan. Planet Bumi ternyata sudah ditumbuhi parasit cerdas yang menyebut diri mereka 'Manusia'. Kami akan menunggu sampai energi Malabar matang untuk memulai penuaian.”

Darah Adrian rasanya membeku. Parasit cerdas? Jadi selama ini manusia di mata "mereka" cuma kayak jamur yang nempel di buah jeruk? Dan Malabar itu bukan sekadar kebun teh, tapi semacam "pupuk" atau "sumber bahan bakar" buat mereka balik lagi?

Tiba-tiba, suara speaker di ruangan itu bunyi lagi, tapi kali ini bukan suara Sekar. Suaranya jernih, tenang, tapi dingin banget. "Unit Adrian, silakan mendekat ke konsol pusat. Proses sinkronisasi jiwa sedang dimulai."

"Unit? Nama gua Adrian! Dan gua nggak mau sinkronisasi apa pun!" bentak Adrian ke arah langit-langit. "Ketidaktahuan adalah berkah yang sudah habis masanya, Unit Adrian," suara itu lanjut lagi.

"Anda diciptakan oleh Pengelola (Ayah Anda) untuk menjadi adaptor. Tanpa Anda, sistem kapal induk ini tidak bisa mengenali frekuensi Bumi yang sudah terkontaminasi emosi manusia. Anda adalah kabel penyambung antara teknologi kami dan tanah Malabar."

Adrian megang dadanya. Jantung emasnya berdetak makin kenceng, ngerespons suara itu. "Berarti bokap gua kerja buat kalian? Dia bukan ilmuwan jenius yang mau nyelametin dunia, tapi cuma pesuruh?!"

"Pengelola adalah keturunan dari kru yang tertinggal. Dia menjalankan tugasnya dengan baik. Dia menyiapkan wadah terbaik yaitu Anda untuk memastikan kepulangan kami berjalan lancar."

Adrian ngerasa mual. Semua kenangan dia, semua perjuangan dia buat jadi CEO yang jujur, sampai pelariannya ke Malabar, semuanya ternyata cuma bagian dari persiapan "kepulangan" makhluk asing ini.

SREEEKKK...

Pintu tabung hibernasi itu kebuka. Uap dingin keluar menuhin ruangan. Wanita yang mirip Sekar itu keluar, dia pake baju zirah tipis yang warnanya perak metalik. Dia buka matanya, dan matanya bener-bener perak murni, tanpa ada warna hitam sedikit pun.

Dia jalan ke arah Adrian. Gerakannya luwes banget, kayak nggak punya tulang. Pas dia udah berdiri tepat di depan Adrian, dia ngulurin tangannya yang halus ke pipi Adrian.

"Kamu punya mata yang sama dengan dia," ucap wanita itu. Suaranya mirip Sekar, tapi ada gema aneh di belakangnya. "Dia siapa?" tanya Adrian, nyoba buat nggak gemeteran.

"Penciptamu. Versi asli dari data yang ada di otakmu. Di dunia kami, dia adalah seorang arsitek energi. Di sini, dia disebut manusia sebagai Dewa atau Leluhur. Tapi bagiku, dia cuma pria yang terlalu cinta sama planet biru ini."

Wanita itu narik tangannya, terus jalan ke arah meja hologram besar di tengah ruangan. "Nama saya adalah Komandan Lyra. Dan Sekar... dia adalah fragmen kesadaran saya yang sengaja saya lepas ke permukaan buat jagain kamu. Dia adalah 'sensor' saya di dunia manusia."

Adrian ngerasa kayak hatinya dipelintir. "Jadi Sekar yang selama ini nemenin gua... yang makan bareng gua, yang manjat pohon bareng gua... dia itu cuma 'sensor'?"

Lyra noleh sedikit. Ada sorot mata yang sedikit melunak di sana.

"Dia punya memori sendiri, Adrian. Dan ya, perasaan yang dia rasain itu nyata, karena dia terbuat dari emosi manusia yang kami pelajari. Tapi sekarang, fragmen itu sudah kembali ke induknya. Saya adalah Sekar, dan Sekar adalah saya."

"Gua mau Sekar yang lama balik," ucap Adrian pelan tapi tegas. Lyra nggak jawab. Dia malah neken sesuatu di meja hologram, dan seketika dinding ruangan itu berubah jadi transparan. Adrian bisa ngelihat apa yang terjadi di luar sana, jauh di atas permukaan laut.

Pemandangannya horor. Tangan raksasa dari langit itu sekarang udah bener-bener nyentuh permukaan air. Tapi itu bukan tangan daging. Itu adalah struktur bangunan raksasa yang lebarnya mungkin seluas satu kota.

Cahaya biru memancar dari ujung-ujung "jari"-nya, dan tiap kali cahaya itu nyentuh air, air laut langsung nguap jadi awan perak yang cantik tapi mematikan. Di daratan baru yang tadi muncul, pasukan perak ribuan jumlahnya lagi berlutut, nyambut kedatangan kapal induk yang lebih gede lagi dari langit.

"Itu adalah 'The Harvester'," kata Lyra. "Mereka datang buat ngambil benih emas yang ada di dalem diri kamu. Kalau benih itu diambil, seluruh ekosistem baru yang tadi kamu liat bakal mati, dan Bumi bakal balik jadi planet gersang tanpa energi. Kami butuh energi itu buat perjalanan pulang ke galaksi kami."

"Terus manusia?"

"Manusia akan tetap hidup, tapi tanpa teknologi perak, tanpa energi Malabar. Kalian akan balik ke zaman di mana kalian harus berjuang buat sekadar dapet api. Itu adalah harga yang pantas karena kalian sudah 'meminjam' energi kami selama ribuan tahun tanpa izin."

Adrian ngepel tangannya. Dia ngelihat ke arah bunga emas di dalem botol yang sekarang udah nyatu sama badannya. Dia bisa ngerasain energi yang sangat besar, energi yang bisa ngerubah dunia, tapi energi itu juga yang bikin dia jadi incaran semua orang.

"Gua nggak bakal kasih benih ini," kata Adrian.

Lyra senyum tipis. "Kamu nggak punya pilihan, Adrian. Tubuhmu didesain buat menyerahkan benih itu begitu 'The Harvester' mendarat. Kamu itu kayak buah yang udah mateng. Begitu pemiliknya dateng, kamu bakal jatuh sendiri."

Tiba-tiba, ruangan itu guncang lagi. Tapi kali ini guncangannya beda. Ada suara ledakan dari arah pintu masuk terowongan bawah tanah. Di layar monitor, Adrian liat Jatmiko gadungan atau Adrian 0.1 lagi lari nuju ke arah mereka.

Dia nggak sendirian. Dia bawa pasukan robot-robot tua yang badannya karatan tapi matanya nyala merah. Mereka nembakin laser ke arah pintu-pintu otomatis kapal induk.

"Si cacat itu lagi," umpat Lyra. "Dia pikir dia bisa ngebajak proses ini." "Dia kakak gua, kan?" tanya Adrian."Dia adalah kesalahan protokol. Dia punya ambisi manusia yang terlalu besar.

Dia nggak mau Bumi balik jadi zaman batu, dia mau dia yang jadi penguasa tunggal pake energi emas kamu. Dia jauh lebih bahaya daripada 'The Harvester', karena dia tahu cara nyiksa jiwa manusia."

Adrian ngelihat ke arah pintu yang mulai penyok karena hantaman dari luar. Dia ngerasa terjepit di antara dua pilihan gila, antara harus ngasih energinya ke alien buat dibawa pulang dan bikin manusia melarat, atau energinya diambil sama "kakak"-nya yang sosiopat buat jadi diktator dunia.

"Ada pilihan ketiga nggak?" tanya Adrian ke Lyra.

Lyra diem sebentar. Dia ngelihat ke arah jantung emas di dada Adrian yang terus berdenyut. "Ada. Tapi itu sangat berisiko.

Kamu harus nge-link jantung emas kamu langsung ke inti kapal induk ini. Kamu bisa ngerubah fungsi kapal ini dari 'Pemanen' jadi 'Pemberi'. Kamu bisa nyebarin energi ini ke seluruh manusia secara permanen, jadi mereka nggak perlu lagi tergantung sama Malabar atau kami."

"Tapi?"

"Tapi kamu bakal jadi bagian dari mesin ini selamanya. Kamu nggak bakal bisa keluar dari ruangan ini. Kamu bakal jadi 'baterai' abadi yang jagain peradaban manusia. Kamu bakal liat dunia berkembang, tapi kamu nggak bakal bisa nyentuh tanahnya lagi. Kamu nggak bakal bisa minum kopi tubruk Wak Haji lagi."

Adrian narik napas panjang. Dia bayangin wajah warga desa Malabar. Dia bayangin Sekar... Sekar yang asli, yang suka ngomel kalau dia pake sepatu mahal di kebun.

"Gua nggak mau jadi baterai abadi," kata Adrian. "Gua mau hidup."

"Kalau gitu, bertarunglah," Lyra nyerahin sebuah alat kecil bentuknya kayak kelereng perak ke tangan Adrian. "Ini adalah kunci manual buat sistem pertahanan pribadi kamu.

Begitu Adrian 0.1 masuk, kamu gunain ini buat sinkronisasi raga kamu sama sistem keamanan kapal. Kamu bakal punya kekuatan yang setara sama mereka, tapi cuma buat waktu yang singkat."

BAM!

Pintu ruangan itu akhirnya jebol. Adrian 0.1 masuk dengan baju zirah hitam yang kelihatan sangar banget. Setengah wajahnya yang luka bakar itu nyengir lebar.

"Halo, Adikku tersayang. Makasih ya udah nungguin gua di sini. Tempat ini bagus juga, pantesan Bokap sayang banget sama proyek ini," ucap Adrian 0.1 sambil nodongin senjata laser laras panjang ke arah Adrian.

"Lu bukan kakak gua," kata Adrian dingin. "Gua adalah lu yang lebih jujur, Adrian! Gua nggak butuh cinta manusia, gua nggak butuh kebun teh! Gua cuma butuh kekuatan buat nggak dibuang lagi!"

Adrian 0.1 mulai nembak. Adrian loncat ngehindar, gerakannya jadi super cepet gara-gara kelereng perak di tangannya. Dia ngerasa badannya kayak dapet suntikan adrenalin dosis tinggi. Dia lari nembus dinding, muncul di belakang Adrian 0.1, dan ngasih satu pukulan telak yang ngeluarin percikan listrik emas.

DUAARRR!

Adrian 0.1 terpental nabrak tabung hibernasi yang kosong. Tapi dia langsung bangun lagi. Pasukan robotnya mulai masuk dan ngepung Adrian sama Lyra. Di luar sana, "The Harvester" udah hampir mendarat sempurna. Awan perak di langit makin tebel, mulai nurunin hujan yang bukan air, tapi cairan metalik yang bikin semua benda yang disentuhnya jadi keras kayak baja.

"Adrian! Cepet putusin!" teriak Lyra sambil nangkis serangan laser pake perisai energinya. Adrian ngelihat ke arah konsol pusat. Dia ngelihat ke arah Adrian 0.1 yang lagi siap-siap ngeluncurin roket mini dari bahunya. Dan dia ngelihat ke arah Sekar maksudnya Lyra yang terus berjuang di sampingnya.

Tiba-tiba, Adrian dapet ide gila. Ide yang nggak ada di protokol alien, nggak ada di rencana bokapnya, dan nggak ada di ambisi kakaknya. Dia ngetuk jantung emasnya tiga kali, terus dia telen kelereng perak dari Lyra.

"Apa yang kamu lakukan?! Itu bisa bikin raga kamu meledak!" Lyra teriak kaget.

Adrian nggak jawab. Badannya mulai ngeluarin uap emas yang panas banget. Dia lari bukan ke arah musuh, tapi dia lari ke arah dinding kapal yang transparan. Dia hantem dinding itu pake seluruh energinya sampai pecah.

Dia terjun bebas keluar dari kapal induk yang lagi melayang naik, menuju ke arah tangan raksasa dari langit itu. "Gua bukan adaptor, gua bukan salinan, dan gua bukan baterai!" teriak Adrian di tengah angin kenceng. "Gua adalah 'The Shark', dan hari ini... gua bakal ngebajak seluruh sistem kalian!"

Adrian ngerasain badannya terbakar hebat pas dia makin deket sama cahaya biru dari "The Harvester". Dia nyoba buat masuk ke frekuensi kapal induk dari langit itu, nyoba buat "ngobrol" sama mesin yang jauh lebih gede dari apa pun yang pernah dia bayangin.

Tepat sebelum dia nabrak ujung struktur raksasa itu, Adrian ngelihat ada sebuah jendela kecil di bagian bawah kapal induk langit. Dan di balik jendela itu, dia ngelihat sosok pria yang pake jas rapi, lagi duduk santai sambil minum teh.

Pria itu noleh, ngelihat Adrian yang lagi terbang ke arahnya, terus dia ngangkat cangkir tehnya seolah-olah lagi ngajak toast. Pria itu adalah... Adrian. Tapi bukan Adrian masa depan, bukan Adrian 0.1.

Itu adalah Adrian yang pake setelan CEO-nya yang paling mahal, tapi wajahnya nggak punya emosi sama sekali. Adrian yang itu cuma gerakin bibirnya tanpa suara: "Selamat datang di tingkat kedua, Adrian. Sekarang permainan yang sebenernya baru dimulai." Seketika, seluruh dunia jadi putih total. Bukan karena ledakan, tapi karena semua cahaya di Bumi mendadak ketarik masuk ke satu titik di dada Adrian.

Siapakah sosok Adrian "CEO" yang ada di dalam kapal induk langit tersebut? Apakah selama ini ada tingkatan realitas yang lebih dalam yang belum diketahui Adrian?

Saat Adrian mencoba membajak sistem "The Harvester", apakah dia justru terjebak dalam perangkap yang sudah disiapkan untuk menguji kesadarannya lebih jauh lagi? Dan saat seluruh cahaya di Bumi menghilang masuk ke dalam dirinya, apa yang akan tersisa dari planet ini ketika cahaya itu dilepaskan kembali?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!