Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iya!
Tautan jemari saling mengetuk pada punggung tangan seiring dengan detik jarum jam yang terus berputar pagi ini. Matanya menatap kosong pada apa saja yang ada di hadapannya. Sekotak susu dan sebungkus roti abon yang kian dingin di hadapannya, tampak tak menggiurkan secara tiba-tiba.
Dadanya mengembang perlahan hingga dia tak dapat lagi menghirup udara di sekitarnya. Lalu, pemiliknya mengembuskan nafas dengan cepat hingga menimbulkan suara yang tak terlalu keras namun sanggup membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh sesaat.
"Kenapa sih, Lan? Berisik tahu!" tegur Betari yang baru saja kembali dengan sebotol infus kosong di tangannya.
Perempuan itu kini duduk di samping Alana, mulai mengetik pada layar komputer yang memang dibiarkan menyala sejak pagi. Matanya melirik sejenak pada Alana yang tak mengindahkan ucapannya. Temannya itu malah kembali mengembuskan nafas kasar setelah beberapa detik berlalu.
Betari lantas menancapkan sedotan pada sekotak susu di depan Alana. "Nih, minum dulu. Biar nggak hidupnya nggak terlalu berat," ujarnya.
Alana tak menjawab, namun tangannya terulur untuk menggenggam permukaan kotak susu itu. Tak bergerak, hanya memegangnya dengan tatapan kosong. Dia benar-benar tak berselera.
"Pak Kinan mau nikahin aku," katanya berbisik.
Meski Betari kini tengah mengetik dan bising keyboard hampir menulikannya, dia masih dapat mendengar suara lirih Alana. Hal itu membuatnya sontak menoleh. "Terus? Kamu juga terima?" tanyanya.
Lagi-lagi Alana menghela nafas kasar. "Nggak tahu," ucapnya.
"Loh, kok nggak tahu sih, Lan? Emang selama ngobrol sama dia, kamu nggak mikirin jawabannya?" timpal Betari
Alana memajukan bibir bawahnya. Kepalanya menunduk, menatap lurus pada sekotak susu yang ada dalam genggamannya. Itulah salahnya, dia datang pada Kinan dengan kondisi ragu dan berharap bahwa Kinan akan membuatnya yakin dengan dua pilihan yang tak seimbang dalam kepalanya.
"Sebenarnya tuh, aku mau nolak aja." Alana melirik pada Betari sebentar. "Waktu di cafe kemarin kan dia juga bilang buat nolak aja."
Betari kini tersenyum jengkel. "Terus, kenapa kamu datangin dia lagi? Mulai naksir kamu sama dia?" cecarnya.
Mendengar itu, Alana mendelik. Ucapan Betari itu terdengar sangat tidak mungkin terjadi dalam pikirannya. "Nggak lah! Nggak mungkin aku suka gitu aja sama orang yang baru aku kenal. Pasienku pula."
Kini, Betari mengistirahatkan punggungnya pada sandaran kursi yang tak terlalu empuk. Kedua tangannya terlipat di depan dada, cukup erat. Matanya masih terus fokus pada Alana, menunggu kalimat apa lagi yang akan keluar dari bibir tanpa polesan itu.
"Kamu percaya nggak, kalau kesehatan tubuh manusia itu juga bergantung pada suara sana hatinya?" tanya Alana.
Betari sempat terdiam sebentar seolah berpikir. Lalu, dia mengangguk. "Iya, toh banyak juga penyakit yang datangnya dari pikiran."
"Setelah kedatangan Bu Ella ke rumah malam itu dan minta aku buat menikah sama Pak Kinan.... Percaya nggak percaya, Ibu kayak lebih bugar dari biasanya, Tar. Dia nggak butuh dipapah buat jalan dari kamar ke ruang tamu. Dia bahkan bersih-bersih rumah kemarin," tutur Alana. Entah dia harus senang atau sedih karena perubahan ibunya itu.
Lipatan tangan Betari melonggar seketika. Kini bukan lagi perasaan Alana yang menjadi bahan pertimbangan, tapi juga perasaan ibu Alana. Seseorang yang sudah bertahun-tahun hampir tak bisa berdiri dan berjalan dengan baik itu bisa pulih dalam hitungan hari. Tentu Betari mengerti alasan mengapa Alana kembali bimbang.
Tak ada seorang pun yang senang jika melihat orang tersayangnya harus terus menderita sakit. Apalagi di posisi Alana saat ini. Perempuan itu tentu menginginkan kesehatan ibunya yang bertahan seperti saat ini atau bahkan semakin pulih di kemudian hari.
"Kamu tahu, Tar. Aku cuma punya Ibu yang bikin aku mau bertahan sampai sekarang," lanjut Alana.
Betari mengangguk, diusapnya pelan lengan Alana. "Udah, sekarang jangan terlalu dipikirin. Nanti begitu pulang, baru kamu omongin apa yang ada di kepala kamu ke ibumu. Oke?"
...****************...
Seperti gelagatnya setiap merasa ketegangan menyelimuti dirinya, pipinya menggembung seketika oleh udara yang dia raup dengan rakus. Matanya bergantian melirik pada ibunya dan pintu rumah yang terbuka lebar malam ini. Bibirnya mengulas senyum sekilas begitu tak sengaja bertemu pandang dengan ibunya.
"Apa pun yang terjadi nanti, Lan.... Ibu nggak akan memaksa kamu untuk menerimanya," ucap Laksmi.
Alana mengangguk. "Makasih, Bu," jawabnya.
Meski memang Laksmi tidak akan memaksanya, namun Alana tentu dapat melihat sorot penuh harap di balik mata itu. Hal itu sangat didukung oleh isi kepalanya yang terus mendorongnya untuk menerima semuanya. Seperti kata Kinan malam itu, Alana harus bersiap menghadapi Kinan.
Setelah embusan nafas panjang yang keluar dari mulutnya, Alana dapat mendengar suara langkah kaki di luar sana. Begitu langkah kaki itu berhenti, dia dapat mendengar ketukan dan aroma parfum yang tak lagi asing di indera penciumannya.
"Masuk, El! Aku sama Alana sudah nunggu kalian dari tadi," ucap Laksmi sambil berdiri dari duduknya.
Mendengar itu, Alana mengerutkan keningnya. "Kalian?" gumamnya bingung. Karena setahunya, hanya Ella yang akan datang malam ini.
Alana mengangkat kepalanya perlahan. Di sana tak hanya Ella yang berdiri sambil tersenyum hangat padanya. Ada satu siluet lain yang mengekor di belakangnya, tubuh yang tak lagi asing bagi Alana. Sosok itu mengangkat alisnya sejenak guna menyapa Alana dari kejauhan.
"Pak Kinan?" gumamnya dengan mata terbelalak.
Saat itulah Alana mengerti alasan ibunya memintanya untuk bersolek malam ini. Ternyata kedatangan Ella bukanlah kunjung biasa seperti sebelumnya. Wanita itu pasti sudah mendengar jawaban dari Kinan yang menerima untuk menikah dengannya.
"Lan? Kok diam?" tegur Laksmi kala melihat Alana mematung di tempatnya.
"Hah?" Alana menoleh pada dua wanita yang kini berjalan mendekat dan duduk tak jauh darinya. "M-malam, Bu Ella," sapanya terbata sambil mencium tangan wanita itu.
Begitu tubuhnya kembali tegak, dia melirik ke arah Kinan. Haruskah dia mencium tangan pria itu juga? Tapi, bukankah itu berlebihan? Tapi, Kinan kan juga tamu yang lebih tua darinya.
"Kenapa?" tanya Kinan begitu menyadari dirinya ditatap sebegitunya oleh Alana.
Niat Alana untuk bersikap sopan pada pria itu hilang sudah. Niat baiknya menguap bersama dengan nada dingin dari kalimat Kinan. Dia hanya menggeleng, lalu kembali mendudukkan tubuhnya.
Sementara Ella dan Laksmi tengah berbincang sebentar, Alana sesekali melirik ke arah Kinan. Pria itu tampak begitu tenang, seolah malam ini bukanlah malam yang terlalu berpengaruh baginya. Padahal begitu Alana memberikan jawaban nanti, bisa jadi akan merubah hidupnya setelah ini.
"Jadi..., gimana, Alana? Sudah siap jawabannya?" tanya Ella begitu mendapati Alana yang membisu di samping ibunya.
Setelah pertanyaan itu, semua mata tertuju padanya. Tak terkecuali Kinan. Pria itu malah menjadi yang paling tajam tatapannya. Namun, Alana tak yakin dengan apa yang diinginkan oleh tatapan itu.
Alana hanya bisa melihat k arah ibunya. Dia dapat melihat bibir itu tak lagi pucat, bukan karena polesan bibir. Matanya tak lagi sayu seperti sebelumnya. Alana sangat ingin melihat pemandangan ini setiap harinya.
"Kalau kamu nggak--"
"Iya!" potong Alana saat ibunya membuka suara. Dia tak ingin berpikir lebih lama lagi, dia hanya ingin melihat wajah segar itu lebih lama lagi. "Saya mau menikah dengan Kinan."
Pandangannya beralih pada Ella yang tampak terkejut sejenak. Lalu, bibir itu tertarik membuat simpul yang manis. Ella tersenyum bahagia.
Namun begitu tatapan Alana beralih pada Kinan, pria itu memiliki ekspresi yang berbeda. Satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum hambar yang entah apa artinya. Tanpa membalas tatapan penuh tanya dari Alana, pria itu menunduk dalam diam.