Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Anakmu Sekarat dan Aku Tak Lagi Kau Dengar
Malam itu, Surabaya diguyur hujan rintik yang membawa hawa lembap menyekat dada. Di dalam kamar yang luas, keheningan pecah oleh suara tangisan Arya yang tidak biasa. Bukan tangisan lapar atau popok yang basah, melainkan rintihan kecil yang menyayat hati.
Anindya tersentak bangun. Begitu tangannya menyentuh kening sang putra, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kulit bayi mungil itu terasa membara.
"Ya Tuhan... Arya, kamu panas sekali, Nak," bisik Anindya panik. Ia segera mengambil termometer. Angka digital menunjukkan 39,5°C.
Dengan tangan gemetar, Anindya meraih ponselnya. Pikiran pertamanya tentu saja Yoga. Hanya Yoga. Ia menelepon nomor suaminya, berharap suara bariton yang menenangkan itu segera menjawab.
Namun, hanya nada sambung yang terdengar. Satu kali, dua kali, hingga lima kali, tetap tidak ada jawaban.
*****
Di sebuah sudut ruang tunggu VIP Rumah Sakit Sehati, Yoga baru saja keluar dari ruang operasi setelah prosedur darurat yang melelahkan selama empat jam. Jas dokternya tersampir di kursi.
"Saya ke kamar mandi sebentar, Riana. Tolong jaga barang-barang saya," ucap Yoga sambil berlalu dengan langkah gontai.
"Tentu, Dokter Yoga," jawab Riana dengan senyum simpul yang sulit diartikan.
Tak lama setelah Yoga menghilang di balik pintu kamar mandi, ponsel Yoga yang tergeletak di meja bergetar hebat. Nama "Istriku" berkedip di layar disertai foto Anindya yang sedang menggendong Arya.
Riana melirik ke arah kamar mandi, lalu beralih ke ponsel itu. Ada kilat ambisi yang gelap di matanya. Tanpa ragu, ia meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau.
"Halo?" suara Riana terdengar sangat tenang, bahkan cenderung manis yang dibuat-buat.
Di seberang telepon, Anindya tertegun. Suara wanita. Di jam satu malam? "Halo... Ini siapa? Mas Yoga mana? Saya istrinya."
"Oh, Nyonya Aditama," Riana berucap dengan nada meremehkan yang halus.
"Dokter Yoga sedang sangat sibuk sekarang. Ada komplikasi serius di ruang operasi dan beliau tidak boleh diganggu oleh siapa pun, termasuk keluarga. Ini masalah nyawa pasien, Nyonya."
"Tapi... tapi anak saya, Arya... badannya panas sekali. Tolong sampaikan pada Mas Yoga, ini darurat!" suara Anindya sudah pecah oleh tangis.
"Nyonya, mohon pengertiannya. Dokter Yoga adalah seorang profesional. Jika Anda terus menelepon, Anda hanya akan mengganggu konsentrasinya. Lebih baik Anda bawa anak Anda ke dokter anak besok pagi saja. Jangan bersikap kekanak-kanakan," ujar Riana dengan nada ketus sebelum mematikan telepon secara sepihak.
Riana dengan cepat menghapus log panggilan terakhir dari Anindya. Ia meletakkan kembali ponsel itu tepat di posisi semula.
****
Beberapa menit kemudian, Yoga kembali sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil. "Ada telepon, Riana?" tanya Yoga refleks.
Riana tersenyum manis, menggelengkan kepalanya dengan sangat meyakinkan.
"Tidak ada, Dok. Hanya beberapa pesan grup rumah sakit. Bagaimana kalau kita lanjut diskusi soal draf kontrak investor Singapura tadi? Tanggung, tinggal sedikit lagi."
Yoga menghela napas, ia merasa sangat lelah dan merindukan rumah, tapi dedikasinya mengalahkan rasa kantuknya.
"Baiklah, mari kita selesaikan."
Yoga duduk kembali, fokus pada tumpukan kertas dan layar laptop bersama Riana, tanpa pernah tahu bahwa di belahan kota yang lain, istrinya sedang berjuang sendirian di tengah keputusasaan. Ia tidak tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan untuk "berdiskusi" dengan Riana adalah detik-detik di mana ia kehilangan kepercayaan wanita yang paling mencintainya.
Di rumah, Anindya menatap layar ponselnya yang gelap dengan tatapan kosong. Air matanya jatuh mengenai pipi Arya yang sedang merintih. Kalimat Riana tadi seperti belati yang menusuk langsung ke jantungnya.
"Jangan bersikap kekanak-kanakan."
Anindya tertawa getir di tengah isaknya.
"Jadi, anakmu sendiri bukan lagi prioritasmu, Mas? Nyawa pasienmu lebih berharga daripada nyawa anakmu?"
Anindya menghapus air matanya dengan kasar. Ia bangkit, menyambar jaket dan menggendong Arya dalam pelukannya. Jika suaminya sudah tidak bisa lagi diandalkan, maka ia sendiri yang akan menjadi benteng bagi putranya.
Hujan kian deras mengguyur Surabaya, seolah ikut merasakan sesak yang menghimpit dada Anindya. Dengan langkah tergesa dan napas memburu, ia mendekap erat tubuh Arya yang semakin panas. Sopir pribadi mereka, Pak Maman, memacu mobil dengan kecepatan tinggi menembus jalanan yang licin menuju Rumah Sakit Sehati.
"Cepat, Pak! Arya sudah mulai mengigau," isak Anindya. Tangannya tak henti-henti mengusap wajah kecil putranya yang memerah.
Setibanya di UGD, suasana mendadak riuh. Perawat segera mengambil alih Arya. Setelah pemeriksaan intensif, dokter jaga memberikan diagnosis yang membuat lemas lutut Anindya.
"Nyonya, Arya terkena infeksi virus pencernaan. Dehidrasinya cukup mengkhawatirkan karena panasnya yang terlalu tinggi. Dia harus segera menjalani rawat inap untuk observasi ketat," jelas dokter tersebut.
Anindya hanya bisa mengangguk pasrah. Arya pun dipindahkan ke ruang VVIP. Setelah sang putra terlelap karena pengaruh obat dan dipasang infus, Anindya menitipkan bayi itu sejenak kepada asisten rumah tangga yang baru saja tiba menyusul.
****
Dengan sisa tenaga dan hati yang hancur berkeping-keping, Anindya berjalan menuju lift. Tujuannya hanya satu: lantai atas, ruang kerja suaminya. Ia ingin melihat dengan mata kepala sendiri, sedahsyat apa "nyawa pasien" yang sedang diselamatkan Yoga hingga mengabaikan darah dagingnya sendiri.
Koridor lantai atas terasa begitu sunyi, namun suara dari dalam ruang kerja Direktur Utama itu terdengar jelas. Pintu itu tidak tertutup rapat.
"Hahaha, Dokter Yoga bisa saja. Tapi saya setuju, ide Anda untuk ekspansi itu sangat brilian," suara Riana terdengar begitu ceria, jauh dari kesan sedang menangani situasi darurat medis.
Anindya membeku di depan pintu. Di dalam sana, ia melihat Yoga sedang duduk bersandar santai di kursi kebesarannya, sementara Riana berdiri di dekatnya sambil memegang cangkir kopi. Tidak ada gawat darurat. Tidak ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Yang ada hanyalah keakraban dua orang yang seolah lupa waktu. Anindya mendorong pintu itu dengan kasar.
BRAKK!
Yoga dan Riana tersentak kaget. Yoga langsung berdiri, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa melihat istrinya berdiri di sana dengan rambut berantakan, mata sembap, dan pakaian yang basah terkena sisa hujan.
"Anin? Kamu... kenapa di sini? Jam berapa ini?" tanya Yoga terbata.
Anindya menatap Yoga dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki.
"Selamat malam, Dokter Prayoga Aditama. Maaf mengganggu waktu berharga Anda bersama... rekan kerja Anda."
Riana berdehem, mencoba merapikan pakaiannya. "Nyonya Aditama, saya pikir tadi saya sudah bilang kalau Dokter Yoga tidak bisa—"
"Keluar," potong Anindya tajam, matanya menghujam Riana. "Keluar sekarang atau aku akan memastikan karirmu di rumah sakit ini berakhir malam ini juga."
Riana melirik Yoga, mencari pembelaan, namun Yoga hanya terpaku menatap Anindya yang terlihat sangat mengerikan dalam diamnya. Dengan wajah kesal, Riana menyambar tasnya dan keluar dari ruangan tanpa kata.
Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruangan. Yoga melangkah mendekat. "Anin, ada apa? Kenapa kamu bicara begitu pada Riana? Kita sedang bahas proyek—"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Yoga. Suara benturan tangan Anindya dengan kulit Yoga menggema di ruangan sunyi itu. Yoga terhuyung ke samping, memegangi pipinya yang seketika memerah dan terasa panas. Ia menatap istrinya dengan tidak percaya.
"Anin! Kamu gila?!" bentak Yoga, emosinya mulai terpancing.
"Aku gila?!" suara Anindya naik satu oktav, bergetar karena amarah yang memuncak.
"Anakmu... Arya Satria Prayoga... dia sedang sekarat di bawah! Dia diinfus, dia panas tinggi karena infeksi! Dan ayahnya... ayahnya yang jenius ini malah asyik tertawa, minum kopi, dan bercanda dengan wanita lain di jam dua pagi!"
Yoga mematung. "Apa? Arya sakit?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu!" Anindya mendorong dada Yoga dengan sisa tenaganya. "Aku meneleponmu belasan kali! Aku memohon padamu lewat telepon! Tapi apa? Wanitamu itu yang mengangkat dan bilang jangan ganggu kamu karena kamu sedang menyelamatkan nyawa orang! Nyawa siapa, Yoga?! Nyawa egomu?!"
Yoga menggeleng cepat, wajahnya mendadak pucat pasi. "Anin, dengar... aku tidak tahu. Riana tidak bilang ada telepon masuk dari kamu. Aku di kamar mandi tadi, aku—"
"Cukup, Yoga! Cukup!" Anindya mundur selangkah, menatap suaminya seolah pria di depannya adalah orang asing yang paling ia benci. "Aku lelah. Aku lelah bersaing dengan rumah sakitmu, dengan ambisimu, dan dengan wanita-wanita di sekelilingmu.
Kamu bukan lagi Yoga yang aku kenal."
Air mata Anindya jatuh, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa muak.
"Lebih baik kita akhiri saja semua ini, Yoga. Ceraikan aku. Pergilah dengan duniamu yang hebat itu. Biarkan aku dan Arya hidup tenang tanpa harus menunggu pria yang tidak pernah punya waktu untuk kami."
Tanpa menunggu balasan, Anindya berbalik dan berlari keluar ruangan, meninggalkan Yoga yang berdiri mematung di tengah kemegahan ruang kerjanya yang tiba-tiba terasa seperti penjara yang dingin.
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera