NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Racun Fitnah dan Anugerah di Rahim Cinta”

Yoga menempelkan telapak tangannya di dada, tepat di posisi jantungnya, seolah ingin mengatakan, "Aku masih di sini, aku masih milikmu." Namun, Anindya justru menggeleng perlahan dengan air mata yang kembali luruh. Ia menarik diri, bersembunyi di balik pilar balkon yang kokoh, memutus kontak mata itu secara sepihak.

Yoga memejamkan mata rapat-rapat, menghalau air mata yang hampir jatuh. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia masuk ke dalam taksi.

"Jalan, Pak," ucap Yoga lirih, suaranya nyaris hilang.

Di atas sana, begitu suara mesin mobil taksi itu menjauh dan hilang di telan bisingnya kota Jakarta, pertahanan Anindya runtuh sepenuhnya. Tubuhnya yang mungil luruh ke lantai porselen balkon yang dingin. Ia bersandar pada pilar besar, memeluk lututnya sendiri.

Anindya menutup mulutnya kuat-kuat dengan kedua telapak tangan. Ia tidak ingin Ibu Kanaya atau para penjaga mendengar isak tangisnya yang pecah. Bahunya berguncang hebat, sesenggukan yang menyayat hati keluar dari sela jarinya.

"Maafkan aku, Mas... maafkan aku," bisiknya di tengah tangisan. "Aku lebih baik kehilanganmu sekarang, daripada harus melihatmu mati perlahan karena penyakitku. Kamu terlalu berharga untuk hancur bersamaku."

Setiap tetes air mata yang jatuh ke lantai balkon itu adalah bukti cintanya yang luar biasa besar, sebuah pengorbanan yang ia anggap benar, meski sebenarnya ia sedang menelan racun kebohongan yang sengaja ditanamkan untuk memisahkan mereka.

Di dalam taksi, Yoga tidak tinggal diam. Matanya yang merah kini berkilat tajam. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Cakra.

"Cakra, kumpulkan semua data medis Anindya dari sepuluh tahun lalu. Dan satu lagi... cari tahu di mana posisi Dokter Fahri sekarang. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menghirup udara bebas setelah meracuni pikiran istriku."

Dendam dan cinta adalah dua mesin yang menggerakkan Yoga saat ini. Ia tidak akan membiarkan fitnah Fahri menghancurkan hidupnya. Yoga tahu, ia harus bergerak cepat sebelum keluarga Rahardjo melakukan tindakan medis yang salah pada Anindya.

****

Malam itu, Jakarta diguyur hujan lebat. Yoga mengenakan hoodie hitam dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak datang sebagai menantu atau dokter terhormat, melainkan sebagai penyusup di rumah sakit milik mertuanya sendiri, Sentral Medika.

Melalui bantuan Cakra yang meretas sistem kartu akses, Yoga berhasil masuk lewat pintu staff-only di lantai basemen. Ia menuju laboratorium pusat tempat sampel darah pasien VIP disimpan. Ia tahu, sore tadi Anindya baru saja menjalani tes darah lengkap atas perintah Dokter Reza.

"Posisimu aman, Bos. Penjaga sedang pergantian shift di lobi," suara Cakra terdengar lewat earpiece.

Yoga bergerak dengan presisi seorang dokter bedah. Ia menemukan tabung reaksi bertuliskan nama Anindya.

Dengan tangan gemetar namun terlatih, ia mengambil sebagian sampel darah itu ke dalam tabung kecil miliknya sendiri untuk ia uji di laboratorium pribadinya di Surabaya.

"Aku akan membuktikan bahwa kamu bersih, Anin. Dan aku akan menyeret orang yang memfitnahmu ke neraka," bisik Yoga tajam.

Setelah mendapatkan sampel darah, Yoga tidak langsung pulang. Ia memiliki satu urusan yang belum selesai. Cakra telah melacak posisi Dokter Fahri yang sedang merayakan keberhasilannya di sebuah bar eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.

Musik jazz yang mengalun tenang di dalam bar seketika terasa mencekam saat Yoga melangkah masuk. Ia melihat Fahri sedang duduk di pojok ruangan, menyesap wiski dengan senyum puas di wajahnya.

Yoga tidak bicara. Ia berjalan mendekat dan tanpa peringatan, sebuah pukulan mentah menghantam rahang Fahri hingga pria itu tersungkur dari kursinya.

Brakk!

"Yoga?! Apa-apaan kamu!" teriak Fahri sambil memegangi wajahnya yang mulai berdarah.

Yoga menarik kerah kemeja Fahri, mengangkatnya hingga kaki pria itu hampir tidak menyentuh lantai. Matanya berkilat penuh amarah yang mengerikan. "Kau pikir kau bisa membodohiku dengan cerita Hepatitis B itu, Fahri? Kau pikir aku dokter amatir yang tidak tahu bahwa donor darah sepuluh tahun lalu itu sudah melalui proses netralisasi darurat?"

"Aku hanya mengatakan kebenaran! Kamu pembunuh, Yoga!" Fahri masih mencoba memprovokasi.

Yoga kembali mendaratkan pukulan di perut Fahri, membuat pria itu terbatuk-batuk hebat.

"Dengar, bajingan. Aku sudah mengambil sampel darah Anindya. Jika hasil tes itu keluar dan terbukti kau berbohong, aku tidak hanya akan mencabut izin praktikmu, tapi aku akan memastikan kau membusuk di penjara karena pencemaran nama baik dan percobaan sabotase medis."

Yoga menghempaskan Fahri ke lantai dengan kasar. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman suara—hasil penyadapan Cakra—saat Fahri merencanakan fitnah ini bersama seorang informan gelap.

"Kau menggunakan trauma istriku untuk memisahkan kami. Itu adalah kesalahan terakhir yang kau buat dalam hidupmu," Yoga meludah ke samping, menatap Fahri dengan pandangan seolah pria itu adalah sampah.

Fahri gemetar hebat. Ia tidak menyangka Yoga akan bergerak secepat dan sebrutal ini.

"Yoga, tunggu... aku bisa jelaskan..."

"Simpan penjelasanmu untuk polisi," Yoga merapikan jaketnya. "Cakra, kirimkan rekamannya ke Dokter Reza sekarang juga. Biarkan mertuaku tahu siapa ular yang sebenarnya mereka pelihara."

Yoga terbang kembali ke Surabaya malam itu juga dengan pesawat carteran. Di laboratorium pribadinya, ia menunggu hasil centrifuge dan screening darah Anindya dengan jantung yang berdegup kencang. Jam dinding berdetak seolah mengejek kecemasannya.

Begitu mesin berbunyi beep, Yoga langsung membaca hasilnya di layar monitor.

HBsAg: NON-REACTIVE.

Hepatitis B Virus DNA: NOT DETECTED.

Yoga luruh di kursinya. Ia tertawa getir sekaligus lega. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. "Dia bersih... Istriku bersih. Kamu tidak sakit, Anin. Kamu tidak sakit..."

Namun, rasa lega itu berganti menjadi amarah baru saat ia mengingat bagaimana Anindya menangis di balik pilar balkon, merasa dirinya adalah sebuah aib. Yoga segera menyambar ponselnya. Ia harus kembali ke Jakarta. Kali ini, ia tidak akan datang untuk memohon, tapi untuk menjemput miliknya dengan bukti yang tak terbantahkan.

Pagi itu, mansion keluarga Rahardjo dipenuhi aura ketegangan yang pekat. Ibu Kanaya telah mengumpulkan beberapa kerabat besar keluarga Rahardjo untuk mengumumkan

"kondisi kesehatan" Nayla (Anindya) sekaligus secara tidak langsung mempersiapkan proses perceraian putrinya dengan Yoga.

Di lantai atas, Anindya duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang kuyu. Kepalanya berdenyut hebat. Setiap kali ia teringat wajah hancur Yoga di depan gerbang kemarin, dadanya terasa sesak.

"Anin, ayo turun. Semua sudah menunggu," panggil Ibu Kanaya dengan nada otoriter.

Anindya mencoba berdiri, namun dunia di sekelilingnya tiba-tiba berputar. Rasa mual yang luar biasa menghantam ulu hatinya.

"Mama... kepalaku sakit sekali..."

Belum sempat Ibu Kanaya menjawab, tubuh Anindya limbung. Ia jatuh pingsan di atas karpet bulu kamarnya.

"Nayla! Nayla!" teriak Kanaya histeris. Pelayan dan penjaga segera berlarian. Anindya segera dilarikan ke Rumah Sakit Sentral Medika dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Satu jam kemudian, koridor VVIP Sentral Medika berubah menjadi medan tempur. Yoga baru saja mendarat dan langsung menuju rumah sakit setelah Cakra memberi tahu bahwa ambulans keluar dari kediaman Rahardjo.

Yoga muncul dengan napas terengah, pakaiannya masih berantakan sisa semalam. Begitu melihat sosok Yoga, Ibu Kanaya langsung bangkit dari kursi tunggu dan menampar pipi Yoga dengan keras.

PLAK!

"Masih berani kamu menampakkan muka di sini?! Anakku pingsan karena stres memikirkan penyakit yang kamu berikan! Pergi kamu, pembunuh!" teriak Kanaya hingga memancing perhatian staf medis.

Yoga tidak mundur selangkah pun. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar amplop berlogo laboratorium independen ternama.

"Diam dan baca ini, Nyonya Kanaya!" Yoga melemparkan kertas hasil lab itu tepat ke depan wajah mertuanya. "Istriku bersih! Tidak ada virus Hepatitis B, tidak ada darah kotor! Semua itu hanya fitnah murahan dari Dokter Fahri yang kalian percayai mentah-mentah!"

Kanaya tertegun, tangannya gemetar memungut kertas itu. Matanya membelalak membaca tulisan Non-Reactive di sana. "Ini... ini tidak mungkin. Fahri bilang—"

"Fahri adalah ular!" potong Yoga tajam. "Dan kalian adalah orang tua yang hampir menghancurkan mental putri kalian sendiri karena ego!"

Tiba-tiba, pintu ruang perawatan terbuka. Dokter Reza keluar dengan wajah yang sulit diartikan. Ia memegang sebuah folder medis baru. Di belakangnya, beberapa suster tampak sibuk menyiapkan peralatan.

"Yoga... Kanaya... hentikan keributan ini," ucap Dokter Reza dengan suara berat.

"Papa, lihat ini! Yoga bilang Nayla tidak sakit!" Kanaya menyodorkan kertas dari Yoga.

Dokter Reza mengambil kertas itu, membacanya sekilas, lalu menghela napas panjang. Ia menatap Yoga dengan tatapan yang kini melunak, penuh rasa bersalah.

"Hasil lab-mu benar, Yoga. Dan hasil lab yang baru saja keluar dari rumah sakit ini juga mengonfirmasi hal yang sama. Anindya tidak mengidap Hepatitis B. Gejala mual, pusing, dan lemas yang dia rasakan selama bulan madu hingga pingsan tadi... itu bukan karena virus."

Yoga mengerutkan dahi. "Lalu apa, Pa? Kenapa dia pingsan?"

Dokter Reza tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap menantunya. "Anindya sedang hamil, Yoga. Usia kandungannya baru jalan empat minggu. Dia mengalami morning sickness yang parah diperburuk dengan tekanan psikologis atau stres psikosomatis karena fitnah itu."

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Yoga. Amarahnya yang meluap seketika sirna, digantikan oleh rasa haru yang menghantam ulu hatinya. "Hamil? Anindya... hamil anakku, Pa?"

Ibu Kanaya terduduk lemas di kursi tunggu, menutupi mulutnya dengan tangan. Rasa malu dan sesal menyergapnya begitu hebat. Ia telah memaki ayah dari cucunya sendiri sebagai pembunuh.

Tanpa mempedulikan protokol rumah sakit, Yoga menerobos masuk ke dalam ruang perawatan. Di sana, Anindya baru saja siuman dengan selang infus di tangannya. Matanya yang sayu menatap Yoga dengan bingung.

"Mas... Yoga? Kenapa Mas di sini? Mas nanti tertular..." bisik Anindya lemah.

Yoga berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan Anindya dan menciumnya berkali-kali dengan air mata yang mengalir deras.

"Sayang, dengarkan aku. Kamu tidak sakit. Fahri berbohong. Kamu bersih, Anin... kamu bersih," Yoga mengelus perut rata Anindya dengan sangat lembut. "Di dalam sini... ada buah cinta kita. Kamu sedang hamil, Sayang. Kita akan punya bayi."

Anindya tertegun, tangannya bergerak menyentuh perutnya sendiri. "Hamil? Aku... aku tidak sakit?"

"Tidak, Sayang. Kamu sehat. Anak kita sehat," Yoga mengecup kening Anindya dengan sangat lama. "Ayo kita pulang ke Surabaya.

Tidak akan ada lagi yang boleh memisahkan kita, tidak juga Mama atau Papamu. Aku akan membawamu pulang sekarang juga."

Anindya tersenyum di tengah tangis bahagianya. Ia menarik leher Yoga, memeluk suaminya erat-erat seolah tidak ingin dilepaskan lagi.

Di luar pintu, Ibu Kanaya dan Dokter Reza hanya bisa berdiri mematung, menyaksikan betapa kuatnya ikatan cinta yang hampir saja mereka hancurkan. Yoga benar-benar telah memenangkan kembali ratunya, dan kali ini, dengan sebuah anugerah kecil yang akan melengkapi keluarga mereka.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!