NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Lily Of The Valley

Addam dan Mahesa sama-sama terpaku. Rasa terkejut itu tergambar jelas di wajah mereka. Pasalnya, pada layar ponsel Addam saat itu terpampang foto yang mirip dan nyaris identik dengan foto dalam dokumen kasus; potret wanita bergaun putih dengan tubuh terikat di dalam sebuah koper. Yang membedakan keduanya adalah plastik yang membungkus kepala si korban dan latar pengambilan foto itu.

“Anjir...! Lo dapet foto ini dari mana, Dam?!” Mahesa setengah berbisik, tapi nadanya tajam.

Addam menelan ludah. Ia menyodorkan ponselnya lebih dekat. “Ini, ada akun anonim yang ngirim hal-hal aneh itu ke gue, Sa...” Addam menunjukkan pesan-pesan yang diterimanya di sosial media pada Mahesa.

Jari Mahesa langsung menyambar ponsel itu, matanya menyapu cepat pesan-pesan di media sosial yang ditunjukkan Addam. Dada mereka sama-sama terasa mengencang. Mahesa merasa foto itu bukan sekadar kiriman iseng, melainkan sebuah pesan yang disengaja.

“Gila…! Ini harusnya diselidik lebih jauh lagi, Dam. Gue yakin ini bukan cuma akun iseng!” Mahesa menatap Addam penuh arti. Jelas sekali saat itu jiwa detektifnya tengah mengambil alih.

“Ya gue juga niatnya gitu, Sa. Gue pengen banget laporin. Tapi mungkin karena gue terlalu panik setelah dapet kabar soal Astrid, gue bener-bener gak inget soal masalah akun ini...” jelas Addam dengan gusar.

“Oke. Akun ini kita pinggirin dulu. Kita bahas ini nanti, satu-satu. Sekarang lo tenang. Kita balik lagi ke pembahasan awal kita. Soal ini...” Mahesa meraih kembali dokumen kasus yang tadi sempat ia simpan.

Addam mengangguk. Pria itu mengambil nafas dalam sambil mengumpulkan kembali fokusnya.

Sebenarnya, Addam cukup penasaran ingin bertanya tentang hal yang akan Mahesa ungkapkan padanya. Tapi sebelum pertanyaannya itu muncul, Mahesa sudah lebih dulu memberi Addam sebuah keterangan yang mengejutkan.

“Lo tahu? Setelah diautopsi, penyebab kedua korban ini kehilangan nyawa adalah justru karena overdosis obat penenang,” ungkap Mahesa sambil menunjuk sebaris kalimat pada gambar yang tercetak di sana.

Addam sangat tercengang. Kedua matanya melebar dan mulutnya menganga. Saat itu semua kosakata dalam otaknya seperti menghilang alias Addam benar-benar kehabisan kata-kata.

“O-overdosis lo bilang?!”

“Betul,” Mahesa mengangguk. “Dan lo tahu yang lebih gilanya apa? Setelah korban meninggal, pelaku masih lanjut mencekik korban seolah dia masih belum puas menghabisi nyawa korbannya. Jika menilik dari sisi psikologis, tindakan seperti ini cenderung terjadi karena emosi pelaku yang meledak-ledak."

Addam masih hanya merasa heran ketika Mahesa mengatakan semua hal itu padanya.

“Ini tipikal over kill. Kita bisa menduga kalau kemungkinan besar pelaku menyimpan dendam atau ia merasa sangat marah pada korbannya. Orang normal gak bakal ngelakuin sejauh itu kalau sekadar mau menghabisi nyawa,” lanjut Mahesa.

“Berarti mereka yang jadi korban ini sama-sama punya masalah dengan orang yang sama?” Addam menatap Mahesa lekat-lekat.

Namun, alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan rasa penasarannya, Addam justru dibuat lemas oleh jawaban yang Mahesa berikan.

Mahesa berdeham sebelum ia menjawab pertanyaan Addam. “Begini, Dam. ‘Kasus Gaun Putih’ ini kebetulan bukan gue yang tanganin, jadi gue sendiri memang kurang tahu pasti detail proses penyelidikannya gimana. Tapi setelah gue tanya ke tim yang terlibat… Mereka bilang kalau penyelidikan kasus ini emang alot, cenderung gak ada kemajuan,” ungkap Mahesa dengan nada suara lesu.

“Terus yang bikin lo curiga sama kasus menghilangnya adek gue, apa? Kenapa?”

“Lo masih simpen foto yang dipaketin ke si Naya?” Mahesa bertanya pada Addam sebelum ia memberi jawaban.

Addam terkesiap. Ingatannya seketika menampilkan potret seram yang sangat ia ingin lupakan.

“Bentar, gue ambil dulu,” Addam beringsut menuju ruangan tempat tidurnya. Pria itu membuka lemari pakaian dan mengambil foto yang disimpannya dibawah tumpukan bajunya.

“Ini,” Addam menyerahkan foto itu pada Mahesa. “Kenapa lagi sama foto itu?”

“Coba perhatiin,” Mahesa menaruh dan menjajarkan foto Astrid dengan gambar dari dua set dokumen yang dibawanya. “Mereka sama-sama pakai kalung dengan model yang mirip, Dam.”

Kedua alis Addam tertaut. Ia benar-benar baru menyadari bahwa saat itu Astrid memang mengenakan sebuah kalung yang sangat Addam kenal. Hal itu baru disadarinya sekarang karena mungkin sebelumnya Addam masih terlalu terkejut ketika melihat foto itu.

“Gak mungkin…” Addam menolak hal yang baru saja muncul dalam pikirannya. “Sa, ini bukan kalung biasa…” Addam seperti tertarik masuk ke dalam foto itu.

Kedua mata Mahesa membulat melihat tingkah Addam yang tidak biasa. “Maksud lo apa, Dam?”

“Gue kenal kalung ini, Sa… Gue, dulu pernah beli kalung pasangan sama Sofia. Kita sengaja pesen khusus, dan ini mirip sama kalung yang dia punya…” suara Addam mulai terdengar gemetar.

“Sofia, Dam?!” Mahesa sangat tercengang mendengar ucapan Addam barusan.

Addam mengangguk. “Iya. Sofia. Kalung punya gue bentuk tangkai bunga, sedangkan kalung milik dia bentuk kelopak bunga itu,” Addam menatap foto Astrid, menatap lebih dalam pada kalung yang menggantung pada leher adiknya itu.

Bagi Addam, kalung yang liontinnya terbuat dari perak berbentuk bunga Lily Of The Valley itu memang bukan hanya sekadar kalung biasa. Kalung itu menyimpan terlalu banyak kenangan yang sayangnya terasa pahit jika Ia ingat kembali.

Kemunculan kembali kalung itu seperti membuka kembali semua ingatan masa lalu Addam yang selama ini ia simpan di ruang khusus dalam memorinya. Ruangan itu sangat gelap, sepi dan udaranya selalu dingin.

Mahesa mengambil nafas dalam. Meskipun dirinya juga merasa sangat terkejut, sebisa mungkin ia harus tetap tenang dan menenangkan Addam.

“Dam,” Mahesa menepuk pundak Addam yang terus tertunduk. “Jujur gue juga masih belum ngerti sama semua kejadian ini. Tapi dengan lo ngasih tahu hal itu tadi ke gue, gue yakin kita udah dekat sama jawaban dari teka-teki ini…”

Tak terasa bulir air mata Addam menetes menuruni pipinya. Secepat kilat pria itu menyeka wajahnya dan beralih menatap Mahesa yang berada di hadapannya.

Senyum getir yang Addam tunjukkan mengatakan jelas bagaimana campur aduknya perasaannya saat itu.

#

Di lain tempat, Naya hanya bisa berharap cemas sambil terbaring di ranjang perawatan. Penyakit lambung yang dideritanya kembali mencari perhatiannya setelah sekian lama tak pernah bertingkah.

Menurut dokter yang memeriksanya, faktor terbesar yang menyebabkan penyakit lamanya itu datang kembali adalah karena stres yang tak terkendali. Hal itu terasa masuk akal bagi Naya karena beberapa hari ini ia memang tak bisa berhenti memikirkan Astrid.

“Kira-kira Kak Mahesa mau ngapain ya tadi pagi nanyain alamat Kak Addam? Apa jangan-jangan dia nemu hal penting?” Naya berbicara sendiri sambil menatap kantong infus yang isinya sudah hampir habis.

Pokoknya gue gak boleh ketinggalan info soal Astrid, begitu pikir Naya.

#

“Dam. File ini gue titip di lo,” Mahesa menyodorkan map coklat itu pada Addam.

“Emang boleh, Sa?” kedua alis Addam tertaut.

“Sebenernya gak boleh, sih. Tapi karena situasinya mendesak, mau gimana lagi,” Mahesa mengendikkan bahunya.

“Hmmm... Oke kalo gitu.”

“Oh iya. Tadinya gue mau ngajak Si Naya juga, tapi dia katanya gak bisa hadir, jadi nanti lo kabarin dia aja,” kata Mahesa sambil mengenakan sepatunya.

“Eh? Iya gue belum lihat dia,” Addam melirik ke arah kamar Naya dan melihat pintunya tertutup rapat.

“Dia bilang maagnya kumat, jadi sekarang lagi di Puskes,” balas Mahesa disusul senyuman tipis diujung bibirnya. “Oke, gua cabut dulu.”

Addam mengangguk perlahan. “Oooh oke sip. Thank you, Sa.”

Dari tempatnya berdiri, Addam menatap Mahesa yang semakin berjalan menjauh. Dalam hatinya ia bersyukur memiliki teman yang bersedia hadir dan membantunya melewati kesulitan yang tengah dialaminya.

#

#

#

Bunga Lily Of The Valley.

Gambarnya aja secantik itu... Apalagi kalau dibikin jadi liontin kalung 🤍

*Pic by Pinterest

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!