Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tidak Biasa Di Simpan Sendiri
Pagi itu Aisyah keluar rumah sebelum Karno datang.
Ia tidak pamit. Tidak memberi tahu siapa pun. Hanya berjalan keluar lewat pintu samping yang jarang dipakai, menutupnya perlahan agar engsel tidak berbunyi, lalu melangkah ke jalan desa dengan langkah yang dijaga tetap biasa, bukan terburu-buru, bukan mencurigakan. Hanya perempuan yang sedang berjalan pagi seperti biasa.
Tapi tangannya menggenggam kertas catatan semalam di saku bajunya, kertas yang ia tulis dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil, kata per kata yang ia dengar dari balik dinding rumahnya sendiri.
Anak itu.
Sang Dewi Kuasa.
Suguhan sudah siap.
Ia tidak bisa menunggu sampai sore. Tidak bisa menunggu sampai ada waktu yang "tepat." Karena semalam ia mendengar sesuatu yang membuatnya mengerti bahwa waktu yang tepat tidak akan datang dengan sendirinya.
Rumah Fariz tidak jauh — tiga tikungan dari rumahnya, melewati jalan tanah yang masih basah embun. Aisyah berhenti di sudut pagar bambu tetangga, cukup dekat untuk melihat pintu depan rumah Fariz, cukup jauh untuk tidak terlihat sedang menunggu.
Sucipto keluar lebih dulu — cangkul di bahu, langkah yang sudah terburu ke arah sawah. Tidak menoleh ke belakang. Aisyah menunggu beberapa menit lagi.
Lalu pintu terbuka.
Fariz keluar — tidak lewat pintu depan, tapi lewat samping, gerakannya hati-hati seperti orang yang tidak ingin ketahuan. Ia menutup pintu pelan, melirik kiri-kanan, lalu mulai berjalan.
Aisyah mengikuti.
Tidak terlalu dekat. Cukup untuk tidak kehilangan jejak, tapi cukup jauh agar Fariz tidak menoleh dan melihatnya. Jalan desa masih sepi, sebagian besar warga sudah di ladang atau sawah, hanya anak-anak kecil dan wanita tua yang terlihat sesekali dari balik jendela.
Fariz berbelok ke kiri, menuju arah yang Aisyah kenali meski ia tidak pernah benar-benar ke sana.
Pondok Al Mukhlisin.
Di tikungan sebelum pondok, Aisyah berhenti.
Ada dua orang berdiri di sisi jalan — bertubuh besar, kepala plontos, berdiri dengan cara orang yang sedang menunggu sesuatu. Aisyah mengenali salah satunya. Anak buah ayahnya. Yang satunya lagi ia tidak yakin, tapi cara mereka berdiri, terlalu diam, terlalu fokus ke satu arah membuat semakin jelas bahwa mereka sedang mengawasi.
Fariz sudah terlalu jauh di depan untuk menyadari mereka.
Aisyah mundur setengah langkah, punggungnya menemukan dinding rumah di belakangnya. Napasnya ia tahan tidak penuh, hanya cukup agar dadanya tidak naik turun terlalu cepat. Salah satu dari mereka menoleh ke arahnya.
Tidak.
Bukan ke arahnya. Melewati arahnya. Matanya menyapu jalan, berhenti sebentar di sudut tempat Aisyah berdiri, terlalu gelap untuk dilihat dengan jelas dari jarak itu, lalu kembali ke depan.
Keduanya mulai berjalan. Mengikuti Fariz dari jarak yang sama seperti yang Aisyah jaga.
Aisyah tidak bergerak sampai mereka hilang di tikungan.
Lalu ia menarik napas panjang, gemetar di ujungnya dan melangkah ke arah yang berbeda. Bukan mengikuti Fariz lagi. Ia sudah kehilangan jejaknya. Dan mengikuti dua orang itu terlalu berbahaya.
Ia harus memutar.
Jalan alternatif itu lebih panjang melewati kebun singkong, menyusuri pematang yang sempit, melewati beberapa rumah kosong yang pintunya sudah lama tidak dibuka. Aisyah bergerak lebih cepat sekarang, tidak lagi menjaga agar langkahnya terlihat santai. Tidak ada yang melihat di sini.
Sampai ia tiba di ujung jalan yang dikelilingi semak bambu rapat, jalur yang jarang dilewati karena sempit dan becek saat hujan. Tapi hari ini kering. Dan dari arah depan, ia mendengar langkah.
Aisyah berhenti di balik semak.
Fariz muncul dari tikungan sendirian, tangan memegang sesuatu di balik bajunya, wajahnya fokus ke tanah seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Aisyah melangkah keluar.
Daun kering berderak di bawah kakinya.
Fariz berhenti. Mendongak.
Keduanya saling menatap bingung, terkejut, dan sesuatu yang lain yang tidak punya nama tapi sudah lama ada di antara jarak yang selalu mereka jaga.
POV FARIZ
Pagi itu Fariz tidak seharusnya keluar rumah.
Ia tahu itu. Ayahnya sudah bilang dengan jelas 'jangan ke pondok lagi.' Suara Sucipto kemarin tidak keras, tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat Fariz tidak bisa tidur nyenyak: bukan kemarahan, tapi ketakutan yang tidak berani disebut dengan namanya.
Tapi mimpi tentang Kyai Salman tidak berhenti. Dan kejadian di sawah Bu Karsih tidak bisa ia tepis begitu saja.
Fariz menunggu sampai ayahnya keluar, cangkul di bahu, langkah yang terburu ke sawah seperti biasa. Ratna di dapur, suara kukusan nasi yang mendesis, suara sendok yang mengaduk. Ia mengambil kesempatan itu.
Keluar lewat pintu samping. Pelan. Menutupnya tanpa bunyi.
Rasa bersalah itu mengikuti setiap langkahnya, bukan karena ia melawan ayahnya, tapi karena ia tahu ayahnya punya alasan untuk melarangnya. Dan ia memilih tetap keluar.
Untuk pertama kalinya, bukan karena disuruh. Tapi karena ia memutuskan.
Rahman tidak ada di depan gerbang pondok.
"Assalamualaikum, Man," bisik Fariz sambil mengintip dari celah bambu. "Man... Assalamualaikum!"
Tidak ada jawaban.
Fariz menaikkan suaranya sedikit — tidak terlalu keras, tapi cukup agar terdengar kalau Rahman ada di dalam. Masih tidak ada jawaban.
"Iz."
Suara itu datang dari belakang.
Fariz berputar.
Rahman berdiri di sana, tidak dari dalam pondok, tapi dari arah jalan samping. Wajahnya kaget sebentar, lalu langsung berubah menjadi waspada. Matanya menyapu sekeliling dengan cepat, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ada.
"Ngapain di sini?" tanyanya — pelan, mendesak. "Kamu nggak seharusnya datang, Iz."
"Aku perlu bicara denganmu, Man."
"Nggak di sini." Rahman menarik lengan Fariz tanpa menunggu jawaban. "Terlalu berbahaya."
Mereka tidak masuk ke pondok.
Rahman membawa Fariz memutar melewati kebun kecil di samping, menyusuri jalan setapak yang hampir tertutup semak, sampai tiba di sebuah bangunan kecil yang berdiri tersembunyi di balik pepohonan rapat.
Dinding anyaman bambu, atap yang sudah menghitam, pintu kayu dengan gembok besar yang terlihat lebih baru dari bangunan itu sendiri.
Rahman membuka gembok dengan kunci yang ia ambil dari balik baju. Mendorong pintu perlahan. Melirik kiri-kanan sekali lagi memastikan tidak ada yang mengikuti.
"Ayo, cepat masuk."
Fariz masuk. Rahman menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Ruangan itu kecil tapi penuh.
Buku-buku dengan tulisan Arab berjajar di rak kayu yang miring, beberapa lembar kertas berceceran di atas meja, tinta yang sudah mengering di ujung pena yang tergeletak. Ada bau kemenyan tipis yang sudah lama menetap di kayu, dan cahaya pagi yang masuk dari celah dinding membentuk garis-garis tipis di lantai tanah yang padat.
Ini bukan sekadar tempat penyimpanan.
Ini tempat Kyai Salman bekerja mencatat, membaca, berdoa, menyimpan semua yang ia temukan tentang desa ini di tempat yang tidak semua orang tahu.
Rahman berdiri di dekat jendela kecil, mengintip sebentar. Di luar, dua orang berjalan melewati bangunan ini — mengobrol, tertawa kecil, lalu hilang.
Fariz menunggu sampai Rahman berbalik dan duduk di hadapannya.
"Ada apa, Iz?"
"Aku mau bicara tentang titipan Kyai Salman."
Fariz menatap Rahman dan untuk pertama kalinya sejak malam Kyai Salman meninggal, ia mengatakan sesuatu yang belum pernah ia katakan dengan keras:
"Entah apa yang Kyai berikan kepadaku, Man. Tapi sejak malam itu, aku terus mendengar suara-suara aneh saat tidur. Dan kemarin, di sawah Bu Karsih—" Ia berhenti. Menelan ludah. "Aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada."
Rahman tidak bergerak.
"Bukan cuma itu." Fariz mengangkat bajunya setengah, menunjukkan dadanya. "Dadaku terasa panas. Seperti ada beban yang menekan dari dalam."
Rahman menatap dada Fariz, tidak ada bekas apa pun di sana. Kulit yang biasa. Tapi cara Fariz menarik napas, cara ia menekan telapak tangannya sendiri ke dada itu bukan bohong.
"Dua hari yang lalu aku bermimpi bertemu Kyai Salman." Fariz menurunkan bajunya kembali. "Dia membawaku ke sawah. Dan kemarin, aku melihat hal yang sama di sana, sawah kita bukan sawah biasa, Man."
Ia menatap Rahman dengan cara yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, bukan meminta jawaban, tapi meminta konfirmasi bahwa ia tidak gila.
"Apa sebenarnya yang Kyai Salman inginkan dariku?"
Rahman terdiam lama.
Lalu ia menarik napas panjang, seperti seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan baru sekarang menemukan alasan untuk melepaskannya.
"Kamu tahu kenapa Kyai Salman memanggilmu malam itu?"
Fariz menggeleng.
"Karena waktunya sudah dekat." Rahman berdiri, berjalan ke sudut ruangan, berlutut, dan mengangkat papan lantai yang longgar. Dari bawahnya ia mengambil beberapa lembar kertas lusuh, tulisan tangan Kyai Salman, tinta yang sudah memudar di beberapa bagian.
"Ini catatan terakhir Kyai." Rahman meletakkan kertas itu di meja. "Tentang desa ini. Tentang perjanjian yang sudah terlalu lama berjalan. Dan tentang apa yang harus dilakukan untuk meretakkannya."
Fariz menatap kertas itu, tulisan yang rapi tapi tidak sempurna, beberapa kata dicoret dan ditulis ulang, seperti seseorang yang sedang berpikir sambil menulis, bukan menulis setelah berpikir selesai.
"Aku belum pernah melihat Kyai begitu serius meminta sesuatu," kata Rahman pelan. "Tapi malam sebelum dia meninggal, dia memanggil aku. Dan dia bilang—"
FLASHBACK — Satu Hari Sebelum Kematian Kyai Salman
Kyai Salman terbaring di atas kasur tipis, napasnya lebih pendek dari biasanya, tangannya di dada seperti sedang memegang sesuatu yang berat.
"Nduk," katanya, suaranya tidak lemah, hanya pelan. "Temanmu itu sudah lama sekali nggak datang kemari. Ada apa sebenarnya?"
"Fariz dilarang oleh bapak dan ibunya, Kyai." Rahman menunduk. Tangannya menggenggam ujung sarungnya.
Kyai Salman menarik napas dalam. Matanya ke langit-langit, bibirnya bergerak komat-kamit, ayat-ayat yang selalu ia baca saat mendengar berita yang berat.
"Kamu bisa panggil dia kemari?"
"Maaf, Kyai." Rahman menggeleng pelan. "Pak Sucipto sudah menegur aku. Beliau bilang Fariz tidak boleh lagi belajar di sini."
Kyai Salman tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap langit-langit lebih lama, seperti sedang membaca sesuatu yang tertulis di sana yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Desa ini perlu pewaris, Man."
Rahman mendongak.
"Kalau aku sudah tidak bisa lagi melihat kalian..." Kyai Salman menatap Rahman sekarang langsung, tidak berkedip. "Desa ini akan kembali seperti masa lalu. Gelap. Hitam. Bahkan kita sebagai muslim akan terseret semakin jauh ke dalam jurang kegelapan."
Tangannya menyentuh pundak Rahman, genggaman yang lemah tapi tidak goyah.
"Ada sesuatu yang berbeda dari anak itu. Dan semua ini harus segera diturunkan karena panggilan itu sudah dekat."
Rahman tidak bertanya panggilan apa. Ia sudah tahu.
"Sistem itu sudah terlalu lama, Man. Membuat semua orang di desa ini tidak kenal dengan Tuhannya." Kyai Salman melepaskan genggamannya. "Malam ini waktu yang tepat untuk membawa Fariz menemuiku."
END FLASHBACK
Rahman menatap Fariz.
"Malam itu aku tidak tahu apa yang Kyai berikan kepadamu. Tapi aku yakin apa pun itu, Kyai percaya kamu bisa membawanya."
Fariz menatap kertas di tangannya. Tulisan Kyai Salman tentang desa ini, tentang perjanjian, tentang retakan yang harus dimulai dari dalam.
"Semua ada di sini, Iz." Rahman menunjuk kertas itu. "Tapi kita nggak bisa di sini terlalu lama. Ayo keluar."
Mereka keluar lewat pintu belakang, mengikuti jalur semak-semak yang lebih rapat, jalan rahasia yang tidak banyak orang tahu.
"Kamu ikuti jalan ini," kata Rahman di persimpangan. "Nanti di ujung kamu akan ketemu benteng belakang pondok. Aku duluan lewat jalan lain, biar nggak kelihatan kita keluar bareng."
Fariz mengangguk.
Rahman pergi lebih dulu. Fariz menunggu beberapa detik, lalu mulai berjalan. Kertas catatan Kyai Salman tersimpan di balik bajunya, tangannya menekan agar tidak jatuh.
Di ujung jalan, daun bergerak.
Fariz berhenti.
Aisyah melangkah keluar dari balik semak.
Keduanya berdiri diam saling menatap, tidak bergerak, seperti dua orang yang baru saja menemukan sesuatu yang selama ini hanya mereka lihat dari jauh tapi tidak pernah benar-benar sampai.
"A-Aisyah." Fariz yang pertama bicara. "Ngapain di sini?"
Aisyah tidak menjawab langsung.
Ia menatap Fariz, wajahnya berkeringat tipis, napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya, seperti orang yang baru saja berlari atau bersembunyi. Ada debu di ujung bajunya, dan rambutnya sedikit berantakan di satu sisi.
"Nggak ada waktu, Iz." Suaranya pelan tapi tegas. "Ayo ikut aku."
Fariz tidak bergerak. "Aisyah, apa yang—"
"Aku tahu kamu melihat sesuatu kemarin." Aisyah memotong. Matanya tidak lepas dari Fariz. "Di sawah Bu Karsih. Dan aku tahu kamu tidak gila."
Hening.
"Aku juga dengar sesuatu semalam." Tangannya bergerak ke saku, mengeluarkan kertas yang terlipat rapi. "Tentang kamu. Tentang ayahku. Dan tentang sesuatu yang mereka sebut Sang Dewi Kuasa."
Fariz terdiam.
Aisyah melangkah lebih dekat. "Kita nggak bisa bicara di sini. Ayo."
Ia berbalik dan mulai berjalan, tidak menunggu Fariz menjawab, karena ia tahu jika Fariz diberi waktu untuk berpikir, ia akan mundur. Seperti biasa. Seperti selalu.
Tapi kali ini Fariz tidak mundur.
Ia mengikuti Aisyah dengan mantap.