Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 langkah pertama sang penguasa
Angin timur bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan pinus dari lereng Puncak Qingyun. Di depan gerbang batu giok yang kini telah diperbaiki dan diperkuat dengan ukiran naga, empat sosok berdiri dengan perlengkapan lengkap.
Su Lang menatap bangunan sektenya untuk terakhir kali sebelum keberangkatan. Di belakangnya, Aula Utama tampak megah, dilindungi oleh Formasi Kabut Surgawi yang telah ia tingkatkan menggunakan sisa-sisa energi dari Jantung Api Bumi. Sekarang, bahkan seorang ahli ranah Foundation Establishment pun akan kesulitan menemukan celah untuk masuk.
"Guru, semua perbekalan sudah siap," lapor Li Yun. Pemuda itu kini tampak lebih tinggi, dengan bahu yang lebih lebar. Di punggungnya terikat Cakar Angin yang telah ditempa ulang oleh Su Lang, kini berkilau dengan warna perak kebiruan.
Lin Yue berdiri di samping Su Lang, mengenakan jubah perjalanan berwarna biru muda yang serasi dengan gurunya. Wajahnya yang dingin tampak lebih bersinar, sisa-sisa kelelahan dari masa perawatan Su Lang telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh aura dingin yang tajam.
"Xiao Me, jaga rumah baik-baik," kata Su Lang kepada gadis kecil itu. "Ayam-ayam roh itu... pastikan mereka tidak membakar dapur dengan bulu emas mereka."
Xiao Me mengangguk mantap, memeluk keranjang berisi ramuan obat. "Siap, Guru! Xiao Me akan menjaga Puncak Qingyun sampai kalian kembali!"
Su Lang tersenyum, lalu berbalik. "Ayo berangkat. Tujuan pertama: Kota Perbatasan Wu."
Perjalanan melintasi pegunungan memakan waktu tiga hari. Tanpa beban pasukan musuh yang mengejar, Su Lang memanfaatkan waktu ini untuk melatih teknik pernapasan Li Yun dan Lin Yue sambil berjalan.
"Kultivasi bukan hanya tentang duduk diam," ujar Su Lang sambil melompati dahan pohon dengan ringan. "Setiap langkah, setiap tarikan napas di alam liar adalah kesempatan untuk menyerap energi. Rasakan bagaimana Qi di udara bereaksi dengan gerakan tubuh kalian."
Lin Yue adalah yang pertama memahami. Setiap langkahnya meninggalkan jejak es tipis di dedaunan yang segera menguap, menunjukkan kontrol Qi Yin yang sangat halus.
Pada sore hari ketiga, saat mereka mencapai pinggiran hutan yang berbatasan dengan jalan raya utama, indera spiritual Su Lang menangkap sesuatu.
"Berhenti," perintah Su Lang pelan.
Dari kejauhan, terdengar dentingan logam dan teriakan kasar.
"Tolong! Tolong kami!" suara seorang gadis terdengar melengking ketakutan.
Su Lang memberi isyarat, dan mereka bertiga bergerak tanpa suara menuju sumber suara. Di sebuah persimpangan jalan, sebuah kereta kuda mewah telah terbalik. Belasan pria berpakaian hitam dengan lambang tengkorak di lengan mereka mengepung sekelompok pengawal yang sudah terluka parah.
Di tengah kepungan, seorang pria tua berpakaian tabib berusaha melindungi seorang gadis remaja yang memegang sebuah kotak kayu kecil dengan tangan gemetar.
"Serahkan Tanaman Penghancur Belenggu itu, Tabib Chen! Dan kami mungkin akan membiarkan cucumu hidup!" teriak pemimpin bandit, seorang pria besar dengan kapak raksasa yang memiliki kultivasi Qi Condensation Tingkat 3.
"Jangan harap, bajingan! Ini adalah satu-satunya harapan untuk menyembuhkan nona besar kami!" teriak pria tua itu meskipun kakinya gemetar.
Li Yun menatap Su Lang, matanya memohon ijin untuk bertindak. Su Lang mengangguk pelan. "Li Yun, ini latihan pertamamu. Jangan sisakan satu pun yang masih berdiri. Lin Yue, jaga titik butanya."
Wuuush!
Li Yun melesat seperti anak panah. Cakar Angin-nya keluar dari sarungnya dengan suara mendesis.
"Siapa?!" pemimpin bandit itu terkejut. Namun, sebelum ia bisa mengangkat kapaknya, Li Yun sudah berada di depannya.
Srak!
Satu sabetan cakar merobek baju zirah bandit itu. Li Yun tidak berhenti; ia bergerak seperti bayangan di antara para bandit, memanfaatkan kecepatan yang ia asah di Menara Pengumpul Qi.
Lin Yue berdiri di dahan pohon, menjentikkan jarinya. Setiap kali seorang bandit mencoba menyerang Li Yun dari belakang, sebuah jarum es akan menembus pergelangan tangan atau kaki mereka, melumpuhkan gerakan mereka seketika.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, dua belas bandit tergeletak di tanah. Pemimpin bandit itu berlutut, memegangi lehernya yang tergores tipis, menatap Li Yun dengan ketakutan.
"Ampun... ampun, Pahlawan Muda!"
Su Lang berjalan keluar dari semak-semak, langkahnya tenang namun setiap injakannya seolah menekan udara di sekitar tempat itu. Aura Tingkat 4 Puncak miliknya terpancar kuat, membuat para bandit yang tersisa pingsan karena tekanan mental.
Pria tua yang disebut Tabib Chen itu tertegun. Ia melihat Su Lang yang tampak sangat muda namun memiliki wibawa seorang penguasa sekte besar.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan!" Tabib Chen segera bersujud. "Saya Chen Mo, dan ini cucu saya, Chen Ling. Kami berhutang nyawa pada Anda."
Su Lang menatap kotak kayu di tangan gadis itu. Indera spiritualnya merasakan aura tanaman obat yang sangat kuat di dalamnya. Tanaman Penghancur Belenggu adalah bahan langka tingkat 4 yang biasanya digunakan untuk menerobos kemacetan kultivasi.
"Kalian membawa barang berharga di jalanan tanpa perlindungan yang cukup. Itu sama saja dengan bunuh diri," kata Su Lang dingin.
Tabib Chen menghela napas sedih. "Kami dikhianati, Tuan. Pengawal kami yang lain melarikan diri saat melihat tentara bayaran Tengkorak Hitam."
Su Lang terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Chen Ling, gadis remaja itu memiliki mata yang sangat jernih, dan yang mengejutkan, Su Lang melihat bakat tersembunyi.
"Sistem, pindai gadis itu."
[Ding!]
[Nama: Chen Ling]
[Bakat: Tubuh Roh Tanaman (Langka).]
[Deskripsi: Memiliki afinitas alami dengan tanaman obat. Dapat mempercepat pertumbuhan tanaman hanya dengan sentuhan.]
Mata Su Lang berbinar. Seorang ahli tanaman! Inilah yang ia butuhkan untuk mengelola kebun obat di Puncak Qingyun nanti.
"Chen Mo," panggil Su Lang. "Aku sedang menuju Lembah Seribu Obat. Jalanan ke depan akan jauh lebih berbahaya dari ini. Jika kalian ingin selamat, ikutlah denganku."
Chen Mo terkejut. Lembah Seribu Obat adalah tempat suci bagi para tabib, namun juga sarang monster dan faksi-faksi serakah. Memiliki pelindung sekuat Su Lang adalah anugerah.
"Sebuah kehormatan bagi kami, Tuan! Tapi kami tidak memiliki apa pun untuk membalas Anda..."
"Aku tidak butuh uangmu," potong Su Lang. "Aku butuh bakat cucumu. Setelah urusanku selesai, kalian akan ikut denganku kembali ke Puncak Qingyun. Di sana, kalian akan menjadi bagian dari Sekte Aliran Abadi."
Chen Mo melihat ke arah cucunya, lalu ke arah Su Lang. Ia bisa merasakan bahwa pemuda ini bukan orang jahat. Ia merasakan keagungan yang tidak ia temukan bahkan pada penguasa kota besar sekalipun.
"Kami setuju, Guru Su!" Chen Mo dan Chen Ling memberi hormat secara resmi.
[Ding! Selamat! Anda telah merekrut murid potensial (Tipe Pendukung/Tabib).]
[Hadiah: 50 Poin Dedikasi, Resep 'Pil Fondasi Hijau' (Meningkatkan bakat tanaman).]
Perjalanan berlanjut dengan anggota baru. Chen Ling ternyata adalah gadis yang sangat rajin. Sepanjang jalan, ia mengajari Li Yun tentang berbagai jenis tanaman liar yang bisa dimakan atau digunakan sebagai penawar racun.
Su Lang memperhatikan interaksi mereka dengan senyum tipis. Sektenya mulai terasa seperti sekte sungguhan.
Ketika mereka akhirnya mencapai pinggiran Lembah Seribu Obat, pemandangan berubah drastis. Kabut di sini berwarna hijau pucat, mengandung spora tanaman yang bisa menyebabkan halusinasi bagi mereka yang tidak memiliki energi pelindung.
Di gerbang lembah, terdapat sebuah pos pemeriksaan yang dijaga oleh orang-orang dari Sekte Lembah Hijau, penguasa lokal di wilayah ini.
"Berhenti! Setiap orang yang masuk harus membayar 50 Batu Roh dan menyerahkan satu jenis tanaman obat langka sebagai biaya masuk!" teriak penjaga pos dengan angkuh.
Su Lang maju ke depan. Ia tidak ingin membuang waktu.
"Aku tidak punya tanaman untukmu," kata Su Lang. "Tapi aku punya ini."
Su Lang mengeluarkan Pedang Naga Hitam yang baru ditempanya. Begitu pedang itu dicabut, aura panas dari Jantung Api Bumi menyapu kabut hijau di sekitarnya, menciptakan area bersih dalam radius sepuluh meter.
Para penjaga itu mundur selangkah, wajah mereka pucat. Mereka belum pernah melihat senjata dengan aura sekuat itu.
"Tingkat... Tingkat Roh Puncak?!" gumam pemimpin penjaga. "Tuan... mohon maaf, silakan masuk. Kami tidak berani memungut biaya dari seorang ahli seperti Anda."
Su Lang menyimpan kembali pedangnya. "Ingat wajahku. Namaku Su Lang dari Sekte Aliran Abadi. Jika ada yang bertanya siapa yang melewati gerbang ini, katakan pada mereka bahwa pemilik baru lembah ini telah datang."
Kata-kata itu terdengar sombong, namun dengan kekuatan yang ia miliki sekarang, Su Lang tidak lagi merasa perlu untuk rendah hati secara berlebihan.
Mereka melangkah masuk ke dalam lembah. Di dalam, tanaman raksasa setinggi pohon kelapa tumbuh subur, memancarkan cahaya neon di bawah naungan hutan yang lebat.
Su Lang bisa merasakan getaran dari cincin ruangnya. Fragmen Kuali Penempa Surga miliknya bergetar hebat. Kali ini, getarannya bukan sekadar penunjuk jalan, tapi sebuah peringatan.
"Ada sesuatu yang besar di depan," bisik Su Lang kepada murid-muridnya. "Tetap waspada. Kita bukan satu-satunya yang mencari Api Roh di sini."
Di kejauhan, di pusat lembah yang tertutup kabut tebal, sebuah raungan mengerikan terdengar, mengguncang seluruh tanah di bawah kaki mereka. Sesuatu yang kuno dan lapar baru saja terbangun.