Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh
Pagi itu di SMA elit Queenstown, Hazel turun dari mobilnya dengan aura yang benar-benar berbeda. Ia masih mengenakan rok lipit seragamnya yang rapi, rambutnya dikuncir kuda dengan pita satin yang cantik, dan senyumnya tetap terlihat polos namun ada sesuatu yang berbahaya di balik matanya.
Saat berjalan di lorong, ia berpapasan dengan James yang baru saja keluar dari ruang ganti atlet. James, dengan wajah tanpa dosa, langsung merangkul pinggang Hazel di depan banyak orang.
"Pagi, Cantik. Kenapa semalam teleponku tidak diangkat?" tanya James sambil mencoba mencium pipinya.
Hazel tidak menghindar, ia justru memiringkan kepalanya, membiarkan James mencium kulit lehernya yang sebenarnya masih terasa hangat oleh bekas bibir Kenneth semalam.
Hazel sudah menutupi tanda kemerahan di sana dengan concealer tebal, tapi ia tahu aroma tubuh Kenneth parfum sandalwood dan tobacco yang mahal masih samar-samar tertinggal di sana.
"Maaf ya, James. Aku tidur sangat nyenyak semalam. Sepertinya aku kelelahan karena... belajar terlalu keras," ucap Hazel dengan nada yang sangat manis, namun terdengar sangat ironis di telinganya sendiri.
"Ah, jangan terlalu memaksakan diri, Sayang. Kamu kan tahu aku selalu ada untuk menjagamu," bisik James, jemarinya yang panjang mulai mengusap telapak tangan Hazel, melakukan gerakan yang dulu membuat Hazel merona, tapi sekarang hanya membuatnya ingin muntah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa bergema di lorong. Kenneth berjalan melewati mereka bersama Marius dan Aiden. Seperti biasa, Kenneth tidak menoleh, wajahnya datar seolah tidak mengenal Hazel.
Namun, saat tubuh mereka bersisihan, jari kelingking Kenneth sempat menyentuh punggung tangan Hazel secara sengaja selama satu detik sebuah kontak rahasia yang membuat bulu kuduk Hazel meremang.
"Woi, Ken! Sini bergabung!" panggil James dengan lantang.
Kenneth berhenti, lalu berbalik pelan. Matanya beralih dari James ke tangan James yang masih melingkar di pinggang Hazel. Ada kilatan gelap di mata Kenneth yang hanya bisa dipahami oleh Hazel.
"Aku sibuk, James. Ada beberapa urusan yang belum selesai dari tadi malam," jawab Kenneth dengan suara rendahnya yang khas.
Aiden menyeringai di belakang Kenneth, "Ken semalam sepertinya habis berburu, James. Dia terlihat... sangat puas hari ini."
James tertawa bodoh, sama sekali tidak menyadari bahwa mangsa yang diburu sahabatnya adalah kekasihnya sendiri. "Wah, benarkah? Hebat kau, Ken! Akhirnya si Ice King kita menemukan pelampiasan juga."
Hazel menunduk, pura-pura merapikan pita rambutnya untuk menyembunyikan senyum liciknya. Ia menatap Kenneth sekilas, dan pria itu memberikan kedipan mata yang sangat tipis sebelum melanjutkan langkahnya.
Permainan ini terasa sangat menyenangkan bagi Hazel. Ia merasa seperti seorang sutradara dalam drama tragis James.
"James," panggil Hazel lembut, menarik perhatian pria itu kembali. "Nanti istirahat, boleh aku pinjam ponselmu? Aku ingin melihat foto-foto latihanmu kemarin. Katanya ada beberapa foto baru yang bagus, ya?"
James seketika membeku.
Ia ingat ada beberapa foto panas dari siswi lain yang belum sempat ia hapus. "Ah... itu... ponselku sedang rusak layarnya, Hazel. Nanti saja ya kalau sudah kuperbaiki."
Hazel tersenyum lebar, senyum yang begitu manis hingga membuat James merasa aman, padahal di dalam hati Hazel sedang berteriak: Satu kebohongan lagi, James. Teruslah menumpuk sampah itu sampai aku membakarnya tepat di depan wajahmu.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍🥰
terimakasih
ceritanya bagus