NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin

Enjoy gays...

Kesibukan sebagai seorang mahasiswa sekaligus calon pemimpin perusahaan sepenuhnya tentu membuat Luca harus merelakan banyak waktunya untuk bekerja dan mengurus segala hal yang menjadi tanggungjawabnya. Tapi, meskipun begitu, Luca tak lupa jika dia memiliki Aurora yang perlu dia perhatikan juga. Apalagi, hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari dan mereka yang belum membeli cincin pernikahan sama sekali.

Untungnya, di weekend kali ini baik Luca maupun Aurora memiliki waktu luang bersama untuk mencari cincin pernikahan mereka. Karena awalnya, kedua orang tua mereka lah yang akan membelikannya sebab keduanya terlalu sibuk dengan tugas perkuliahan dan perusahaan.

Masuk ke dalam salah satu toko perhiasan ternama yang ada di mall jakarta, Luca dan Aurora langsung di sambut petugas yang bekerja di sana dengan sopan dan ramah.

"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugas pria itu dengan senyum ramah.

"Kita mau cari cincin pernikahan, Kira-kira yang paling bagus dan cocok yang mana ya mas?" Tanya Luca seraya melihat deretan cincin yang terpajang di dalam etalase di depan mereka.

"Ada mas, tunggu sebentar."

Sementara pelayan itu mengambilkan barang yang Luca minta, Aurora terlihat tertarik dengan berbagai koleksi perhiasan yang ada di sana. Dan dari kesemuanya, ada salah satu kalung yang membuat Aurora terpana sampai dia tanpa sadar memperhatikannya dengan seksama. Sedangkan Luca hanya memperhatikan gerak-gerik Aurora sembari dia menunggu pelayan tadi kembali menemuinya.

"Silahkan di lihat mas, ini koleksi terbaru dari toko kami." Tegur pelayan pria itu mengejutkan Luca sembari memperlihatkan 5 pasang cincin yang dia tata di atas etalase.

"Ara?" Panggil Luca karena dirinya tak mungkin memilihnya sendiri tanpa tahu mana yang Aurora suka.

Kembali ke tempatnya, Aurora berdiri di samping Luca dan memperhatikan ke lima pasang cincin dengan seksama.

"Lo suka yang mana?" Tanya Luca setelah cukup lama Aurora melihatnya.

"Yang ini." Tunjuk Aurora pada sepasang cincin yang ada di tengah.

"Bisa di coba dulu gak mas?" Tanya Luca memastikan. Kan gak lucu kalau mereka sudah membelinya tapi cincin itu kekecilan atau justru malah kebesaran.

"Bisa mas."

Mengambil salah satunya, Luca memasangkan cincin itu di jari manis Aurora dan memakai satunya lagi ke jarinya.

"Gimana? Cocok?" Tanya Luca menyandingkan tangannya dengan tangan Aurora.

"Cocok. Pas juga." Jawab Aurora seraya melihat cincin yang ada di tangannya dan tangan Luca

"Yakin mau yang ini?"

"Iya, bagusan yang ini."

"Kita ambil yang ini mas." Pinta Luca setelah Aurora melepas cincinnya dan meletakkannya kembali ke tempatnya.

"Baik. Silahkan di tunggu dan ikut saya ke kasir mas."

Sembari menunggu Luca melakukan pembayaran, Aurora kembali berdiri di depan etalase yang memajang kalung yang tadi sempat menarik perhatiannya. Desain sederhana dengan liontin berbentuk bunga salju di tengahnya. Tapi benar-benar indah dan sangat elegan di mata Aurora.

"Ra? Yuk?" Tegur Luca yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya mengagetkan.

Tanpa banyak bicara, keduanya pun pergi dari sana dengan membawa cincin pernikahan yang nanti akan mereka kenakan di hari H.

"Mau sekalian belanja gak?" Tanya Luca menawarkan. Karena mereka tak mungkin pergi hanya untuk membeli cincin lalu pulang. Sebab Luca sendiri ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Aurora sebagai salah satu cara agar keduanya lebih dekat dan mengenai satu sama lain.

"Belanja apa?" Tanya Aurora yang justru bingung dengan tawaran Luca.

"Mungkin lo mau beli baju atau apa?"

"Gak ada. Barang gue di rumah udah kebanyakan, buat apa beli lagi? Mubadzir. Ujung-ujungnya cuma ke pake satu dua kali doang terus dianggurin."

Rasa bangga sekaligus kagum terhadap Aurora Luca rasakan saat ini. Bagaimana tidak? Jika banyak dari wanita begitu suka saat di tawari untuk belanja, Aurora Justru dengan terang-terangan menolaknya. Bukan karena gengsi atau semacamnya, tapi karena dia yang memang tak memiliki hobi berbelanja.

Buktinya, sepanjang perjalanan mereka hanya berkeliling dan melintasi toko-toko yang ada di mall itu tanpa ada sedikitpun terbersit di hati Aurora untuk masuk dan melihatnya apalagi membeli.

"Kalo nonton mau gak?" Tanpa Luca yang kembali memberi tawaran setelah hampir satu jam lamanya keduanya berkeliling tanpa hasil apa-apa.

Bukan, bukan karena dia lelah menemani Aurora jalan-jalan, hanya saja Luca ingin hari ini ada momen berdua yang mereka lakukan selain membeli cincin pernikahan.

"Boleh. Tapi film horor ya?" Di luar dugaan, Aurora menerima tawaran itu tanpa pikir panjang.

"Lo gak takut?"

"Gak. Gue justru lebih suka film horor daripada film romantis. Lo takut?"

"Gak. Gue lebih suka nonton film marvel, Disney, atau gak kartun."

"Kenapa?"

"Menurut gue seru aja. Dari film-film itu juga ada pelajaran hidup yang bisa gue ambil hikmahnya. Jadi gak cuma jadi penonton aja."

Karena area bioskop ada di lantai 7 dan sekarang mereka ada di lantai 3, jadilah keduanya menaiki tangga eskalator untuk menuju ke sana.

"Lo sendiri kenapa suka film horor? Kan kebanyakan cewek biasanya lebih suka film romantis atau semacemnya. Mereka justru takut kalo di ajakin nonton film horor." Tanya Luca membuka obrolan di tengah langkah mereka.

Nyatanya, Aurora cenderung hanya akan diam jika tak ada apapun lagi yang perlu dia tanyakan atau bicarakan. Jadi, Luca sendiri harus pintar-pintar membuat tema obrolan agar keduanya bisa lebih panjang bercerita.

"Ceritanya lebih seru dan menarik. Film romantis itu menurut gue ngebosenin dan gak related sama kehidupan sehari-hari."

"Terus, kalo lo sama temen-temen lo pergi nonton bareng, gimana cara kalian nentuin filmnya? Kalian kan pasti punya selera masing-masing."

"Gantian. Kita punya jadwal nonton bareng 2 minggu sekali. Kalo kemarin udah gilirannya Audrey, berarti minggu berikutnya gilirannya Alexa. Kayak gitu seterusnya. Ya yang lain harus bisa terima. Kan pergi bareng-bareng."

"Unik ya circle pertemanan kalian."

"Emang lo sama temen-temen lo gak kayak gitu?"

"Daripada nonton, kita lebih suka ngelakuin kegiatan outdoor bareng. Kayak misalnya kemarin pas kita pergi camping."

Berhubung hari weekend, jadi banyak orang yang menghabiskan waktu mereka bersama pasangan atau keluarga untuk pergi jalan-jalan ke mall. Salah satunya dengan pergi menonton bioskop seperti sekarang.

"Ada yang pas baru mulai tapi udah penuh, gimana?" Tanya Luca memastikan terlebih dahulu saat melihat judul film dan jam penayangan yang tertera di layar besar tempat penjualan tiket.

"Itu aja." Tunjuk Aurora pada salah satu film berjudul "pelet tali pocong" 

"Tapi jam tayangnya masih lama, lo gak papa." Lanjutnya ragu saat melihat jam tayang yang tersisa hanya di sesi terakhir. Pukul 9.25 malam.

"Gak papa kok. Hari ini gue free dan bisa temenin lo seharian."

Sama sekali tak keberatan, Luca ikut masuk ke dalam antrian bersama para manusia yang lain untuk membeli tiket nonton mereka. Sedangkan Aurora juga ikut mengantri di belakangnya.

"Mbak, yang " Pelet tali pocong " Untuk dua orang." Ucap Luca saat sampai di depan loket.

"Silahkan di pilih mas tempat duduknya." Beritahu petugas wanita itu seraya memperlihatkan layar monitor tempat duduk.

"Sini aja mbak." Tunjuk Aurora pada dua bangku nomer 3 dari atas sebelah pinggir.

"Tiket untuk dua orang, " Pelet tali pocong " Totalnya jadi 90.000"

Mengabdi dompetnya dari saku celana, Luca mengeluarkan satu lembar uang 100 ribu lalu memberikannya pada petugas loket itu.

"Terimakasih." Ucap petugas loket itu seraya memberikan dua tiket untuk Luca serta uang kembalian.

"Sama-sama. Makasih mbak." Tersenyum ramah, Luca menerima itu lalu menyimpannya.

"Sambil nunggu mau pergi ke mana?" Tanya Luca saat keduanya keluar dari area bioskop dan menuruni tangga eskalator yang tersedia di sana.

"Keliling dulu aja, siapa tau ada yang menarik."

"Lo yakin gak mau belanja atau beli apapun gitu?"

"Hm... Sebenernya gua ada mau beli buku."

"Ya udah, yuk."

Mall yang mereka datangi saat ini adalah salah satu mall yang sering Aurora kunjungi bersama teman-temannya untuk sekedar menghabiskan waktu atau memang membeli keperluan mereka.

Dan salah satu toko buku yang Aurora maksud kebetulan juga ada di mall yang sama. Toko buku yang sama saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.

"Semuanya buku tentang kedokteran?" Tanya Luca bingung sekaligus penasaran karena sedari tadi buku yang Aurora lihat dan ambil semuanya buku tentang dunia kedokteran.

"Iya. Ini cuma beberapa karena gak ada di perpustakaan dan gak bisa gue pinjam, jadi mau gak mau harus beli."

"Lo gak pusing apa baca buku setebal itu?"

"Gak. Karena gue suka. Sama kayak lo. Lo pasti gak bosen juga baca buku tentang bisnis yang mungkin tebelnya ngalahin buku punya gue." Kekeh Aurora seraya meletakkan buku yang di lihatnya kembali ke tempatnya lalu berjalan menuju rak sebelahnya.

"Intinya, kalo apapun yang kita lakuin itu dengan perasaan senang, pasti kita gak akan ngerasa terbebani apalagi lelah." Ucap Aurora sembari mengamati buku mana yang perlu dia beli lagi.

Di rasa semuanya sudah cukup, Aurora beralih ke rak buku yang memajang berbagai kolek buku komik dan novel. Sedangkan Luca hanya mengikutinya dari belakang sembari terus memperhatikan.

"Kok beli komik juga? Lo suka baca komik?" Tanya Luca karena Aurora memasukkan salah satu buku komik yang ada di sana ke dalam keranjang belanjanya.

"Gak, buat Audrey. Diantara kita berlima dia yang paling suka baca komik. Ini keluaran terbaru, jadi dia pasti lagi nyari." Tak hanya satu atau dua buku komik, Aurora mengambil beberapa yang menurutnya baru dan Audrey belum punya.

Lagi dan lagi Luca di buat kagum dengan sikap Aurora yang begitu perhatian dengan sahabatnya. Biasanya, jarang ada seorang teman yang begitu peduli dan pengertian dengan teman mereka. Tapi Audrey dan teman-temannya mungkin salah satu pengecualian untuk mereka.

Buktinya, bukan kali pertama ini saja Luca mendapati Aurora melakukan hal itu pada teman-temannya atau sebaliknya. Membuktikan bahwa hubungan pertemuan mereka tak hanya sebatas pertemanan yang ada di saat senang dan bahagia saja. Tapi pertemanan rasa keluarga.

"Udah?" Tanya Luca saat Aurora melangkah menuju kasir.

Anggukan kepala di berikan sebagai jawaban seraya Aurora meletakkan keranjang yang dia bawa di atas meja kasir.

"Yang komik di pisah ya mbak." Pinta Aurora pada pelayan wanita itu saat menghitung total belanjanya dan memasukkannya ke dalam plastik.

"Berapa mbak?" Tanya Aurora setelah semua bukunya masuk ke dalam plastik.

"Totalnya 5.655.000" Mengambil dompet dari tas kecilnya, Aurora berniat mengeluarkan salah satu kartunya untuk membayar.

"Biar gue aja Ra." Cegah Luca sebelum Aurora memberikan kartunya pada petugas kasir itu.

"Gak usah. Ini kan kebutuhan gue, jadi gue aja yang bayar." Bukan bermaksud menyinggung atau menolak itikad baik yang Luca berikan padanya, tapi Aurora pikir itu bukan tanggungjawab Luca selama keduanya masih belum sah sebagai sepasang suami-istri.

"Makasih mbak."

Mengambil inisiatif, Luca langsung membawakan bawaan Aurora tanpa di minta. Aurora pun tak menolaknya karena kebetulan handphonenya tiba-tiba berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

"Ra? Dimana?" Tanya Audrey di sebrang sana tanpa basa-basi saat Aurora mengangkat panggilan itu seraya melangkah keluar toko diikuti Luca.

^^^"Di toko buku biasa. Kenapa?"^^^

"Kebetulan banget. Ke restoran seafood yang ada di lantai bawah ya? Kita semua udah kumpul disini. Tinggal nungguin lo doang nih."

^^^"Mau ngapain?"^^^

"Ye.... Lo lupa sama yang kita omongin semalem? Acara perayaan kemenangan gue kemaren."

^^^"Ohh... Oke."^^^

"Buruan, gak pake lama. Kita semua udah kelaperan nungguin lo."

"Siapa?" Tanya Luca saat Aurora selesai dengan panggilannya dan menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas.

"Audrey. Mereka ada di restoran seafood lantai bawah sekarang, katanya mau rayain acara kemenangannya Audrey kemarin."

"Ya udah yuk, kebetulan banget pas jam makan malem."

Menuruni tangga eskalator, keduanya tak kesulitan untuk menemukan restoran seafood yang Audrey maksud. Karena memang di lantai itu hanya ada satu restoran seafood dan Aurora serta teman-temannya sudah sering datang ke sana.

Bertepatan dengan jam makan malam serta hari weekend juga menjadikan restoran itu rami dengan pelanggan. Tapi untungnya, Lay sudah memesan tempat di sana dari 3 hari sebelumnya, jadi tak ada cerita jika mereka kesulitan mencari tempat duduk untuk makan.

Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran, Aurora akhirnya menemukan keberadaan teman-temannya saat Alice tak sengaja mengalihkan pandangannya ke pintu masuk dan langsung melambaikan tangannya untuk memberikan isyarat keberadaan mereka.

Melangkah menghampiri mereka, Aurora langsung duduk di salah satu kursi kosong yang tersisa di sana.

"Hai bro." Sapa Lay dengan senyum ramah menyambut kedatangan Luca.

Tak lupa Luca juga membalasnya dan menyapa teman-temannya yang lain dengan senyum tak kalah ramah juga sapaan ciri khas mereka.

"Cielah yang bentar lagi merried, gimana persiapannya? Lancar?" Tanya Lay antara benar-benar bertanya dan menggoda.

"Alhamdulillah lancar." Jawab Luca seraya duduk di kursinya sebelah Aurora.

"Duh, mentang-mentang yang bentar lagi nikah, udah jalan berdua aja." Sahut Leon menyindir.

"Darimana kalian?" Tanya Audrey.

"Beli cincin." Jawab Luca.

"Belum?" Tanya Alexa.

"Udah, tapi baru sempet hari ini."

"Nih buat lo." Mengambil salah satu kresek yang tadi Luca bawa dan letakkan di sebelahnya, Aurora memberikan itu pada Aurora yang duduk di hadapannya.

"Wahhh.... Apa nih?" Tanya Audrey menerima kresek itu dengan antusias dan penuh rasa penasaran. Tak lupa dia juga langsung membukanya untuk tahu apa isinya.

"Komik terbaru? Thank you Aurora sayang." Ucap Audrey senang bukan kepalang saat tahu Aurora memberinya buku komik yang memang sudah Audrey rencanakan untuk membelinya.

"Sama-sama."

"Nah, berhubung Aurora sama Luca udah dateng, jadi waktunya kita keluarin makanannya." Ucap Lay seraya mengangkat tangannya.

"Mas?" Panggilnya pada salah satu pelayan yang bekerja di sana.

"Pesanan saya ya?" Pinta Lay saat pelayan itu menghampirinya.

"Siap mas."

Kurang dari 10 menit mereka menunggu, semua pesanan yang Luca minta sudah tertata rapi di atas meja beserta dengan minuman dan juga cemilannya.

"Khusus buat lo gue pesenin makanan dari resto sebelah." Ucap Audrey menatap Aurora.

"Thank you Audrey."

"Your welcome."

"Lo gak makan seafood?" Tanya Leo bingung. Diantara banyaknya hidangan seafood yang tersedia, dia memilih kerang sebagai pembukanya.

"Ara itu gak bisa makan kepiting, dia juga alergi udang." Jawab Alice mewakili.

"Kenapa gak bisa makan kepiting?" Tanya Luca seraya sibuk mengeluarkan daging kepiting dari cangkangnya menggunakan capit.

"Gak tau cara makannya gimana. Katanya ribet."

"Kalo kerang, ikan sama lobster?"

"Masih bisa. Tapi ya gitu, dia gak suka yang terlalu ribet."

"Jadi, setiap kali kita makan seafood Ara pasti pesen dari resto sebelah." Timpal Alexa menambahkan.

"Kalo lo, diantara semua jenis seafood, lo suka makan apa?" Tanya Audrey pada Luca.

"Udang."

Bingung karena jawaban tak sesuai kenyataan namun tak berani kembali bertanya karena takut membuat perasaan seseorang terluka.

"Ra?" Panggil Luca seraya menyodorkan daging kepiting yang baru saja dia kupas dari cangkangnya.

"Hm?" Gumam Aurora menoleh.

Mengerti maksud yang Luca inginkan, Aurora menerima suapan itu tanpa rasa sungkan.

"Enak gak?"

"Enak."

Makan olahan seafood memang perlu kesabaran dan ketelatenan, terutama untuk jenis kepiting yang notabennya memiliki cangkang keras dan butuh sedikit perjuangan.

Meski begitu, Luca terlihat sama sekali tak kerepotan menyisihkan setiap daging kepiting yang dia dapat ke atas piring yang sudah dia siapkan hingga habis dan hanya menyisakan cangkang.

"Makan ini dulu aja sambil nunggu makanan lo dateng." Ucap Luca seraya meletakkan piringnya di depan Aurora lalu beralih mengambil olahan udang yang memang menjadi kesukaannya.

"Thank you Luca." Dengan senang hati menerimanya, Aurora tak menyangka jika Luca memberikan daging kepiting itu kepadanya. Karena semua orang pikir pasti Luca akan memakannya.

"Sama-sama."

Keduanya memang tak melalui masa pacaran atau pendekatan, tapi melihat bagaimana mereka saling melempar perhatian satu sama lain, rasanya membuat mereka juga ikut bahagia dan mendoakan yang terbaik untuk hubungan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!