Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ES OYEN PEMERSATU
Menunggu sekitar 10 menit, akhirnya ada mangkok es oyen di tangan Maya. Wanita itu menikmatinya.
Tanpa sadar ada seseorang pria duduk disampingnya. Aroma yang sama seperti beberapa waktu lalu ia hirup di perusahaan RaSwa.
Sebelum menoleh dan memastikan aroma yang ia kenal, suara pria itu sudah menjawabnya.
"Bang, 1 es oyen ya. Makan sini" ujarnya.
Deg!
Maya terkejut saat kedua matanya bertemu langsung dengan pandangan Riko.
"Hai, May. Kita ketemu lagi disini" sapa Riko.
Maya terdiam dan masih lekat memandang wajah pria disampingnya. Kembali memutarkan memori ingatan 5 tahun lalu saat melihat wajah yang sama sudah mulai membiru dengan lumuran darah.
"Hei. Aku Riko, apakah kamu melupakan ku?" tanyanya.
"Ti..tidak..aku tidak melupakanmu" jawab Maya gugup.
"Baguslah kalau begitu. Jika kamu melupakan mu, mungkin aku semakin.." sahut Riko belum selesai tapi pesanannya datang.
"Ini mas, es oyennya" ucap penjual sambil memberikan mangkok isi jualannya.
"Semakin apa?" tanya Maya penasaran.
"Semakin pingin makan es oyen haha. Selamat menikmati" jawab Riko dibuat candaan.
Maya tak bisa memalingkan pandangannya dari samping. Hingga Riko berkata "Jangan memandangku terus seperti itu, Maya. Aku akan jatuh cinta lagi padamu".
Deg!
Lagi lagi Maya dibuat kaget dengan ucapan spontan Riko tapi dalam hatinya berharap sesuatu.
"Jika memang kamu datang untukku sekarang, Ko, aku akan senang hati ikut denganmu" batinnya.
"Hmm..maafkan aku..aku merasa bahagia karena melihatmu sesukses ini" ujar Maya yang terucap.
"Terima kasih. Ini semua karena kamu" sahut Riko sambil menikmati es oyennya.
Maya merasa dirinya sudah tak bisa menghabiskan es oyennya karena fokus kearah Riko. Lebih baik ia pergi dan pulang. Ia berdiri dan menaruh mangkok yg masih ada isinya di meja.
"Berapa bang?" tanya Maya.
"Bang, gak usah nemerima pembayaran wanita ini ya. Dia temanku dan kita baru bertemu. Aku akan membayarnya nanti" sahut Riko.
"Aku juga mau bungkus 5 buat keluargaku dirumah" lanjutnya.
"Siap bang" ujar penjual yang siap membantu modus Riko.
"Gak usah, Ko. Aku bisa bayar sendiri" ucap Maya.
Riko langsung menghabiskan suapan terakhirnya lalu berdiri disamping Maya.
"Sudahlah. Sesekali aku ingin mentraktirmu dipertemuan kita. Aku sudah punya uang sekarang jadi jangan remehkan aku" sahut Riko sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu.
Maya merasa Riko menyindirnya. Tapi ya sudahlah jika memang teman kuliahnya ini ingin membayar es oyen untuknya.
"Hmmm.. aku menghargai niatmu. Terima kasih. Lain kali biar aku yg bayar jika kita bertemu lagi" ujar Maya.
"Aku tunggu pertemuan itu" sahut Riko dengan senyuman lebar.
"Bang, makasih ya. Es oyenku sudah dibayar pria ini ya" ucap Maya kepada penjual.
"Siap neng, aman" ujar penjual.
Maya keluar dari wilayah gerobak es oyen menunggu taxi lewat diantara keramaian jalan.
Keburu Riko melihat Maya yang ternyata belum mendapatkan kendaraan untuk pulang, akhirnya mobil bmw berhenti didepannya.
Kaca jendela mobil terbuka.
"Hei, masuklah, Maya. Aku akan mengantarmu" ajak Riko.
"Tidak usah, Riko. Aku akan menunggu taxi saja" tolak Maya.
"Sudahlah, jalanan rame, taxi susah jam segini. Jangan menolak tawaranku" ucap Riko.
"Atau..aku akan menggendongmu.." lanjutnya dengan senyuman smirk menggoda.
Maya mendelik mendengarnya. Setelah melihat jalanan dan memastikan tidak ada taxi, Maya pun masuk mobil Riko.
Mobil itu dijalankan meskipun terjebak macet. Hal ini digunakan Riko sebagai kesempatan mengobrol.
"Apa kabarmu, Maya?" tanya pemilik mobil.
"Baik. Aku tidak akan menanyakan kabarmu karena kamu sangat terlihat lebih baik dariku saat ini" jawab Maya.
"Hahaha, kamu bisa aja. Padahal aku selama ini berusaha agar bisa bertahan hidup setelah kejadian 5 tahun lalu" sahut Riko mulai membahas kejadian mengenaskan yang menimpanya setelah bertahun tahun memendam.
Maya tak bisa berkutik. Ia terdiam dan menduga duga apakah Riko tau siapa dalangnya.
"Sudahlah jangan dibahas. Jika kubahas sekarang mungkin akan membuka lama dan aku sangat ingin membunuh suamimu" ujar Riko yang dapat menjawab dugaan Maya.
"Maafkan suamiku dan maafkan aku, Riko. Apa yang terjadi padamu sunggu aku sangat menyesal" sahut wanita yang duduk disamping pengemudi. Matanya sudah berkaca kaca. Rasa bersalahnya kembali mencuat.
Riko menoleh dan tersenyum. Ia menepikan mobilnya dan masuk ke parkiran swalayan lalu berhenti disana agar bisa fokus berbicara kepada wanita yang masih sangat ia cintai di hatinya yang paling dalam
"Aku juga menyesal telah meninggalkanmu sendiri bersama pria bajingan itu" sahutnya.
Citt!
Sabuk pengaman dilepaskan, Riko menghadapkan tubuhnya kearah Maya.
"Selama 5 tahun ini...aku tidak pernah sekalipun melupakanmu, Maya. Setiap malam, aku membayangkan wajahmu sudah bahagia bersama si Juan brengsek itu dan memupuk kebencian ku semakin dalam padamu juga. Tapi ternyata...melihatmu diperlakukan seperti tadi, seketika benci padamu runtuh" ungkap Riko.
Maya sudah meneteskan air matanya.
"Melihatmu diturunkan dari mobil tadi, aku bisa memastikan suamimu itu adalah suami terbodoh yang menyia nyiakan kamu" lanjutnya.
Tes!
Air mata Maya semakin deras.
"Ri..Riko..aku.." lirih wanita itu dengan suara bergetar.
Jari telunjuk Riko menempel di bibir Maya.
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya pria itu dan Maya mengangguk.
Grep!
Riko memeluk erat Maya hingga bisa mencium aroma rambut wanita yang ia cintai untuk pertama kali.
"Ceraikan Juan dan menikahlah denganku, Maya. Aku akan membahagiakan mu" bisik Riko dan Maya langsung melepaskan pelukannya.
"Kamu datang kesini untuk membuatku bercerai dengan suamiku?" tanya Maya.
"Ya. Aku melihatmu tidak bahagia bersamanya, lebih baik bersamaku saja yang jelas jelas mencintaimu sedalam ini" jawab Riko jujur.
Maya mengusap air matanya.
Ia ingat perkataan Juan jika memintanya bercerai, Riko akan dalam bahaya lagi.
"Aku tidak bisa bercerai darinya" sahut Maya.
Riko mengerutkan kening.
"Kenapa? Apa kamu ingin semakin menderita bersamanya?" tanya pria itu.
"A..aku hamil dan aku tidak bisa membuatmu dalam bahaya" jawab Maya terdengar ragu namun berusaha berkata jujur.
Riko melihat kearah perut Maya.
"Ka..kamu hamil?" lirihnya dan wanita itu mengangguk.
"Dan hampir saja tadi suami mu itu membuatmu hampir jatuh karena mendorong mu didepan banyak orang?" tanya Riko memastikan.
"Dia belum tau" jawab Maya.
Riko terdiam.
Maya yang melihat raut kekecewaan pria dihadapannya ini merasa bahwa memang dirinya sudah tidak pantas bersama Riko.
"Lebih baik kamu mencari wanita lain daripada mengusahakan ku lagi, Ko. Aku sudah milik orang lain dan mengandung anak dari suamiku, lebih baik kamu mencari wanita yang masih gadis" ujar Maya.
"Aku turun sini saja. Kamu tidak perlu mengantarku" lanjutnya dan saat hendak membuka pintu, malah dikunci kembali oleh Riko.
"Maksud dari apa yang kamu katakan aku akan dalam bahaya itu bagaimana? Apa pria brengsek itu mengancammu?" tanyanya.
"Aku tidak ingin kamu terluka seperti 5 tahun lalu, Riko. Aku tidak mau kamu diapa apakan sama dia lagi. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan" jawab Maya.
Riko tertawa.
"Hahahahhahaa...kamu sungguh meremehkan ku, May. 5 tahun ini aku hidup untuk bertahan dan menguatkan diriku agar tidak ada yang bisa menyakiti ku ataupun orang yang aku sayangi. Aku tidak selemah itu sekarang. Yang ada suamimu itu akan menerima balasan yang setimpal dariku" ucapnya.
"Jika saat ini kamu setuju untuk menceraikan suamimu dan bersama ku, aku berjanji cinta mati ku padamu ini benar benar akan melindungi mu termasuk anak yang kamu kandung. Dia akan jadi anakku" lanjut Riko.
"Apa kamu benar benar bisa melawannya? Aku sangat takut jika dia menyakitimu lagi Riko. Kamu tidak tau seberapa aku sangat menyesal melihatmu tergeletak 5 tahun lalu tanpa sadar hah? Aku..aku..aku terlambat menyadari bahwa aku juga mencintaimu" sahut Maya kembali dengan tetesan air mata.
"Kamu sudah mencintai ku?" tanya Riko memastikan.
"Ya. Aku sadar jika mencintaimu saat Juan menyakitimu dan aku merasa hancur" jawab Maya.
Riko tersenyum.
"Maafkan aku karena tidak memperjuangkan cintaku kepadamu waktu itu dengan lebih keras. Seharusnya aku.." belum selesai berbicara, bibir Maya sudah dibungkam oleh bibir pria didepannya.
Maya tidak menolak dan malah membalas ciuman itu. Beberapa saat mereka seperti tidak bernafas hingga tautan bibir mereka terlepas karena kehabisan udara.
"Ciuman pertama yang kuinginkan sejak dulu" lirih Riko.
"Pertama? Apakah kamu selama ini tidak memiliki kekasih?" tanya Maya heran.
Riko menggelengkan kepala.
"Cinta ku habis di kamu, Maya. Pria miskin ini sungguh sungguh mencintaimu sejak pertama kali melihatmu di kampus. Kamu tidak percaya jika pria yang memberikan surat cinta menggunakan selembar tissue yang kamu buang ketika ospek itu adalah aku" ujarnya.
Maya menutup mulutnya tak percaya.
"Maafkan aku..aku kira itu hanya ucapan dari pria hidung belang" ucapnya.
"Hahahhaa, bagaimana bisa kamu anggap aku pria hidung belang disaat pertama kali mengungkapkan cinta? Tapi bisa aku maklumi seberapa banyak pria yang menyukaimu" sahut Riko.
Akhirnya Maya bisa tersenyum mendengar ucapan Riko.
"Bawa aku pergi dari kehidupanku sekarang, Riko" minta wanita itu.
"Pasti. Setelah menghancurkan karirnya, aku akan merebutmu dari dia dan aku perlu bantuanmu untuk menjatuhkannya dari perusahaan RaSwa" sahut Riko dan Maya mengangguk.
Setelah itu Riko menjalankan mobilnya lagi keluar parkiran swalayan untuk mengantar Maya pulang.