🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 | Mata Sang Cenayang
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Mereka menjuluki ku Wanita Es dari Shanghai. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Di usia ku yang baru menginjak dua puluh lima tahun, aku telah memimpin Grup Dragon melewati badai ekonomi yang telah menenggelamkan banyak pria tua berpengalaman. Bagi ku, dunia ini hanyalah sekumpulan angka, grafik, dan probabilitas. Perasaan adalah variabel yang tidak stabil, dan ketidakstabilan adalah musuh utama keuntungan.
Namun, pria yang duduk di sofa kantor ku saat ini, Satya Samantha adalah variabel yang tidak bisa kumasukkan ke dalam rumus mana pun.
Aku memperhatikan nya dari balik meja kerja ku yang terbuat dari kayu mahoni langka. Dia tampak terlalu santai untuk seseorang yang baru saja hampir diusir oleh satpam ku kemarin. Dia menyesap teh Oolong nya dengan tenang, mata nya menatap ke luar jendela, ke arah cakrawala Shanghai yang mulai dipenuhi gedung-gedung pencakar langit yang bersaing ketinggian.
"Siapa kau sebenarnya, Satya?" gumam ku penasaran. "Hanya keberuntungan? Atau kau memang memiliki mata yang bisa melihat menembus tembok besi?"
Kejadian kemarin, di mana dia membongkar pengkhianatan asisten pribadi ku hanya dalam hitungan detik, masih menghantui ku. Itu tidak logis. Itu tidak rasional. Dan dalam dunia ku, segala sesuatu yang tidak rasional adalah ancaman atau peluang yang sangat besar.
"Satya," panggil ku, suara ku tetap datar dan penuh otoritas.
Dia menoleh, memberikan senyuman tipis yang entah kenapa membuat detak jantung ku sedikit tidak beraturan. "Ya, Nona Wang? Anda sepertinya sudah selesai merenungkan apakah saya ini penyihir atau mata-mata."
Aku mendengus, menyilangkan kaki jenjang ku yang terbalut rok span sutra. "Aku tidak percaya sihir, dan jika kau mata-mata, kau terlalu mencolok. Aku ingin mengetes mu. Kejadian kemarin bisa saja hanya kebetulan atau mungkin kau memang sudah mengincar asisten ku sejak lama."
Satya meletakkan cangkir teh nya. "Tes? Aku suka tantangan. Apa taruhan nya?"
"Jika kau benar, aku akan memberikan mu akses ke dana taktis perusahaan sebesar sepuluh juta dollar untuk kau kelola. Jika kau salah..." aku menjeda, menatap nya tajam, "...kau akan keluar dari gedung ini tanpa alas kaki dan aku akan memastikan nama mu masuk daftar hitam di seluruh China."
Satya tertawa pelan. Suara tawa nya rendah dan jantan, sangat kontras dengan pria-pria di sekitar ku yang selalu bicara dengan nada menjilat. "Taruhan yang menarik. Silakan, Nona Wang. Tunjukkan apa yang Anda punya."
Aku memutar layar monitor besar ku ke arah nya. Di sana terpampang grafik pasar modal Shanghai yang sedang kacau balau. Krisis moneter mulai merayap dari Asia Tenggara, dan spekulan mulai menyerang mata uang Yuan secara sporadis. Saham-saham sektor teknologi dan manufaktur bergerak liar.
"Lihat saham Huaxia Electronics," aku menunjuk sebuah grafik hijau yang sedang menanjak kuat. "Mereka baru saja mengumumkan kontrak besar dengan Amerika. Semua analis di Beijing dan Hong Kong menyarankan Buy. Dalam laporan intelejen bisnis ku, mereka diprediksi akan naik 15% lagi sebelum penutupan pasar sore ini. Apa pendapat mu?"
Satya berdiri, melangkah mendekat ke arah monitor. Dia tidak melihat angka-angka nya. Dia seolah-olah sedang menatap sesuatu yang jauh di balik piksel layar itu. Aku memperhatikan wajah nya dari samping. Rahang nya tampak tegas, dan ada kehangatan yang aneh terpancar dari kulit nya.
Tiba-tiba, pupil mata nya bergetar. Kilatan warna merah darah dan emas muncul sesaat di kedua mata nya sebelum kembali normal. Aku mengerjapkan mata, mengira itu hanya pantulan cahaya lampu kantor.
"Grafik yang cantik," gumam Satya. "Tapi itu adalah kecantikan seorang pasien kanker yang memakai riasan tebal. Nona Wang, jika Anda punya posisi di Huaxia, jual semua nya sekarang juga. Kosongkan portofolio Anda di sana dalam sepuluh menit."
Aku mengernyitkan dahi. "Apa? Kau gila? Mereka sedang berada di puncak! Menjual sekarang berarti kehilangan potensi keuntungan jutaan dollar!"
Satya berbalik, menatap ku dengan tatapan yang begitu dalam hingga aku merasa telanjang di depan nya. "Pukul dua siang nanti, pabrik utama mereka di Shenzhen akan mengalami kebakaran hebat akibat sabotase internal yang disamarkan sebagai arus pendek. Berita nya akan meledak di radio pukul setengah tiga. Saham nya tidak akan turun 15%, Meiling. Saham nya akan dibekukan karena jatuh ke titik nol."
Aku tertegun. "Sabotase? Kebakaran? Darimana kau bisa tahu hal spesifik itu? Intelejen ku bahkan tidak mendengar desas-desus sabotase!"
"Intelejen mu melihat apa yang sudah terjadi. Aku melihat apa yang akan terjadi," Satya mendekat, meletakkan kedua tangan nya di atas meja kerja ku, mencondongkan tubuh nya ke arah ku. Aroma maskulin nya yang bercampur dengan bau hujan yang tertinggal mulai memenuhi ruang pribadi ku. "Percayalah pada ku, atau habiskan sore ini dengan menangis di pundak ayah mu karena kehilangan aset keluarga."
Aku merasa tertantang, sekaligus terangsang oleh keberanian nya. Tidak ada pria yang berani memanggil nama ku tanpa gelar, apalagi mendikte keputusan ku. Namun, ada sesuatu di mata nya yang memaksa ku untuk patuh. Sebuah otoritas yang lebih tinggi dari uang atau kekuasaan.
Aku meraih telepon internal. "Halo, divisi trading? Jual seluruh posisi kita di Huaxia Electronics. Ya, sekarang. Jangan tanya kenapa, lakukan saja!"
Setelah menutup telepon, aku bersandar di kursi, jantung ku berdegup kencang. "Jika kau salah, Satya... kau tidak akan hanya kehilangan sepatu. Aku sendiri yang akan mematahkan kaki mu."
Satya hanya tersenyum tenang, lalu duduk kembali di sofa dan mulai membaca majalah mode yang terletak di sana seolah tidak terjadi apa-apa.
Dua jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Aku mencoba fokus pada laporan lain, tapi mataku terus melirik ke arah jam dinding dan layar monitor. Satya tampak sangat tenang, bahkan sempat tertidur kecil di sofa.
Pukul 14.15. Grafik Huaxia Electronics masih stabil, bahkan naik 1%. Aku mulai merasa telah melakukan kesalahan bodoh karena mempercayai seorang karyawan gadungan.
"Satya, lihat ini," kata ku dengan nada dingin yang mulai kembali. "Pasar hampir tutup, dan Huaxia tetap—"
Tiba-tiba, monitor di depan ku berkedip merah. Sebuah notifikasi berita Breaking News muncul di pojok layar.
[BREAKING: LEDAKAN DAN KEBAKARAN HEBAT MENGHANTAM KOMPLEKS PABRIK HUAXIA ELECTRONICS DI SHENZHEN. PRODUKSI TOTAL TERHENTI.]
Aku berdiri dari kursi ku dengan sentakan yang membuat kursi itu terjatuh ke belakang. Mata ku terpaku pada layar. Garis hijau yang tadi nya menanjak indah tiba-tiba terjun bebas, membentuk garis vertikal lurus ke bawah. Merah. Darah di mana-mana.
"Sesuai jadwal," suara Satya terdengar dari arah sofa. Dia sudah bangun, merenggangkan tubuh nya seperti seekor singa yang baru selesai tidur siang.
Aku menatap nya dengan rasa tidak percaya yang bercampur dengan ketakutan. "Bagaimana... bagaimana mungkin... kau bahkan tahu jam nya... kau tahu penyebab nya..."
Satya berjalan ke arah ku. Dia berdiri tepat di depan ku, sangat dekat sehingga aku bisa merasakan panas tubuh nya. Dia mengangkat tangan nya, perlahan merapikan sehelai rambut ku yang jatuh ke wajah. Sentuhan nya membuat aliran listrik menjalar ke seluruh saraf ku.
"Sudah kubilang, Meiling," bisik nya. "Dunia ini tidak acak. Semuanya punya pola. Dan aku adalah satu-satu nya orang yang bisa membaca pola itu untuk mu."
Aku merasa kaki ku lemas. Sebagai CEO, aku selalu merasa memegang kendali. Tapi di depan pria ini, aku merasa seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia. Karisma nya yang misterius mulai menghancurkan dinding es yang ku bangun bertahun-tahun.
"Kau... kau bukan manusia biasa," gumam ku, suara ku sedikit bergetar.
Satya tersenyum, kali ini senyuman nya lebih lembut, hampir menggoda. "Aku adalah apa pun yang kau butuhkan. Rekan bisnis, pelindung, atau mungkin... sesuatu yang lebih?"
Wajah ku memanas. Aku, Wang Meiling, tersipu? Ini mustahil. Tapi tatapan mata nya yang tajam seolah-olah menembus pertahanan ku, menyentuh bagian dari diri ku yang selama ini kesepian di puncak kekuasaan.
Tiba-tiba, pintu kantor ku terbuka dengan kasar. Ayah ku, Wang Jian, masuk dengan wajah panik.
"Meiling! Kau dengar soal Huaxia? Untung kita baru saja menjual, tunggu, siapa pria ini?" Ayah ku berhenti, menatap Satya dengan curiga.
Aku segera menarik diri dari Satya, mencoba menguasai emosi ku kembali. "Ayah, ini Satya Samantha. Konsultan strategis baru ku. Dia... dialah yang menyarankan ku menjual posisi kita di Huaxia sepuluh menit sebelum kejadian."
Ayah ku terbelalak. Dia menatap Satya dari atas ke bawah. Sebagai rubah tua di dunia bisnis, dia pasti mencium sesuatu yang luar biasa. "Konsultan? Anak muda, kau menyelamatkan kami dari kerugian tiga puluh juta dollar sore ini."
Satya membungkuk hormat, namun tetap dengan gaya yang percaya diri. "Hanya melakukan tugas ku, Tuan Wang."
"Meiling, kita harus merayakan ini," kata ayah ku sambil menepuk bahu Satya. "Malam ini, ada jamuan makan malam dengan para petinggi perbankan di Shanghai Club. Satya, kau harus ikut. Aku ingin memperkenalkan mu pada beberapa orang."
"Dengan senang hati," jawab Satya.
Setelah ayah ku pergi, ruangan kembali hening. Aku menatap Satya, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. "Kau akan menjadi pusat perhatian malam ini. Banyak wanita cantik dari keluarga terpandang akan ada di sana. Jangan biarkan kekuatan mu membuat mu besar kepala."
Satya melangkah mendekat lagi, kali ini dia dengan berani menyentuh dagu ku, mengangkat wajah ku agar menatap mata nya. "Nona Wang, kau tidak perlu khawatir soal wanita-wanita itu. Mata ini bisa melihat ribuan orang, tapi saat ini, mereka hanya ingin menatap mu."
Sentuhan jari-nya di dagu ku terasa membakar. Aku ingin menepis nya, tapi tubuh ku mengkhianati ku. Aku hanya bisa berdiri terpaku saat dia berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah angkuh.
"Pria ini..." pikir ku saat pintu tertutup. "Dia adalah berkah sekaligus kutukan. Dia bisa membawa ku ke puncak dunia, atau dia bisa menghancurkan ku hanya dengan satu tatapan. Tapi satu hal yang pasti... aku tidak akan pernah membiarkan nya pergi dari sisi ku. Dia milik ku. Senjata rahasia Grup Dragon. Milik Wang Meiling."
Aku melihat ke cermin di sudut ruangan. Pipi ku masih merah. Aku menyentuh dagu ku, di mana jejak jari nya masih terasa. Dingin ku mulai mencair, dan untuk pertama kali nya dalam hidup ku, aku merasa takut. Bukan takut akan kemiskinan atau kegagalan, tapi takut akan betapa mudah nya pria asing ini menguasai pikiran ku.
Malam ini di Shanghai Club... aku harus memastikan dia tetap berada di bawah kendali ku. Tapi jauh di dalam lubuk hati ku, aku tahu, dialah yang kini memegang tali kekang takdir ku.
...----------------🍁----------------🍁----------------...