Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Residu di Balik Cakrawala
Enam bulan telah berlalu sejak langit di atas Fort Santiago runtuh dan rumah kaca di Bogor menjadi saksi bisu kejatuhan The Mother.
Dunia luar masih bergejolak. Berita tentang persidangan Widya Senja memenuhi setiap inci layar di seluruh dunia. Skandal Obsidian Circle telah memicu revolusi digital; rakyat menuntut transparansi, dan beberapa pemerintahan jatuh karena terbukti menerima suap dari Lingkaran tersebut. Namun, di sebuah desa nelayan terpencil di pesisir Amalfi, Italia, riuh rendah itu hanya terdengar seperti desau angin yang tak berarti.
Arkaen Malik—atau kini hanya Arka—berdiri di balkon sebuah vila tua berdinding kapur yang menghadap langsung ke Laut Tirreno. Ia tidak lagi mengenakan tuksedo pesanan penjahit Italia atau membawa senjata laras panjang. Ia hanya mengenakan kemeja linen longgar dan celana pendek, tangannya memegang segelas kopi hitam yang masih mengepul.
Di dalam kamar, ia bisa mendengar suara ketikan yang ritmis. Alea sedang duduk di depan meja kayu jati yang menghadap ke jendela. Ia kembali ke cinta pertamanya: menulis. Bukan lagi berita investigasi yang penuh noda darah, melainkan sebuah memoar yang ia harap bisa menjadi peringatan bagi generasi mendatang.
"Arka," panggil Alea tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. "Kau melihat email dari Rio tadi pagi?"
Arka menghela napas, melangkah masuk ke dalam ruangan yang harum oleh aroma melati dan kertas lama. Ia mengecup puncak kepala Alea sebelum duduk di tepi meja. "Aku melihatnya. Dia bilang aset Malik Group di Jakarta sudah sepenuhnya diaudit oleh pemerintah. Sebagian besar akan dikembalikan ke negara, sisanya dikelola oleh yayasan independen untuk korban Proyek Omega."
Alea berhenti mengetik, lalu menoleh. Matanya yang dulu penuh ketakutan kini tampak lebih jernih, meski ada gurat kedewasaan yang permanen di sana. "Dan... tentang ibuku?"
"Dia menolak bicara dalam persidangan terakhir," Arka menjawab dengan nada datar. "Dia hanya menanyakan keberadaanmu. Tapi tim hukum kita sudah memastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di fasilitas keamanan maksimum yang lokasinya dirahasiakan."
Alea mengangguk pelan. Ada rasa pedih yang masih tertinggal, namun ia telah belajar untuk berdamai dengan kenyataan bahwa ibunya adalah monster yang ia kalahkan, bukan orang tua yang ia rindukan.
Sore itu, mereka berjalan-jalan di sepanjang dermaga kayu tempat kapal-kapal nelayan bersandar. Penduduk lokal mengenal mereka sebagai pasangan pelancong dari Asia yang pendiam namun ramah. Tak ada yang menyangka bahwa pria yang membantu nelayan menarik jaring adalah orang yang pernah menggoncang ekonomi bawah tanah satu benua.
"Kau merindukannya?" tanya Alea tiba-tiba saat mereka duduk di sebuah bar kecil sambil menikmati gelato.
"Merindukan apa?"
"Adrenalinnya. Kekuasaannya. Menjadi orang yang paling ditakuti."
Arka tertawa kecil, suara yang kini terdengar lebih tulus. Ia menggenggam tangan Alea, jemarinya mengusap bekas luka kecil di bahu Alea yang kini sudah memudar. "Aku merindukan ketenangan ini sepanjang hidupku, Alea. Memiliki sesuatu yang tidak perlu aku lindungi dengan senapan adalah kekuasaan yang sebenarnya bagiku."
Namun, ketenangan itu terusik saat mereka kembali ke vila saat matahari mulai terbenam. Di depan pintu kayu besar mereka, tergeletak sebuah kotak kayu kecil tanpa pengirim.
Insting Arka kembali seketika. Ia menarik Alea ke belakang tubuhnya. Matanya menyapu sekeliling—pepohonan zaitun yang sunyi, jalan setapak yang kosong. Ia memeriksa kotak itu dengan hati-hati. Tak ada kabel, tak ada tanda-tanda peledak.
Arka membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah koin emas kuno dengan lambang yang berbeda dari Obsidian Circle. Ini adalah lambang Ouroboros—seekor ular yang menggigit ekornya sendiri.
Di bawah koin itu, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi:
"Potong satu kepala, dua lagi akan tumbuh. Lingkaran adalah bentuk yang sempurna, tapi Spiral adalah perjalanan yang tak berakhir. Selamat atas kemenangan kecilmu, Arkaen. Sampai kita bertemu di perjamuan selanjutnya."
Alea merasakan jantungnya mencelos. "Itu bukan dari ibuku, kan?"
"Bukan," jawab Arka, wajahnya kembali mengeras seperti batu karang. "Ini jauh lebih tua dari Obsidian Circle. Ini adalah simbol dari The Collective. Organisasi yang menurut Don Malik hanya sebuah mitos urban di kalangan pedagang senjata kelas atas."
Alea menatap koin itu dengan ngeri. "Jadi, ini belum berakhir? Semua yang kita lakukan... Fort Santiago, Caleb, Helena... itu semua hanya bagian kecil?"
Arka menatap koin emas itu, lalu menatap Alea. Ia bisa melihat kilatan ketakutan kembali di mata wanita itu. Ia tahu, jika ia membiarkan ketakutan itu menang, mereka akan kembali menjadi buronan yang hidup dalam bayang-bayang.
Arka mengambil koin itu dan melemparkannya jauh-jauh ke arah laut. Koin itu tenggelam dengan bunyi plung yang kecil, menghilang ditelan kedalaman Tirreno.
"Mungkin mereka memang ada," ucap Arka sembari memegang kedua bahu Alea, menatap matanya dalam-dalam.
"Mungkin dunia ini memang dipenuhi oleh monster-monster lain yang menunggu giliran. Tapi hari ini, kita tidak akan lari. Kita sudah membuktikan bahwa monster bisa berdarah. Dan jika mereka datang ke sini, mereka akan menemukan bahwa kita bukan lagi mangsa yang mudah."
Alea menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia melihat Arka, melihat pria yang telah mengorbankan segalanya demi dirinya, dan ia menyadari satu hal. Mereka bukan lagi jurnalis dan mafia. Mereka adalah penyintas.
"Kalau begitu," Alea menguatkan suaranya, "biarkan mereka datang. Aku punya banyak ruang di memoarku untuk bab-bab selanjutnya."
Malam itu, mereka duduk di teras bawah sinar bintang. Arka tidak lagi berjaga dengan pistol di tangan, namun telinganya tetap tajam mendengarkan suara langkah kaki di kejauhan. Rio menelepon melalui jalur aman, mengabarkan bahwa ia telah mendeteksi aktivitas aneh di server gelap di Rusia yang menyebut-nyebut nama mereka.
"Kau ingin aku melacaknya, Tuan?" tanya Rio di seberang sana.
Arka melirik Alea yang sedang tertidur lelap di kursi panjang di sampingnya, tertutup selimut wol tipis. Ia tampak begitu damai, seolah-olah seluruh kekejaman dunia sudah ia lupakan.
"Jangan, Rio," jawab Arka pelan. "Hancurkan semua jejak digital kita. Ubah lokasi server pengalihan ke Amerika Selatan. Biarkan mereka mencari hantu. Kita sudah selesai dengan perang ini, setidaknya untuk malam ini."
"Baik, Tuan. Dan... selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, jika Anda menghitung dari hari penculikan itu."
Arka tersenyum tipis. "Terima kasih, Rio."
Setelah menutup telepon, Arka menyandarkan kepalanya. Ia tahu bahwa kedamaian ini mungkin rapuh. Ia tahu bahwa koin Ouroboros itu adalah peringatan bahwa di luar sana, masih banyak mata yang mengawasi mereka dari kegelapan. Namun, saat ia melihat Alea bernapas dengan tenang, ia menyadari bahwa setiap detik kedamaian ini sepadan dengan setiap peluru yang pernah ia tembakkan.
Ia telah menghancurkan satu Lingkaran. Jika harus, ia akan menghancurkan seluruh Spiral dunia bawah tanah demi wanita ini.
Di bawah langit Amalfi yang luas, Arka menutup matanya, membiarkan dirinya terlelap untuk pertama kalinya tanpa mimpi buruk. Karena di sampingnya, kebenaran yang paling murni telah ia temukan: bahwa cinta bukanlah tentang melarikan diri dari kegelapan, melainkan tentang menjadi cahaya bagi satu sama lain saat kegelapan itu datang kembali.