NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
​Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan tujuh pedang naga part 16

Setelah menempuh perjalanan laut yang melelahkan dari Tiongkok, Lin Feng dan Dyah Ayu Kirana akhirnya menginjakkan kaki di daratan India. Namun, sambutan alam tidaklah ramah. Mereka harus melintasi Gurun Thar yang sangat luas, di mana pasir yang membara dan angin kering seolah menghisap tenaga mereka setiap detiknya.

​Matahari bersinar begitu terik, membuat udara di atas pasir tampak bergelombang. Lin Feng berjalan di depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Kirana baik-baik saja.

​Tiba-tiba, kuda-kuda mereka meringkik gelisah. Dari balik bukit-bukit pasir yang tinggi, muncul segerombolan pria dengan pakaian serba tertutup dan sorban yang melindungi wajah mereka dari debu. Jumlah mereka tak kurang dari lima puluh orang, semuanya menunggangi unta dan kuda yang gagah.

​Mereka adalah Segerombolan Perampok Padang Pasir, bandit-bandit kejam yang terkenal tak pernah meninggalkan saksi hidup.

​"Berhenti!" teriak pemimpin perampok yang bertubuh kekar, sambil mengacungkan sebuah Talwar (pedang lengkung India) yang berkilat tajam. "Serahkan semua barang berharga kalian, termasuk wanita cantik itu, dan mungkin aku akan membiarkanmu mati dengan cepat!"

​Lin Feng turun dari kudanya dengan tenang. Meski peluh mengucur di dahinya, matanya tetap tajam. "Kami tidak mencari masalah. Kami hanya ingin lewat," ucapnya dalam bahasa lokal yang sempat diajarkan Guru Lu.

​"Masalah yang mencarimu, Anak Muda!" raung sang pemimpin sambil memberi isyarat serang.

​Perampok-perampok itu merangsek maju dengan teriakan liar. Lin Feng mencabut Pedang Naga Bumi. Saat pedang itu keluar dari sarungnya, hawa panas gurun seolah kalah oleh aura merah membara yang terpancar. Di sisi lain, Dyah Ayu Kirana melesat dengan pedang putihnya. Gerakannya di atas pasir sangat ringan, seolah ia sedang menari di atas air.

​Kirana menggunakan teknik Angin Selatan, menebas senjata musuh dengan presisi luar biasa. Meski tubuhnya terlihat ramping dan sempurna, kekuatannya mampu mematahkan tulang para bandit yang berani mendekat. Lin Feng sendiri bergerak seperti badai pasir; setiap tebasannya menciptakan gelombang tekanan yang menghempaskan musuh hingga terkubur di bawah pasir.

​Hanya dalam waktu singkat, setengah dari komplotan itu sudah tersungkur. Pemimpin perampok yang melihat anak buahnya tumbang dengan mudah, mulai gemetar ketakutan. "Kalian... kalian bukan manusia biasa!" teriaknya sambil memacu kudanya melarikan diri, diikuti sisa anak buahnya yang ketakutan.

​Setelah suasana kembali tenang, Lin Feng menyeka keringat di wajahnya. Ia mendekati Kirana yang sedang menyarungkan pedangnya dengan anggun.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Lin Feng, suaranya terdengar cemas. Ia mengambil kantung air dan memberikannya kepada Kirana.

​Kirana meminum air itu sedikit, lalu tersenyum manis hingga lesung pipitnya terlihat. "Aku baik-baik saja, Lin Feng. Hanya sedikit debu. Tapi... lihatlah dirimu," Kirana mendekat dan tanpa ragu menyeka butiran pasir di bulu mata Lin Feng menggunakan jarinya yang lembut.

​Sentuhan itu membuat Lin Feng terdiam membeku. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat bertarung tadi. Wajahnya yang sudah terbakar matahari kini tampak semakin memerah.

​"Ehem... sepertinya kita harus segera mencari tempat berteduh," gumam Lin Feng salah tingkah, membuang muka untuk menyembunyikan rona merahnya.

​Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul bayangan Wang Bao dan Chen Hu yang rupanya mengikuti dari jarak jauh untuk menjaga mereka.

​"Wah, wah! Hebat sekali!" teriak Wang Bao sambil turun dari untanya dengan susah payah. "Bertarung di gurun memang panas, tapi melihat kalian berdua berduaan seperti itu jauh lebih panas bagi hatiku yang jomblo ini!"

​Chen Hu terkekeh sambil menepuk-nepuk debu di jubahnya. "Lin Feng, aku tadi hampir ingin membantu, tapi Wang Bao melarangku. Katanya, 'Jangan ganggu, itu adalah pemanasan sebelum mereka berpegangan tangan di bawah bintang gurun'."

​"Senior!" protes Lin Feng dengan suara meninggi, sementara Kirana hanya tertawa kecil melihat Lin Feng yang kembali menjadi sasaran godaan kedua seniornya itu di tengah gurun yang luas.

Setelah melintasi gurun yang membakar, rombongan Lin Feng akhirnya tiba di tepian Sungai Gangga yang agung. Di bawah sebuah reruntuhan candi kuno yang tersembunyi oleh akar pohon beringin raksasa, mereka menuruni tangga batu yang dalam hingga sampai di sebuah aula bawah tanah yang megah namun terasa mencekam.

​Di sana, mereka dihadang oleh seorang penjaga kuil bernama Rishi Vashista, seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata yang berkilat seperti permata. Ia memegang sebuah tongkat perak yang memancarkan aura suci.

​Setelah Lin Feng dan Kirana memberikan penghormatan serta menceritakan ancaman dari The Sovereigns of the Dragon, Rishi Vashista menghela napas panjang. Ia mengajak mereka duduk di depan sebuah kolam air suci yang permukaannya hitam pekat.

​"Kalian datang untuk mencari pedang naga yang paling terkutuk," ucap Rishi Vashista dengan suara berat. "Ketahuilah, Naga Takshaka bukanlah naga yang membawa berkah. Di zaman Dwapara Yuga, ia adalah raja naga yang menyimpan dendam membara kepada Sang Panengah Pandawa, Arjuna."

​Rishi itu mengibaskan tangannya ke atas air, memunculkan bayangan masa lalu. "Takshaka kehilangan keluarganya saat hutan Khandava dibakar oleh Arjuna dan Agni. Dendam itu merasuki jiwanya hingga berabad-abad. Bahkan setelah perang Bharatayudha usai dan para Pandawa telah berpulang ke langit, Takshaka tidak berhenti. Ia bersumpah akan menghabisi seluruh keturunan Pandawa tanpa sisa."

​"Ia adalah naga yang membunuh Raja Parikesit, cucu Arjuna," lanjut sang Rishi. "Karena keganasannya yang tak terkendali dan keinginannya untuk menghancurkan tatanan dunia, seorang Resi agung di masa itu menggunakan seluruh kekuatan tapasya-nya untuk menyegel jiwa Takshaka ke dalam sebilah pedang. Pedang itu kini menjadi penjara sekaligus sumber kekuatan racun yang luar biasa."

​Mendengar cerita yang begitu mengerikan, Kirana tanpa sadar merapat ke samping Lin Feng. Suasana kuil yang dingin dan lembap membuat tubuhnya sedikit menggigil. Merasa kegelisahan gadis itu, Lin Feng secara naluriah menggenggam tangan Kirana di bawah meja batu, mencoba memberikan kekuatan.

​Kirana menatap Lin Feng dengan tatapan yang penuh arti. Di dalam kegelapan kuil itu, getaran cinta di antara mereka terasa semakin nyata—sebuah kontras yang aneh di antara sejarah dendam Naga Takshaka dan kelembutan hati yang mereka miliki. Wajah Lin Feng kembali memerah, namun ia tidak melepaskan genggamannya.

​Tiba-tiba, sebuah suara berbisik dari balik bayangan pilar batu di belakang mereka.

​"Psst... Kakak Chen Hu, lihat itu," bisik Wang Bao dengan nada yang sengaja dikeraskan. "Di depan sejarah kematian Raja Parikesit saja mereka masih sempat-sempatnya bergandengan tangan. Sepertinya racun Takshaka tidak ada apa-apanya dibanding 'racun asmara' si Lin Feng."

​Chen Hu yang duduk di samping Wang Bao hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus toyanya. "Mungkin Lin Feng sedang mengetes apakah tangan Nimas Kirana mengandung penawar racun. Tapi setahuku, cara mengetesnya tidak perlu sambil mengelus punggung tangannya seperti itu."

​Lin Feng tersentak dan segera menarik tangannya seolah-olah baru saja menyentuh bara api. "Senior! Bisakah kalian menghormati sejarah yang sedang diceritakan Rishi Vashista?" seru Lin Feng dengan wajah yang kini lebih merah daripada Pedang Naga Bumi.

​Rishi Vashista hanya tersenyum bijak melihat kelakuan mereka. "Cinta adalah penawar terbaik untuk dendam, Anak Muda. Tapi bersiaplah, karena pintu menuju ruang penyimpanan Takshaka hanya bisa dibuka oleh mereka yang mampu menaklukkan rasa takut di dalam hatinya sendiri."

1
anggita
like iklan👍👆 moga novelnya lancar jaya.
anggita
ilmu Tiongkok vs Nusantara Jawa🔥
anggita
ada cerita sejarahnya juga... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!