Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan tujuh pedang naga part 17
Rishi Vashista membuka gerbang perunggu yang dihiasi ukiran ular melingkar. Seketika, uap hijau keunguan yang pekat merembes keluar, membawa aroma busuk yang menusuk sukma.
"Masuklah. Hanya kemurnian batin yang bisa menahan racun ini," bisik sang Rishi.
Lin Feng dan Kirana melangkah masuk. Ruangan itu dipenuhi gas beracun yang membuat pandangan mereka mulai berputar. Halusinasi tentang kegagalan dan kematian mulai membisik di telinga mereka. Lin Feng segera menarik Kirana ke dalam pelukannya, menyelimuti tubuh mereka dengan aura merah dari Pedang Naga Bumi untuk menahan gas tersebut.
"Tetaplah bersamaku, Kirana. Jangan dengarkan suara-suara itu," bisik Lin Feng erat. Kirana membalas pelukan itu, menyalurkan Qi putihnya yang suci untuk menjaga kesadaran Lin Feng.
Tiba-tiba, pandangan mereka menjadi gelap total. Jiwa mereka seolah tersedot keluar dari raga, melintasi ruang dan waktu hingga mereka berdiri di sebuah hamparan api hitam yang tak berujung. Di hadapan mereka, sesosok naga raksasa dengan sisik hitam legam dan mata ungu membara muncul dari kegelapan.
Itulah Naga Takshaka.
Hawa dingin yang mematikan memancar dari tubuh naga itu. Kepalanya yang besar bergerak perlahan, mendekati Lin Feng.
Di tengah hamparan kabut hitam yang pekat, jiwa Lin Feng dan Kirana berdiri tegar menghadapi sosok naga raksasa yang mengintimidasi. Mata ungu membara Naga Takshaka berkilat, seolah mampu menembus lapisan terdalam jiwa mereka.
Lin Feng mempererat genggamannya pada tangan Kirana, merasakan aura dingin yang menusuk tulang. "Siapa kau?!" tanya Lin Feng dengan suara lantang yang bergema di alam jiwa tersebut.
Naga itu bergerak perlahan, kepalanya yang sebesar bukit kecil turun merendah, berhenti tepat di depan wajah mereka hingga hembusan napasnya yang beracun terasa nyata.
"Seharusnya aku yang bertanya..." suara Takshaka menggelegar, membuat lantai dimensi itu bergetar. "Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan, manusia-manusia kecil?"
Lin Feng melangkah maju satu tindak, tangannya masih menggenggam jemari Kirana untuk saling menguatkan. Ia menegakkan punggungnya dan menjawab dengan suara yang mantap.
"Namaku adalah Lin Feng, murid dari Guru Lu di tanah Tiongkok, dan pemegang amanah Pedang Naga Bumi. Di sampingku adalah Dyah Ayu Kirana, pendekar dari tanah Majapahit," ucap Lin Feng tegas. "Kami datang ke sini bukan untuk mengusik tidurmu, melainkan untuk mencegah sebuah organisasi kegelapan bernama The Sovereigns of the Dragon mengambil pedangmu. Mereka ingin menggunakan dendammu untuk menghancurkan tatanan dunia."
Naga Takshaka terdiam sejenak, lalu ia tertawa rendah—suara yang lebih mirip dengan rintihan batu besar yang saling bergesekan.
"Mencegah?" Takshaka mendesis, lidahnya yang bercabang menjulur keluar. "Kalian ingin menjagaku tetap di dalam penjara besi ini? Manusia selalu menganggap diri mereka pahlawan. Tapi kau, Lin Feng... wajahmu tampan, namun kau mengingatkanku pada orang yang sangat aku benci."
Kirana memberanikan diri menyela, "Maksudmu... Sang Panengah Pandawa, Raden Arjuna?"
"JANGAN SEBUT NAMA ITU!" raung Takshaka hingga api hitam menyembur dari sela sisiknya. "Nama itu adalah luka yang takkan pernah sembuh! Dan kau, perempuan... kau sangat mirip dengan Drupadi, istri Yudistira. Mata kalian sama-sama menyimpan api keteguhan yang dulu membakar semangat para Pandawa untuk menghancurkan kaumku."
Takshaka mendekatkan wajahnya yang mengerikan ke arah mereka berdua. "Jadi, kau ingin meminjam kekuatanku untuk menyelamatkan dunia yang dulu membuangku? Berikan aku satu alasan mengapa aku tidak harus menelan jiwa kalian sekarang juga."
Kembali ke Realita dan Godaan Senior
Seketika, sebuah tarikan energi yang sangat kuat menghempaskan jiwa mereka kembali ke raga. Lin Feng dan Kirana tersentak bangun, terengah-engah di lantai ruang segel. Secara naluriah, karena syok yang hebat, Lin Feng mendekap Kirana dengan sangat erat, sementara Kirana menyandarkan kepalanya di dada Lin Feng untuk mencari ketenangan.
"ADUHAII! Pemandangan apa ini?!"
Suara Wang Bao meledak dari ambang pintu gerbang batu yang kini terbuka lebar. Ia masuk sambil membawa gada besarnya, diikuti oleh Chen Hu yang tampak memegang dahi sambil tersenyum kecut.
"Lihat itu, Kakak Chen Hu!" seru Wang Bao dengan wajah girang. "Aku kira mereka sedang bertarung nyawa melawan naga, ternyata mereka sedang berlatih jurus 'Pelukan Penawar Racun'. Lin Feng, sepertinya kau sengaja tidak mau cepat-cepat bangun agar bisa memeluk Nimas Kirana lebih lama, ya?"
Chen Hu terkekeh sambil menyandarkan toyanya di dinding. "Lin Feng, Naga Takshaka mungkin punya dendam pada Pandawa, tapi kalau dia melihat kemesraan kalian, mungkin dia akan mati untuk kedua kalinya karena iri. Lihatlah, tanganmu bahkan tidak mau lepas dari pinggangnya."
Lin Feng langsung melepaskan pelukannya dengan panik, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. "Senior! Tadi itu... jiwaku hampir tertelan! Aku hanya memastikan Kirana selamat!"
"Iya, iya, memastikan selamat atau memastikan dia tidak lepas dari dekapanmu?" goda Wang Bao sambil mengedipkan mata pada Kirana yang juga sedang menunduk malu memperbaiki sanggulnya yang miring. "Kalau tahu begini, aku tadi tidak perlu terburu-buru masuk membawa obat penawar."