Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 1
Suara riuh mahasiswa, dentuman pintu kelas dibuka-tutup, dan gesekan kursi memenuhi telinga.
Lyra mengerjap pelan. Cahaya putih dari lampu neon menyorot wajahnya. Tangannya meraba meja kayu, dingin dan keras.
"...ini... apa?" bisiknya.
Dia buru-buru duduk tegak. Napasnya tersengal, mata biru mudanya bergetar. Tadi... dia jelas ingat. Veronica mendorongnya keluar jendela. Gaunnya berkibar, tubuhnya menghantam udara kosong, lalu-gelap.
Tapi sekarang... dia ada di kelas kampus.
"Hazel Lyra Raven."
Suara itu menusuk telinganya. Perlahan, Lyra menoleh.
Di depannya berdiri pria muda berjas putih, kacamata tipis menggantung di hidungnya, rambut pirang berkilau tertimpa cahaya lampu.
Pharma Adrian.
"Kalau kamu tidur lagi di kelas saya, lebih baik nggak usah masuk." Suaranya dingin, tapi senyumnya... sinis khas dia.
Lyra tercekat. Matanya membesar. Pharma...?
Ingatan terakhirnya adalah hari pernikahan mereka. Janji di altar. Veronica masuk. Dorongan. Jatuh. Gelap.
Tapi sekarang, dia masih mahasiswa. Dan Pharma-bukan suaminya, tapi dosen muda kampus.
Lyra menunduk, memegang dada. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kaget, tapi juga... takut. Apakah aku kembali ke masa lalu? Atau ini cuma mimpi?
Pharma mengetuk meja Lyra dengan pulpen. "Saya nggak punya waktu untuk mahasiswa yang pikir kuliah ini tempat istirahat siang. Kalau memang nggak serius, pintu di sana."
Seluruh kelas menoleh ke arah Lyra. Beberapa mahasiswa berbisik-bisik, ada yang cekikikan.
Lyra masih terdiam, tapi matanya menatap Pharma lurus.
"...aku beneran hidup lagi?" gumamnya lirih.
Pharma mengerutkan dahi. "Apa?"
Lyra tersenyum miring, meski matanya masih basah. Kalau aku beneran dikasih kesempatan kedua... maka aku nggak akan biarin hidupku hancur lagi.
Layar menutup di wajah Lyra-antara bingung, sedih, dan tekad baru yang diam-diam mulai terbentuk.
Lyra berlari keluar kelas, nggak peduli tatapan orang-orang. Nafasnya tersengal sampai akhirnya ia nyelonong masuk ke toilet perempuan.
Pintu dikunci. Cermin besar menatap balik.
Lyra meraba pipinya-masih hangat, masih ada. Dia buka sedikit kerah seragam kampusnya, melihat kulitnya yang sempurna tanpa luka. Padahal... seharusnya tubuhnya sudah remuk di lantai 20.
"...ini nggak masuk akal."
Tangannya gemetar. Air matanya hampir jatuh lagi, tapi ia buru-buru mengusapnya.
Lalu pelan-pelan, bayangan Veronica melintas di kepalanya. Senyum licik, dorongan, dan rasa sakit di dada sebelum gelap.
"Veronica..." bibir Lyra bergetar. "Kalau bener ini kesempatan kedua... gue nggak akan jatuh ke jebakan lo lagi."
Lyra menatap cermin dengan mata penuh tekad. Aura dirinya berubah-dari cewek lugu jadi cewek yang siap main strategi.
"Pertama... aku harus tau kapan tepatnya Veronica masuk ke hidupku."
"Dan kedua..." Lyra mengepalkan tangan. "...aku nggak boleh jatuh ke tangan Pharma terlalu cepat. Dia-orang yang akhirnya bikin aku jadi rebutan gila-gilaan."
Lyra menarik napas dalam, lalu merapikan rambutnya. Dari balik bilik toilet, ada dua mahasiswi yang baru masuk sambil gosip, nggak sadar Lyra ada di situ.
"Eh, dosen baru itu ya ampun, cakep banget sumpah. Namanya Pharma kan?"
"Iyaaa, katanya dia masih muda banget, tapi jenius. Bikin semua cewek nyari-nyari alasan buat ikut kelas dia, hahah."
Lyra terdiam. Degupan jantungnya makin kencang. Benar... ini hari pertama aku ketemu Pharma.
Dia menunduk, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Oke, Hazel Lyra Raven. Anggap aja ini game. Kali ini... aku yang bakal nulis ulang endingnya."
---
---
Lorong kampus ramai. Mahasiswa berseliweran, suara tawa, suara sepatu, dan aroma kopi instan dari kantin yang baru buka.
Lyra berjalan dengan pikiran masih campur aduk. Kalau ini beneran rewind, berarti sebentar lagi aku bakal...
Deg.
Dari ujung lorong, sosok dengan jas putih dokter muda muncul. Rambut pirangnya jatuh berantakan, satu tangan sibuk merapikan map penuh kertas. Mata birunya menatap lurus tanpa sadar ke arah Lyra.
Pharma.
Jantung Lyra mencelos. Ingatannya langsung ke adegan lama: map terjatuh, tubuh mereka tabrakan, detik itu juga hubungan mereka dimulai.
Bukan kali ini.
Detik terakhir sebelum mereka benturan, Lyra geser tubuhnya ke samping. Pharma tetap jalan lurus, kertasnya cuma jatuh sedikit ke lantai.
BRAKK!
"Ah, sial..." Pharma berjongkok cepat, buru-buru ngumpulin map.
Lyra menatap dari jauh. Mereka nggak bersentuhan. Nggak ada adegan slow motion kayak dulu.
Dan di momen itu Lyra sadar-
Timeline udah resmi berubah.
Pharma mendongak sekilas, mata birunya menatap Lyra sepersekian detik. Normalnya, Lyra bakal ikutan jongkok bantuin. Tapi kali ini dia cuma lempar senyum kecil, lalu melangkah pergi.
Pharma mengernyit. "...aneh."
Lyra jalan terus sambil menggenggam tasnya erat-erat. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Mulai sekarang... aku yang nentuin siapa yang deket sama aku. Bukan takdir, bukan Veronica, bukan siapapun."
Malam hari, selesainya kampus
Lyra keluar dari gedung kampus, langkahnya santai tapi pikirannya sibuk ngitung-ngitung jalur takdir. Di parkiran depan, biasanya sedan hitam keluarga Raven udah nunggu dengan sopir yang kaku banget.
Tapi kali ini?
Yang berdiri nyender di mobil polisi putih keperakan justru Paul Raven, kakaknya.
Seragam polisi menempel rapi di tubuhnya, lengkap dengan lencana berkilau yang bikin beberapa mahasiswi langsung bisik-bisik sambil curi-curi foto. Rambut hitamnya berantakan tapi entah kenapa malah nambah aura sangar.
"Lyra." Suara Paul datar, tapi matanya tajam, khas Raven family.
"Eh? Kak Paul?" Lyra bengong. "Kok... jemput? Bukannya sibuk di kantor?"
Paul buka pintu mobil buat Lyra, ekspresi nggak berubah.
"Aku dapet feeling aneh hari ini. Jadi gue sendiri yang jemput."
Lyra tertegun. Feeling? Jangan-jangan karena timeline udah beda, insting kakakku juga berubah?
Begitu Lyra duduk di kursi penumpang, Paul langsung nyetir tanpa basa-basi. Tangan besarnya mantap di setir, matanya fokus ke jalan. Aura polisi bener-bener kerasa, bikin Lyra agak tertekan.
Paul nyeletuk pelan, "Lo baik-baik aja kan di kampus?"
Lyra buru-buru angguk. "Iya... aman kok."
Tapi dalam hati, Lyra justru makin bingung.
Kenapa Kak Paul bisa muncul pas momen pertama timeline berubah?
Dan kenapa dia keliatan jauh lebih protektif daripada yang aku ingat?
Mobil melaju membelah malam Jakarta, lampu-lampu kota berkelebatan. Lyra melirik kakaknya diam-diam, lalu berbisik pada dirinya sendiri:
"Kalau ini bener-bener kesempatan kedua... berarti bukan cuma aku yang harus berubah. Semua orang juga bisa beda."
---
---
Mobil berhenti di depan gerbang tinggi rumah Raven. Lampu sorot otomatis menyinari sedan polisi milik Paul. Malam makin larut, tapi suasana rumah justru hidup: ada beberapa mobil terparkir, lampu ruang tamu menyala terang.
Lyra berkerut. "Eh... kok rame? Biasanya jam segini Papa udah masuk ruang kerja."
Paul turun duluan, lalu menatap Lyra dari balik pintu mobil. Tatapannya tajem.
"Lyra, malam ini ada banyak tamu khusus. Jangan kaget."
Deg. Kata-kata itu bikin Lyra otomatis defensif Jangan-jangan Veronica??Atau... kenalan dokter papa nya yang dulu juga sering mampir
Mereka masuk. Dari pintu besar rumah, terdengar suara bariton yang nggak asing.
"Paul, Lyra. Kalian tepat waktu."
Dr. Ratchet Raven berdiri di ruang tamu, masih dengan jas dokter putih setengah terbuka. Wajahnya keliatan lelah tapi sorot matanya tajam. Dan di sampingnya-
"...!" Lyra langsung membeku.
Seorang pria pirang berjas rapi, map hitam di tangan, sedang duduk santai di sofa keluarga Raven. Senyum tipisnya terlalu menenangkan, tapi tatapan birunya menusuk, seolah bisa membedah pikiran orang hanya dengan sekali lirikan.
Pharma.
Lyra hampir ternganga. Kenapa dia di sini? Bukannya ini baru awal aku ketemu dia di kampus?
Ratchet mendahului, suaranya tegas.
"Lyra, kenalkan. Ini dokter muda berbakat yang baru aku tarik kembali ke rumah sakit. Dia akan sering ada di sini mulai sekarang."
Pharma berdiri perlahan, menyodorkan tangan ke arah Lyra. Senyum samar itu bikin bulu kuduknya merinding.
"Senang akhirnya bisa berkenalan denganmu... Lyra Raven."
Paul di sampingnya melipat tangan, ekspresinya nggak suka sama sekali.
Lyra sendiri gemetar halus, karena ingat jelas: di timeline sebelumnya, dari sinilah semua benang kusut antara aku, Pharma, dan Veronica mulai terbentuk.
---
---
Mobil berhenti di depan gerbang tinggi rumah Raven. Lampu sorot otomatis menyinari sedan polisi milik Paul. Malam makin larut, tapi suasana rumah justru hidup: ada beberapa mobil terparkir, lampu ruang tamu menyala terang.
Lyra berkerut. "Eh... kok rame? Biasanya jam segini Papa udah masuk ruang kerja."
Paul turun duluan, lalu menatap Lyra dari balik pintu mobil. Tatapannya tajam.
"Lyra, malam ini ada tamu khusus. Jangan kaget."
Deg. Kata-kata itu bikin Lyra otomatis defensif. Jangan-jangan Veronica? Atau... lebih parah lagi, orang dari masa lalu Mama?
Mereka masuk. Dari pintu besar rumah, terdengar suara bariton yang nggak asing.
"Paul, Lyra. Kalian tepat waktu."
Dr. Ratchet Raven berdiri di ruang tamu, masih dengan jas dokter putih setengah terbuka. Wajahnya keliatan lelah tapi sorot matanya tajam. Dan di sampingnya-
"...!" Lyra langsung membeku.
Seorang pria pirang berjas rapi, map hitam di tangan, sedang duduk santai di sofa keluarga Raven. Senyum tipisnya terlalu menenangkan, tapi tatapan birunya menusuk, seolah bisa membedah pikiran orang hanya dengan sekali lirikan.
Pharma.
Lyra hampir ternganga. Kenapa dia di sini? Bukannya ini baru awal aku ketemu dia di kampus?
Ratchet mendahului, suaranya tegas.
"Lyra, kenalkan. Ini dokter muda berbakat yang baru aku tarik kembali ke rumah sakit. Dia akan sering ada di sini mulai sekarang."
Pharma berdiri perlahan, menyodorkan tangan ke arah Lyra. Senyum samar itu bikin bulu kuduknya merinding.
"Senang akhirnya bisa berkenalan denganmu... Lyra Raven."
Paul di sampingnya melipat tangan, ekspresinya nggak suka sama sekali.
Lyra sendiri gemetar halus, karena ingat jelas: di timeline sebelumnya, dari sinilah semua benang kusut antara aku, Pharma, dan Veronica mulai terbentuk.
-----
Ratchet duduk dengan wajah serius, ngebahas soal proyek besar rumah sakit. Paul diem di belakang, matanya kayak laser tiap kali Pharma ngomong.
"Pharma ini lulusan luar negeri dengan spesialisasi bedah langka," jelas Ratchet. "Aku percaya dia bisa jadi tangan kananku."
Pharma menunduk sopan. "Saya berhutang banyak pada Dr. Raven. Kalau bukan karena beliau, saya nggak akan dapat kesempatan besar ini."
Senyumnya ramah, auranya kalem. Para staf rumah sakit yang hadir pasti bakal klepek-klepek.
Tapi begitu Ratchet ninggalin kursi sebentar buat angkat telepon, suasana berubah drastis.
Pharma menoleh ke Lyra. Senyumnya masih ada, tapi matanya lebih lembut, seakan-akan dunia cuma berisi mereka berdua.
"Lyra... akhirnya aku bisa lihat kamu lebih dekat."
Deg. Lyra kaku di tempat. Kok... rasanya beda? Tadi di kampus dia nyaris nggak notice aku, sekarang malah begini?
Paul langsung nyeruduk, nadanya dingin. "Jaga jarak, Dokter. Jangan lupa di sini masih ada aku."
Pharma melirik sebentar, lalu... senyumnya berubah dingin. Tatapan birunya menusuk balik Paul dengan aura sinis. "Tentu, Officer Raven."
Nada suaranya datar, hampir merendahkan.
Tapi begitu matanya balik ke Lyra, ekspresinya melembut lagi, kayak malaikat turun dari langit.
"Besok aku antar kamu ke kampus, ya?" suaranya lirih.
Lyra makin bingung. Ini orang... sebenarnya siapa yang asli? Yang lembut, atau yang sadis?
Ruang tamu keluarga Raven dipenuhi cahaya lampu gantung kristal, suara gelas kristal beradu, dan tawa tamu undangan dari kalangan elit Jakarta. Ratchet berdiri di tengah, auranya dominan, sibuk ngobrol dengan kolega rumah sakit dan pejabat penting.
Lyra melangkah masuk dengan gaun sederhana, tetap anggun. Matanya berkeliling. Aku pernah ngalamin ini... semua detailnya sama. Musiknya, tamunya, bahkan aroma wine di udara.
Dan di pojok ruangan-dia ada.
Pharma, dengan jas hitam elegan, segelas champagne di tangan. Senyumnya ramah, tatapannya tenang. Senyum yang dulu bikin Lyra jatuh tanpa sadar.
Lyra tertegun. Ingatan timeline lama muncul: malam itu, dia terpesona. Senyum itu yang jadi awal kisah mereka.
Tapi kali ini?
Lyra menarik napas dalam. Tidak. Senyum itu cuma topeng. Aku udah liat sisi gelap di baliknya. Aku nggak boleh lagi kejebak.
Namun seolah sengaja, Pharma berbalik. Mata birunya langsung nyambung dengan Lyra dari kejauhan. Sekali lagi, senyum lembut itu muncul.
Dan... tubuh Lyra bereaksi otomatis. Jantungnya berdebar, wajahnya panas. Meski otaknya teriak "awas, jangan terjebak!", hatinya masih bergetar sama seperti dulu.
"Lyra." Suara lembut itu terdengar saat Pharma mendekat, menunduk sedikit sambil menyodorkan tangannya. "Kamu terlihat berbeda malam ini."
Paul yang ada di sisi Lyra langsung melipat tangan, sorot matanya menusuk. Tapi Lyra justru terpaku di antara dua dunia: masa lalu yang membawanya pada tragedi... dan kesempatan kedua yang seolah menantang dia buat merubah segalanya.
Apakah aku bisa benar-benar lepas dari senyuman itu?