Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abang Adek
Tama menghentikan mobilnya tepat di depan Dirga yang tengah memungut sepatu, jika tak fokus bisa saja lelaki yang jadi rival basketnya tadi tertabrak.
Tama menurunkan kaca mobilnya sambil tersenyum ramah, “Siang, Bang. Wah ternyata bener ini rumahnya yah.
“Abang mau kemana bawa-bawa sepatu cuma sebelah?” Tanya Tama yang melihat ada sepatu di tangan kanan Dirga.
“Abang abang abang!” gerutu Dirga, kesal sekali sepanjang hari menemani Lengkara jalan-jalan saja sudah muak terus-terusan dipanggil kakak sekarang malah si murid baru ikut-ikutan.
“Gue bukan abang lo!” ketusnya.
“Yah kan kakaknya Lengkara, jadi abang gue juga dong. Secara gue kan calon pacarnya Kara.” Ucap Tama.
“Dirga sepatu gue.” teriak Kara dari belakang sana. Dirga hanya menengok sekilas, gadis itu sedang berjalan dengan sedikit berjinjit menghampirinya.
“Balikin ih!” Kara merebut sepatunya.
“Makanya jangan suka lempar-lempar sepatu. Kebiasaan banget!” ucap Dirga.
“Ya maaf, abis lo ngeselin.” Balas Kara yang meletakan sepatunya di bawah dan memakainya dengan asal.
“Tumben nggak langsung cabut, ngobrol sama siapa sih?”
“Lengkara hai…” Sapa Tama.
“Tama?” ucap Kara.
“Iya gue.” Balas Tama seraya turun dan bersandar di mobilnya.
“Jaket, celana olahraga sama helm lo ketinggalan di mobil gue. Jadi gue kesini nganterin.”
“Bentar gue ambil yah.” Tama membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil barang-barang Kara.
“Wah makasih, Tama. Padahal besok aja di sekolah nggak apa-apa. Malah jadi ngerepotin lo sampe harus nganterin kesini.” Ucap Kara, dia hendak menyusul Tama dan mengambil barang-barangnya namun Dirga sudah lebih dulu merangkul bahunya.
“Nggak usah kecentilan. Diem!” bisiknya.
“Nggak apa-apa, Ra. Selow aja, tadi gue nyusul ke kelas lo udah nggak ada. Jadi gue Tanya alamat rumah lo aja ke Dila terus gue anterin ke sini. Lumayan sekalian kenalan sama calon mertua.” Ucap Tama.
“Calon mertua? Jangan ngarep! Papinya galak.” Ucap Dirga.
“Iya Bang. Gue yakin papinya galak, lah kakaknya aja galak.” Balas Tama.
“Tapi nggak apa-apa, gue nggak bakal mundur. Ya kan, Ra?” lanjutnya seraya mengedipkan mata pada Kara.
“Nih barang-barang lo.” Tama memberikan helm dan lainnya.
“Makasih.” Bukan Kara yang menerimanya justru Dirga yang lebih dulu mengambilnya.
“Sama-sama, Bang.” Jawab Tama.
“Btw ini gue nggak di suruh masuk dulu, bang?” lanjutnya.
“Nggak! Lo balik aja sana.” Ketus Dirga.
“Eh tapi kan…” ucap Kara lirih.
“Diem!” ucap Dirga dengan tatapan tajamnya yang seketika membuat Kara bungkam.
“Makasih yah Tama, udah nganterin barang-barang gue.” Alih-alih membiarkan Tama masuk untuk sekedar minum jus, hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Kara.
“Sama-sama, Ra. Gue balik dulu, besok berangkat gue jemput yah.” Pamitnya.
“Bang, titip calon pacar gue yah. Jangan sampe ada yang ngapel selain gue.” Lanjutnya pada Dirga.
“Adek gue dilarang pacaran! Nggak usah jemput-jemput!” Alih-alih mendapat izin, Tama justru mendapat bentakan dari Dirga.
Tama hanya tersenyum kemudian berlalu pergi, bukannya takut tapi ia masih menghargai Dirga sebagai kakaknya Lengkara.
"Kalo bukan abangnya Kara, udah gue sikat lo!" batinnya.
Sampai rumah Tama menghampiri mamanya yang tengah menyiram tanaman di taman. Hal yang jarang ia lihat, mungkin karena hari ini tak ada jadwal merias hingga wanita cantik itu punya banyak waktu luang.
"Kusut banget wajahnya, laper?"
"Iya nih Ma, kelaparan kasih sayang." jawab Tama asal.
"Ngawur." Raya kembali fokus pada tanamannya.
Tama bergelanyut manja di lengan kiri sang mama, "asli, Ma. Kekurangan kasih sayang sama perhatian nih. Lengkara susah banget dikejarnya, mana abangnya galak."
"Abang?" Heran, Raya meletakan selang yang ia pegang dan beralih menatap putranya, "Lengkara nggak punya Abang. Adanya adik laki-laki, namanya Ridwan."
"Ada, Ma. Namanya Dirga, dia ketua OSIS di sekolah." jelas Tama.
"Kamu salah orang pasti, adik bukan kakaknya." tegas Raya. Dia merasa tak mungkin salah informasi, karena sudah meminta bantuan kakaknnya.
"Tau deh pusing, Ma. Bisa nggak sih aku udahan ngurusin Lengkara, Ma? cape, mending juga sama cewek-cewek yang lain." keluh Tama.
"Nggak! Udah ah mama mau nyiapin makan malam. Kamu mandi aja dulu terus bantuin mama masak." lanjutnya yang kemudian berlalu pergi.
Tama pergi ke kamarnya, melempar tas nya asal kemudian merebahkan diri dengan santai. Berhubung mamanya tetep teguh pendirian meminta dia menjaga Kara, membuatnya harus berusaha lebih ekstra. Tama menggambil ponselnya, iseng-iseng vidio call pada Lengkara meskipun biasanya akan diabaikan.
"Oh, hai, Ra..." lumayan kaget saat gadis yang tengah memeluk boneka pink berukuran besar itu menjawab panggilan.
"Lagi apa? gue cuma mau ngabarin kalo udah sampe rumah." ucap Tama, gadis diseberang sana hanya tersenyum kemudian mengubah arah kamera hingga seorang gadis dengan seragam putih biru yang membawa mangkuk dan sendok itu terlihat.
"Kayak nggak asing." batin Tama.
"Adek gue, Tam. Cantik kan?" suara Kara menyadarkannya dari pikiran mengingat gadis yang kini juga tersenyum padanya.
"Udah dul yah, makasih buat yang tadi." lanjutnya yang kemudian mengakhiri panggilan vidio.
Tama termenung, gadis putih biru itu sungguh tak asing baginya. Rasa-rasanya ia pernah bertemu tapi kapan? dimana?
Tama menjambak rambutnya sendiri mengingat momen di minimarket kemarin, "ya ampun! mampus gue! cewek itu si kacang ijo."
"Bisa makin susah gue dapetin Lengkara kalo sampe si kacang ijo ngadu." Tama menghela nafas panjang.
"Haduh! pusing gue! abang nya yang posesif aja udah bikin gue puyeng sekarang ketambahan adeknya yang nggak kalah gila. Makin jauh aja Lengkara dari jangkauan kalo kayak gini."
.
.
.
Tahan! tahan! like komen dulu sebelum lanjut
double up nih Special maming karena ujan dan aku ngga kemana-mana
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣