Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Telepon itu berdering lagi.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Senja menatap layar ponselnya dengan napas tertahan, tak berniat mengangkat. Nama yang sama. Nada yang sama. Teror yang sama.
Nama Ibu masih terasa seperti luka yang belum sempat mengering, baru saja disentuh, sudah perih kembali.
Ia tahu, jika tidak diangkat sekarang, panggilan itu tak akan berhenti. Dengan jari sedikit gemetar, Senja akhirnya menekan tombol hijau.
“Kamu itu anak durhaka, Senja!” Suara Winarti langsung menyambar, tanpa salam, tanpa jeda. Seolah Senja memang sudah bersalah sejak lahir.
“Petugas rumah sakit sudah nelepon kamu, 'kan? Terus kamu bilang apa? Kamu bilang nggak mau ngurus? Kamu kira kamu siapa sekarang, hah? Mentang-mentang hidup enak, punya pelindung, kamu lupa sama keluarga sendiri!”
Senja memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Mual yang sejak pagi sudah reda, mendadak berputar lagi di ulu hati.
“Kamu anak bukan sih?! Aku cuma minta kamu tanggung jawab! Riyan itu adik kamu! Buruan kirim sepuluh juta saja." Winarti tanpa malu menambahkan nominal.
"Aku nggak ada uang segitu, Bu."
"Nggak mungkin. Kamu bisa minta laki-laki nggak jelas itu. Jangan mentang-mentang---”
“Bu.” Senja memotong dengan suara pelan. Ia memejamkan mata sejenak. Dadanya sesak, perutnya terasa tidak nyaman, tapi ia tidak ingin lari. “Bu,” ucapnya lagi. Suaranya lembut, terlalu lembut, tapi kali ini tidak goyah. “Kalau memang aku anak Ibu… harusnya aku juga dilindungi, bukan cuma diminta terus. Nyatanya selama ini hanya Riyan yang dianggap anak.”
Di seberang sana, hening sesaat. Winarti jelas tidak menyangka jawaban itu.
“Kamu ngomong apa?” Nada suaranya naik satu oktaf. “Kamu berani ngajarin ibu kamu sendiri?”
“Aku nggak ngajarin,” Senja menggeleng, meski Winarti tak bisa melihatnya. “Aku cuma capek. Capek kalau setiap ada masalah, aku yang ditarik. Aku yang disalahkan. Padahal aku juga… lagi nggak baik-baik saja, Bu. Aku sedang hamil.”
“Halah! Drama!” potong Winarti cepat. “Kehamilan itu bukan alasan buat durhaka! Dari dulu juga kalau ada apa-apa, kamu yang beresin! Sekarang mentang-mentang hidup enak, lupa daratan!”
Senja menelan ludahnya yang terasa berat. Dadanya naik turun. Ada rasa panas di tenggorokan, bercampur pahit.
“Aku hidup enak bukan karena Ibu,” ucapnya pelan, tapi tidak bergetar, tidak menunjukkan kelemahan di sana. “Dan Riyan bukan tanggung jawabku sepenuhnya.”
Sekali lagi, keheningan jatuh sejenak, sampai ledakan kembali terdengar.
“Kurang ajar!” Winarti membentak. “Kalau bukan karena saya melahirkan kamu---”
“Melahirkan itu kewajiban, Bu,” potong Senja lirih, tapi tegas. “Bukan utang yang harus aku bayar seumur hidup.”
“Kamu berani ya sekarang!”
“Aku berani jujur.”
Kalimat Senja meluncur polos. Tidak tajam. Tidak dibuat-buat. Tapi justru di situlah letak tusukannya.
Entah sudah keberapa kali Winarti dibuat terdiam. Sesaat ia tak yakin yang di seberang sana itu Senja, Senja yang penurut, lemah, hanya iya-iya saja. Bukan Senja yang berani menyela.
Namun, bukan Winarti namanya jika harus berdamai dengan ego tak bernalarnya. Ia kembali menyerang dengan nada lebih dingin.
“Kamu sudah berubah, Senja. Benar kata orang. Perempuan kalau sudah ikut laki-laki, lupa asalnya.”
Senja tak menjawab. Ia tak ingin menang. Ia hanya ingin berhenti disakiti.
“Saya tidak bisa bantu,” katanya pelan, tapi tegas. “Dan tolong… jangan hubungi aku lagi soal ini.”
Lalu Senja memutus sambungan sepihak.
Ia menurunkan ponsel perlahan. Pandangannya kosong. Bahunya tidak langsung jatuh, tapi jelas ia sedang menahan sesuatu yang besar.
Pintu kamar terbuka. Sagara masuk tanpa suara. Jasnya sudah dilepas, kemeja dilonggarkan. Ia berhenti begitu melihat wajah Senja yang sendu, pucat dan terlalu diam.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Senja menggeleng cepat. Terlalu cepat.
Bibirnya bergetar sedikit. Ia tahu, kalau ia bicara sekarang, tangis itu akan pecah dan susah berhenti.
Sagara tidak mendesak. Ia hanya mendekat, berdiri di hadapannya. “Kamu habis ditelepon,” ucapnya. Itu bukan bertanya, tapi menyimpulkan.
Senja mengangguk kecil.
“Keluarga?”
Anggukan Senja kembali muncul. Kali ini lebih berat.
Sagara masih berdiri diam, seolah memberi ruang. Tapi kehadirannya justru membuat dada Senja semakin sesak.
“Kalau kamu tidak cerita sekarang,” lanjut Sagara pelan, “nanti kamu tambah capek.”
Itu saja.
Kalimat sederhana, tapi Senja tahu itu bukan paksaan. Itu perhatian yang disampaikan tanpa membungkusnya dengan kata-kata manis.
Pertahanan Senja akhirnya runtuh. Air mata jatuh tanpa suara.
“Om…” suaranya pecah. “Aku capek.”
Sagara terdiam sesaat. Lalu tanpa banyak pikir tangannya terangkat, mengusap air mata Senja dengan ibu jari. Gerakannya kaku, seolah ia masih belajar. Tapi sentuhannya nyata.
“Cerita.”
Satu kata. Pendek. Tapi cukup.
Senja menangis lebih keras. Ceritanya tumpah bersamaan dengan isak, tentang rumah sakit, tentang telepon dari petugas, tentang Winarti, tentang tuduhan durhaka yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.
Sagara mendengarkan dengan baik. Tidak menyela. Tidak mengomentari. Apalagi menghakimi. Namun, rahangnya mengeras sedikit.
“Om…” Senja menarik ujung kemeja Sagara tanpa sadar. “Aku pusing. Mualnya balik lagi. Aku... aku kayak gampang banget rapuh sekarang.” Senja tidak sekedar mengeluh, tapi juga sedang mengakui.
Sagara menghela napas pelan. Lalu, bersimpuh. Dengan gerakan yang masih canggung tapi tegas, ia menarik Senja ke dalam pelukannya.
Pelukan itu tidak erat di awal. Seperti ragu. Seperti masih bertanya pada diri sendiri.
Jantung Senja seketika berdebar, tapi juga nyaman. Ia tidak sungkan menempel. Kepalanya bersandar di pundak Sagara. Tangannya memeluk pria itu seolah menemukan pegangan, terasa sangat menenangkan.
"Aneh... mualnya mereda sedikit," lirih Senja, polos.
“Ini hormon,” ucap Sagara rendah. “Bukan kelemahan.”
Senja terisak kecil.
“Dan soal keluargamu,” lanjutnya, nada suaranya tenang tapi dingin, “aku tidak akan membiarkan mereka terus menekanmu.”
Senja mendongak. “Om… Riyan---”
“Aku tahu. Cara mereka sudah salah. Dan kamu bukan sasaran empuk," lanjut Sagara. Tangannya mengerat sedikit di punggung Senja.
“Kamu sekarang tanggung jawabku.” Kalimat itu tidak diucapkan lembut.
Kendati tidak romantis, tapi bagi Senja itu lebih dari cukup. Ia memejamkan mata, menghirup aroma Sagara. Untuk pertama kalinya sejak pagi, napasnya terasa utuh.
Kehamilan itu membuatnya lebih sensitif. Lebih manja. Lebih mudah goyah.
Dan entah sejak kapan, keberadaan Sagara menjadi obat paling ampuh dari semua rasa tidak nyaman itu.
Di dalam pelukan yang kaku tapi jujur itu, Senja akhirnya merasa… aman. Dan Sagara, tanpa ia sadari, sudah terlalu jauh melangkah untuk sekadar bersikap netral.
*
*
*
Sagara berhenti di koridor, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Ia tidak ragu pada nama yang ia tekan.
Nada sambung terdengar singkat.
“Kamu nelpon,” suara Adam terdengar tenang di seberang sana. “Jarang.”
“Ada hal yang perlu aku bicarakan, Kek” jawab Sagara.
Adam mendengus pelan. “Tentang keluarga istrimu?”
Sagara tidak terkejut. Ia memang tidak berharap apa pun bisa luput dari kakeknya.
“Iya.”
“Aku sudah dengar,” lanjut Adam. “Anak laki-laki yang ikut tawuran. Dirawat sebentar di IGD. Ibu mertuamu cukup vocal.”
“Biayanya?” tanya Sagara singkat.
“Tidak besar,” jawab Adam jujur. “Kasus ringan. Tapi administrasinya belum selesai.”
Sagara mengangguk pelan. “Bagus.”
Adam terdiam sejenak. “Kamu tidak berniat membantu?”
“Tidak,” jawab Sagara tanpa jeda. Nada suaranya datar, mutlak.
"Padahal Kakek hampir saja memutuskan untuk memberikan keringanan."
“Aku tahu. Itu alasanku segera menelepon Kakek," lanjut Sagara.
"Untuk mencegah keputusan Kakek?"
"Iya."
Adam menaikkan alis. “Kamu ingin mempersulit?”
“Tidak. Aku ingin mereka belajar batas,” koreksi Sagara. “Dan belajar bahwa Senja bukan lagi tempat meminta.”
Bagi Sagara kalau hari ini mereka ditolong, besok akan diulang. Dia tidak ingin itu jadi pola. Pola yang terus menekan Senja.
Adam tertawa kecil, bukan geli lebih ke arah paham. “Kamu menarik garis.”
“Aku hanya ingin semua sesuai prosedur. Lengkap tanpa keringanan,” kata Sagara.
Adam mengangguk meski tak terlihat. “Baik. Administrasi akan tetap berjalan sesuai prosedur. Tidak ada keringanan. Tidak ada pengalihan tagihan. Dan---”
“Tidak ada lagi panggilan ke pihak yang tidak terdaftar sebagai penanggung jawab,” potong Sagara.
“Sudah seharusnya,” sahut Adam. “Rumah sakit ini tidak berdiri untuk melanggengkan manipulasi.”
"Terima kasih, Kek."
Adam tersenyum tipis di seberang sana. “Ini bukan soal rumah sakit. Ini soal cucuku yang akhirnya berdiri di tempat yang semestinya.”
Panggilan ditutup.
Sagara menurunkan ponselnya. Tidak ada lega. Tidak ada puas. Hanya keyakinan bahwa ia tidak sedang menindas keluarga Senja. Ia sedang menghentikan siklus buruk.
Kembali ke kamar, Sagara membuka pintu dengan hati-hati. Senja tertidur miring, selimutnya agak turun, satu tangan melingkar di bantal seolah mencari sesuatu. Wajahnya lebih tenang dari sebelumnya, tapi tetap terlihat rapuh.
Sagara mendekat, membetulkan selimut tanpa membangunkannya. Ia duduk di tepi ranjang. Ia membiarkan dirinya lelah. Ia tidak marah pada Winarti. Ia tidak kesal pada Riyan. Ia hanya tidak akan membiarkan Senja tersentuh lagi oleh cara-cara kotor yang dibungkus atas nama keluarga.
Tangannya berhenti di udara sejenak, lalu pelan menyentuh pipi Senja. “Habis ini,” gumamnya rendah, nyaris seperti janji pada diri sendiri, “tidak ada lagi yang berani menekanmu.”
Senja bergerak kecil dalam tidurnya, tanpa sadar mendekat. Dan Sagara tetap diam, membiarkan tangannya tetap di sana, seolah memastikan napas Senja benar-benar teratur.
Bersambung~~
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..