NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 SWMU

Hari-hari yang dilewati Nadia di dalam kamar itu terasa seperti satu tahun di neraka. Namun, di balik wajahnya yang kian pucat dan tatapan matanya yang tampak mulai menyerah, sebuah api kecil masih menyala di dalam dada Nadia. Ia menyadari bahwa jika ia terus berteriak dan ,memberontak secara terang-terangan, ia hanya akan membuat Bramantya semakin memperketat penjagaannya.

Pagi itu, Nadia berdiri di depan jendela yang terkunci rapat. Ia tidak lagi menggedor kaca. Ia hanya menatap kabut yang mulai menipis di kejauhan. Ia sedang berhitung. Ia menghitung durasi pergantian penjaga di depan pintunya, menghitung langkah Bi Inah saat mengantarkan makan siang, dan yang paling penting, ia menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan tubuhnya untuk bereaksi terhadap susu bius itu.

"Aku harus keluar," bisiknya pada bayangannya di cermin. "Bukan untuk lari tanpa arah, tapi untuk menghancurkan segalanya dari luar."

Rencana itu mulai tersusun. Nadia tahu bahwa ia tidak bisa melawan kekuatan fisik para penjaga, dan ia tidak bisa menembus pintu yang terkunci ganda. Satu-satunya celah adalah melalui satu orang yang paling dekat dengannya setiap hari: Bi Inah. Meskipun wanita itu tampak seperti robot tanpa perasaan, Nadia melihat ada sedikit keraguan di matanya setiap kali ia melihat bekas air mata di pipi Nadia.

Saat jam makan siang tiba, pintu terbuka. Bi Inah masuk membawa nampan. Dua penjaga berdiri di luar, namun kali ini mereka tampak sedikit lengah, sedang asyik membicarakan jadwal pertandingan bola di ponsel salah satu dari mereka.

"Bi," panggil Nadia dengan suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat rapuh dan pasrah.

Bi Inah meletakkan nampan tanpa menoleh. "Makanlah, Nona."

"Bi... tolong aku," Nadia mendekat, tangannya yang gemetar menyentuh lengan seragam Bi Inah. "Aku tahu kau hanya menjalankan perintah. Tapi, apakah kau tidak punya anak? Apakah kau tidak tahu rasanya kehilangan orang tua dan dikurung seperti ini?"

Bi Inah terhenti. Bahunya sedikit menegang, namun ia tetap tidak menatap Nadia.

"Aku tidak ingin lari ke jalanan, Bi," lanjut Nadia, berbisik tepat di telinganya agar tidak terdengar penjaga. "Aku hanya butuh satu panggilan telepon. Hanya satu. Ayahku punya pengacara kepercayaan di kota. Jika aku bisa bicara dengannya, mungkin ada jalan keluar legal yang tidak akan melibatkan polisi atau kekerasan."

"Tuan Bramantya akan membunuhku, Nona," jawab Bi Inah pendek, suaranya bergetar tipis.

"Dia tidak akan tahu. Aku akan melakukannya saat dia sedang dalam perjalanan ke kantor. Kau hanya perlu meninggalkan ponselmu di nampan ini saat kau mengambil sisa makanan nanti sore. Hanya lima menit."

Bi Inah tidak menjawab. Ia segera berbalik dan keluar, meninggalkan Nadia dalam ketidakpastian yang menyiksa.

Sore harinya, jantung Nadia berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di seluruh ruangan. Ia telah menyiapkan segalanya. Ia tidak memakan makan siangnya; ia justru menghancurkan makanan itu agar terlihat seolah-olah sudah dimakan. Ia butuh energi, tapi ia juga butuh kesan bahwa ia sudah mulai 'jinak'.

Pukul lima sore, Bi Inah kembali untuk mengambil nampan. Nadia menahan napas. Pelayan itu bekerja dalam diam, mengambil piring-piring kosong. Saat Bi Inah hendak berbalik, matanya bertemu dengan mata Nadia selama satu detik yang terasa abadi.

Tanpa sepatah kata pun, Bi Inah meletakkan sebuah benda kecil di bawah serbet kotor di atas nampan yang masih ada di meja. Ia tidak mengambil nampan itu, melainkan berkata dengan suara agak keras, "Saya lupa membawa pembersih noda, Nona. Saya akan kembali lima menit lagi."

Bi Inah keluar. Penjaga di depan tidak curiga.

Nadia segera menyambar serbet itu. Di bawahnya, sebuah ponsel tua dengan layar retak menyala redup. Tidak ada kata sandi. Nadia dengan cepat mengetik nomor yang ia hafal di luar kepala—nomor Pak Hendra, pengacara sekaligus sahabat lama ayahnya.

Tut... Tut... Tut...

"Halo?" Suara berat di ujung sana terdengar.

"Pak Hendra! Ini Nadia! Nadia Clarissa!" Nadia berbisik dengan nada mendesak.

"Nadia? Ya Tuhan, ke mana saja kau? Aku mencarimu ke rumah lama, tapi semuanya sudah disegel. Bramantya bilang kau pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri."

"Bohong! Aku dikurung, Pak! Aku di Mansion Mahendra. Bramantya menahanku secara ilegal. Pak, tolong aku... dia gila. Dia terobsesi pada ibuku dan—"

"Dengar, Nadia," suara Pak Hendra memotong, terdengar cemas. "Mansion Mahendra itu wilayah pribadi yang sangat tertutup. Aku tidak bisa sembarangan membawa polisi tanpa bukti kuat bahwa kau ditahan secara paksa. Jika aku bergerak salah, Bramantya bisa melenyapkanmu sebelum kami sampai di gerbang."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" air mata Nadia mulai jatuh.

"Malam ini, ada pesta amal besar di pusat kota. Bramantya adalah tamu kehormatannya. Dia pasti akan pergi ke sana. Itu adalah satu-satunya saat penjagaan di gerbang belakang sedikit melonggar karena logistik katering. Jika kau bisa sampai ke gudang belakang mansion lewat lorong pelayan, ada sebuah truk katering yang akan keluar pukul sembilan malam. Aku akan menunggu di pom bensin dua kilometer dari gerbang utama."

"Tapi bagaimana aku keluar dari kamar ini?"

"Bi Inah," bisik Pak Hendra. "Dia dulu bekerja untuk ibumu sebelum pindah ke mansion itu. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa membukakan pintu untukmu. Bicaralah padanya."

Telepon terputus. Nadia segera menyembunyikan ponsel itu kembali di bawah serbet saat ia mendengar kunci pintu diputar. Bi Inah masuk, mengambil nampannya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

Malam harinya, rencana itu dimulai.

Nadia melihat dari jendela saat mobil mewah Bramantya melaju meninggalkan mansion menuju pesta amal. Pria itu tampak sangat percaya diri, yakin bahwa Nadia sudah tak berdaya di bawah pengaruh isolasi dan susu biusnya.

Namun, Nadia tidak meminum susunya malam ini. Ia menuangkannya ke dalam botol parfum kosong yang ia sembunyikan di bawah bantal. Ia harus tetap waspada sepenuhnya.

Tepat pukul delapan lewat tiga puluh menit, suara kunci pintu kamarnya berbunyi. Nadia berdiri, bersiap untuk menyerang atau memohon. Namun, saat pintu terbuka, hanya Bi Inah yang berdiri di sana. Dua penjaga yang biasanya berjaga tampak tidak ada di posisinya.

"Mereka sedang makan malam di ruang bawah," bisik Bi Inah. Wajahnya yang kaku kini tampak dipenuhi ketakutan. "Cepat, Nona. Ikuti saya. Saya melakukan ini bukan untuk Anda, tapi untuk kenangan ibu Anda, Nyonya Althea."

Nadia mengikuti Bi Inah menyusuri lorong-lorong sempit yang biasanya hanya dilewati para pelayan. Lorong itu gelap, berbau debu, dan sangat lembap. Nadia terus menghirup napas dalam, mencoba mengusir rasa pening yang sesekali muncul karena ketegangannya sendiri.

Mereka sampai di area dapur yang sangat sibuk. Truk-truk besar terparkir di pintu belakang, petugas katering lalu-lalang membawa kotak-kotak makanan kosong.

"Masuk ke dalam truk itu," Bi Inah menunjuk sebuah truk berwarna putih dengan logo perusahaan katering ternama. "Bersembunyilah di balik tumpukan kotak kain serbet. Jangan bersuara sampai truk itu berhenti di luar gerbang."

Nadia memeluk Bi Inah dengan erat. "Terima kasih, Bi. Terima kasih."

"Pergilah, Nona. Jangan pernah menoleh ke belakang. Bramantya Mahendra bukanlah pria yang bisa menerima kekalahan."

Nadia berlari menuju truk, memanjat ke bagian belakangnya yang terbuka, dan meringkuk di balik tumpukan kain yang berbau deterjen. Jantungnya berpacu liar saat ia mendengar pintu truk ditutup dengan keras. Brak!

Mesin truk menyala. Truk mulai bergerak perlahan. Nadia menahan napas saat merasakan kendaraan itu berhenti sebentar—mungkin di pos penjagaan gerbang utama. Ia mendengar suara samar penjaga yang berbicara dengan sopir truk.

"Cek bagian belakang?" tanya salah satu penjaga.

"Hanya kain kotor, Mas. Sudah dicek tadi di gudang," jawab sopir itu.

Hening sejenak yang terasa seperti berjam-jam bagi Nadia. Lalu, suara gerbang besi yang berat terbuka terdengar. Krieeet...

Truk itu bergerak lagi, kali ini lebih cepat. Nadia merasa udara di sekitarnya mulai berubah. Aroma cendana dan maskulin yang menyesakkan dari mansion perlahan memudar, digantikan oleh aroma kebebasan yang dingin dan bercampur asap knalpot.

Namun, di tengah rasa syukurnya, sebuah perasaan dingin menyergap tengkuk Nadia. Ia meraba lehernya. Liontin gembok itu masih ada di sana. Dan ia teringat kata-kata Bramantya: Aku adalah hukumnya.

Apakah benar-benar semudah ini melarikan diri dari pria seperti Bramantya? Ataukah truk ini sebenarnya adalah bagian dari permainan lain?

Saat truk terus melaju membelah kegelapan malam menuju pom bensin yang dijanjikan, Nadia tidak tahu bahwa di sebuah gedung mewah di pusat kota, Bramantya Mahendra sedang menyesap minumannya sambil menatap layar ponselnya. Layar itu menampilkan titik merah yang bergerak menjauh dari mansion—sebuah pelacak GPS yang tertanam di dalam liontin gembok yang dipakai Nadia.

Bramantya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan mana pun.

"Lari sejauh yang kau mau, kecilku," bisik Bramantya pada layar ponselnya. "Berikan aku alasan untuk mengejarmu dan menunjukkan padamu bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang tidak berada di bawah bayang-bayangku."

Nadia merasa ia sudah keluar dari gerbang mansion, namun ia tidak sadar bahwa ia baru saja memasuki babak baru dalam permainan kucing dan tikus yang mematikan ini.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!