"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Madu Ala Pembantu
Setelah Arimbi menyerahkan barang-barang yang dibeli dengan uang Perusahaan. Dia tetap harus menandatangani perjanjian, karena jumlah barang masih kurang dari 100 Miliar belum ditambah bunga selama 1 tahun menunggak.
Kejam, bak lintah darat begitulah cara kerja Candira di dunia bisnis yang berani mempermainkan kepercayaannya. Dira menganggap Arimbi berhutang kepadanya.
Lalu menghitung dengan sangat jeli, sebagaimana perhitungan untung rugi perdagangan.
"Semuanya kalau dihitung baru 85 Miliar, masih kurang 15 Miliar. Itu hanya pokoknya saja Arimbi. Jadi total yang masih harus kamu bayar adalah 65 Miliar. Dan angka itu akan terus bertambah setiap bulannya sampai kamu mampu melunasinya." Ucap tegas Dira.
"Bangsat... Ternyata kamu keji Dira. Kamu lebih predator daripada PINJOL." Ucap Arimbi menatap sengit Iparnya.
"Terserah apa pun yang ingin kamu katakan, karena tidak akan mempengaruhi hutangmu." Jawab Dira santai.
Dira benar-benar melakukan pembersihan, setelah dia mengaudit keuangannya sendiri. Tak tanggung-tanggung, Dira juga menggandeng Audit Independent untuk membantunya.
Tujuannya hanya satu EFEK JERA. Karena banyak sekali tikus pengganggu, Agung dan Arimbi berhasil menjadikan dia pemilik perusahaan bodoh yang mudah percaya dengan orang lain.
Setelah berjibaku dengan banyaknya masalah, Dira pulang dengan wajah lelah. Meskipun sudah siap dengan kejutannya, tapi rasa lelah membuat Dira sedikit emosi ingin makan orang.
"Loh... siapa ini?" Tanya Dira melihat Dara sedang duduk di ruang tengah nonton TV dengan satu toples camilan di pangkuannya.
"Aku..." Belum menjawab Ibu Arumi datang lalu menjelaskan siapa dia.
"Namanya Andara Kirana, keponakan Ibu. Dan mulai hari ini, Dara akan tinggal di rumah ini." Ucap Ibu Arumi dengan entengnya.
"Kalau begitu tugas masak mulai sekarang biar Dara yang lakukan. Mumpung aku belum makan, buatkan masakan spesial untukku." Ucap Dira.
"Loh... Aku ke sini bukan mau kerja, tapi aku sebenarnya..."
"Baik, biar Ibu temani Dara. Ayo Dara cepetan." Ucap Ibu Arumi yang lagi-lagi memotong Dara yang ingin mengakui statusnya.
"Ibu... Masak yang enak ya. Dan gak pake lama." Ucap Dira kemudian masuk ke kamarnya.
Baru saja Dira mau menutup pintu, Agung sudah lebih dulu masuk dan merebahkan diri di ranjang tanpa ada rasa bersalah.
"Loh... Mas kamu ngapain sih? Aku tuh baru pulang kerja, capek banget." Ucap Dira kesal.
"Ya sudah, capek ya istirahat. Lagian kamu kok aneh Dira. Kita ini masih suami istri, tapi kamar ini kamu kunci sejak semalam dan membiarkan aku tidur di sofa." Sahut Agung.
Dira menahan kesal, tapi belum saatnya dia mengungkap sakit hatinya. Dia masih harus bermain cantik, karena luka hatinya butuh disembuhkan.
Dan yang terpenting, Dira ingin orang-orang pemberi luka harus ikut merasakan luka itu sendiri.
"Terserah, aku mau mandi dulu. Setelah ini kita makan bersama, karena keponakan Ibu sedang memasak. Dan selama tinggal di sini, biar dia tidak makan gratis. Aku mau dia menjadi koki dan membantu beres-beres rumah."
Setelah mengatakan itu, Dira masuk kamar mandi sedangkan Agung terperanjat. Tidak percaya jika gundiknya akan diperlakukan oleh Istrinya sebagai pembantu.
"Sial... Bisa ngamuk Dara kalau disuruh-suruh, dia kan hamil. Kasihan kalau harus merasakan capek." Ucap Agung tak jadi tidur, justru dia melesat ke dapur. Ingin memberikan semangat wanita simpanannya.
Benar saja, di dapur Dara menggerutu karena kesal dianggap pembantu.
"Aku sudah lelah jadi pelayan, rela menjadi selingkuhan karena janji manis Mas Agung." Ucap Dara.
"Kamu yang sabar, pelan-pelan sambil nunggu Agung menyelesaikan misinya." Ucap Ibu Arimbi memberi pengertian.
"Benar, sabar ya Sayang." Ucap Agung memeluk Dara dari belakang.
CUP
Dengan tidak tahu malunya, Agung mencium Dara di depan Ibu Arumi yang nampak tersenyum.
Agung mendorong Dara sampai mepet ke kulkas lalu memperdalam ciumannya sambil meraba isi dalam bajunya. Lenguhan terdengar bersamaan dengan suara langkah kaki keluar dari kamar.
"Sial..." Lagi-lagi Agung mengumpat karena hasratnya harus ditunda dulu.
Serampangan Agung berlari masuk kamar mandi dapur, lalu menuntaskan kegiatannya. Burungnya sudah membengkak sempurna, tapi tidak ada sarang yang menampung.
Sedangkan Dara hanya menatap iba, dirinya pun tak kalah berhasrat. Tapi sekarang mereka ada di dapur, tidak mungkin bisa melakukannya. Sebenarnya bisa jika hanya ada Ibu Arumi, tapi masalahnya adalah...
"Apa sudah selesai memasaknya? Loh Dara kenapa bibir kamu bengkak? Apa di dapur ada lebah, sehingga kamu tersengat?" Tanya Dira.
"Ah... Tidak, tadi aku digigit semut." Jawab Dara menahan kesal.
"Wah... Semut segede apa sampai bikin bibirmu jontor begitu... Hahaha... Ya sudah, mending sekarang kita makan." Ucap Dira tertawa geli.
Sementara Agung meracau di kamar mandi karena harus bermain solo. Entah apa yang membuatnya candu, milik Dara rasanya berbeda dengan milik Dira meskipun Agung tahu jika Dara sudah tidak perawan saat pertama kali dia melakukannya.
"Aku gak bisa terus sembunyi, brengsek Dira! Secepatnya harus aku ambil sertifikat rumahnya." Gumam Agung.
Krieettt...
Agung keluar dari kamar mandi dapur dengan rambut basah. Membuat Dira tersenyum miris melihatnya. Sudah jelas, mereka baru akan melakukannya di dapur padahal ada Ibu Arumi. Bukankah menjadi sinyal jika semua orang menganggapnya bodoh.
"Loh Mas... Kok kamu keramas jam segini? Kita baru mau makan bukan sudah berhubungan intim..."
"Tahan Mas... Nanti malam aku service deh, yang paling enak supaya kamu selalu merasa ketagihan. Eh... Ups... Maaf, lupa ada Dara dan Ibu di sini. Dara ini statusnya masih gadis, janda, atau simpanan orang ya?" Ucap Dira tanpa merasa bersalah.
"Sembarang kalau ngomong, keponakan Ibu ini gadis baik-baik Dira."
"Oh... tapi kok aku melihat dia kayak buncit banget perutnya. Hamil atau cacingan?" Ejek Dira.
"Besok aku beri uang, kamu harus ke Dokter buat periksa. Aku gak mau ada penghuni rumahku yang penyakitan apalagi sampai mengalami busung lapar." Lanjut Dira.
"Iya, biar besok Ibu yang antar. Sekarang kita makan saja."
Suasana makan malam terasa mencengkam, Agung yang tidak bisa berkutik, Dara yang kesal diejek cacingan, sedangkan Ibu Arumi ingin sekali menyobek mulut Menantunya kalau tidak ingat jika Dira adalah penguasa.
Makan malam selesai, Dira sengaja ingin membuat panas gundik suaminya.
"Ayo Mas, kita masuk kamar. Dara tugasmu cuci semua piringnya. Aku dan suamiku mau bercinta, jangan ngiri apalagi memimpikan SUAMIKU. Kalau kamu memang hamil di luar nikah, jangan minta suamiku yang harus bertanggung jawab ya. Aku saja 2 tahun gak berhasil dihamili, mana mungkin kan Mas Agung menghamilimu." Ucap Dira.
Deg
Tiga jantung seperti melompat, ada kebenaran dari kalimat Candira.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂