*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.
Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK KERINGAT HITAM
Kaki ku terhentak di tengah lorong kayu yang mengerikil. Udara berat seperti kain basah menekan dada, bau tanah lembab dan sesuatu yang busuk seperti daging yang mulai membusuk menusuk hidung. Dari dalam kegelapan jauh sana, terdengar suara ketukan yang teratur: tak… tak… tak… Seolah ada orang yang mengetuk pelukan kayu dengan jari-jari panjang dan tipis. Bayangan tipis seperti ular meluncur di dinding kanan, lalu menghilang begitu saja saat aku menoleh cepat. Tanganku yang menggenggam kunci besi sudah berkeringat dingin, dan aku merasakan sesuatu yang menyentuh bagian belakang leherku seperti hembusan napas dingin yang membawa bau tanah liat tua.
Aku menutup mulut dengan tangan, coba menahan suara napas yang mulai terengah-engah. Ini adalah rumah tua yang ditinggalkan Om Sugi sejak tiga tahun yang lalu, tepat setelah dia menghilang tanpa jejak. Dan sekarang aku ada di sini, karena hati berkata bahwa dia masih ada di suatu tempat di dalam gedung ini yang sudah hampir roboh.
Lorong semakin menyempit, kayu di bawah kaki mulai berderak seperti menangis. Aku harus menemukan ruang bawah tanah yang selalu dikunci Om Sugi setiap kali aku mengunjunginya dulu – itu pasti tempat di mana dia menyembunyikan sesuatu. Tapi jalan menuju sana penuh dengan puing-puing, dan setiap langkah membuat suara yang lebih keras dari yang kuinginkan. Saat aku hendak menyeberangi reruntuhan meja kayu, sesuatu yang putih menyala di sudut pandang mata kananku. Aku menyala kan senter kecil yang kubawa itu adalah foto lama yang terpaku di dinding dengan paku yang sudah berkarat. Di foto itu, Om Sugi sedang tersenyum bersama seorang wanita yang wajahnya kusam karena usia, dan di antara mereka ada anak kecil yang mengenakan baju merah. Aku tidak pernah tahu kalau Om Sugi punya keluarga lain selain aku.
Tangan ku tergelitik saat menyentuh foto itu, dan seketika kenangan muncul saat Om Sugi membawa aku bermain di taman, dia selalu menyimpan surat tua di dalam dompetnya yang lusuh. Aku mengeluarkan dompet itu dari kantong jaket aku temukan di mejanya sebelum masuk ke dalam rumah. Saat ku buka, sehelai kertas kuning keluar dan jatuh ke lantai. Aku membungkuk untuk mengambilnya, dan kalimat di atasnya membuat dadaku terasa sesak: “Dia datang setiap malam. Dia ingin mengambil apa yang seharusnya miliknya. Jangan biarkan dia menemukan anak itu.”
Saat itu, suara ketukan semakin dekat, dan aku mendengar suara merintih yang lembut – seperti suara anak yang menangis tapi tanpa air mata. Aku harus cepat menemukan ruang bawah tanah sebelum apa pun yang membuat suara itu datang menemuku. Tapi pintu kayu yang menjadi akses ke bawah sudah terkunci rapat, dan kunci yang kubawa tidak cocok dengan lubang kuncinya. Aku merasa frustrasi menyambar hatiku bagaimana cara membukanya tanpa membuat terlalu banyak kebisingan?
Saat aku mencoba menggunakan kunci besi untuk membobol kunci pintu, kayu di atas kepalaku tiba-tiba berderak keras. Aku melihat ke atas, dan bayangan besar dengan banyak tangan mulai merayap turun dari langit-langit yang roboh. Bau busuk semakin menyengat, dan suara merintih sudah berada di belakangku. Aku berbalik dengan cepat dan melihat anak kecil yang mengenakan baju merah seperti di foto, berdiri dengan wajah yang tidak punya mata, hanya lubang hitam yang dalam. Dia mengulurkan tangan yang dingin dan licin menuju wajahku, sambil mengeluarkan suara seperti gesekan batu bata: “Kamu membawa suratnya, kan? Kamu tahu di mana dia menyembunyikan aku.”
Pada saat yang sama, pintu bawah tanah tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan angin dingin yang membawa suara tertawa Om Sugi yang aku kenal tapi suara itu sudah tidak seperti dulu lagi, sudah hancur dan penuh dengan rasa sakit. Aku harus memilih: menghadapi anak kecil tanpa mata itu, atau melompat ke dalam kegelapan ruang bawah tanah yang tidak ku tahu apa yang ada di dalamnya.