Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kenyataan yang terungkap
Kematian Riko bukan seperti kematian biasa yang tercatat di berita duka cita. Dalam istilah akuntansi yang sering kugunakan, Riko bukan sekadar 'keluar' dari sistem, tapi ia 'dihapuskan secara permanen' (permanently deleted).
Kejadiannya tepat tiga hari yang lalu, di tengah minggu pertama liburan. Kami mendapat kabar dari grup WhatsApp bahwa Riko ditemukan di kamarnya dalam kondisi yang mengerikan. Tubuhnya masih ada, tapi seluruh ingatannya—bahkan identitasnya di database kependudukan dan rapor sekolah—mendadak hilang, menyisakan raga kosong yang hanya bisa menatap langit-langit. Tak lama setelah dibawa ke rumah sakit, jantungnya berhenti. Di samping tempat tidurnya, polisi menemukan sebuah tas hitam kosong yang jahitannya masih basah oleh cairan merah.
Kehilangan Riko adalah "kerugian besar" yang tidak bisa kami jurnal. Itulah yang memicu kami berlima berkumpul di rumah Netta dengan amarah yang meluap.
"Kita nggak bisa biarkan Riko mati sia-sia, Dra," ucap Bagas malam itu, suaranya parau.
"Aku sudah melacak data medis Riko," Nadin menyela, jemarinya menari di atas keyboard. "Sebelum dia 'dihapuskan', dia sering mengunjungi sebuah fasilitas di pinggiran kota. Ibunya, Siti Rahayu, ternyata sudah lebih dulu dipindahkan ke sana setelah suaminya—ayah Riko—meninggal karena kasus yang sama sepuluh tahun lalu. H.S. mengurung ibunya di sana agar tidak ada yang bisa
menggali sejarah lama."
Itulah alasan kami sekarang berada di sini, di depan Panti Rehabilitasi Harapan Jiwa. Sebuah bangunan tua yang tampak seperti tumpukan angka mati di tengah hutan beton.
...****************...
Hujan di luar rumah sakit tua itu tidak hanya membasahi bumi, tapi seolah mencoba menenggelamkan keberanian kami. Aku membetulkan letak kacamataku. Di sampingku, Vema berdiri dengan jaket hitam. Rambut wolfcut-nya yang pendek tampak sedikit berantakan karena angin, memberikan kesan tajam yang belum pernah kulihat.
"Dra, kalau kita masuk ke sana, kita benar-benar menantang 'Pelanggan Besar' secara langsung," bisik Vema.
"Kita sudah kehilangan Riko, Vem. Aku nggak mau kehilangan siapa pun lagi di neraca ini," jawabku tegas.
Kami melangkah masuk. Aroma karbol dan kemenyan menyambut kami—perpaduan antara medis dan mistis yang mual. Nadin memantau lewat earpiece, membimbing kami melewati titik buta CCTV yang sudah ia retas.
Lantai 4, Kamar 404.
Begitu pintu terbuka, aku melihat Ibu Riko. Kondisinya jauh lebih buruk dari Riko. Beliau duduk di tempat tidur, jemarinya bergerak cepat menjahit udara kosong. Krek... krek... krek... suara itu keluar dari mulutnya secara ritmis.
"Tante Siti?" panggilku.
Beliau tidak menoleh. Namun, Vema melangkah maju. Rambut pendeknya bergoyang saat ia menunduk dan meraih tangan Ibu Riko. Begitu mereka bersentuhan, pergelangan tangan Vema yang terikat benang merah mengeluarkan cahaya redup.
"Dra... aku melihatnya," bisik Vema, matanya terpejam. "Aku melihat Riko memberikan sesuatu pada ibunya sebelum dia meninggal. Sebuah buku. Buku itu disembunyikan di bawah ubin yang longgar di bawah tempat tidur ini!"
Bagas segera berlutut, mencari ubin yang dimaksud. Dengan tenaga kuatnya, ia mencongkel sebuah ubin di pojok ruangan. Di sana, terbungkus kain kafan tua, terdapat sebuah Jurnal Hitam.
Aku mengambilnya. Ini bukan jurnal akuntansi biasa. Ini adalah catatan 'Pesanan Tas' selama sepuluh tahun terakhir. Nama-nama korban, jumlah bayaran kepada Ibu Vema, dan tanda tangan digital sang pemesan.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari ambang pintu.
"Luar biasa. Sebuah audit yang sangat komprehensif, Sarendra."
Kami tersentak. Haryo Santoso (H.S.) berdiri di sana. Ia tidak sendirian. Di belakangnya, ada beberapa pria berpakaian hitam dengan mata yang kosong—persis seperti mata Riko sebelum meninggal. Mereka adalah 'boneka' yang sudah selesai dijahit.
"Pak Haryo?" aku melangkah maju, melindungi Vema di belakang punggungku yang bungkuk.
"Serahkan buku itu, Sarendra. Kamu anak yang pintar, jangan buat aku harus menghapus namamu dari buku absen dunia ini," ucap Pak Haryo. dengan senyum yang sangat sopan namun mematikan.
"Pak, dalam akuntansi, ada yang disebut Fraud Triangle," kataku, mencoba tetap tenang meski jantungku berdegup kencang. "Anda punya tekanan untuk berkuasa, Anda punya kesempatan sebagai ketua yayasan, dan sekarang... Anda kehilangan pembenaran Anda. Buku ini adalah bukti otentik."
Pak Haryo tertawa dingin. Ia mengeluarkan sebuah jarum emas dari sakunya. "Bukti hanya berguna jika ada orang yang hidup untuk membacakannya."
Tiba-tiba, Ibu Riko yang tadinya diam, berteriak histeris. Ia menarik benang-benang tak kasat mata dari udara, menciptakan jaring-jaring yang menghalangi langkah anak buah Pak Haryo
"LARI!" teriak Ibu Riko, suaranya pecah. "SELAMATKAN ANAK-ANAK INI!"
Kami tidak membuang waktu. Bagas menerjang salah satu boneka Pak Haryo, memberikan jalan bagi aku dan Vema. Kami berlari menyusuri koridor yang mendadak berubah menjadi labirin benang hitam.
"Nadin! Jemput di pintu belakang!" teriakku lewat earpiece.
Kami berhasil keluar ke parkiran tepat saat mobil Nadin mengerem mendadak di depan kami. Kami melompat masuk. Pak Haryo berdiri di balkon lantai empat, menatap kami pergi dengan tatapan yang menjanjikan kematian.
Di dalam mobil, aku membuka halaman pertama Jurnal Hitam itu dengan tangan gemetar. Aku ingin tahu siapa orang pertama yang menggunakan jasa tas hitam ini sepuluh tahun lalu—orang yang memulai semua kutukan ini.
Mataku terbelalak. Namanya tertulis dengan tinta merah yang tebal.
"Dra? Ada apa?" tanya Vema cemas melihat wajahku yang pucat pasi.
"Vem... orang pertama yang memesan tas hitam sepuluh tahun lalu... untuk menyingkirkan saingan bisnisnya..." suaraku tercekat. "Adalah ayahku sendiri. Dia yang memulai semua ini."
Mobil itu mendadak sunyi. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap, seolah-olah langit pun sedang menertawakan takdirku yang hancur dalam satu baris tulisan di jurnal itu.
ada apa dgn vema
lanjuuut...