NovelToon NovelToon
The Antagonist From Paris

The Antagonist From Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Dark Romance / Bad girl / Antagonis
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vanilla Ice Creamm

Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK

Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.

​Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.

​Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.

​Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.

Jika melanggar, MATI.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Isola del Giglio.

"Tidak perlu, Simon. Aku bisa pulang sendiri," Bianca mengibaskan tangan untuk menolak.

"Bianca, tunggu!" namun terlambat. Bianca sudah masuk ke dalam taksi yang kebetulan melintas, meninggalkan drama percintaan Simon dan Clarissa begitu saja.

Simon mematung, menatap lampu belakang taksi yang menjauh dengan rahang mengeras. Amarahnya kini beralih sepenuhnya kepada Clarissa yang berdiri terengah di sampingnya dengan senyum kemenangan, namun tak lama.

"Kau baru saja mengacaukan hariku!"

"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi, atau aku akan memastikan kau lenyap dari kota ini tanpa meninggalkan jejak. Enyahlah."

"Simon, kau tidak meninggalkanku begitu saja! Simon......" Simon berlalu dan masuk cepat ke mobilnya.

...****************...

Bianca memasang headset-nya, lalu berbicara dengan Lora dalam bahasa Prancis agar tidak dimengerti oleh sopir taksi tersebut.

"Sejak awal dia sudah mencurigaiku, Lora. Pria seperti itu benar-benar mengerikan," bisik Bianca,

"Bianca, pria sepertinya tidak butuh wanita yang mudah ditebak. Kau sudah menanamkan duri di pikirannya, dan percayalah, dia tidak akan berhenti sampai dia bisa mencabutnya kembali. Jangan lari, nikmati saja permainannya."

Setibanya di kamar hotel, Bianca melemparkan tasnya ke sembarang arah dan langsung merebahkan diri di atas ranjang yang empuk.

"Coba cari tahu, dia punya bisnis apa saja? Lalu, bagaimana rekam jejaknya soal wanita? Aku hanya penasaran, Lora,"

Lora muncul perlahan melalui pantulan cermin rias besar di seberang ranjang, wajahnya terlihat tenang namun penuh rahasia.

"Simon Maldini," suaranya tenang seperti desiran angin sepoi-sepoi. "Di permukaan, dia adalah raja logistik dan manufaktur senjata legal. Namun di bawah tanah, dia adalah penyuplai utama bagi faksi-faksi yang tidak ingin namanya tercatat di dokumen mana pun. Dia bersih dari penyakit, sangat perkasa, dan tentu saja—kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan."

Lora tersenyum miring, "Soal wanita? Dia predator yang tak mengenal kata cinta, semuanya harus menguntungkan secara transaksional. Tidak pernah terikat secara emosional, dan Clarissa tadi adalah kesalahan kecil yang sudah dia eliminasi. Kabar baiknya untukmu, Bianca... Simon tidak pernah mengejar wanita seperti dia mengejarmu siang ini. Kau sudah membuatnya terobsesi."

"Oh begitu.. ok. Jadi apa yang harus kulakukan?"

"Mainkan peranmu sebagai wanita yang sulit digapai,"

​"Jangan hubungi dia. Biarkan dia tenggelam dalam rasa penasaran tentang siapa kau sebenanya. Pria seperti Simon terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan mudah; saat dia menemukan sesuatu yang berontak, insting berburunya akan menggila."

Lora menatap tajam ke arah Bianca. "Mandilah, pakailah gaun tidur sutramu, dan nikmati sisa malam ini. Biarkan dia yang bekerja keras mencarimu. Dengan informasi dariku, kau tahu dia bersih dan kaya raya—kriteria yang kau inginkan, bukan? Sekarang, tinggal bagaimana kau menjinakkan sang predator tanpa menjadi korbannya."

...****************...

Marco mendekat saat Simon sedang menyesap kopi di balkon.

"Sudah ketemu, Tuan. Dia menginap di Hotel Ritz, kamar Penthouse nomor 808."

Simon menaikkan sebelah alisnya. "Kamarnya tidak murah. Dia punya selera juga."

"Benar, Tuan. Tapi ada yang menarik, dia baru saja memesan meja untuk satu orang di restoran hotel malam ini. Sepertinya dia ingin menikmati malamnya sendirian."

Simon menyeringai kecil. Ia teringat tatapan menantang Bianca di jalan tadi. "Satu orang? Kurasa dia butuh teman bicara."

"Harus saya batalkan pesanan mejanya?"

"Tidak perlu," sahut Simon sambil merapikan lengan kemejanya. "Kirimkan gaun malam terbaik dari butik langgananku ke kamarnya. Sertakan kartu kecil: 'Aku tidak suka ditolak dua kali. Sampai jumpa di meja nomor satu, jam delapan malam.'"

...****************...

Pukul delapan malam tepat, Bianca melangkah masuk, menjadi pusat perhatian seketika. Ia mengenakan gaun malam sutra berwarna perak kebiruan—kiriman Simon—yang membalut tubuhnya dengan sempurna, jatuh selembut air di lantai marmer.

Di meja nomor satu yang terletak di sudut paling privat, Simon sudah menunggu. Pria itu berdiri saat melihat Bianca mendekat. Matanya menatap Bianca dari ujung rambut hingga ujung kaki, memberikan tatapan apresiasi yang tidak ditutup-tutupinya.

"Warna itu terlihat jauh lebih baik daripada yang kubayangkan," suara baritonnya yang rendah. Ia menarikkan kursi untuk Bianca dengan gerakan elegan.

Bianca duduk, dagunya terangkat sedikit, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Ternyata kau tipe pria yang suka memaksa, Simon. Gaun ini indah, tapi bukan berarti aku bisa dibeli dengan sepotong kain."

Simon duduk kembali di hadapannya, menyesap wine merah di gelas kristalnya sembari tersenyum miring. "Ini bukan soal harga kainnya, Bianca. Ini soal memastikan kau tidak punya alasan lagi untuk menolak ajakan makan malamku."

"Jadi, katakan padaku... apakah semua wanita di Paris sehebat dirimu dalam membuat pria penasaran, atau kau memang pengecualian yang berbahaya?"

Bianca tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah cermin besar di dinding restoran, tempat Lora mengawasinya dengan puas.

"Aku hanya wanita biasa yang sedang menikmati hidup, Simon. Tapi kalau menurutmu aku berbahaya, mungkin kau seharusnya tidak duduk di sini."

"Oya soal wanita tadi, aku tak ingin terlibat drama kalian, apa lagi dianggap merampokmu di toko perhiasaan tadi siang."

Ia menyesap wine-nya perlahan, "Soal Clarissa, Dia bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Aku tidak suka ada orang yang merusak suasana, apalagi suasana liburan tamu istimewaku."

"Kita bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu, Simon. Jangan bilang kau adalah tipe pria yang mudah jatuh hati."

​"Aku tidak jatuh hati, Bianca. Aku hanya menghargai sesuatu yang langka,"

"Kau bilang kau ingin berlibur tanpa drama? Baiklah. Anggap saja makan malam ini adalah gencatan senjata."

Simon mengulurkan tangan di atas meja, telapaknya terbuka lebar menunggu sambutan. "Bagaimana? Bersedia mengabaikan drama itu dan menikmati malam ini bersamaku? Setelah makan malam, aku ingin membawamu ke Isola del Giglio. Pulau pribadiku tak jauh dari Roma."

Bianca tersenyum tipis, perlahan menyambut jemari pria itu. "Itu artinya aku harus berkemas malam ini juga?"

"Tentu, cara mia. Kita akan dijemput helikopter di helipad hotel dalam sembilan puluh menit. Jangan biarkan aku menunggu."

Setelah makan malam usai, Bianca melangkah menuju suite-nya bersama Simon untuk berkemas.

"Kamar ini terlalu luas untuk seseorang yang sedang solo traveling," Simon mengedarkan pandangan.

"Aku selalu mengutamakan kenyamanan," goda Bianca. Ia berjalan memutari Simon dengan gerakan sensual, membiarkan aroma parfumnya tertinggal di indra penciuman pria itu. "

Di sudut ruangan, Simon menghubungi Marco untuk menyelesaikan seluruh urusan administrasi hotel. Ia menutup telepon dengan senyum puas yang tertuju langsung pada Bianca.

"Ayo, cara mia," ajaknya sembari merangkul pinggang Bianca. "Helikopter sudah menunggu." Simon segera mengambil alih koper Bianca dan mengamit posesif pinggang ramping gadis itu.

1
Sinchan Gabut
aih... Lora nih, org tiap hari ha he ho apa g modyar y itu badannya. buset... dah 🤣
Pengabdi Uji
Ehehehe santapan baru aja🤭 blm mulai ya bianca
Pengabdi Uji
Yaah kan ada yg bentuknya begitu, ada yang begini kan. Yaa pokonya apasi namanya jangan terlalu diituin 🤭
Yolanda
kelakuanmu aja spt itu bianca?
gmn laki mau menghargai
Vanilla Ice Creamm: 🙈🙈🙈🙈🙈
total 1 replies
Sinchan Gabut
rencana Lora mateng bener 😆
Vanilla Ice Creamm: mateng puun ya kak,, bianca gk sbr ngu 2 tahun.. sm2 diputusin soalnya
total 1 replies
tami
loh, aku bacanya dah sampai chapter ini 🤣 ga kerasa wkwkwk coba pergi ke prindavan sesuai saran komen di atas kak 🤣🙏🏻
Vanilla Ice Creamm: hahaha ya ampun kak,,
total 1 replies
tami
tiba2 banget emaknya dateng dan nyuruh nikah? 😳
Laila Sarifah
Nah lho emaknya Hernan suruh Bianca menikah dengan Hernan. Padahal Bianca masih mau cari mangsa lain dulu🤭
Vanilla Ice Creamm: ngg bs kak, dtg nya mlh dikehidupan kedua.. saat bianca tlh ada kesepakatan gelap
total 1 replies
Laila Sarifah
Lah Hernan belum moveon ternyata. Aurelie juga malah milih aki-aki😫
Aruna02
lo suka juga sama tukang Bianca 🤣🤣 kebangetan
Aruna02
semakin 3d4n si lora 🤣
Vanilla Ice Creamm: dia kan iblis kak
total 1 replies
Pengabdi Uji
Lora ini apa iya dlu nya manusia jg
Vanilla Ice Creamm: manusia kak.. nti di jlskkan dia itu bls dendam
total 1 replies
Pengabdi Uji
Hehehe ayo mulai perburuannya sampai duit lu banyak Bianca
tami
wah, lora ini emang picik yaa 😳 bener2 the real antagonist
tami
loh? kuat juga imannya si elias ini yaaa bisa2nya tidak terjerat dengan bianca
Sinchan Gabut
intinya g boleh ada rasa "kasih & sayang".

Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?
Sinchan Gabut
waduh, bacanya d waktu yang g tepat. lagi makan 😭
Vanilla Ice Creamm: smoga gk mual ya kak. maaf.
total 1 replies
Alessandro
hufttt... serah lu aja lah🔪
Alessandro
what sih, Bianca... omegot
Laila Sarifah
Kuat bgt imannya Elias😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!