Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kolom komentar
Mereka saling pandang—Guno di dalam mobil dan Iwan di atas motornya. Batin mereka masing-masing bergejolak.
"Siapa lo? Berani-beraninya mendekati pacar gue. Mau lo tua sekalipun, kalau sudah merebut kebahagiaan gue, gue enggak akan segan-segan menghancurkan hidup lo!" batin Iwan geram.
"Bocah sialan! Enggak ada takut-takutnya. Masa gue harus bertarung sama anak kecil sih? Yang benar saja! Kalau ada yang diam-diam merekam lalu menyebarkannya, kan enggak lucu kalau judulnya: Seorang Guru Melakukan Kekerasan terhadap Anak Didiknya. Ah, serba salah!" keluh Guno dalam hati.
Akhirnya, Guno memutuskan untuk mengklakson Iwan agar menepi. Sebagai orang dewasa, Guno berusaha berpikir realistis dan mencari jalan keluar yang benar dalam situasi ini.
Tin! Tin! Tin!
Guno terus membunyikan klakson, namun Iwan tetap bergeming di tempatnya. Karena pusing, Guno mencoba mengambil jalur kiri untuk mendahului. Namun, mobil Guno hampir saja terserempet kendaraan lain dari belakang, sementara pengendara di sebelah kiri sempat oleng karena menghindar. Alhasil, Guno menerima makian dari pengendara lain.
"Woi, sialan! Ambil jalur lo sana, jangan maruk! Lo pikir ini jalan nenek moyang lo?" teriak pengendara yang hampir terjatuh.
Guno hanya diam sambil mengangguk-angguk. Pengendara yang hampir menyerempetnya tadi pun tak mau ketinggalan memberikan peringatan.
"Dengar ya, kalau sampai lo begitu lagi di jalan, gue hajar lo! Plat nomor mobil lo sudah gue tandai!" ujarnya sebelum kembali melaju.
Setelah situasi sedikit tenang, Guno turun dari mobil dan menghampiri Iwan yang masih duduk di motornya.
"Mau kamu apa, sih? Saya mau pulang, jangan halangi jalan saya! Kamu mau saya tabrak?" ancam Guno.
"Tabrak saja, Pak! Toh, sebelumnya Bapak sudah menabrak perasaan saya!" balas Iwan sengit.
"Kapan dan di mana? Mending kamu minggir sebelum saya telepon polisi!"
"Bapak sadar tidak kalau Bapak itu salah?"
"Iya, terserah! Mau saya salah atau benar, terserah kamu!"
"Bukan terserah, Pak! Bapak introspeksi diri tidak? Saya yakin tadi Bapak mendengar obrolan saya dengan Tama. Jangan bersikap seperti anak kecil! Bapak itu orang dewasa, memalukan sekali mengacak-acak hubungan anak SMA!"
"Oke! Saya tidak akan mendekati Tama lagi. Puas?"
Iwan mengernyitkan kening, lalu tersenyum mengejek. "Buktikan Pak, Jangan cuma bicara!"
Iwan menghidupkan motornya dan melaju perlahan. Tak disangka, Iwan mengeluarkan sebilah pisau dan menyayatkan mata pisaunya ke badan mobil Guno -krittttttt hingga meninggalkan bekas yang cukup panjang.
Setelah itu, Iwan memacu motornya dengan kecepatan tinggi untuk kabur.
"Hei! Sialan! Mobil gue!" teriak Guno histeris.
Tinnnnnnnnnnnnnn!
Suara klakson dari kendaraan lain memekakkan telinga. Di belakang mobil Guno, antrean kendaraan mulai mengular karena terhalang. Guno terpaksa segera masuk ke mobil dan melajukan kendaraan besinya itu.
"Iya, sabar! Gue jalan ini! Ah, sialan!" gerutu Guno.
Guno mengemudi dengan suasana hati yang sangat buruk hingga tak terasa ia sudah sampai di depan rumah. Ia menghela napas panjang dan berusaha menenangkan diri.
"It’s okay. Cuma anak-anak. Nanti juga Tama sadar kalau lelaki yang dia butuhkan bukan pelajar, tapi pria mapan. Baru punya motor saja bangga, itu pun pasti punya orang tuanya" gumam Guno sambil membenarkan dasi.
Ia mengambil tas kerja lalu keluar dari mobil. Langkahnya sedikit melambat saat memasuki rumah. Begitu pintu dibuka, ia melihat ibu mertuanya sedang duduk di ruang tamu sambil menghirup aroma kopi digelasnya.
"Guno pulang Bu!" ucapnya memberi tahu kehadirannya sambil melepas sepatu.
"Gun..."
"Ya Bu?" Guno mengira mertuanya hanya sekadar menyapa makanya dia tidak terlalu berpaling pada ibu mertuanya itu.
"Gun, Ibu ini memang bodoh dan gaptek. Tapi, kamu harus ingat kalau teman-teman arisan Ibu punya ponsel yang canggih."
Guno terdiam sejenak. Ia duduk di kursi, berhadapan dengan ibu mertuanya. "Ibu mau ponsel baru?" Ibu mertuanya menggeleng.
Tiba-tiba, beliau menangis sesenggukan. Dengan sigap, Guno mengambil tisu dan mengusap pipi ibu mertuanya.
"Ibu kenapa? Ibu rindu Hana?"
"Gun, empat puluh hari saja belum lewat sejak anakku pergi. Tapi kamu sudah berani mencari yang lain. Rasanya seperti Ibu yang kamu selingkuhi!"
Guno mengernyit. Setelah mencerna perkataan itu, ia sadar bahwa unggahannya di media sosial sudah sampai ke telinga mertuanya. Guno tertunduk lesu, matanya hanya menatap lantai.
"Bayangkan kalau Hana masih hidup, apa dia tidak akan menangis seperti Ibu? Dia pasti akan sangat kecewa dan marah besar padamu!" tangis mertuanya pecah lagi. "Dia memercayaimu! Tapi kamu patahkan kepercayaan itu dengan mengunggah foto perempuan lain. Kamu memanggilnya 'sayang' seolah sudah lama mencintainya. Apa arti kebersamaanmu dengan istri tercintamu sebelum dia meninggal Gun? Apa?!".
Tanpa terasa, air mata Guno menitik. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia mengejar Tamara. Apakah karena fisiknya? Atau karena kemudaannya? Perkataan ibu mertuanya menyadarkannya kembali bahwa cinta sejati ada pada Hana yang tulus, bukan pada Tama yang baru ia temui kemarin sore.
Merasa sangat bersalah, Guno berlutut di hadapan mertuanya "Bu, maafkan saya. Saya sangat menyesal".
"Tinggalkan perempuan itu jika kamu benar-benar menyesal!"
"Iya, Bu. Saya akan meninggalkannya. Maafkan saya"
Sore itu, Guno menangis tersedu-sedu meminta maaf. Ia berjanji tidak akan mencari perempuan lain.
Malam harinya, Guno melihat kembali komentar pada unggahannya. Banyak yang mendukung dan menjahilinya. Ada rasa bahagia yang terselip di hatinya saat membaca komentar-komentar itu. Niat awal untuk menghapus unggahan pun urung dilakukan. Ia justru sibuk membalas komentar mereka.
Setelah puas, ia mencari nama akun @TAMTAMARA. Ia memperhatikan satu per satu unggahan milik Tama. Unggahan terakhir tercatat pada 9 Juli 2025, padahal sekarang sudah 14 November 2025. Saat melihat kolom komentar di akun Tama, Guno terkejut melihat banyaknya hujatan.
"Gue gak nyangka, muka polos hati busuk!"
"Perebut!"
"Pelakor!"
"Tam, kita masih sekolah loh!"
Banyaknya cacian itu rupanya memaksa Tama untuk menonaktifkan kolom komentarnya.