Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 " Kucing manis"
Mobil melaju kembali membelah jalanan kota yang mulai condong ke sore. Cahaya matahari tak lagi jatuh tegak dari atas kepala, melainkan menyamping, menyentuh bangunan dan pepohonan dengan warna keemasan yang lembut. Dari balik kaca jendela, Cherrin melihat bayangan mereka bergerak memanjang di aspal—dua siluet yang berjalan berdampingan, namun membawa beban masing-masing.
Radio masih memutar lagu yang sama. Suara penyanyinya serak, seolah menyanyikan sesuatu yang pernah hilang dan tidak sepenuhnya ditemukan kembali.
Zivaniel menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya bertumpu santai di dekat tuas persneling. Matanya fokus ke depan, tapi sesekali melirik kaca spion—kebiasaan kecil yang Cherrin perhatikan sejak tadi. Bukan kebiasaan orang yang hanya berhati-hati. Lebih seperti seseorang yang selalu bersiap.
Cherrin menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menghela napas panjang.
Perutnya kenyang. Tubuhnya hangat. Tapi pikirannya… tetap berisik.
“Kamu capek?” tanya Zivaniel tiba-tiba, tanpa menoleh.
Cherrin sedikit terkejut. “Hah? Enggak. Kenapa?”
“Kamu kelihatan diem.”
Cherrin tersenyum kecil. “Aku cuma mikir.”
“Bahaya,” jawab Zivaniel datar.
Cherrin terkekeh pelan. “Mikir itu bahaya?”
“Kalau mikirnya kebanyakan,” jawabnya sambil melirik singkat, “iya.”
Cherrin memutar tubuh sedikit menghadapnya. “Kamu juga mikir terus.”
“Aku kerja,” sanggahnya cepat.
“Itu sama aja.”
Zivaniel tidak membalas. Namun sudut bibirnya bergerak sedikit—hampir tak terlihat, tapi cukup untuk ditangkap Cherrin.
Mobil berbelok memasuki kawasan yang lebih sepi. Rumah-rumah besar berjajar rapi dengan pagar tinggi dan taman yang terawat. Jalanan mulus, bersih, nyaris steril dari hiruk-pikuk kota. Cherrin mengenali arah ini.
“Mansion,” gumamnya.
“Iya.”
Mereka masuk ke halaman luas itu perlahan. Gerbang otomatis menutup kembali dengan suara halus setelah mobil berhenti sempurna. Keheningan menyambut mereka—jenis keheningan yang terlalu rapi untuk terasa nyaman.
Begitu turun dari mobil, angin sore menyapu lembut rambut Cherrin. Ia mengencangkan jaketnya tanpa sadar.
Zivaniel memperhatikannya.
“Masuk aja. Di luar mulai dingin,” katanya.
“Kamu barusan bilang siang,” Cherrin menggoda.
“Sekarang sore.”
“Kaku banget.”
Zivaniel menghela napas kecil. “Masuk, Cher.”
Nada itu. Lagi-lagi nada yang tidak memerintah, tapi sulit ditolak.
Mereka berjalan berdampingan memasuki mansion. Sepatu Cherrin beradu pelan dengan lantai marmer, menghasilkan suara kecil yang bergema. Di dalam, udara terasa lebih sejuk, lebih tenang—dan entah kenapa, lebih berat.
Baru beberapa langkah, Cherrin berhenti.
Zivaniel menoleh. “Kenapa?”
Cherrin menunjuk ke sudut dekat jendela besar. “Itu… kucing?”
Zivaniel mengikuti arah pandangnya.
Seekor kucing kecil berwarna abu-abu pucat sedang duduk meringkuk di dekat pot tanaman. Bulunya sedikit mengembang, ekornya melingkar di depan tubuh. Matanya besar, berwarna kehijauan, menatap mereka dengan ekspresi waspada tapi penasaran.
“Oh,” Zivaniel bergumam. “Dia belum pergi.”
“Dia lucu,” kata Cherrin spontan.
Kucing itu mengeluarkan suara pelan. Mrrp.
Cherrin refleks mendekat satu langkah, lalu berhenti. “Boleh aku…?”
Zivaniel mengangguk. “Pelan-pelan.”
Cherrin berjongkok perlahan, menjaga jarak. Ia menurunkan tasnya, lalu mengulurkan tangan tanpa menyentuh, hanya memberi ruang.
“Hai,” katanya lembut. “Kamu sendirian?”
Kucing itu menegakkan telinganya. Ia tidak lari. Hanya memiringkan kepala sedikit, seolah mempertimbangkan apakah manusia di depannya layak dipercaya.
Zivaniel berdiri beberapa langkah di belakang, bersandar pada pilar, menyilangkan tangan. Ia mengamati adegan itu dengan ekspresi sulit dibaca.
Cherrin tersenyum. “Kamu kelihatan kayak… kucing yang sok kuat.”
Kucing itu mengeong kecil.
Meong meong
“Aku ngerti,” lanjut Cherrin. “Kadang sok kuat itu capek.”
Zivaniel menatapnya lebih tajam.
Kucing itu maju satu langkah kecil. Lalu satu lagi. Hingga akhirnya, ia mengendus ujung jari Cherrin. Tubuh Cherrin menegang sebentar, lalu rileks ketika kucing itu tidak mencakar atau lari—justru menggesekkan kepalanya pelan ke jari itu.
Cherrin tertawa pelan. “Eh… kamu manja.”
Zivaniel mengangkat alis. “Dia jarang mau sama orang.”
“Serius?” Cherrin menoleh ke arahnya.
“Iya.”
Cherrin kembali menatap kucing itu. “Berarti aku spesial dong.”
“Kemungkinan besar,” jawab Zivaniel.
Nada suaranya datar. Tapi matanya… tidak.
Cherrin mulai mengelus kepala kucing itu dengan hati-hati. Bulunya lembut, hangat. Kucing itu mendengkur pelan, suara kecil yang nyaris tenggelam dalam keheningan mansion.
“Kamu pelihara dia?” tanya Cherrin.
“Enggak.”
“Terus?”
“Dia muncul beberapa minggu lalu. Makan sisa di dapur belakang. Aku biarin.”
“Kamu baik.”
Zivaniel mendengus kecil. “Praktis.”
“Alasan orang baik selalu praktis,” balas Cherrin.
Zivaniel tidak menjawab.
Cherrin memperhatikan kucing itu lebih seksama. Ada bekas luka kecil di dekat telinganya. Bukan luka baru—lebih seperti bekas lama yang sudah sembuh.
“Kamu pernah disakiti, ya?” gumam Cherrin.
Kucing itu mendengkur lebih keras.
Zivaniel mengalihkan pandangan.
“Kamu cocok sama dia,” lanjut Cherrin sambil menoleh ke Zivaniel. “Dingin di luar, tapi sebenernya butuh ditemani.”
Zivaniel menghela napas panjang. “Jangan mulai.”
“Aku cuma bilang.”
“Jangan samain aku sama kucing.”
Cherrin tersenyum miring. “Kucing manis dari Zivaniel.”
Zivaniel menatapnya tajam. “Jangan kasih nama aneh.”
“Udah terlanjur,” kata Cherrin ringan.
Kucing itu tiba-tiba meloncat kecil ke arah Zivaniel, menggesekkan tubuhnya ke kaki celana pemuda itu. Gerakannya familiar. Nyaman.
Zivaniel membeku.
Cherrin menatapnya dengan mata berbinar. “Dia milih kamu.”
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Justru itu,” jawab Cherrin. “Kamu nggak maksa.”
Zivaniel menunduk, menatap kucing itu yang kini duduk manis di dekat kakinya.
Perlahan—sangat perlahan—ia menurunkan tangan, mengelus punggung kucing itu sekali.
Hanya sekali.
Namun kucing itu langsung mendengkur lebih keras.
Cherrin menahan senyum.
“Makanannya habis,” gumam Zivaniel.
“Kamu bisa beli lagi.”
“Kamu yang kasih nama.”
Cherrin terkejut. “Serius?”
“Iya.”
Cherrin menatap kucing itu, lalu Zivaniel, lalu kembali ke kucing itu. “Aku mau mikir.”
“Kucingnya sabar,” kata Zivaniel.
“Kamu juga.”
Zivaniel mendengus kecil.
Mereka akhirnya masuk ke ruang tengah. Kucing itu mengikuti dari belakang, langkahnya ringan, seolah sudah memutuskan untuk tinggal lebih lama.
Cherrin duduk di sofa, melepas sepatunya. Kucing itu melompat naik dan meringkuk di sampingnya tanpa ragu.
“Lihat,” kata Cherrin bangga. “Aku dipilih.”
Zivaniel menuang air ke gelas. “Dia oportunis.”
“Fitnah.”
Zivaniel menyerahkan segelas air. Jari mereka bersentuhan sebentar. Sangat singkat. Namun cukup untuk membuat Cherrin terdiam sepersekian detik.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Zivaniel mengangguk.
Sore berubah menjadi senja. Cahaya jingga menyusup melalui jendela besar, menyinari ruangan dengan warna hangat yang jarang ada di mansion itu. Kucing itu tertidur, tubuh kecilnya naik-turun seirama napas.
Cherrin menatapnya lama.
“Niel,” katanya pelan.
“Hm?”
“Kamu takut kehilangan, ya?”
Zivaniel tidak langsung menjawab.
Di luar, angin kembali bertiup.
“Aku cuma…” Cherrin melanjutkan, suaranya lembut. “Aku ngerasa, kamu jaga jarak bukan karena nggak peduli. Tapi karena peduli terlalu dalam.”
Keheningan mengisi ruangan.
Zivaniel menatap jendela. “Kadang, menjaga jarak itu satu-satunya cara.”
“Capek,” gumam Cherrin.
“Iya.”
Cherrin tersenyum tipis. “Kalau capek, istirahat. Kucing aja bisa.”
Zivaniel melirik kucing yang tidur pulas. “Dia nggak punya pilihan.”
“Kamu punya.”
Zivaniel menatap Cherrin. Lama. Dalam. Seolah ingin mengatakan sesuatu—lalu mengurungkannya kembali.
“Besok kita keluar lagi,” katanya akhirnya.
“Hah?”
“Kamu mau sate lagi?”
Cherrin tertawa kecil. “Itu alasan kamu?”
“Mungkin.”
Cherrin mengangguk. “Aku mau.”
Kucing itu bergerak sedikit, lalu kembali tertidur.
Senja perlahan tenggelam.
Dan di mansion yang biasanya dingin itu, ada satu hal kecil yang berubah—tidak besar, tidak mencolok—namun cukup untuk membuat malam terasa sedikit lebih manusiawi.