NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 15

Itu adalah Rizki. Dan perempuan di sampingnya adalah Melisa.

Melisa Sukmana, saudara angkat Miranda. Perempuan yang dulu seharusnya berdiri di pelaminan bersama Rizki, bukan dirinya. Dua tahun lalu, ketika keluarga Sanjaya berada di ujung kebangkrutan, perjodohan itu hampir terlaksana. Semua sudah disiapkan, semua sudah disepakati. Namun di detik terakhir, Melisa menangis, memohon pada orang tuanya. Ia menolak menikah dengan lelaki yang saat itu tidak memiliki apa-apa selain nama besar keluarga.

Karena perjodohan itu memiliki dasar hukum yang kuat, keluarga Sukmana tidak bisa begitu saja membatalkannya. Pernikahan harus tetap terjadi. Anak keluarga Sanjaya harus menikah dengan anak keluarga Sukmana. Dan pilihan itu jatuh kepada Miranda.

Anak yang tertukar. Anak yang selama dua puluh tahun hidup jauh dari keluarga kandung. Anak yang diakui kembali bukan karena cinta, melainkan karena kebutuhan.

“Kurang ajar,” jerit Miranda.

Amarahnya meledak tanpa sisa. Dadanya naik turun, napasnya memburu. Ia bangkit dari kursi dengan gerakan kasar, kursi itu bergeser keras hingga beberapa pengunjung menoleh.

“Aku tidak bisa diam saja,” katanya gemetar, lalu melangkah hendak pergi.

“Miranda, mau ke mana kamu?” seru Nabil sambil bangkit dan menarik pergelangan tangannya.

“Aku akan melabrak Melisa,” balas Miranda dengan suara parau. “Aku mau dengar langsung dari mulutnya sendiri kenapa dia tega melakukan ini padaku.”

Nabil menahan tubuh Miranda, lalu dengan tenaga memaksanya duduk kembali.

“Duduk dulu,” katanya menahan nada. “Terus setelah kamu melabrak Melisa, kamu mau apa?”

Miranda mengusap pipinya yang basah oleh air mata.

“Aku akan memutuskan hubungan dengan keluarga Sukmana,” jawabnya terisak. “Toh selama ini mereka juga tidak pernah benar benar menganggap aku anak mereka.”

Nabil menghela napas panjang, matanya menatap lurus ke wajah Miranda.

“Setelah memutuskan hubungan keluarga, lalu apa lagi?” tanyanya datar.

“Aku akan bercerai dari Rizki,” ucap Miranda lirih. “Aku akan hidup mandiri lagi.”

“Hanya itu?” tanya Nabil dengan nada ringan.

“Ya, hanya itu.” Suara Miranda meninggi. “Lalu aku harus bagaimana lagi, Nabil. Hatiku sudah hancur. Dua puluh tahun aku hidup terpisah dari keluarga kandung. Diakui hanya untuk dinikahkan. Aku membantu Rizki keluar dari kebangkrutan. Aku bekerja mati matian. Setelah dia sukses, dia malah tidur dengan perempuan yang dulu menolaknya.”

Ia menutup wajah, bahunya bergetar.

“Aku sakit, Nabil. Sakit sekali,” katanya terisak. “Kamu tidak akan pernah mengerti.”

“Hmm,” gumam Nabil pendek. “Dasar bodoh.”

Miranda menurunkan tangannya dan menatap Nabil tajam.

“Bodoh?” suaranya bergetar. “Apa maksudmu bilang aku bodoh. Aku harus bertahan, aku harus menahan semua ini. Aku manusia biasa, Nabil. Hatiku terlanjur remuk.”

“Selama dua tahun kamu menikah dengan Rizki,” ujar Nabil perlahan, “kamu membantu dia keluar dari kebangkrutan. Setelah itu kamu cerai dan kamu tidak mendapatkan apa apa. Tidak harta, tidak penghargaan. Yang kamu bawa pulang cuma sakit hati.”

Miranda terdiam, dadanya terasa makin sesak.

“Terus aku harus apa?” tanyanya lemah.

“Minum dulu kopinya,” ujar Nabil sambil mendorong cangkir ke arahnya. “Ini kopi paling mahal di kafe ini. Sayang kalau tidak diminum.”

Miranda menarik napas panjang, lalu mengangkat cangkir itu dengan tangan gemetar. Ia meneguk perlahan. Rasa pahit kopi mengalir di tenggorokannya, menenangkan sedikit gejolak di dadanya.

“Sekarang katakan,” ucapnya lebih pelan. “Apa yang harus aku lakukan.”

“Kamu sudah menyelamatkan dua keluarga,” kata Nabil tenang. “Keluarga Sanjaya dan keluarga Sukmana. Tapi sampai hari ini kamu tidak punya satu pun aset dari mereka. Sungguh, kamu wanita yang terlalu baik, Mir.”

“Kamu ini memujiku atau mengejekku?” tanya Miranda getir.

“Dua duanya,” sahut Nabil singkat. “Baik dan bodoh itu bedanya tipis.”

Miranda terdiam.

“Rizki sudah berkhianat,” lanjut Nabil. “Keluarga kamu juga mengabaikan kamu. Bukankah mereka semua pantas membayar?”

“Membayar bagaimana?” tanya Miranda ragu.

“Dengan hartanya.”

Miranda langsung menggeleng.

“Itu kriminal, Nabil,” katanya tegas. “Aku tidak bisa. Aku terbiasa hidup lurus. Aku tidak pernah mencuri, tidak pernah menipu.”

“Kriminal?” Nabil tersenyum tipis. “Ini bukan mencuri. Ini mengambil hak kamu sendiri. Jangan sampai hatimu hancur berkeping keping dan kantong kamu juga kosong. Sebagai teman, aku sanggup membiayai hidup kamu. Tapi aku tidak mau berteman dengan orang yang membiarkan dirinya diinjak injak.”

Miranda menunduk. Kata kata itu menghantam perlahan. Ia sadar, selama ini ia selalu mengalah. Selalu merasa tidak pantas menuntut apa pun.

“Terus,” katanya pelan, “apa rencanamu?”

“Kamu harus tenang,” jawab Nabil mantap. “Bersikap biasa saja. Jangan bocorkan apa pun. Ambil aset mereka satu per satu. Bagaimanapun juga, kamu harus keluar dari pernikahan ini sebagai janda kaya.”

Miranda tersenyum pahit.

Menjadi janda tidak pernah ada dalam daftar impiannya. Hidup yang ia inginkan sederhana. Suami yang setia, rumah kecil, keluarga utuh.

“Aku jijik, Nabil,” ucapnya lirih. “Melihat wajah mereka saja aku ingin muntah. Tapi sekarang aku harus pura pura tidak tahu apa apa. Ini menyiksa.”

“Kamu terlalu emosional,” sahut Nabil menasihati. “Ingat, kamu sudah disakiti. Sekarang saatnya kamu mengambil untung. Jangan libatkan perasaan. Anggap saja mereka badut yang sedang menari di depanmu.”

Miranda terdiam lama. Ia memandang cangkir kopi yang tinggal setengah. Berulang ulang ia berpikir. Sampai akhirnya ia mengangguk pelan.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kalau begitu, apa langkah pertamaku?”

Nabil melirik jam tangannya.

“Sudah jam dua lewat tiga puluh. Sebentar lagi mertua kamu pulang. Kita lanjutkan lewat pesan saja.”

Miranda menoleh ke jam dinding.

“Ya Allah, sudah siang sekali,” gumamnya. “Aku harus segera pulang.”

Mereka berdiri bersamaan. Tidak ada pelukan, tidak ada senyum. Hanya tatapan singkat, penuh keputusan.

Lalu mereka berpisah.

Miranda diantar Nabil sampai mendekati rumah. Perjalanan itu memakan waktu hampir tiga puluh menit. Sepanjang jalan mereka banyak berbincang, membahas rencana, membahas kemungkinan, juga membahas masa depan yang kini terasa kabur. Miranda merasa beruntung memiliki Nabil, satu satunya orang yang selalu muncul saat hidupnya runtuh.

Mobil berhenti agak jauh dari kompleks perumahan. Miranda sengaja turun di sana agar tidak terlihat siapa pun.

“Terima kasih, Nabil,” ucapnya pelan.

Nabil mengangguk singkat. “Hati hati. Ingat, tenang.”

Miranda berjalan kaki menuju kediaman keluarga Sanjaya. Begitu membuka gerbang, ia langsung menghitung waktu. Ia hanya punya satu jam sebelum Anton pulang dari lapangan golf.

Di dalam rumah, Nadia tampak menggendong Amora. Bayi itu tertawa kecil, kakinya menendang udara, sementara Nadia mengajaknya bermain dengan sabar. Miranda memperhatikan sejenak. Perempuan itu benar benar telaten, padahal belum pernah punya anak.

“Nadia, Bi Mirna ke mana?” tanya Miranda sambil mendekat.

“Tadi saya minta tolong Bi Mirna belikan susu formula,” jawab Nadia.

Miranda terkejut kecil. “Sejak kapan perginya?”

“Baru sekitar dua puluh menit lalu,” sahut Nadia. “Saya juga titip obat untuk Amora. Katanya cuma ada di apotek besar, mungkin satu jam baru pulang.”

Miranda tersenyum lebar. Ia mengacungkan jempol.

“Bagus. Ini kesempatan emas,” katanya lirih. “Aku mulai sekarang. Tolong jaga jaga. Kalau Bi Mirna pulang, kasih kode.”

“Siap, bos,” balas Nadia sambil tersenyum kecil.

Miranda segera masuk ke kamar. Dari tasnya ia mengeluarkan kamera kamera kecil sebesar kancing. Tangannya bekerja cepat. Satu ia pasang di kamar Anton, satu di kamar Rizki, satu di kamar Saras, satu di kamar Raka, dan satu lagi di dapur. Ia menaiki kursi plastik, menyelipkan kamera di dekat lampu, menyamarkannya sebaik mungkin.

Baru saja ia menuruni kursi, suara dari belakang membuat tubuhnya menegang.

“Neng lagi apa?”

Miranda membeku.

“Ah sial,” gerutunya dalam hati. “Kenapa Nadia tidak memberi tanda.”

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!