NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit

Gerhana Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".

Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.

Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.

"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Gerhana

Angin di ketinggian tiga ribu kaki tidak lagi terasa segar, melainkan membawa bau amis logam dan belerang yang menyesakkan dada.

Han Luo berdiri di haluan Bahtera Roh, menatap ke bawah melalui lapisan awan yang mulai menipis. Di bawah sana, bumi tampak seperti bekas luka menganga yang belum sembuh.

Lembah Naga.

Itu bukanlah lembah hijau yang asri seperti namanya. Itu adalah kuburan massal purba.

Dari ketinggian, Han Luo bisa melihat struktur pegunungan yang aneh. Punggung bukit itu melengkung dan bergerigi tajam, memutih seperti kapur.

"Itu bukan batu," batin Han Luo, mengingat deskripsi di novel. "Itu adalah tulang rusuk Naga Bumi Raksasa yang mati sepuluh ribu tahun lalu. Lembah ini terbentuk dari bangkainya."

Energi di sini kacau. Qi spiritual bercampur dengan Qi Kematian dan Qi Iblis sisa pertempuran kuno. Bagi kultivator lemah, bernapas di sini saja sudah seperti menghisap racun perlahan.

"Kita sampai," suara Liu Ming terdengar dari belakang, dingin dan tanpa emosi. "Bersiaplah untuk turun."

Bahtera Roh itu berguncang hebat saat menembus lapisan pelindung alamiah lembah—sebuah kubah energi transparan yang bergetar menolak tamu asing.

BOOM!

Kapal itu berhasil mendarat dengan kasar di sebuah dataran tandus yang dipenuhi bebatuan hitam. Debu beterbangan, menghalangi pandangan.

"Keluar! Cepat!" perintah para Murid Dalam.

Sepuluh murid luar, termasuk Han Luo dan Long Tian, bergegas turun. Mereka langsung batuk-batuk. Udara di sini panas dan kering, membuat tenggorokan gatal.

Han Luo segera mengaktifkan Pernapasan Kayu Mati ke tingkat rendah. Teknik ini tidak hanya menyembunyikan aura, tapi juga meminimalisir pertukaran udara dengan lingkungan, melindunginya dari racun udara ringan.

Dia melirik Long Tian. Wajah pemuda itu memerah, menahan napas, lalu buru-buru menelan pil detoksifikasi standar yang dibagikan sekte.

"Tempat yang mengerikan," gumam Long Tian, matanya waspada menatap sekeliling.

Liu Ming melompat turun terakhir, jubahnya tetap bersih berkat perisai Qi. Dia memandang kesepuluh murid luar itu seperti seorang gembala melihat domba.

"Dengar baik-baik," Liu Ming mengangkat suaranya. "Reruntuhan ini dibagi menjadi tiga zona: Zona Luar (Aman), Zona Tengah (Bahaya), dan Zona Inti (Mati). Kita akan mendirikan kemah di perbatasan Zona Luar."

Dia mengeluarkan sebuah peta kulit—bukan peta rahasia seperti milik Han Luo, tapi peta umum yang tidak lengkap.

"Tugas kalian para murid luar adalah menjadi Pencari Jalan. Kalian akan dibagi menjadi lima tim beranggotakan dua orang. Kalian harus memetakan area radius lima mil dari kemah ini dan mencari tanda-tanda Tanaman Darah Naga."

Liu Ming tersenyum tipis, tatapannya jatuh pada Han Luo dan Long Tian.

"Kebetulan sekali. Han Luo, Sang Juara. Dan Long Tian, Sang Kuda Hitam. Kalian berdua cukup kuat, bukan? Kalian satu tim. Kalian ambil arah Utara."

Arah Utara.

Jantung Han Luo berdetak lebih cepat. Berdasarkan peta rahasia yang dia curi, arah Utara adalah jalan menuju Rawa Asam—sarang Buaya Tulang. Itu adalah jalur paling berbahaya di Zona Luar.

"Dia ingin membunuh kami berdua sekaligus," simpul Han Luo.

"Siap, Kakak Senior!" jawab Long Tian dengan naif, memberi hormat militer. Dia tidak tahu bahayanya. Dia hanya senang bisa satu tim dengan Han Luo yang dia kagumi.

Han Luo juga membungkuk. "Baik, Kakak Senior. Kami akan berusaha."

"Pergilah. Jangan kembali sebelum matahari terbenam atau sebelum kalian menemukan sesuatu yang berharga."

Liu Ming mengibaskan tangannya, mengusir mereka.

Han Luo dan Long Tian berjalan menjauh dari rombongan utama, memasuki hutan pohon mati yang ranting-rantingnya menyerupai cakar setan.

Begitu mereka cukup jauh dan tidak terlihat lagi oleh rombongan, Han Luo langsung mengubah postur tubuhnya. Bahunya rileks, langkahnya menjadi ringan.

"Saudara Han," bisik Long Tian, memegang gagang pedangnya erat-erat. "Aku merasakan hawa membunuh yang kuat dari arah depan. Apakah kita harus terus?"

Han Luo menatap Long Tian. Indra pemuda ini tajam. Insting binatangnya tidak bisa dibohongi.

"Long Tian," kata Han Luo pelan. "Apa kau percaya padaku?"

"Tentu saja! Kau juara turnamen!"

"Kalau begitu, jangan tanya kenapa. Ikuti langkah kakiku persis. Jangan injak tanah yang berwarna abu-abu. Injak hanya tanah yang berwarna hitam."

"Eh? Kenapa?"

"Tanah abu-abu di sini adalah Pasir Hisap Tulang. Sekali kau injak, kau akan ditarik ke bawah dan dicerna oleh cacing tanah raksasa."

Wajah Long Tian memucat. "B-Bagaimana kau tahu?"

"Aku banyak membaca buku sejarah di perpustakaan," bohong Han Luo dengan wajah datar. "Ayo."

Han Luo memimpin jalan. Dia tidak menuju Rawa Asam di Utara. Dia mengambil jalur memutar sedikit ke Barat Laut—sebuah jalan tikus sempit di antara celah tebing yang ditandai sebagai "Jalur Aman Penyelundup" di peta curiannya.

Jalur ini akan membawa mereka melewati bahaya, langsung menuju pinggiran Zona Tengah tanpa harus bertarung melawan monster kroco.

Namun, Han Luo punya rencana lain. Dia tidak ingin hanya sekadar "selamat".

Dia berhenti di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik semak berduri.

"Kita istirahat di sini dulu," kata Han Luo.

"Tapi Saudara Han, Kakak Liu bilang kita harus mencari tanaman..."

"Liu Ming menyuruh kita ke Utara untuk mati, Long Tian," potong Han Luo dingin. "Apa kau pikir dia mengirim dua orang yang paling dia benci ke arah yang penuh harta karun?"

Long Tian terdiam. Dia naif, tapi tidak bodoh. Dia mulai menyadari keanehan senyum Liu Ming tadi.

"Jadi... dia ingin kita mati?" tangan Long Tian gemetar karena marah. "Kenapa? Apa salahku padanya?"

"Kau hidup, itu salahmu," jawab Han Luo pragmatis. "Duduklah. Hemat energimu. Kita akan menunggu malam."

"Malam? Bukankah malam lebih berbahaya?"

"Bagi orang normal, ya. Tapi bagi pencuri, malam adalah sahabat."

Han Luo mengeluarkan dua butir Pil Penawar Racun (racikan sendiri) dan melempar satu pada Long Tian. "Telan ini. Udara di sini akan semakin beracun saat malam."

Long Tian menangkapnya, menatap pil itu ragu sejenak, lalu menelannya. "Terima kasih."

Han Luo duduk bersila di pintu gua, mengawasi luar.

Di dalam Cincin Penyimpanannya, Han Luo sudah menyiapkan topeng Sarjana Mo.

Rencananya untuk ekspedisi ini ada tiga tahap:

Bertahan Hidup.

Panen.

Sabotase.

Dan malam ini, Han Luo akan memulai tahap ketiga.

"Long Tian," panggil Han Luo tanpa menoleh. "Kau punya Token Darah dari Fang Yu, kan?"

Long Tian terkejut. "Ba-Bagaimana kau tahu?"

Han Luo menunjuk telinganya. "Dinding gubuk asrama itu tipis. Aku tidak sengaja mendengar."

Long Tian menunduk malu. "Ah... ya. Aku memilikinya."

"Simpan baik-baik. Di tempat ini, sekutu dari jalan iblis mungkin lebih bisa dipercaya daripada saudara seperguruan sendiri."

Kalimat itu menanamkan benih keraguan di hati Long Tian terhadap sekte ortodoks.

Tiba-tiba, suara auman mengerikan terdengar dari arah Utara—tempat yang seharusnya mereka tuju.

GROAAAR!

Tanah bergetar. Asap debu membumbung tinggi.

"Itu..." Long Tian menelan ludah.

"Buaya Tulang," kata Han Luo tenang. "Tingkat 2 Puncak. Setara dengan Kultivator Pondasi Awal. Jika kita tadi lurus ke Utara, kita sudah jadi makan siangnya sekarang."

Wajah Long Tian pucat pasi. Dia menatap Han Luo dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Saudara Han... kau menyelamatkan nyawaku lagi."

Han Luo tidak tersenyum.

"Jangan berterima kasih dulu. Malam masih panjang. Dan monster buaya itu... hanyalah penjaga pintu."

Han Luo berdiri. Matahari mulai terbenam, mengubah lembah tulang itu menjadi lautan bayangan ungu yang menyeramkan.

"Ayo. Saatnya kita berburu. Tapi bukan berburu monster."

"Lalu berburu apa?"

Han Luo menatap ke arah kemah utama Liu Ming di kejauhan yang mulai menyalakan api unggun.

"Kita berburu Kesempatan."

1
Jeffie Firmansyah
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Budi Andrianto
g8
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hentooopz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Cerdik🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
Ahhhh.... lagi seru seru nya .... abis cerita nya... tunggu update.. terimakasih Thor 💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
jadi tdk sabar tunggu update nya 😄👍💪
Jeffie Firmansyah
kasian amat Han luo..... pendekar miskin ,dan terpaksa menjarah kekayaan cincin orang 2 kaya🤣🤣🤣
Efendi Riyadi
cerita macam apa ini guru, season 1-3 sangat menarik knapa season ke 4 jdi gini ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!