Tiara seorang anak pembantu yang menyamar sebagai gadis buruk rupa tak menyangka akan berakhir di satu ranjang dengan majikan nya yang di kenal impoten dan benci dengan wanita
Kelvin seorang CEO tampan sekaligus Majikan Tiara di kenal suka tidur dengan wanita untuk menyembuhkan penyakitnya namun salah satu wanita yang pernah tidur dengan nya tak ada satupun yang membuat nya sembuh dari penyakitnya.
Namun pada saat ia mabuk dan tak sadarkan diri tanpa sengaja ia berpasangan dengan Tiara yang hanya memakai handuk saja entah kenapa membuat gairah di tubuhnya bangkit kembali dan membuat nya gelap mata lalu memperkosa Tiara dan membuat gadis itu hamil di luar nikah tanpa sepengetahuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Nyawa Ibu
Tiara memberikan kartu atm hitam kepada pihak admistrasi rumah sakit dengan tangan yang gemetar.“Ini yah mbak saya mau bayar biaya operasi ibu saya Sri"
Petugas administrasi rumah sakit menerima kartu dengan senyuman ramah, lalu memasukkannya ke dalam mesin pembayaran.“Total keseluruhan biaya operasi nya 300 juta yah mbak”
“300 juta, apakah sudah termasuk biaya pengobatan setelah pasca operasi?"
“Betul mbak seperti biaya obat, cek pasca operasi semua sudah di bayarkan melalui uang 300 ini.boleh catat pin nya dulu mbak"
Tiara mengangguk perlahan, tangan nya masih gemetar saat dia menekan nomor PIN pada mesin dengan hati-hati. Setiap ketukan jari nya terasa berat, namun dia tetap fokus semuanya untuk ibu nya. Setelah beberapa detik, mesin mengeluarkan suara bip yang menunjukkan pembayaran berhasil, dan layar menampilkan "TRANSAKSI SEBESAR 300.000.000 RUPIAH BERHASIL".
Petugas mengambil struk pembayaran yang keluar dari mesin, melipatnya dengan rapi dan memberikannya kepada Tiara. "Sudah selesai ya mbak, kami akan segera mengatur jadwal operasi Bu Sri. Dokter akan datang untuk menjelaskan tahapan persiapan dalam waktu kurang dari sejam lagi."
Tiara menerima struk dengan tangan yang sedikit gemetar, menyimpannya dengan hati-hati di dalam kantong bajunya. Rasa lega dan harapan muncul dalam hatinya, namun sedikit juga rasa khawatir tentang bagaimana ia akan memberikan tubuhnya secara sukarela pada Tuan Kelvin. Tanpa banyak bicara, dia mengucapkan terima kasih dan bergegas kembali ke ruangan ibunya untuk memberitahu kabar baik tersebut...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelvin tertawa puas di ruangan nya"Hahaha... akhirnya dia setuju!" teriak Kelvin sambil menepuk meja mewah di dalam ruang kerjanya. Wajahnya terpampang senyum puas yang menunjukkan bahwa rencananya berjalan sesuai keinginannya.
Dia mengambil gelas whiskey dari atas meja, mengangkatnya perlahan sebagai tanda kemenangan bagi dirinya sendiri.“Akhirnya wanita buruk rupa itu menukar tubuhnya demi ibunya,hooh sungguh anak yang berbakti bukan" ucapnya dengan nada sombong.
Sambil memutar gelas di tangannya, Kelvin mulai merencanakan bagaimana ia akan tidur dengan Tiara tanpa harus melihat wajah buruk rupa itu.Tanpa berpikir panjang ia meminta Dito Asisten nya untuk memesan kan nya suite mewah di hotel bintang lima dengan nuansa gelap yang jauh dari rumah.
"Segera pesan suite di Hotel Grand Cipto yang dengan pencahayaan minim dan ada akses khusus tanpa harus melewati lobi utama," perintah Kelvin kepada Dito melalui telepon, suara nya tetap sombong.
Dito terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada ragu. "Baik Pak Kelvin, tapi apakah ini benar-benar perlu dilakukan pak?"
"Tidak ada yang perlu kamu tanya, Dito!" seru Kelvin dengan suara tinggi, membuat gelas di tangannya bergoyang. "Cukup lakukan apa yang saya katakan!"
Setelah memutus panggilan, Kelvin kembali merenung sambil memegang dagunya. Ia membayangkan bagaimana nantinya akan menghindari melihat wajah Tiara yang jelek, mungkin dengan mematikan semua lampu atau bahkan mengenakan topeng. "Setelah malam ini, semuanya akan berakhir dan saya bisa melupakan wanita itu selamanya," gumamnya dengan nada dingin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiara merasa dunia seolah runtuh di depannya. Ancaman tentang ibunya membuat hatinya sakit namun rasa malu dan kemarahan juga membara dalam dirinya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahan air matanya sebelum memasuki ruangan tempat ibunya di rawat.
Setelah membuka pintu ruangan dengan hati-hati, Tiara melihat ibunya sudah sadar dan sedang duduk bersandar di bantal.
"Tiara, nak kamu dari mana saja..?”tanya Sri dengan nada khawatir.
“Maaf Bu, tadi aku keluar dulu sebentar untuk urus biaya operasi ibu"Jawab Tiara.
“Oh terus bagaimana dengan biayanya?" tanya Bu Sri dengan suara lembut, tangan nya mencoba meraih tangan Tiara.
Tiara segera mendekat dan menggenggam tangan ibunya, memaksakan senyuman yang hangat. "Sudah tidak perlu khawatir lagi, Bu. Semua biaya operasi sudah saya bayarkan, nanti malam jam 9"
Wajah Bu Sri langsung penuh rasa lega, dia mengusap pipi Tiara dengan penuh kasih sayang. "Alhamdulillah tapi darimana kamu dapat uang sebanyak itu, nak? ibu tahu kita tidak punya banyak uang, atau uang itu kamu dapatkan dari nyonya Anita yah?"
Tiara merasa dada sedikit sesak, dia berpura-pura sibuk menata bantal di belakang ibunya agar lebih nyaman. "Tidak perlu khawatir, Bu. Ada seseorang yang mau membantu aku, dan aku akan mencari cara untuk mengembalikan bantuan itu dengan cara yang benar." Dia tidak berani mengatakan tentang kesepakatan dengan Kelvin dia tidak ingin membuat ibunya khawatir atau sedih.
Bu Sri melihat wajah Tiara dengan cermat, mata nya penuh kepekaan sebagai seorang ibu. Meski Tiara mencoba bersikap tenang.
"Tiara ibu tahu kamu tidak akan pernah melakukan hal yang salah. Tapi jika bantuan itu datang dengan syarat yang membuatmu tidak nyaman, jangan pernah terpaksa untuk menerimanya, ya? Hidup ibu tidak ada apa-apanya nak di bandingkan harga diri, kebahagiaan dan martabatmu."
Tiara berusaha menahan air mata nya agar tak terjatuh. ia tidak ingin membuat ibunya berpikir yang macam-macam tentang nya kalau dia sampai menangis, padahal Tiara telah memilih kehilangan harga diri dari pada harus kehilangan sosok seorang ibu yang telah melahirkan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat pukul 9 malam, ruangan operasi rumah sakit tampak terang benderang dengan lampu operasi yang menyala terang. Bu Sri terbaring diam di atas meja operasi, telah diberikan bius total sehingga tubuhnya rileks dan tidak merasakan apa-apa. Alat vital yang terpasang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya dalam kondisi stabil – denyut jantung teratur, pernapasan terkontrol dengan baik.
Tim dokter bedah saraf yang dipimpin oleh Dokter Arif sedang melakukan persiapan akhir. Mereka telah mengenakan pakaian operasi steril dari kepala hingga kaki, dan alat-alat bedah yang telah disterilkan tersusun rapi di atas meja khusus.
"Semua alat siap, Dok" ucap salah satu perawat bedah dengan suara tenang namun jelas.
Dokter Arif mengangguk, menyesuaikan kacamata operasinya. "Baik, mari kita mulai prosedurnya. Kita akan melakukan pembedahan dengan sangat hati-hati untuk mengangkat tumor tanpa menyentuh area otak yang penting."
Dokter Arif memberikan isyarat kepada timnya, dan segera proses pembedahan dimulai. Lampu operasi fokus tepat pada area kepala Bu Sri yang telah disiapkan dengan sangat hati-hati. Setiap gerakan tangan dokter dan timnya terlihat presisi dan terkoordinasi dengan baik, mengikuti langkah-langkah yang telah direncanakan secara mendetail sebelum prosedur dimulai.
"Sudah bisa melihat batas tumor," ucap salah satu dokter ahli yang membantu, sambil menunjuk pada area yang sedang diperiksa menggunakan alat visual khusus. terfokus penuh pada pekerjaannya. "Jaga stabilitasnya dengan baik. Kita akan mengangkatnya bagian demi bagian agar tidak merusak jaringan sekitarnya."
Di luar ruangan Tiara menangis sambi memperhatikan pintu ruang operasi yang telah tertutup rapat dan di jaga ketat.ia mengepalkan kedua jemari nya.
“Maafkan aku yang tak berbakti ini Bu, tapi semua ini aku lakukan demi nyawa ibu hiks hiks hiks"
...----------------...