Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Nafas Karina memburu, ia meringkuk di kursi penumpang sambil menatap kantong plastik tersebut.
“Sepertinya anda sedang hamil, Nona.” Kata supir tiba-tiba yang seketika membuat Karina terkejut.
Hamil? Siapa yang hamil tapi muntah darah? Itu tidak normal, mual-mual ini pasti karena sakit bukan karena hamil.
“Nggak. Saya nggak hamil.” Kata Karina tegas, ia membersihkan telapak tangannya yang kotor oleh darah menggunakan tisu kemudian menarik nafas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan diri.
Setelah merasa tenang, Karina memejamkan matanya. Mengingat kengerian yang selama beberapa hari terakhir menyeruak masuk ke dalam hidupnya seperti luapan sungai di musim hujan. Bahkan jika Hugo adalah manusia yang bukan manusia, dia seharusnya tidak—
“Sudah sampai Nona,”
Karina membuka matanya, ia membuka pintu mobil namun gerakannya seketika terhenti saat melihat rumah mewah dan besar itu. Jelas bukan apartemennya.
Ini rumah Hugo.
“Apa-apaan? Saya kan sudah bilang saya mau ke apartemen Bougenville, bukan kesini.” Ucap Karina dengan nada kesal.
“Selamat datang kembali di rumah, Karina.” Pintu mobil dibuka dari luar bersamaan dengan Hugo yang tersenyum tipis kearahnya.
Bahu Karina merosot turun, kenapa ia harus kembali lagi ke rumah ini?
Terpaksa Karina turun dari taksi itu, menatap tajam sang sopir, baru kini ia menyadari bahwa pria tersebut mengenakan masker dan topi, menutupi wajahnya sepenuhnya. Ah, seharusnya ia lebih memperhatikan siapa sopir taksi yang ia naiki. Kini, harapannya untuk kabur pun pupus. Tanpa sepatah katapun, taksi itu melaju pergi, meninggalkan ia berdiri bersama Hugo di halaman rumah.
Hugo meraih tangan Karina dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Hugo,” Karina mencoba menarik tangannya membuat Hugo menghentikan langkahnya dekat tangga.
“Ada apa?” Tanya Hugo, suaranya netral dan tidak menakutkan tetapi Karina bisa merasakan Hugo sedang marah. Ia tidak tahu darimana ia tahu, tapi ia yakin sekali dengan pikirannya.
“Tadi kamu masih di rumah sakit kan? Kok bisa ada di rumah secepat ini?” Tanya Karina.
“Kembali ke kamarmu, kamu harus banyak istirahat.” Bukannya menjawab pertanyaan Karina, Hugo malah memintanya untuk pergi ke kamar.
Hugo melepaskan tangannya, lalu melangkah lebar menuju ujung lorong lantai satu. Meninggalkan Karina yang sedang kebingungan.
Selalu seperti ini, tak pernah ada jawaban. Lama-kelamaan Karina bisa gila jika terus begini. Apa yang terjadi seperti labirin rumit tanpa ujung dan jalan keluar, atau mungkin jalan keluar itu ada, hanya saja terlalu sulit untuk ditemukan.
Dan Karina adalah orang yang berdiri di persimpangannya tanpa tahu harus kemana, tanpa tahu harus melakukan apa dan tanpa tahu apa yang membuatnya terjebak.
“Foto ini?” Sebelah tangan Karina menggenggam saku bajunya yang menyimpan foto lama itu. “Mungkinkah semua jawabannya ada pada foto ini?”
Karina menaiki tangga dengan langkah gontai, satu demi satu, seakan setiap anak tangga menarik sisa tenaganya. Kakinya terasa berat, dan pegangan tangga dingin di telapak tangannya. Suara langkahnya menggema pelan, menemani kepalanya yang penuh oleh pikiran-pikiran kusut.
Ia berhenti di anak tangga paling atas, berpapasan dengan Kate yang hendak turun. Wanita itu tampak sangat terkejut melihatnya.
“Kaget ya?” Tanya Karina sinis, menatap Kate dari atas sampai bawah. Menilainya dengan cara yang meremehkan, melihat hal itu Kate marah.
“Jaga matamu!” Rahang Kate menegang, matanya memerah. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh, namun itulah yang membuat Karina puas.
“Kamu munafik, Kate.” Karina naik ke atas, berhenti beberapa langkah dari Kate. “Kamu yang bilang Tasya penipu, tapi kamu juga penipu ternyata. Apa maksudmu mendorongku masuk ke lubang itu?!” Bentaknya.
“Aku mau kamu mati!”
Karina terkejut. “Mati? Emang aku salah apa sama kamu?”
Kate meludah ke lantai, menatap Karina penuh kebencian. “Karena kamu sudah merebut Hugo, kamu sudah tidur sama dia kan? Dasar Ja*ang jahanam!”
Saat ini Kate terlihat sangat marah, wajahnya dingin dan dengan gerakan cepat tangannya menyentuh perut rata Karina. “Dan sekarang kamu hamil anaknya. Dengar ya Karina, aku pasti akan membunuhmu dan juga anakmu. Tunggu saja.”
“Aku nggak hamil, jangan sembarangan.” Karina ikut tersulut emosi, sudah dua orang yang mengatakan ia hamil padahal ia tahu kalau ia tidak hamil.
“Pembohong!”
“Jangan menyentuhku,” Karina menarik tangan Kate dari perutnya dan menghempaskan dengan agak kasar.
Namun tanpa di duga Kate menarik rambut Karina dari belakang, kepalanya mendongak dan tatapannya bertemu dengan tatapan bengis Kate.
“Lepas!” Teriak Karina berusaha melepaskan tangan Kate dari rambutnya, Kate semakin menguatkan cengkeraman di rambut Karina hingga rasanya kulit kepala Karina seakan terkelupas.
Karena tidak bisa melepaskan tangan Kate, Karina membalas dengan ikut menarik rambut Kate yang terkuncir rapi. Karina mengerahkan tenaga sebanyak mungkin demi bisa membalas Kate.
“AWW!” Kate meringis, cengkeramanan tangannya di rambut Karina sedikit melemah.
“Hei, hei! Apa yang kalian lakukan?” Tanya Miller yang baru datang dari lantai dasar, dengan cepat pria itu menghampiri mereka berdua. Ia berusaha melerai.
“Jangan ikut campur, Miller.” Kata Kate masih tidak mau melepaskan Karina. “Aku harus membunuh perempuan ini.”
“Ya, jangan ikut campur. Aku juga harus membunuh wanita munafik ini.” Karina juga tidak mau kalah.
“Kurang ajar! Siapa yang kamu bilang munafik?”
“Kamu lah.”
Miller memijit pelipisnya, lalu berkata. “Berhenti sekarang, satu jam lagi ada pertemuan dengan Hugo. Siapapun yang terlambat akan dijadikan sebagai santapan harimaunya.”
Kalimat itu membuat kedua gadis itu langsung mengehentikan aksi jambak-menjambaknya, terlambat ke pertemuan dan dijadikan makanan harimau bukanlah berita bagus.
“Aku pasti akan membunuhmu!” Sebelum pergi Kate masih sempat melontarkan ancaman.
Karina hanya mencibir, Kate pikir ia akan membiarkan dirinya dibunuh. Tentu saja tidak.
Tadi apa katanya? Merebut Hugo? Tidak. Karina tidak merebut siapapun, lagipula ia melakukan itu untuk membebaskan Tasya bukan karena ia tertarik pada Hugo.
“Aku rasa Kate sudah gila. Kamu tahu Miller, dia ingin membunuhku hanya karena Hugo menyukaiku.” Kata Karina pada Miller.
Pria itu mengerutkan keningnya, menatap Karina dengan tatapan aneh. Ia menggeleng, lalu tanpa berkata apa-apa lagi masuk ke salah satu pintu. Mungkin itu kamar yang Miller tempati selama di rumah ini.
Karina mengusap kepalanya, beberapa rambutnya rontok. Namun, sekarang yang terpenting adalah bersiap-siap ke pertemuan. Semoga saja ia tidak terlambat, karena jika ia terlambat hari ini akan jadi hari terakhir ia menghirup udara.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor