Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pukul sepuluh pagi, sinar matahari memantul dari celah jendela menuju cermin rias.
Rania sudah duduk di depan meja rias, tubuhnya terbalut kebaya hijau sage yang membingkai lekuk tubuhnya.
Kebaya berwarna hijau muda dengan bordiran Jawa yang di pesan khusus itu.
Nampak terasa asing saat dikenakan olehnya, wajahnya tengah di rias oleh MUA yang di pesan oleh keluarga Wiratama.
Wajahnya tengah dirias perlahan oleh tangan terampil dari MUA, setiap sapuan di pipinya justru membuat gelayar aneh di hatinya.
"Kenapa perasaan aku nggak enak terus ya semenjak kemarin?" ujar Rania dalam hati.
Rania menatap bayangannya di cermin, gadis dengan mata yang terlihat tenang, padahal di dalamnya tengah tersimpan rasa tak tenang.
"Siapa calon suamiku?" ucap Rania penasaran, dirinya setidaknya ingin tahu namanya.
Hari ini adalah Jumat, keluarga calon suaminya mengatakan akan melaksanakan tunangan putra mereka hari Jumat.
Menurut mereka jika hari Jumat dianggap hari yang sangat baik untuk khitbah dan termasuk hari yang istimewa dalam agama islam.
Namun, Rania amat penasaran siapa calon suaminya nanti. Kenapa harus melamar di hari Jumat siang ini? Kenapa tidak akhir pekan yakni sabtu atau minggu---Menunggu jam libur.
"Bukankah suamiku bekerja di Tambang Minyak Bumi? Harusnya dia sekarang bekerja...Karena jika perusahaan milik negara harusnya libur di hari sabtu-minggu," ujar Rania.
Rania tak tahu jika suaminya itu sudah jauh-jauh hari mengambil cuti, bahkan calon suaminya sering bertanya pada Lena Wiratama apa saja kesukaan calon istrinya.
Nama itu belum pernah terdengar bahkan wajahnya pun belum di lihat, ini semua Rania lakukan demi sang nenek---Karena di keluarga sang ayah yang paling dekat hanyalah neneknya---Kartika Wiratama.
"Ya allah, Hamba melakukan ini demi nenek Hamba," kata Rania dalam batinnya.
"Tapi niat hamba baik...kenapa dari sejak Hamba menyetujui menikahi calon imam Hamba nanti...Perasaan ini selalu tak enak," lanjutnya.
"Haduhh, kakak rambutnya bagus banget," puji MUA tersenyum kagum melihat rambut Rania yang panjang dan keriting lembut terawat.
"Ini rambutnya mau di cepol atau gerai?" tanya MUA itu.
Rania menghela napas kecil, pandangannya tak pernah lepas dari cermin di depannya.
"Gerai aja, orang ruang tamu ada AC," jawab Rania pelan, dengan senyum manisnya.
MUA itu mengangguk cepat. “Siap, kak.”
Segera setelahnya menata rambut Rania dengan hati-hati menyatukan sebagian helai di bagian atas, menyisakan sisanya yang tergerai alami.
Gaya 'half up half down' itu membuat Rania tampak lembut---terlalu lembut, sementara di bagian belakang di pasang jepit rambut sirkam bunga.
Rania meremas ujung rok batiknya, mengigit bibirnya yang berwarna maroon, detak jantungnya terasa semakin cepat.
Kepalanya mengingat saat masa sekolah Karin mengacak-acak rambutnya, dan menuangkan air got juga di bikin kusut.
Mata gadis itu terpejam saat MUA sedang menata rambutnya, entah mengapa bayangan masa lalu terus terngiang di kepalanya.
Suara keluarga di ruang tamu mulai terdengar.
Di antara suara itu Rania tanpa sadar akan menerima takdir yang sama sekali di luar bayangannya, pria yang akan di tunangkan dengannya---bukan orang asing.
Pria yang akan di tunangkan olehnya, adalah pria yang sudah menitikan noda berupa trauma dan masa lalu yang kelam.
Tok...Tok...Tok.
Ibunya Rania---Lena Wiratama masuk di susul Tantenya Rania---Indah Wiratama.
Kedua wanita itu masuk dan mengenakan kebaya hijau persis seperti yang di kenakan Rania, "ayo sayang keluar," ajak Lena.
Tapi suara dering ponsel membuyarkan lamunannya, "astaga siapa ini?" ujar Lena.
"Yaudah Mbak Lena, aku ajak Rania keluar dan kamu bisa angkat telepon."
"Iya ini dari WO," kata Lena.
Akhirnya Rania berdiri, "ayo Nduk..." ajak Indah mengandeng keponakannya.
"Aduh ayune...ponakanku," puji Indah.
"Makasih Bule," jawab Rania tersenyum.
Rania di tuntun keluar menuju ruang tamu, sementara Lena dengan logat orang timur sudah paling sibuk menelepon seseorang untuk mengukur gaun pengantin putrinya.
"Papa, Ko trada ke Jakarta eee?" tanya Lena menelepon ayahnya di Papua.
"Iya...Hari ini cucu ko mau tunangan, calon mantu sa ganteng kali," ucap Lena nampak antusias.
"Yaudah, sa trada bisa ka Jakarta ee. Kenapa tunangan mendadak."
"Nanti sa bisa video call?" pinta ayahnya Lena.
"Of Course," ucap Lena nampak antusias.
Segera Lena menyalakan fitur video call, dan menggunakan kamera belakang.
"Kakak, sa sudah Transfer ke su punya rekening, nanti su saat Rania mau menikah rias lagi ee."
"Iya siap Macee," jawab MUA itu.
Rania di tuntun menuju ruang tamu bersama bibinya, sementara Lena masih sibuk dengan kegiatannya membuka fitur video call.
Hal yang membuat Rania menegang saat keluarga calon mertuanya datang, di antaranya ada kakek yang maju.
"Rania...cantik sekali kamu," puji sang kakek.
"Iya pantas saja anak kita tergila-gila sama dia," ujar ibunya Arga.
Rania menyalami mereka satu-persatu, mereka memuji kecantikan Rania.
Di ujung sana Lena sibuk video call, lalu dari depan pintu Rania melihat pria yang akan di tunangkan olehnya.
Arga Prananda.
Arga mengenakan kemeja putih dengan dasi merah dan peci hitam, menatap tersenyum ke arah Rania.
Rania diam membeku, melihat pria yang akan di tunangkan olehnya.
Senyumnya seketika sirna, wajahnya langsung pucat.
Rania berusaha menstabilkan tubuhnya lantaran, tubuhnya gemetar hebat---Takdir yang konyol bagaimana bisa dirinya di nikahkan dengan pria yang sudah membuatnya trauma.
"Arga...," ujar Rania dengan lirih.
Matanya membulat, dan napasnya kembang kempis.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Rania Wiratama."
Rania memejamkan matanya saat dirinya menatap pria di depannya, "bagaimana cara aku bilang sama ayah dan ibu kalo aku bisa membatalkan pernikahan ini."
Rania sangat syok, marah, trauma, sekaligus kalut semuanya di campur menjadi satu.
*
*
*