Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 (Part 2)
"Saya... saya ada janji dengan Tuan Gala Tri Alangkara," jawab Kella terbata.
Sekuriti itu memeriksa daftar di meja penjagaan, lalu ekspresinya berubah seketika. "Oh, tamu Tuan Muda Gala. Silakan masuk, Dek. Blok A Nomor 1. Jalannya lurus saja, rumah paling besar di ujung jalan."
Kella berjalan menyusuri trotoar yang bersih tanpa sampah sedikit pun. Di kanan dan kirinya berdiri rumah-rumah megah dengan taman yang luas.
Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara serangga malam dan gemericik air mancur dari kejauhan.
Hingga akhirnya, ia sampai di depan sebuah rumah yang lebih mirip istana modern. Puluhan mobil mewah terparkir di halaman depannya. Suara musik klasik terdengar mengalun lembut dari dalam. Kella berdiri di depan pintu besar berbahan kayu jati, tangannya terangkat ingin mengetuk, namun ragu.
Cklek.
Pintu terbuka sebelum Kella sempat mengetuk. Seorang pelayan pria berseragam rapi menyambutnya. "Nona Kella? Tuan Muda sudah menunggu Anda di ruang kerja lantai dua. Silakan lewat sini."
Kella mengikuti pelayan itu, melewati ruang tamu luas yang dipenuhi orang-orang berpakaian mahal. Mereka memegang gelas sampanye, tertawa kecil sambil membicarakan saham dan properti. Kella merasa seperti alien. Ia mempercepat langkahnya, menundukkan kepala saat beberapa pasang mata mulai memperhatikannya dengan tatapan bertanya-tanya.
Di lantai dua, suasana lebih tenang. Pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu ganda dan mempersilakan Kella masuk.
Di dalam ruangan yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit itu, Gala sedang berdiri di dekat jendela besar, menatap ke arah taman bawah. Ia sudah mengganti seragamnya dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku dan celana kain hitam. Ia terlihat sangat dewasa, sangat berwibawa, dan sangat... mirip dengan bayangan Gabriel dalam versi yang lebih kaya.
Gala berbalik saat mendengar suara langkah kaki. Matanya memicing saat melihat Kella. Ia berjalan mendekat, mengitari tubuh Kella perlahan.
"Lumayan," ucap Gala pendek. "Gue pikir lo bakal dateng pake baju maid atau jaket busuk itu."
"Kenapa aku harus ke sini, Gala? Katamu aku jadi pelayan tambahan, tapi kenapa aku di bawa ke ruang kerja ini?" tanya Kella, suaranya hampir hilang tertutup detak jantungnya sendiri.
Gala tidak menjawab. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang besar, mengambil sebuah nampan berisi botol anggur dan dua gelas kristal. "Bokap gue lagi sibuk pamer kekayaan di bawah. Gue males turun. Tugas lo malam ini simpel. Lo diem di sini, tuangin minuman buat gue, dan dengerin semua yang pengen gue omongin."
Gala duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan angkuh. "Tuangin."
Kella mendekat, tangannya gemetar saat memegang botol anggur yang terasa dingin. Ia menuangkannya dengan hati-hati ke gelas Gala.
"Lo tahu kenapa gue benci banget nama Gabriel?" tanya Gala tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah cairan merah di dalam gelasnya. ia memejamkan mata sekilas untuk mengingat sesuatu yang muncul semalaman. pantas saja terasa tidak asing dengan nama itu.
Kella menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."
"Karena Gabriel Tri Alangkara adalah nama yang seharusnya jadi milik gue," suara Gala merendah,
penuh dengan nada pahit yang tidak pernah Kella dengar sebelumnya. "Itu nama kakak laki-laki gue yang meninggal dalam kecelakaan saat gue masih kecil. Bokap gue terobsesi sama dia. Dia pengen gue jadi sehebat kakak gue, sepintar dia, sehangat dia.
Dan saat gue nggak bisa memenuhi ekspektasi itu, gue cuma dianggap sebagai bayangan yang gagal."
Kella terpaku. Botol anggur di tangannya hampir terjatuh. Gabriel? Kakak Gala?
"Jadi... namamu sebenarnya bukan Gala?" tanya Kella dengan suara bergetar.
"Nama gue Galaksi. Tapi bagi bokap, gue cuma cadangan dari Gabriel yang udah mati," Gala meneguk anggurnya hingga tandas. Ia menatap Kella dengan binar kebencian yang mendalam. "Jadi waktu lo manggil gue dengan nama itu di kafe, lo nggak cuma bikin gue inget sama orang mati, tapi lo juga bikin gue sadar kalau bagi dunia, gue emang nggak akan pernah punya identitas sendiri."
Kella merasa dunianya berputar. Kemiripan itu... nama itu... semuanya bukan kebetulan. Gabriel-nya, kekasih masa SMP-nya yang meninggal, apakah ada hubungannya dengan keluarga Alangkara? Tidak, Gabriel yang ia kenal adalah anak panti asuhan, dia miskin seperti dirinya. Tapi kenapa wajah mereka bisa begitu identik?
"Gala, aku..."
"Diem," potong Gala. "Gue bawa lo ke sini bukan buat denger simpati lo. Gue bawa lo ke sini biar lo tahu, kalau lo berani manggil gue dengan nama itu lagi, lo bukan cuma berurusan sama gue, tapi lo menghina seluruh luka yang gue punya."
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka dengan kasar. Seorang pria paruh baya dengan raut wajah keras dan setelan jas yang sangat rapi masuk. Dia memiliki aura yang sangat mengintimidasi, jauh lebih kuat daripada Gala.
"Galaksi! Kenapa kamu malah bersembunyi di sini?" suara pria itu menggelegar. Matanya kemudian tertuju pada Kella. "Siapa gadis ini? Pelayan baru? Kenapa dia tidak memakai seragam?"
Gala berdiri, wajahnya yang tadi terlihat rapuh seketika berubah menjadi topeng dingin yang angah. "Dia asistenku, Yah. Ada keperluan mendesak soal tugas sekolah."
Ayah Gala, Tuan Tri Alangkara, melangkah mendekati Kella. Ia menatap Kella dengan pandangan menghina, seolah-olah Kella adalah noda di atas karpet mahalnya. "Asisten? Sekolah ini milik keluarga kita, Gala. Kamu tidak butuh asisten dari kalangan bawah untuk membantumu. Suruh dia keluar. Dia mengganggu pemandangan."
Kella menunduk dalam-dalam. Rasa hina yang ia rasakan di sekolah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tatapan pria ini. Ia merasa seperti debu yang tidak terlihat.
"Dia tetap di sini, Yah," balas Gala dengan nada menantang.
Tuan Tri mendekati Gala, memberikan tekanan yang luar biasa. "Jangan membuat malu Ayah di depan rekan bisnis. Ingat, kamu membawa nama Alangkara. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan bodoh seperti... kakakmu."
Mendengar kata "kakakmu", rahang Gala mengeras. Tangannya mengepal di samping tubuh. Tuan Tri kemudian berbalik dan keluar tanpa mempedulikan perasaan anaknya sedikit pun.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Kella bisa melihat bahu Gala bergetar karena emosi yang tertahan. Inilah sisi lain dari Gala yang selama ini ia benci. Pria ini bukan hanya seorang penindas, tapi dia juga seorang korban dari penindasan yang jauh lebih besar di rumahnya sendiri.
Gala berbalik, menatap Kella dengan mata yang memerah. "Liat? Itu dunia gue. Jadi jangan pernah merasa hidup lo paling menderita cuma karena lo miskin."
Gala berjalan mendekati Kella, memojokkannya ke rak buku. Jarak mereka sangat dekat, hingga Kella bisa mencium aroma anggur dan kemarahan dari napas Gala.
"Sekarang, tuangin lagi gelas gue. Dan jangan berani-berani lo nangis di depan gue," bisik Gala kejam.
Kella tidak menangis. Ia justru menatap mata Gala dengan keberanian yang muncul dari rasa empati yang tak terduga. Ia mengerti sekarang. Gala merundung orang lain karena dia sendiri dirundung oleh ekspektasi ayahnya. Gala menghancurkan orang lain karena dunianya sendiri sudah hancur.
"Aku nggak akan menangis, Gala," ucap Kella tenang.
"Karena aku tahu, orang yang paling ingin menangis di ruangan ini saat ini bukanlah aku. Tapi kamu."
Plak!
Gala menepis gelas anggur di meja hingga pecah berkeping-keping di lantai. "Tahu apa lo soal gue?! Lo cuma budak yang gue sewa! Jangan sok tahu!"
Kella tetap diam, membiarkan serpihan kristal mengenai sepatunya