Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah tiga tahun
Matahari mulai luruh, warnanya berubah menjadi jingga kemerahan layaknya kelopak bunga marigold yang baru mekar. Sebria, wanita yang seharian tadi berkutat dengan gunting dahan dan lilitan pita di toko bunganya, kini duduk bersila di atas rumput hijau taman kota. Di sampingnya, Byan sibuk meniup gelembung balon dengan tawa yang pecah ke udara.
Mata Byan berbinar terang. Sebria mengusap dahi anak itu yang lembap oleh keringat, aroma khas bunga melati masih lamat-lamat tercium dari sisa pekerjaan di tangannya, bercampur dengan aroma kebebasan yang dibawa angin sore.
Di taman itu, hiruk-pikuk kota seolah meredup. Hanya ada suara gesekan daun dan gumam kecil Byan yang bercerita tentang petualangannya mengejar serangga. Bagi Sebria, momen ini adalah rehat paling puitis ketika harum toko bunga miliknya bertemu dengan murni nya tawa seorang anak di bawah pendar keemasan senja.
"Kamu senang?"
"Sangat senang tante, terimakasih sudah mengajak aku kesini." Ujar Byan sambil meniup gelembung balon.
"Karena kamu belum pulih sekali jadi tante bawa kesini saja. Nanti kalau sudah tidak ada luka lagi kita jalan ke tempat lain."
Byan mengangguk sambil melebarkan pandangannya. Hingga sepasang matanya terpaku pada sebuah pemandangan di sudut taman. Tak jauh dari sana, seorang anak laki-laki lain tengah tertawa renyah, tangannya digenggam erat oleh sang ibu sambil sesekali diayunkan ringan.
Ada momen kecil yang tertangkap indranya sang ibu berlutut hanya untuk merapikan kerah baju anaknya, lalu mendaratkan kecupan singkat di kening yang membuat anak itu tersipu.
Tatapan Byan yang duduk di samping Sebria begitu mendalam, seolah sedang memotret setiap gerak-gerik hangat tersebut ke dalam ingatannya. Tidak ada rasa iri yang tajam, hanya ada sebersit sunyi yang mampir di matanya. Sebuah kerinduan tanpa suara yang membuatnya enggan berpaling.
"Seperti apa Mama ku, tante?"
DEG
Sebria sedang asyik merapikan mainan yang berserakan ketika sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir mungil Byan di sampingnya. Kalimat itu pendek, namun cukup untuk membuat gerakan tangannya membeku di udara.
"Tante sahabat mama pasti sangat mengenal mama ku, 'kan?"
Sebria tertegun, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ia menoleh perlahan, menatap sepasang mata jernih yang begitu mirip dengan milik sahabat baiknya itu. Wanita yang telah pergi terlalu cepat, meninggalkan separuh jiwanya pada anak ini.
Ada kilat rasa terkejut yang tertahan di wajah Sebria, bercampur dengan keharuan yang mendadak menyesakkan dada. Ia tidak menyangka saat ini akan datang begitu cepat. Selama ini, ia menyimpan kenangan tentang sahabatnya itu seperti sebuah pusaka rahasia, namun melihat tatapan penuh harap Byan, ia sadar bahwa ia adalah jembatan satu-satunya bagi anak itu untuk merasakan bagaimana ibu nya.
Dengan senyum tipis yang bergetar, Sebria menggeser duduknya mendekat, mencoba menata detak jantungnya yang masih kaget. "Mama kamu ya?" Bisiknya lirih, "Dia adalah orang paling baik dan paling cantik yang pernah Tante kenal..."
"Kata Papa, mama adalah orang paling mencintaiku."
"Benar, mama kamu yang paling mencintai kamu."
Byan tersenyum senang. "Mama pasti sudah jadi bidadari, 'kan. Tante..."
Sebria mengangguk. "Mama, sama kakek dan nenek kamu adalah orang baik, Nak. Mereka yang selalu jadi rumah tempat Tante pulang saat jauh dari keluarga. Mama kamu pintar dan manja. Dia punya alergi kacang."
"Apa mama sering ke rumah tante?"
"Sangat sering, rumah tante adalah rumah kedua mama kamu."
"Aku tidak punya foto-foto mama selain yang ada di kamarku, saat aku masih bayi." Nada suara Byan terdengar serak.
"Kamu mau lihat foto-foto mama kamu?"
Byan mengangguk cepat.
"Nanti kapan-kapan, tante perlihatkan ya..."
...----------------...
Lampu neon redup berwarna amber dan biru kobalt berpendar di sela-sela botol kaca yang berjejer rapi di belakang meja bar. Di luar sana, deru klakson dan hiruk-pikuk kota besar masih terasa, namun di dalam sini, suara itu teredam oleh denting es batu dalam gelas dan alunan musik jazz bertempo lambat yang mengisi setiap sudut ruangan.
Aroma tembakau tipis bercampur dengan wangi kayu cendana dari furnitur tua, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus melankolis. Dua pria duduk bersisian di kursi tinggi berbahan kulit yang sudah mulai retak dimakan usia. Tidak ada gawai di atas meja, hanya dua gelas minuman yang embun dinginnya perlahan menetes ke permukaan kayu.
Di antara kepulan asap tipis dan pantulan lampu jalanan yang menembus jendela kaca besar di depan, mereka tetap di sana. Bar tersebut menjadi tempat perlindungan kecil, sebuah panggung di mana rahasia-rahasia kecil dibagikan dan beban pikiran diletakkan sejenak sebelum mereka kembali ke realitas di luar pintu kaca tersebut.
"Apa lagi kali ini?"
Kanaga Argatama. Ia adalah tipe pria yang kehadirannya tidak perlu riuh untuk terasa. Ada ketenangan yang menetap dalam setiap gerak-geriknya. Sorot matanya teduh, menyimpan kedewasaan yang lahir dari banyak pengalaman, namun tetap menyisakan ruang bagi binar humor yang hangat saat ia tersenyum.
Suaranya rendah dan terjaga, jarang meninggi, seolah setiap kata yang keluar sudah ditimbang dengan bijak agar tidak melukai. Saat ia duduk diam, ia tampak seperti pelabuhan yang tenang di tengah badai. Tempat di mana orang-orang di sekitarnya merasa aman untuk sekadar bersandar atau melepas lelah tanpa perlu banyak penjelasan.
"Apa kabar dia, Ga?"
Orang itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang dingin, sementara kepalanya terasa sedikit mengambang akibat gelas ketiga yang baru saja ia habiskan.
Pandangannya mulai mengabur, namun fokusnya justru tertuju pada layar ponsel yang sedari tadi ia bolak-balik di atas meja bar dan baru di keluarkan dari saku. Di bawah remang lampu amber, jemarinya yang sedikit gemetar ragu-ragu menyentuh kolom pencarian. Rasa hangat dari alkohol di dadanya perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang getir.
Apakah dia sudah bahagia?
Ia mulai membayangkan kembali tawa seseorang yang sudah tidak ada kabar sama sekali. Sebuah kepingan memori yang kini terasa asing namun tetap mengusik egonya yang sedang rapuh.
Ia menghela napas panjang, aroma whiskey menguar dari napasnya yang berat. Sambil menatap pantulan dirinya di dasar gelas yang kosong.
"Siapa yang kamu maksud, Ric?"
"Sebria." Deric menenggak kembali alkohol di dalam gelas sloki yang terisi
"Kenapa tiba-tiba?"
"Tadi, aku melihat Keona saat kita mau bertemu klien di kantor cabang. Anak itu sudah dewasa." Deric tersenyum di antar tipisnya kesadaran. "Apa dia sudah merawat Bria dengan baik?"
"Stop, Ric. Ini pilihan kamu jangan pernah mengingat atau mencari tahu lagi tentang mereka. Setelah tiga tahun lebih baru hari ini kamu menyebut nama mantan istri kamu. Kenapa, jangan katakan kamu menyesal."