Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bayang-Bayang di Balik Bahagia
Enam bulan ketenangan ternyata hanyalah jeda sebelum badai berikutnya datang.
Maya menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar utama rumah Dago. Gaun pengantin berwarna putih gading dengan detail brokat buatan desainer ternama membalut tubuhnya dengan sempurna. Hari ini adalah hari pemberkatan pernikahannya dengan Arlan.
"Cantik sekali, May," puji Ibu Sarah yang masuk ke kamar sambil membawa buket bunga lili. "Ayahmu pasti bangga melihatmu sekarang."
Maya tersenyum, tapi ada sedikit kegelisahan yang ia sembunyikan. Sejak pagi tadi, perasaannya tidak tenang. Ia terus teringat sebuah amplop hitam tanpa nama yang terselip di bawah pintu kamarnya tadi malam. Isinya bukan surat ancaman, melainkan sebuah kunci kecil kuno dan koordinat lokasi di sebuah gudang tua di pelabuhan Tanjung Priok.
"Ibu, apa Arlan sudah siap?" tanya Maya mengalihkan pikiran.
"Sudah, dia sudah menunggumu di altar darurat yang dibuat di taman belakang. Dia tampak sangat tegang, May. Bolak-balik merapikan dasinya," tawa Ibu Sarah pecah.
Maya menarik napas panjang. Mungkin cuma perasaanku saja, pikirnya.
Acara pernikahan berlangsung sangat intim dan mewah. Arlan mengucapkan janji sucinya dengan suara yang mantap, meskipun matanya berkaca-kaca saat menatap Maya. Saat mereka bertukar cincin, sorak sorai para tamu undangan yang terdiri dari kolega bisnis dan sahabat dekat membahana di udara Dago yang sejuk.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Maya menangkap sosok pria berpakaian serba hitam berdiri di kejauhan, di balik deretan pohon pinus yang membatasi halaman rumah. Pria itu tidak bertepuk tangan. Ia hanya berdiri mematung, menatap ke arah altar sebelum akhirnya berbalik dan menghilang ke dalam hutan.
"May? Kamu melamun?" bisik Arlan sambil mengecup punggung tangan Maya.
"Eh, nggak apa-apa, Lan. Aku cuma... terlalu bahagia," bohong Maya.
Malam harinya, saat para tamu sudah pulang dan rumah kembali sunyi, Arlan sedang mandi sementara Maya duduk di tepi tempat tidur. Ia mengeluarkan kunci kecil dari amplop hitam tadi. Kunci itu memiliki ukiran yang sangat rumit, menyerupai lambang keluarga Dirgantara, tapi ada sedikit perbedaan pada bagian gagangnya.
Maya teringat kata-kata Ayahnya di brankas dulu: "Gunakan untuk menghancurkan iblis yang bersembunyi di balik nama Dirgantara."
Apa Paman Hendra bukan iblis yang sebenarnya?
Tiba-tiba, ponsel Maya yang tergeletak di meja rias bergetar. Sebuah pesan dari nomor anonim masuk.
"Selamat atas pernikahannya, Maya Dirgantara. Tapi apakah kamu yakin pria yang tidur di sampingmu malam ini benar-benar tidak tahu apa-apa soal malam itu? Tanyakan padanya tentang 'Proyek Merapi' tahun 1998. Tanya dia, siapa yang sebenarnya menarik pelatuknya."
Tangan Maya gemetar. Ponselnya hampir jatuh. Proyek Merapi? Tahun itu adalah tahun di mana Ayah Arlan dan Ayah Maya masih bekerja sama sebagai sahabat karib.
Arlan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, rambutnya masih basah meneteskan air ke dadanya yang bidang. Ia tersenyum melihat istrinya, namun senyumnya memudar saat melihat wajah Maya yang pucat pasi.
"May? Ada apa? Kamu sakit?" Arlan mendekat, mencoba menyentuh kening Maya.
Maya secara insting menghindar sedikit, membuat tangan Arlan tertahan di udara. Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi canggung dan dingin.
"Lan..." suara Maya bergetar. "Apa itu Proyek Merapi?"
Seketika itu juga, ekspresi Arlan berubah. Matanya yang tadi lembut kini menegang, dan rahangnya mengeras. Ia tidak langsung menjawab, melainkan berjalan menuju jendela besar dan menatap kegelapan malam Dago.
"Dari mana kamu mendengar nama itu, Maya?" tanya Arlan. Suaranya kini terdengar sangat asing—dingin dan penuh rahasia, persis seperti Arlan yang pertama kali ia temui di kantor enam bulan lalu.
"Seseorang mengirim pesan," Maya berdiri, mendekati Arlan. "Apa yang kamu sembunyikan dariku, Lan? Kita sudah janji tidak akan ada rahasia lagi."
Arlan berbalik, menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada luka, ada penyesalan, tapi ada juga sesuatu yang tampak seperti... ketakutan.
"Ada beberapa rahasia yang memang lebih baik tetap terkubur, Maya. Demi kebaikanmu. Demi kebaikan kita," ucap Arlan pelan.
"Jangan gunakan kalimat itu lagi padaku, Arlan! Itu kalimat yang sama yang kamu gunakan saat kita hancur dulu!" teriak Maya.
Arlan mencengkeram bahu Maya, wajahnya sangat dekat. "Kalau aku bilang bahwa ayahku bukan orang suci seperti yang kamu kira, apa kamu masih bisa menatapku dengan cinta yang sama, Maya?"
Belum sempat Maya menjawab, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan rumah. Alarm keamanan berbunyi nyaring.
Arlan segera menarik Maya ke belakangnya. "Tetap di sini! Jangan keluar sampai aku kembali!"
Arlan menyambar pistol dari dalam laci meja rias—sesuatu yang baru Maya tahu Arlan miliki—dan berlari keluar kamar.
Maya berdiri mematung di tengah kamar pengantinnya yang indah. Ia menatap kunci kecil di tangannya. Ia baru menyadari bahwa pernikahan ini bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan awal dari sebuah labirin yang jauh lebih gelap dan berbahaya.
Di luar, suara tembakan terdengar menyalak di tengah sunyinya malam Dago.