Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Gerbang kastil terbuka dengan suara berderit panjang. Sandrina yang sedang berdiri di lorong utama langsung menoleh. Mobil hitam milik Alecio itu berhenti mendadak. Pintu terbuka.
Jantung Sandrina seakan berhenti berdetak, ketika melihat Alecio turun. Kemeja putihnya penuh bercak darah. Langkahnya masih tegap, tetapi jelas ia menahan rasa sakit.
Patrick dan dua anak buah lain ikut turun, beberapa di antaranya terluka.
“Alecio ....” Napas Sandrina tercekat.
Francisco berlari mendekat. “Bawa dia ke ruang medis. Sekarang!”
Alecio tidak berkata apa-apa. Wajahnya kaku dan tatapannya kosong.
Sandrina mengikuti dari belakang, kepalanya dipenuhi bayangan buruk.
Di ruang medis, Francisco langsung membuka jas Alecio. Di balik kemeja yang sobek, luka tembak menganga di sisi bahunya dan goresan panjang di rusuknya.
“Dia kehilangan banyak darah,” gumam Francisco.
Sandrina mematung dan tangannya gemetar. “Apa yang terjadi?” tanyanya pelan.
Tidak ada yang menjawab. Patrick hanya menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajah.
“Apa yang sudah terjadi kepada kalian?!” ulang Sandrina, kali ini lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban. Seolah dia tidak berhak tahu. Seolah dia hanya tamu tak diundang di dunia penuh darah ini.
Francisco bekerja cepat menjahit luka, membersihkan darah, membalut perban. Sementara Alecio, tidak mengeluh sedikit pun. Ia hanya menatap langit-langit dengan mata kosong.
Sandrina semakin tidak tahan. “Enzo mana?” tanyanya tiba-tiba.
Ruangan mendadak hening. Patrick mengepalkan tangan. Alecio memejamkan mata.
Dari diamnya mereka itu, Sandrina tahu. Sesuatu yang buruk telah terjadi.
Malamnya, Alecio sudah berada di kamar. Tubuhnya dibalut perban, namun sorot matanya jauh lebih mengerikan dari lukanya.
Sandrina berdiri di dekat jendela, menunggu. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya lagi.
Alecio tidak menjawab. Ia hanya duduk di tepi ranjang, wajahnya membatu.
Sandrina mendekat. “Kau hampir mati, dan kau diam saja?”
Hening.
“Kau pikir diam membuat semuanya lebih baik?”
Alecio akhirnya berbicara, suaranya rendah dan datar. “Ini bukan urusanmu.”
Kalimat itu seperti tamparan. Sandrina tertegun.
“Bukan urusanku?” ulangnya tak percaya. “Aku di sini! Aku melihat darahmu! Aku melihat orang-orangmu tidak kembali!”
Alecio berdiri perlahan. “Cukup.Apa kau tahu apa yang terjadi di sana?” suaranya mulai meninggi.
“Tidak!” teriak Sandrina. “Karena tidak ada yang mau memberitahuku!”
Sandrina menatap lurus ke mata Alecio. “Kau bodoh, Alecio. Kau keras kepala. Dan karena itu orang-orangmu jadi korban.”
Kalimat itu menggantung di udara. Alecio mendekat cepat. Dalam satu gerakan emosional, ia mendorong Sandrina hingga gadis itu berbaring memantul di atas tempat tidur. Lalu, mengukungnya, sehingga gadis itu tidak bisa bergerak bebas.
“Jangan bicara tentang hal yang tidak kau pahami!” suaranya bergetar oleh amarah dan rasa kehilangan.
Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Sandrina. Bukan untuk menyakiti tetapi karena ia sendiri hampir runtuh.
“Aku kehilangan orang hari ini!” bentaknya. “Orang yang sudah bersamaku sejak awal!”
Sandrina terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat retakan di wajah pria itu. Bukan kemarahan, tetapi luka.
“Kau bodoh,” ucap Sandrina lagi, suara bergetar antara marah dan kecewa. “Kau selalu memilih perang. Dan orang-orangmu yang membayar harganya.”
Alecio tidak menjawab. Namun, bahunya menegang.
“Kau bahkan tidak belajar dari kesalahanmu!” lanjut Sandrina. “Apa harga satu nyawa bagimu? Apa harga Enzo?”
Seperti api yang disiram bensin, emosi Alecio membakar akalnya dengan cepat. Tatapannya tajam, gelap, nyaris tak terkendali.
“Jangan sembarangan menuduh,” ucap Alecio dengan suaranya yang berat.
“Kenapa? Karena itu menyakitkan?” Sandrina tidak mundur. “Karena kau tahu kau bisa saja mencegahnya?”
Aura di sekelilingnya berubah. Bukan lagi pemimpin yang dingin dan terukur. Tapi pria yang sedang diselimuti kehilangan dan emosi mentah.
“Cukup,” desis pria itu.
“Tidak,” balas Sandrina.
Dan di sanalah batas itu mulai hancur. Dalam ledakan emosi yang tak terkendali, Alecio meraih cadar Sandrina dan menariknya. Wajah gadis itu tersingkap, wajah yang selama ini ia sembunyikan dari dunia.
Wajah yang terlalu cantik dan indah, membuat wanita lainnya iri dan dengki kepadanya. Membuat kaum pria terpancing hasratnya.
Tatapan Alecio berubah. Emosi bercampur antara amarah, kehilangan, dan gairah yang lebih gelap. Ia mendekatkan kepadanya ke arah Sandrina, lalu mencium bibirnya dengan kasar, tanpa kelembutan.
Tubuh Sandrina membeku sepersekian detik. Lalu, ingatan lama menyeruak. Di halaman kampus yang sunyi. Segerombolan senior tawa menggodanya. Tangan-tangan mereka yang mencoba merampas harga dirinya. Namun, ia selamat. Anak-anak jalanan yang menjadi temannya datang menolong. Sehingga ia tidak kehilangan keperawanannya, tetapi ia kehilangan rasa aman.
Sejak saat itu, Sandrina memakai cadar. Sejak saat itu, ia juga belajar bela diri. Sejak saat itu, ia bersumpah tak akan pernah lagi menjadi korban.
Dan malam ini Sandrina tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepadanya. Sandrina mendorong dada Alecio sekuat tenaga.
Alecio lengah karena lukanya. Tubuh pria itu terdorong mundur.
Sandrina menghantamkan sikunya ke dada Alecio, lalu memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri.
Alecio terkejut. Ia tidak menyangka perlawanan itu. Namun, egonya tidak mau kalah. Dia kembali menarik tangan Sandrina dan membantingnya kembali ke kasur.
Kali ini Alecio menciumnya lebih brutal. Sebelah tangannya mencengkram kedua tangan Sandrina. Sementara sebelah tangannya lagi sibuk meremas dada wanita itu. Pikiran Alecio sudah tertutup oleh kabut gairahnya.
“Lepaskan aku!” teriak Sandrina. Ia menyerang lagi kali ini lebih terarah. Tendangan cepat ke sisi tubuh Alecio membuat pria itu meringis. Dia berhasil melepaskan diri.
Namun, Alecio jauh lebih kuat. Tubuhnya lebih besar. Lebih terbiasa dengan pertempuran brutal. Pergumulan tak terhindarkan. Meja kecil terbalik. Lampu jatuh dan pecah. Kursi terlempar menghantam dinding. Kamar itu berubah menjadi arena perang kecil.
Sandrina bergerak cepat, mencoba memanfaatkan teknik yang ia pelajari. Ia menghantam, menghindar, menyerang lagi.
Namun, Alecio dalam kondisi emosi liar. Ia menangkap pergelangan tangan Sandrina sebelum pukulan berikutnya mengenai wajahnya.
Dalam satu gerakan, ia membalik posisi. Tubuh Sandrina terdesak ke kasur kembali. Alecio menahan kedua tangannya di atas kepalanya.
Napas mereka sama-sama memburu. Tatapan Sandrina bukan lagi marah, tetapi takut.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu