Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Mobil Alphard hitam itu terus melaju membelah jalanan beton pinggiran kota yang semakin sempit dan berdebu. Pemandangan ruko-ruko tua kini mulai berganti dengan hamparan tanah kosong, pepohonan liar, dan sesekali deretan gubuk semi-permanen yang tampak kumuh.
Di kursi tengah, Citra berusaha keras mempertahankan ketenangannya. Otak pragmatisnya berputar cepat mencari celah. Membentak atau memberontak di dalam mobil yang sedang melaju kencang dan dikemudikan oleh Putri adalah tindakan bunuh diri. Ia harus tetap tenang, mengamati rute jalan, dan mencari momen yang tepat untuk melarikan diri jika situasi semakin tak terkendali.
Udara di dalam mobil terasa semakin pengap meski pendingin ruangan menyala. Ketegangan yang pekat membuat tenggorokan Citra terasa luar biasa kering. Ia terbatuk pelan.
Mendengar itu, Kinan yang duduk di depan menoleh ke belakang dengan senyum manis yang dipaksakan. Ia membuka sebuah cooler box kecil di dekat kakinya dan mengeluarkan sebotol air mineral bermerek mahal yang tampak masih berembun.
"Minum dulu, Mbak Citra," tawar Kinan, menyodorkan botol itu ke belakang. "Jalanannya macet dan berdebu banget. Tenggorokan pasti nggak enak."
Citra menatap botol itu penuh curiga. Ia tidak bodoh. Namun, saat matanya meneliti, segel plastik di tutup botol itu masih utuh dan rapat. Tidak ada tanda-tanda botol itu pernah dibuka sebelumnya. Rasa hausnya yang mendera, ditambah keyakinan visual bahwa botol itu aman, membuat kewaspadaan Citra sedikit melunak. Ia membutuhkan cairan agar otaknya tetap bisa berpikir jernih.
"Terima kasih," ucap Citra singkat. Ia memutar tutup botol itu terdengar bunyi krek khas segel yang baru terbuka lalu menenggak isinya hingga tandas setengah. Air dingin itu mengalir membasahi kerongkongannya.
Kinan dan Putri saling melirik melalui kaca spion tengah. Sebuah seringai iblis yang sangat puas terukir di wajah mereka. Citra mungkin pintar soal kamera pengintai, tapi gadis kampung itu tidak tahu bahwa ada alat bernama jarum suntik mikro yang bisa menembus pangkal tutup botol plastik tanpa merusak segelnya sama sekali. Obat tidur dosis tinggi telah larut sempurna di dalam air tersebut.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi racun itu untuk bekerja.
Awalnya, Citra merasa pandangannya sedikit berbayang. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mengira itu hanya efek kelelahan. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa seringan kapas, berputar hebat hingga perutnya mual. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas seolah tulang-tulangnya dicabut.
Citra menatap Kinan yang kini terang-terangan menertawakannya dari kursi depan. Suara tawa Kinan terdengar berdengung dan menjauh di telinga Citra.
Air itu... obat...
Logika Citra menjerit menyuruhnya membuka pintu mobil dan melompat keluar, namun otot tubuhnya lumpuh total. Jemarinya bahkan tak sanggup lagi menggenggam botol plastik yang kini jatuh menggelinding ke lantai mobil. Kelopak matanya terasa seberat timah, memaksanya untuk menutup pandangan. Hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya direnggut oleh kegelapan total adalah tawa meremehkan dari Putri.
"Tidur yang nyenyak, Gembel."
Sore harinya, menjelang waktu makan malam, mobil Alphard hitam itu kembali memasuki pelataran Mansion Aditama dengan mulus.
Pintu terbuka, Putri dan Kinan turun dari mobil dengan langkah ringan dan wajah yang luar biasa cerah. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa paper bag belanjaan dari butik ternama bukan barang dari pasar grosir seperti yang mereka bualkan di mobil tadi. Sandiwara mereka harus terlihat sempurna.
Bibi, kepala pelayan rumah, menyambut mereka untuk membawakan barang bawaan. Mata wanita paruh baya itu melirik ke arah luar, mencari-cari sosok Citra.
"Non Putri, Non Kinan... maaf, Nyonya Citra di mana ya? Bukannya tadi pagi berangkat bersama Non berdua?" tanya Bibi sopan.
Putri mengibaskan rambutnya yang badai dengan gaya acuh tak acuh. Ia berjalan menuju sofa dan duduk dengan elegan, seolah tak ada beban dosa sedikit pun di pundaknya.
"Oh, Mbak Citra tadi minta turun di tengah jalan, Bi," jawab Putri lancar tanpa keraguan sedikit pun. "Katanya dia janjian mau ketemu teman lamanya. Aku sudah tawarkan buat diantar sampai ke tempat temannya, tapi dia menolak dan malah langsung panggil ojek. Ya sudah, kami tinggal. Mungkin dia pulang malam sedikit."
Kinan mengangguk mantap, mendukung kebohongan kakaknya. "Iya, Bi. Siapin aja makan malam buat Papa dan Mas Putra. Nggak usah tunggu Mbak Citra."
Bibi mengangguk patuh dan berlalu ke dapur, sama sekali tidak mencurigai kejanggalan apa pun. Di ruang keluarga yang mewah itu, Putri dan Kinan saling bertukar pandang lalu tertawa pelan. Rencana mereka berjalan sempurna tanpa celah. Citra tidak akan pernah pulang malam ini, atau bahkan besok, atau selamanya.
Udara dingin yang menusuk pori-pori dan bau tanah basah perlahan memaksa Citra untuk kembali ke alam sadar.
Ia mengerang pelan. Kepalanya berdenyut menyakitkan, efek sisa dari obat tidur berdosis tinggi yang menekan sarafnya. Dengan susah payah, Citra memaksakan kelopak matanya terbuka.
Bukan langit-langit kamar utama bermotif klasik yang menyambut pandangannya, melainkan ranting-ranting pohon raksasa yang saling menjuntai menutupi langit. Hari sudah gelap, hanya menyisakan sedikit cahaya bulan purnama yang menembus celah dedaunan rimbun.
Citra terkesiap. Ia memaksakan dirinya untuk duduk, meski bumi terasa masih berputar.
Ia berada di atas tanah berlumpur yang dingin. Di sekelilingnya, sejauh mata memandang, hanya ada pohon-pohon besar, semak belukar setinggi dada, dan kegelapan yang luar biasa pekat. Suara jangkrik, derik serangga malam, dan lolongan anjing liar dari kejauhan saling bersahutan, menciptakan simfoni alam yang sangat menyeramkan.
Jantung Citra mulai berdebar tak karuan. Ia meraba saku gaunnya dengan panik. Kosong. Ponselnya, dompetnya, bahkan cincin kawin murah di jari manisnya telah lenyap. Putri dan Kinan benar-benar melucuti segalanya, memastikan Citra tidak memiliki satu pun alat untuk meminta pertolongan atau bertahan hidup.
Ia tidak tahu di mana ia berada. Tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti pinggiran kota Jakarta. Hutan belantara ini terlalu sepi, terlalu rapat, dan tidak ada satu pun cahaya lampu dari pemukiman warga atau suara deru kendaraan. Ia benar-benar dibuang di antah-berantah, dibiarkan untuk ditelan oleh alam liar.
Citra memeluk lututnya yang mulai gemetar menahan hawa dingin yang menusuk tulang. Ketakutan sebagai manusia biasa mulai merayap naik mencekik lehernya, namun ia memaksa otaknya untuk menolak kepanikan. Menangis histeris di tengah hutan kematian ini tidak akan memanggil siapa pun selain binatang buas.
Ia menatap ke arah gulita belantara di depannya. Perang dingin di dalam Mansion Aditama telah berakhir, digantikan oleh perang yang sesungguhnya yaitu, perang untuk bertahan hidup.
Masih mau lanjut gk nih?
ga sadar diri, semogaa kamu bucin sama citra untuk sekarang nikmati saja rasa bersalah mu sampai cinta kembali ke pelukan mu
sorry" to say cit ga yakin deh bakal lama apa lagi move on putra terlalu keren untuk di lupakan 🤭
......