Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Uap panas yang naik dari panggangan daging di tengah meja berbaur dengan aroma alkohol murah yang menyengat, menciptakan kabut tipis di bawah tenda plastik jingga yang melindungi kedai soju pinggir jalan itu. Suasana di luar riuh oleh deru kendaraan yang tak pernah berhenti di jalan utama Seoul, sementara di dalam, denting gelas dan gelak tawa para pekerja kantoran yang melepas lelah seharusnya menjadi pengiring yang sempurna untuk sebuah percakapan santai. Namun, di meja paling pojok, udara terasa berbeda. Lebih padat. Lebih dingin.
Lisa duduk berhadapan dengan Hwang Hendry, tangannya yang berkeringat sedikit menempel pada permukaan meja kayu yang lengket oleh tumpahan bir dan bumbu. Cahaya kuning pucat dari lampu gantung plastik menggantung tepat di atas mereka, menerangi wajah Hendry dengan bayangan yang dalam, membuat kerutan di dahinya tampak seperti parit-parit kecil yang penuh rahasia. Bayangan itu membuatnya tampak lebih tua, lebih lelah, dan jauh lebih mengintimidasi daripada di kantor.
Hendry mengambil botol soju hijau, menuangkannya dengan hati-hati ke dalam gelas keramik kecil di hadapannya. Cairan bening itu memenuhi gelas tanpa setetes pun yang tumpah. Kemudian, dia meletakkan botol itu, dan menatap Lisa dengan intensitas yang membuat Lisa ingin menyembunyikan tangan di bawah meja.
"Katakan sejujurnya, Ahn Lisa. Kasus artefak Joseon yang hilang itu. Lalu kasus si kakek tua Park yang 'serangan jantung'-nya tiba-tiba berubah menjadi pembunuhan keracunan. Dan puncaknya, kejadian lampu jatuh yang sangat tepat waktu di apartemen Gangnam semalam." Dia berhenti, menyesap soju-nya dalam satu tegukan. "Logikaku sudah sampai di batasnya untuk menerima semua 'kebetulan' ini."
Lisa memutar-mutar gelas soju miliknya yang masih penuh. Cairan di dalamnya berputar, menciptakan pusaran kecil. Dia fokus pada itu, berusaha menghindari magnet tatapan Hendry. "Kebetulan, Senior, terkadang memang terasa seperti campur tangan ilahi. Atau setidaknya, statistika yang sedang bersikap baik pada kita." Ujarnya, berusaha membuat nada bicaranya ringan. Tapi suaranya terdengar tipis dan rapuh di telinganya sendiri.
Hendry mendengus tak percaya. Lalu, dia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku menempel di meja yang basah. Jarak antara mereka menyempit. Lisa bisa mencium aroma soju di napasnya, dicampur dengan aroma daging bakar. "Jangan bermain-main denganku. Dua puluh tahun. Dua puluh tahun aku menginjak-injak TKP, menginterogasi pembunuh, dan melihat mata orang yang berbohong. Aku bisa membedakan mana naluri detektif yang tajam, dan mana…" Dia berhenti, mencari kata. "…hal-hal yang berbau kotor dan tidak wajar. Apakah kau pakai jasa dukun? Atau ada sesuatu yang kau pelihara? Semacam… ritual? Agar kasus-kasusmu beres?"
Lisa terkesiap. Soju di gelasnya berhenti berputar. Tawa canggung, pendek, dan terdengar palsu meloloskan diri dari bibirnya. "Dukun? Senior, kita hidup di tahun 2020. Saya detektif kepolisian yang lulus dari akademi, bukan dukun pedesaan atau paranormal. Saya percaya pada bukti, bukan klenik." Kata-katanya ingin terdengar percaya diri, tapi ada getaran kecil di akhir kalimat.
Di kursi kosong tepat di sebelah kanan Hendry, sesuatu yang tak terlihat bergerak. Sam memanifestasikan dirinya secara perlahan, duduk dengan sikap yang tak senang. Wajahnya, yang biasanya jenaka atau lembut, kini masam. Rambut tembaganya tampak lebih suram di bawah cahaya kuning.
"Dukun dia bilang?" Bisik Sam, suaranya seperti desisan udara dingin yang hanya masuk ke telinga Lisa. Nadanya tajam, tersinggung. "Dia pikir aku adalah semacam jimat keberuntungan? Atau anjing peliharaan gaib?" Sam memandang Hendry dengan mata yang menyipit. "Orang ini perlu diberi pelajaran tentang sopan santun. Dan tentang siapa yang sebenarnya membantunya menyelesaikan kasus mutilasi bulan lalu yang membuatnya dapat pujian dari kapten."
Lisa, tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya, memberikan isyarat halus dengan alisnya. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘚𝘢𝘮. 𝘋𝘪𝘢𝘮𝘭𝘢𝘩.
Tapi Sam sedang dalam suasana hati yang buruk. Energinya masih belum pulih sepenuhnya setelah menggerakkan lampu gawang besi kemarin, dan ejekan 'peliharaan' itu menyentuh sakitnya yang terdalam—rasa tidak diakui dan diremehkan. Dia mengamati gelas soju Hendry yang baru saja diletakkan pria itu di atas meja setelah minum. Gelas keramik kecil itu berdiri di atas permukaan kayu yang agak miring karena usia.
𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩. 𝘔𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘧 𝘚𝘦𝘯𝘪𝘰𝘳 𝘋𝘦𝘵𝘦𝘬𝘵𝘪𝘧 𝘪𝘯𝘪. Pikir Sam, dengan senyum tipis yang nakal.
Dia mengulurkan tangan kanannya yang transparan. Jemarinya yang panjang tidak menyentuh gelas itu. Tapi dia memusatkan perhatiannya padanya, mengumpulkan sisa-sisa energi yang ia punya, membayangkan sebuah dorongan kecil, sangat kecil. Hanya sebuah sentuhan.
𝘚𝘳𝘦𝘵𝘵.
Gelas itu bergeser. Hanya sekitar dua sentimeter, ke arah kanan, mendekati tepi meja.
Hendry, yang sedang mengambil sepotong daging sapi dengan sumpitnya, berhenti. Matanya, dari bawah alisnya yang tebal, bergerak ke gelasnya. Dia mengerutkan kening. Meletakkan sumpitnya. Dengan gerakan lambat, dia melihat permukaan meja, mungkin mencari tetes air atau minyak yang membuat gelasnya licin. Namun ia tidak adanya melihat ada cairan itu. Dengan sedikit ragu, ia menarik gelas itu kembali ke posisi semula, tepat di depannya.
"Dengar." Lanjut Hendry, mencoba kembali ke nada seriusnya, meski matanya masih sesekali melirik gelasnya. "Jika kau terlibat dengan sesuatu yang berbahaya—semacam jaringan informan gelap, atau memakai cara-cara ilegal untuk mendapatkan bukti—itu bisa menghancurkanmu. Dan sebagai seniormu, aku—"
𝘚𝘳𝘦𝘵𝘵.
Kali ini, gelas itu bergeser lagi, bahkan lebih jauh. Sekitar lima sentimeter, menjauh dari jangkauan tangan Hendry, seolah-olah didorong oleh jari tak kasatmata.
Hendry membeku di tengah kalimat. Mulutnya yang setengah terbuka perlahan tertutup. Semua perhatiannya kini tertuju pada gelas soju itu. Matanya membelalak, memindai sekeliling gelas dan meyakinkan diri bahwa disana tidak ada tangan, tidak ada benang, tidak ada angin di dalam tenda yang pengap ini. Dengan gerakan hati-hati, seperti mendekati binatang buas, ia mengulurkan tangannya untuk meraih gelas itu.
Tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kaca keramik, gelas itu berputar. Perlahan, hampir anggun, berputar 180 derajat di tempatnya, sehingga pegangan gelas yang tadinya menghadap Hendry kini membelakangi. Lalu, dengan gerakan akhir, ia bergeser lagi, berhenti tepat di tepi meja, nyaris terjatuh.
"Lisa…" Bisik Hendry, suaranya kehilangan semua ketegasan dan kecurigaan. Yang tersisa adalah kekagetan yang polos dan murni. "Kau… kau lihat itu?" Dia menatap Lisa, matanya penuh permintaan konfirmasi, harapan bahwa ini adalah lelucon atau halusinasi kolektif.
"Lihat apa, Senior?" Lisa menjawab, memaksakan diri untuk mengambil sepotong kimchi dengan sumpitnya. Tangannya sedikit gemetar.
"I-Itu... Gelasnya bergerak sendiri." Ucap Hendry sambil menunjuk gelasnya.
"Hmm? Mungkin… mungkin permukaan mejanya tidak rata. Atau ada getaran dari truk yang lewat." Alasan itu terdengar konyol, bahkan baginya.
"Meja ini tidak miring!" Hendry mendesis, suaranya naik sedikit, penuh frustrasi dan ketakutan yang mulai merayap. Dia meraih gelas itu dengan cepat, lalu tangannya yang besar menutupi gelas itu sepenuhnya.
Di sebelahnya, Sam terkikik. Suara tawanya yang ringan dan nakar hanya untuk Lisa, tapi ekspresinya penuh kepuasan. "Sudah mulai takut, ya, Polisi Besar?" Bisik Sam. Lalu, dengan konsentrasi lebih, ia menghembuskan nafas yang sangat dingin tepat di telinga kanan Hendry.
Efeknya instan.
Hendry tersentak seolah-olah disetrum. Tubuhnya melompat dari kursi plastiknya yang murah, yang terlempar ke belakang dan jatuh dengan suara berdebum di lantai beton. Wajahnya yang tadi kemerahan karena alkohol dan kepanasan mendadak berubah pucat seperti kapur. Tangannya menepuk-nepuk tengkuknya sendiri, matanya liar berputar, menyisir setiap sudut tenda yang remang-remang, setiap bayangan di balik tirai plastik.
"Tempat ini sepertinya tidak beres." Gumamnya. "Aku… aku merasa ada yang berdiri di sini. Tepat di sampingku. Dan kenapa jadi sangat dingin?" Ia menarik jaket kulitnya yang tergantung di sandaran kursi, memakainya dengan buru-buru, seolah-olah jaket itu bisa melindunginya dari sesuatu yang tak kasatmata. "Lisa, ayo pergi sekarang. Aku tidak ingin mati konyol di kedai soju berhantu pinggir jalan!"
Tanpa menunggu jawaban Lisa, Hendry bergegas ke arah kasir, mengeluarkan uang dari dompetnya dengan tangan yang masih jelas-jelas gemetar, melemparnya tanpa menghitung, lalu hampir berlari keluar dari tenda, melongo pada beberapa pengunjung lain yang sedang asyik berpesta.
Lisa duduk sendirian di meja itu, menatap dua gelas soju: miliknya yang masih penuh, dan milik Hendry yang kini berdiri sepi. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan degup jantungnya yang masih kencang.
Sam muncul di kursi yang ditinggalkan Hendry, duduk dengan sikap santai, wajahnya penuh kepuasan diri. "Nah, setidaknya dia tidak akan menuduhmu memelihara dukun lagi dalam waktu dekat." Ujar Sam, senyum lebar menghiasi wajahnya yang tampak sedikit lebih cerah setelah 'bermain-main'.
"Sam, itu sungguh keterlaluan." Lisa mendesis, suaranya berisi amarah dan kelegaan yang campur aduk. Dia memandang ke arah jalan, di mana Hendry sudah menghilang di tengah kerumunan. "Kau membuatnya ketakutan setengah mati."
"Dan menurutmu tadi dia sedang apa? Menginterogasimu dengan sopan?" Sam membalas, alisnya naik. "Dia menuduhmu melakukan sesuatu yang ilegal, Lisa. Dia mengancammu. Aku hanya memberinya… perspektif baru." Wajah Sam menjadi sedikit lebih serius. "Lagipula, melihat ekspresi wajahnya yang sangar tadi berubah menjadi sangat ketakutan… jujur, itu jauh lebih menghibur daripada minum soju yang hambar ini."
Lisa menghela napas panjang, meraih jaketnya. Dia meletakkan uang untuk makanan mereka di atas meja dengan jumlah yang tepat, lalu berdiri. Dia merasakan kelelahan yang mendalam, bukan hanya fisik, tapi mental. Ketegangan dengan Hendry mungkin mereda untuk sementara, tapi itu digantikan oleh sebuah pengakuan dari Hendry bahwa ada sesuatu yang 'tidak beres' di sekitarnya. Dan ketakutan seorang detektif senior yang logis bisa menjadi bumerang yang jauh lebih berbahaya daripada kecurigaan semata.
Saat mereka berjalan keluar dari tenda, mengikuti jejak Hendry yang sudah jauh di depan, malam Seoul terasa lebih dingin dari biasanya. Dan Lisa tahu, meski pertanyaan tentang 'dukun' mungkin tenggelam, sebuah keyakinan baru telah tertanam di benak Hwang Hendry: bahwa Detektif Ahn Lisa tidak sendirian. Dan apa pun yang mengikutinya, itu nyata, dingin, dan bisa membuat gelas soju bergerak sendiri.
Sam melayang di sampingnya, diam-diam, namun kehadirannya terasa lebih berat dari sebelumnya. Mereka telah memenangkan pertempuran kecil malam ini, namun perang untuk menyembunyikan rahasia mereka mungkin baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya.
.
.
.
.
.
.
.
— Bersambung —