Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Sakitnya Masih Sama
Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang mulai mengendur. Hasil observasi menunjukkan kondisi Farel kian stabil, meski dokter memberikan catatan tegas: lingkungan di sekitar bayi itu harus benar-benar steril dan, yang paling krusial, bebas dari asap rokok.
Abel melangkah anggun menyusuri lobi rumah sakit. Tangan kanannya menjinjing tas pakaian, sementara tangan kirinya mendekap Farel dengan penuh proteksi. Kelembutan terpancar dari matanya yang kini cokelat terang, menatap buah hati almarhumah Sarah itu dengan kasih sayang yang meluap.
Tepat di depan lobi, sebuah sedan mewah berhenti dengan derit halus. Reno keluar dari pintu kemudi dengan langkah lebar dan wajah yang diliputi kecemasan sekaligus gusar.
"Kenapa baru bilang sekarang kalau Farel sakit, Bel?" cecar Reno tanpa basa-basi begitu mereka berhadapan.
"Kakak sedang ada rapat krusial di Jerman," jawab Abel tenang, mencoba meredam emosi kakaknya. "Aku tidak ingin mengacaukan konsentrasi Kakak dengan kabar yang belum pasti."
"Tapi tetap saja... Farel itu tanggung jawabku!" Reno menghela napas kasar, lalu tangannya terulur mengambil alih Farel dan mengecup kening putranya itu dengan kerinduan yang dalam.
Seketika, hidung Abel menangkap aroma yang sangat ia hindari. Ia segera menarik Farel kembali ke dalam dekapannya, membuat Reno terkejut.
"Kakak belum ganti baju!" tegur Abel tegas. Ia mengendus aroma nikotin yang menempel pekat pada jas mahal kakaknya. "Sudah berapa kali aku bilang? Berhenti merokok! Farel sedang infeksi saluran pernapasan, Kak. Jangan egois."
Reno terdiam, wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang amat sangat saat melihat tatapan tajam adiknya.
Dari balik dinding kaca lobi, Arslan terpaku menyaksikan pemandangan itu. Di matanya, interaksi mereka terlihat begitu mesra dan penuh keintiman. Ia melihat Reno mengusap rambut Abel, melihat mereka beradu argumen namun berakhir dengan kedekatan yang membuat ulu hati Arslan terasa nyeri.
Arslan meremas catatan medis di tangannya. Dahulu, ia adalah pria yang berdiri di posisi Reno—pria yang bisa tertawa bersama Abel, menggoda kegugupannya, dan mencuri perhatiannya. Namun kini, ia hanyalah penonton di balik kaca, terasing dari dunia Abel yang baru.
Dengan langkah gontai, Arslan berbalik menuju ruang kerjanya. Pikirannya buntu, hanya ada satu pertanyaan yang berputar: Bagaimana cara meruntuhkan tembok es yang dibangun Abel?
"Arslan," sebuah suara memecah lamunannya.
Arslan menoleh enggan. Gea berdiri di sana dengan senyum yang dipaksakan manis, matanya terus mencari perhatian dari sang dokter spesialis anak.
"Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Gea lembut, mencoba mendekat.
"Tidak apa-apa," jawab Arslan singkat, tangannya sibuk merapikan berkas di meja untuk menghindari kontak mata.
"Besok bisa temani aku menonton film? Ada judul baru yang sedang viral," tanya Gea kembali, pantang menyerah.
"Aku tidak bisa. Banyak jadwal operasi," tolak Arslan datar.
Gea menghela napas, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. "Arslan, sekali saja. Aku dengar pamanmu—Papamu—sudah merencanakan perjodohan untukmu dengan gadis pilihan beliau. Jika kita terlihat pergi bersama, setidaknya itu bisa menjadi alasan bagi Papamu untuk tidak memaksamu. Anggap saja aku membantumu agar kamu tidak terjebak dalam perjodohan itu."
Langkah Arslan terhenti. Kalimat Gea menghantamnya tepat pada ketakutan terbesarnya. Dari mana Gea tahu tentang rencana kolot ayahnya itu? Namun, satu hal yang pasti: jika ia terjebak dalam perjodohan itu, maka kesempatannya untuk kembali pada Abel akan tertutup selamanya.
Arslan terdiam sejenak, menimbang pilihan yang pahit. Akhirnya, ia mengangguk kaku. "Baiklah. Minggu besok aku jemput kamu."
Arslan berlalu tanpa menoleh lagi, tidak menyadari bahwa di belakangnya, Gea mengukir senyum kemenangan yang licik. Gea tahu satu hal yang Arslan lupakan: sekali ia melangkah masuk ke dalam skenario Gea, ia mungkin tidak akan pernah bisa keluar untuk kembali pada Abel.
Sore itu, udara di area kafe terbuka terasa cukup sejuk, namun atmosfer di meja Arslan terasa begitu hambar. Setelah film berakhir, Gea bersikeras mengajak Arslan untuk sekadar rehat sejenak. Mereka duduk berhadapan, namun jarak mental di antara keduanya terasa seperti bentangan samudera.
Gea tidak henti-hentinya mengoceh, menanyakan hal-hal remeh mulai dari alur film tadi hingga gosip terbaru di rumah sakit. Namun, Arslan seolah menutup rapat pendengarannya. Pria itu sibuk dengan ponsel di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menjepit sebatang rokok yang asapnya membubung tipis ke udara—sebuah pelarian instan dari rasa jenuh yang menghimpitnya.
"Arslan, dengar tidak sih? Aku tanya, kamu lebih suka warna dasi yang tadi dipakai aktornya atau—"
Kalimat Gea menggantung. Ia menatap bibir Arslan, lalu dengan gerakan yang sengaja dibuat sangat lembut dan intim, Gea mengulurkan jarinya. "Eh, tunggu sebentar. Ada sesuatu yang menempel di bibirmu."
Tepat saat jemari Gea nyaris menyentuh sudut bibir Arslan, sesosok wanita melintas di trotoar tepat di depan kafe tersebut. Itu Abel. Ia tidak sendiri, ia tampak sedang berbincang ringan dengan seorang rekan kantornya, terlihat profesional namun tetap memukau dengan gaya elegannya yang baru.
Pandangan mereka bertabrakan dalam sepersekian detik.
Arslan tersentak. Rasa panik menjalar hebat di sekujur tubuhnya. Secepat kilat, ia menjauhkan wajahnya dari tangan Gea dan hampir menjatuhkan rokok yang ia pegang. Jantungnya berdegup kencang, takut jika Abel salah paham dengan pemandangan yang baru saja tersaji.
"Abel!" gumam Arslan lirih, matanya menatap Abel dengan sorot memohon, seolah ingin berteriak bahwa apa yang dilihatnya tidaklah benar.
Namun, Abel menunjukkan reaksi yang luar biasa tenang. Ia hanya melirik Arslan sekilas, memberikan tatapan tak acuh yang begitu dingin, lalu kembali menoleh pada temannya seolah Arslan hanyalah pajangan jalanan yang tak berarti. Ia terus berjalan dengan langkah yang pasti, tanpa menoleh lagi.
Arslan terpaku, separuh nyawanya seolah ikut pergi bersama langkah Abel. Ia tidak tahu bahwa di balik topeng ketenangan itu, tangan Abel meremas tali tasnya dengan sangat erat. Ada api cemburu yang tiba-tiba menyulut dadanya, membakar habis usahanya untuk bersikap tidak peduli. Hati Abel berteriak kecewa; melihat Arslan bersama wanita lain—dan merokok pula—membuat luka lamanya kembali berdenyut perih.
Gea yang menyadari perubahan ekspresi Arslan hanya bisa mendengus kesal, menatap punggung Abel dengan rasa benci yang mulai bersemi.
Abel mencoba mengalihkan pandangannya, menatap Dinda yang sedang asyik menceritakan jadwal rapat besok, namun pikirannya tertinggal di kafe ujung jalan itu. Keintiman Arslan dan Gea tadi bagaikan duri yang tersangkut di tenggorokannya—menyesakkan dan sulit untuk ditelan.
Ia mencoba fokus pada aroma kopi di depannya, namun memorinya justru terlempar jauh ke masa SMA, ke sebuah sore yang tersembunyi di balik gedung olahraga sekolah.
Saat itu, mereka menjalin hubungan rahasia yang manis namun getir. Abel masih ingat bagaimana Arslan, dengan gaya pemberontaknya sebagai kapten basket, sempat memantik korek api dan hendak menyesap sebatang rokok. Namun, dengan gerakan cepat yang penuh keberanian, Abel kecil saat itu merebut rokok tersebut dari sela jemari Arslan.
"Berhenti merokok, Lan! Itu nggak baik buat paru-parumu," omel Abel saat itu dengan wajah cemberut dan mata yang membesar di balik kacamata tebalnya.
Arslan bukannya marah, justru tertawa kecil. Ia menatap Abel dengan binar nakal di matanya. "Galak banget sih, Tuan Putri? Kalau aku nggak ngerokok, gantinya apa dong?"
Perdebatan itu berlanjut menjadi saling ledek yang lucu. Arslan akan berakhir mengacak-acak rambut Abel sampai berantakan, dan Abel akan membalas dengan cubitan di lengan Arslan. Tawa bahagia mereka pecah, menyatu dengan udara sore yang hangat—sebuah masa di mana Arslan adalah miliknya, dan ia adalah dunia bagi Arslan.
Abel tersadar dari lamunannya saat Dinda menyentuh lengannya. "Bel? Kamu oke? Kok melamun?"
"Ah, iya. Nggak apa-apa, Din," jawab Abel dengan senyum yang dipaksakan.
Ia kembali melirik ke arah kafe di kejauhan. Pemandangan tadi adalah tamparan keras bagi Abel. Arslan yang sekarang kembali merokok, seolah tidak ada lagi sosok yang ia dengarkan larangannya. Dan wanita di sampingnya—Gea—terlihat sangat bebas menyentuh Arslan, posisi yang dulu hanya bisa dilakukan Abel secara sembunyi-sembunyi karena takut akan kemarahan Reno.
“Kenapa aku masih peduli?” batin Abel perih. “Toh, dia sudah memilih untuk menjadi orang asing yang menyakitiku.”
Abel tidak menyadari bahwa di ujung jalan sana, Arslan sedang mematikan rokoknya dengan kasar ke asbak, seolah-olah batang tembakau itu adalah penyebab hilangnya Abel dari pandangannya. Arslan menatap ke arah kerumunan, mencari sosok Abel dengan perasaan kacau, mengabaikan Gea yang masih terus mencoba menarik perhatiannya.