Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
luka di balik kepingan emas
Mei Lin melangkah masuk ke dalam gubuk tua yang masih berbau kayu lembap dan kenangan masa kecil. Begitu pintu kayu yang rapuh itu terbuka, suasana sunyi seketika pecah. Sang ibu, yang tampak jauh lebih kurus dan pucat sejak terakhir kali Mei Lin melihatnya, terbelalak. Dengan langkah tertatih, ia menghampiri putri sulungnya.
"Mei Lin? Benarkah ini kau, Nak?" isak sang ibu sambil merengkuh tubuh Mei Lin ke dalam pelukan hangat yang telah lama dirindukan gadis itu.
Si bungsu Xiao Mei langsung berlari dan memeluk pinggang kakaknya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di jubah abu-abu Mei Lin. "Kakak! Aku takut Kakak tidak akan pernah kembali. Jangan pergi lagi, Kak... aku sangat khawatir," tangisnya pecah, membasahi kain jubah Mei Lin.
Namun, di sudut ruangan, Lin Hua—adik kedua Mei Lin—hanya berdiri diam dengan tangan bersedekap. Tatapannya tajam, menelusuri sosok kakaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilat kebencian yang tak tersembunyi di matanya. "Lihatlah siapa yang datang. Sang penyelamat keluarga yang menghilang berbulan-bulan tanpa kabar," sindir Lin Hua dengan nada dingin.
"Lin Hua, jaga bicaramu!" tegur sang ibu, namun Lin Hua justru melangkah maju.
"Aku sudah dewasa sekarang, Kak. Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku akan mencari pria kaya yang bisa membawaku keluar dari lubang kotor ini dengan terhormat. Aku tidak sudi berakhir menjadi pelayan rendahan yang menghabiskan hidupnya mencuci kaki orang lain seperti dirimu," ucap Lin Hua penuh keangkuhan.
Hati Mei Lin terasa seperti diremas. Ia melepaskan pelukan ibu dan adiknya, lalu dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah kantong kain yang berat. Suara denting logam di dalamnya membuat ruangan itu mendadak sunyi. Mei Lin menumpahkan isinya ke atas meja kayu yang reyot—puluhan keping uang emas berkilauan, memantulkan cahaya temaram di dalam gubuk.
"Ini... ini untuk kalian. Untuk obat Ibu, untuk pakaian kalian, dan untuk melunasi semua sisa hutang ayah," suara Mei Lin parau. "Aku bekerja keras sebagai kuli di kota pelabuhan, melakukan pekerjaan apa saja... ini adalah upahku."
Ibu Mei Lin menatap tumpukan emas itu dengan ngeri, bukan senang. "Emas? Mei Lin, pekerjaan kuli macam apa yang memberikan upah sebanyak ini? Nak, apa yang sebenarnya kau lakukan di sana?"
Sebelum Mei Lin sempat menjawab, Lin Hua tertawa sinis, suara tawanya terdengar menyakitkan. "Kuli? Jangan membodohi kami, Kak. Tidak ada kuli yang dibayar dengan emas murni istana. Katakan saja yang sejujurnya... apa kau menjual dirimu? Apa kau memberikan tubuhmu pada pria-pria hidung belang demi uang-uang ini?"
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di dalam gubuk. Sang ibu menampar pipi Lin Hua hingga gadis itu tersungkur ke lantai. "Cukup! Kakakmu melakukan segalanya demi kau bisa makan! Dia mengorbankan masa mudanya di istana yang dingin itu karena hutang ayahmu!" raung sang ibu dengan napas tersengal.
Mei Lin terpaku, lidahnya terasa kelu. Kata-kata Lin Hua menghujam tepat di pusat kebenarannya. Meski ia tidak menjual dirinya secara sukarela, kenyataannya ia memang memberikan dirinya pada Jian Feng demi kepingan emas ini. Ia tidak bisa membela diri karena di dalam hatinya, ia merasa kotor. Ia merasa bahwa dirinya memang telah "terjual" pada sang kaisar tiran.
"Aku... aku harus pergi," bisik Mei Lin, suaranya nyaris hilang. Ia segera menarik tudungnya, menutupi air mata yang mulai mengalir deras.
Tanpa menoleh lagi, ia berlari keluar dari gubuk itu, mengabaikan teriakan Xiao Mei yang memanggil namanya. Ia tidak menyadari bahwa di luar sana, para prajurit Jian Feng telah menyaksikan segalanya dan bersiap melaporkan setiap tetes air mata dan setiap kata yang terucap di dalam gubuk itu kepada tuannya yang kini sedang menunggu dengan amarah yang mendidih.
Bersambung