NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suatu malam.

Di kamar pengantin Rania menangis di ujung ranjang---ranjang pengantin dengan hiasan bunga dan memiliki tirai warna putih itu.

Akan menjadi saksi bagaimana Rania terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkan ini, posisinya saat ini amat sulit.

"Malam ini Arga akan menuntaskan hasrat sebagai suami," kata Rania yang mengenakan daster piyama warna putih dengan motif bunga.

Rania menggerai rambutnya yang ikal panjang.

Tak berselang lama.

Pintu kamar pengantin tertutup perlahan.

Klik.

Terdengar suara itu terlalu keras di telinga Rania.

Seketika suasana menegang, Arga Prananda masuk dengan mengenakan piyama warna putih gading, berupa celana dan atasan.

Mendengar langkah kaki Arga masuk, Rania buru-buru menghapus air matanya.

Posisi Rania membelakangi Arga yang duduk tepat di belakangnya, dadanya naik turun tak beraturan, kedua tangannya mencengkram ujung daster yang di kenakannya.

"Rania...," panggilnya pelan, suaranya lebih hati-hati.

Rania memejamkan matanya, dirinya teringat akan perlakuan Arga di masa lalu. Bagaimana dirinya di rendahkan bahkan di pukuli.

"Jangan panggil nama saya," jawab Rania dengan suara yang serak.

Rania masih enggan menatap pria yang sudah menjadi suaminya, tangan Arga menyentuh pundak sang istri---Terlihat Rania sudah bergetar karena tak menyukai pernikahan ini.

posisinya masih setia membelakangi Arga.

"Kamu sengaja, tak bilang siapa kamu, namamu...Agar aku bisa menerima pertunangan dan pernikahan ini."

Arga terdiam.

Dadanya naik dan turun, seolah ingin mengatakan banyak hal, tapi memilih menelan semuanya.

Arga menghela napas panjang.

"Aku nggak berniat menjebak kamu."

"Jika aku mengatakannya dan mengenalkan diri sejak awal, kamu pasti tak akan mau menerima pertunangan dan pernikahan ini."

Arga bersuara berusaha menjelaskan dengan sabar kepada istrinya, jika sekarang dirinya amat mencintainya.

"Lalu? Apa tujuanmu mau menikah denganku?" tanya Rania dengan nada menyelidik, posisi masih membelakangi suaminya.

"Aku mencintaimu sejak dulu, saat kamu...mencekiku."

Isak tangis Rania semakin keras, Arga yang di belakang Rania-----Kedua tangannya di tempatkan di bahu istrinya.

Lalu mencium aroma rambut istrinya yang ikal dan panjang, aroma aloevera.

Rambut yang dulu pernah Arga jambak, dan dirinya siram pakai air kotor---sekarang aroma itu amat di rindukannya.

"Aku salah...," ucapnya dengan lirih.

Suasana kamar pengantin mendadak sunyi, hanya detik jam dinding yang terdengar.

"Rania aku tahu, aku salah besar di masa lalu," ujar Arga mengakui kesalahannya-----Masih setia kedua tangannya menggenggam kedua bahu Rania yang membelakanginya.

Isak tangis Rania masih terdengar, tapi Arga selaku sang suami akan berusaha membuat istrinya bahagia.

"Aku masih belum bisa menerimamu."

Rania bicara dengan isak tangis.

Arga menghela napas, hidungnya masih mencium rambut harum istrinya yang ikal.

Lalu berbisik dengan pelan, di telinga Rania yang sepertinya sangat kacau.

"Aku tak akan menyentuhmu," kata Arga berjanji.

Rania menghentikan isak tangisnya, kali ini gadis ini menoleh ke arah Arga.

Wajah Arga yang tampan, seperti orang Indonesia bagian barat menjadi lebih maskulin saat tersenyum.

"Maksudmu?" tanya Rania dengan kening berkerut, tapi matanya masih sembab.

"Aku tak akan meminta hakku sekarang, aku tak akan menyentuhmu sampai kamu mencintaiku...," ujar Arga dengan lirih.

Tangan Arga ingin menyentuh pipi Rania yang penuh dengan air mata, saat mau menghapus air mata itu.

Tiba-tiba Rania langsung berdiri.

Sontak Arga juga berdiri.

Rania mundur saat Arga mau melakukan itu, wajah Rania pucat dan seakan ketakutan. Di depannya ada monster yang siap menatapnya.

"Rania..," suara Arga melihat Rania mundur ketakutan.

Pria itu berusaha mendekati istrinya, namun Rania menghindar dengan secara refleks. "Jangan...Jangan deket mundur!" jerit Rania.

Memang efek dari trauma bullying bisa sampai dewasa.

Rania mundur saat imam, suami, dan---pria yang telah membuat trauma membekas berusaha mendekatinya.

"Mundur!!" ujar Rania yang mundur berusaha menghindari Arga.

"Rania...Tolong...dengar," suara Arga berusaha mendekati Rania.

Tapi wanita malang itu sudah mundur ketakutan, berusaha menghindar saat Arga ingin mendekat---Rania ketakutan kebayang masa lalu yang mengerikan.

"Tolong jangan Arga," Mohon Rania dengan menyatukan tangan.

Air mata berderai, berusaha menghindari Arga.

"Rania...Aku suami kamu, oke?" kata Arga berusaha mendekati Rania.

Tapi gadis itu sudah amat ketakutan, sayang seribu sayang tak ada senjata di kamar ini, setidaknya pecahan kaca.

Karena dengan itu Arga menjadi tak bisa mendekatinya.

"Arga! Cukup! Nanti Karin malah mukulin gua! Tolong!" jerit Rania.

Arga teringat sangat, saat Rania selalu mengatakan itu---Dirinya memang selalu mencari masalah dengan Rania. Tapi kali ini berbeda.

Rania sekarang adalah istrinya sudah sah, secara agama dan hukum.

"Karin! Cowok lu mau deketin gua!!" jerit Rania yang berlari ke pojok sofa.

"Rania..hey," kata Arga berusaha mendekati istrinya.

Namun, Rania akan mengancam jika Arga mendekat---maka dirinya akan bertanggung jawab atas kematiannya.

"Rania...aku suamimu! Nggak ada yang mau nyakitin kamu," ucap Arga meyakinkan wanita yang sudah menjadi istrinya.

Arga mau mendekati Rania, perlahan.

"Mundur...atau gua akan bunuh diri!" ujar Rania.

Arga mendengar itu mundur perlahan.

"Ok, saya mundur."

"Tapi kamu tenang dulu, jangan kaya gini."

Arga berusaha menenangkan istrinya, dengan mundur dan duduk di ujung ranjang. Sementara Rania sudah meringkuk duduk di pojok sofa.

Rania menekuk kedua kakinya dan memeluknya erat, sungguh malang nasibnya---Gadis yang harus menikahi pembully di masa lalu.

Arga menghela napas lelah, Rania dengan air mata yang masih mengalir akhirnya duduk di pojok sofa. Menangis semalaman.

Matanya terus memperhatikan sang suami yang masih duduk di ujung ranjang-----masih terjaga. Sementara Rania perlahan mengantuk begitu juga Arga.

Arga Prananda.

Dirinya sudah mengantuk dan lelah, hari ini adalah malam pengantin seharusnya adalah hari bahagia.

Tapi malah derita yang menghampiri pernikahannya, Gadis berambut ikal itu juga perlahan mengantuk di lantai yang dingin----dengan posisi menekuk kakinya, dirinya juga akhirnya tertidur.

Perlahan-lahan kaki Rania selonjoran karena pegal, Arga yang terbangun di jam dua malam melihat istrinya sudah pulas tertidur.

Dirinya bangkit perlahan mendekati Rania, yang wajahnya tertutup rambut yang ikal.

Setelah memastikan Rania pulas, pria itu berinisiatif membopong tubuh istrinya untuk tidur di atas ranjang---Tepat di sampingnya.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!