NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Di perjalanan pulang dari sekolah, Rey melajukan motornya pelan. Rasa perih di sudut bibirnya masih menyengat, sementara pikirannya kacau.

Tiba-tiba, beberapa siswa yang tadi membully-nya kembali menghadang. Dengan senyum sinis, mereka memberhentikan Rey, seolah belum puas memberi “pelajaran”. 

Tanpa banyak bicara, mereka langsung menyudutkannya. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi menghujani tubuh Rey yang tak berdaya. Ia mencoba melawan, tapi jumlah mereka terlalu banyak.

Tak jauh dari sana, Alice dan Rania sedang berjalan di trotoar sambil menjajakan bunga. Pandangan Alice tiba-tiba tertuju ke seberang jalan, di mana sekelompok siswa tengah ribut.

“Rania...” panggil Alice pelan.

Rania menoleh. “Ada apa, Al?”

“Lihat ke sana.” Alice menunjuk kerumunan itu.

Rania menyipitkan mata, mendapati jelas bahwa seseorang sedang dikeroyok. Alice tanpa pikir panjang langsung berlari menyeberang.

“Alice, tunggu!” seru Rania, menyusul dengan cemas.

Begitu mendekat, Alice tertegun. Sosok yang dipukuli itu ternyata Rey.

“Rey!” serunya kaget.

Dengan keberanian tiba-tiba, Alice menarik salah satu siswa agar menjauh. “Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!”

Teriakannya tak digubris. Rey masih dihajar. Alice akhirnya berteriak sekeras mungkin, “Tolong! Tolong!!”

Seketika, para pengeroyok panik. Mereka saling tatap lalu kabur, meninggalkan Rey terkapar.

Alice segera berlutut di sampingnya. Wajah Rey penuh memar, napasnya berat, matanya buram. Namun ia masih bisa menangkap siluet Alice yang menatapnya dengan khawatir.

“Rania, tolong bantu aku membawa Rey."

Rania terdiam sejenak, lalu menatap Alice tajam. “Rey?" Orang yang selalu membully-mu itu?

 "Kenapa kamu mau menolongnya?”

Alice menahan napas, matanya tetap tertuju pada Rey. “Aku mohon, Rania. Jangan bahas itu sekarang. Kita harus menolongnya.”

Rania menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Baiklah...”

Dengan susah payah, Alice dan Rania menuntun Rey yang setengah pingsan menuju kolong jembatan kediaman Rania.

“Taruh dia di sini,” ucap Alice sambil membantu Rey duduk bersandar pada tiang beton.

Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya terdengar tarikan napas berat Rey. Akhirnya, matanya perlahan terbuka, menatap samar ke arah Alice yang duduk di hadapannya.

“Di... mana aku?” suaranya serak.

“Kamu aman sekarang,” jawab Alice singkat.

Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan kotak obat dan botol air mineral. Dengan cekatan, ia membersihkan darah di dahi Rey.

Rey terdiam, membiarkan Alice merawatnya. Tatapannya sesekali bertemu dengan mata Alice, membuat suasana mendadak canggung.

“Diam saja, jangan banyak bergerak,” kata Alice cepat, mencoba menghindari kontak mata terlalu lama.

Rania duduk tak jauh dari mereka, memperhatikan dengan ekspresi sulit diartikan. Sesekali ia membantu Alice.

“Kenapa... kau melakukan ini?” tanya Rey tiba-tiba, suaranya pelan.

Alice terhenti sejenak, tangannya masih menekan luka di pelipis Rey. Ia tidak langsung menjawab, hanya menunduk.

Rania buru-buru memotong, seakan ingin menyelamatkan Alice dari kebingungan. “Karena kalau bukan dia, siapa lagi?”

Rey mengalihkan pandangannya ke arah Rania, gadis asing yang baru pertama di temui nya. sedangkan Rania memberikan tatapan ketidaksukaan pada pria itu.

meskipun baru pertama kali bertemu dengan Rey, ia tahu betul jika pria di hadapannya adalah pria yang selalu membuly sahabat nya.

Setelah beberapa saat, Alice selesai membersihkan luka-luka Rey. Ia merapikan perban seadanya pada pelipisnya, lalu menarik napas lega.

“Sudah selesai,” ucapnya pelan 

Rey menatap Alice sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Ada jeda hening sebelum akhirnya ia berkata dengan suara canggung,

“Um... terima kasih, Alice.”

Alice terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis tanpa menatap langsung. “Sama-sama. Sekarang sebaiknya kau segera pulang dan beristirahat. Kondisimu belum baik.”

Rey hanya mengangguk singkat, berusaha menahan rasa kikuk yang menghantam dirinya. 

Alice bangkit, membersihkan debu di rok seragamnya, dan hendak melangkah pergi bersama Rania.

Namun tepat sebelum Alice benar-benar beranjak, Rey tiba-tiba bersuara.

“Alice...” panggilnya lirih.

Alice menoleh, sedikit terkejut melihat keseriusan di mata Rey.

“Maaf,” ucapnya tiba-tiba, suaranya terdengar dalam dan tulus, meski terbata.

Alice terdiam, tidak segera menanggapi. Ada jeda hening.

Rey menunduk, jemarinya menggenggam erat kain perban di tangannya. “Setelah kejadian kemarin, apakah aku berhak mendapat maaf darimu?

Kalimat itu menusuk hati Alice. Sekilas, bayangan kejadian kemarin kembali berkelebat di kepalanya—rasa takut, rasa sakit, dan ketidakberdayaan. Jemarinya refleks mengepal, dan nafasnya sedikit tersengal.

sejujurnya rasa takut itu masih ada saat ia berada di dekat Rey. namun rasa iba mengalahkan ketakutannya

Rania yang berdiri di sampingnya memperhatikan, jelas ia bisa melihat kegelisahan sahabatnya.

Namun Alice akhirnya menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Tatapannya beralih lagi ke arah Rey yang masih menunduk, tampak hancur oleh rasa bersalah.

"Tidak apa-apa, tidak usah di bahas lagi."

Rey langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alice. "Aku juga ingin meminta maaf atas sikapku selama ini."

Rey menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya."Selama ini aku sudah jahat kepadamu, tapi kau masih mau membantuku. Maafkan aku Alice, aku sudah sadar betapa buruk nya sikap ku."

Alice terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Rey. Jadi, tidak perlu terlalu kau pikirkan lagi.”

Tatapan Rey bergetar, seolah beban besar sedikit terangkat dari pundaknya. “Terima kasih... banyak, Alice. Terima kasih juga karena sudah menolongku.”

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!