Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Kirman Hadiah Dari Mantan
"Kirana, Produser Argo, Penulis Larasati, dan saya secara pribadi sebenarnya sangat puas dengan kemampuanmu," ujar Galang melalui sambungan telepon WhatsApp.
Suaranya terdengar berat, sarat beban yang tak mampu ia pikul sendiri sebagai sutradara.
"Tapi kau harus tahu, kenyataan di industri ini sering kali jauh lebih kejam daripada yang kita bayangkan," lanjutnya.
Sebagai sutradara utama, Galang berada dalam posisi sulit. Begitu pula Produser Argo yang memegang tanggung jawab penuh atas proses produksi drama kolosal ini.
Mereka tidak bisa berbuat banyak atas nasib yang menimpa Kirana. Tanpa investor yang bersedia mengucurkan dana segar, proyek ini bisa terhenti di tengah jalan.
Dalam ekosistem ini, semua pihak harus tunduk pada keinginan pemegang modal, meski hati nurani menolak.
Galang, Larasati, dan seluruh tim produksi terpaksa menahan diri demi kelangsungan hidup ratusan pekerja di bawah mereka.
Meskipun secara teori mereka bisa mencari investor pengganti, kenyataannya masalah ini tidak sesederhana membalik telapak tangan.
Hendrawan Yudhoyono bukan orang sembarangan. Ia salah satu sosok paling berpengaruh di jagat bisnis Indonesia.
Jika Galang nekat mengganti investor, pencarian pendanaan baru hampir pasti akan terhambat oleh tekanan pengaruh Hendrawan.
Kecuali mereka menemukan investor dengan kekuatan finansial dan pengaruh politik yang setidaknya setara dengannya.
Dan menemukan sosok seperti itu dalam waktu singkat nyaris mustahil, apalagi produksi sudah di ambang mulai.
Jika mereka memaksa, drama ini bisa berakhir sebelum sempat diproduksi.
"Kirana, tanpa penjelasan panjang pun kau pasti paham. Dalam pembuatan karya besar, kita tidak bisa hanya mengandalkan idealisme atau perasaan," ujar Galang.
"Hal paling krusial adalah dana. Terkadang tim kreatif bahkan tidak punya hak suara dalam pemilihan pemain."
Di industri hiburan yang gemerlap ini, investor adalah kaisar.
"Kita?" lanjut Galang lirih. "Kita hanyalah pelayan yang harus patuh."
Hati Kirana terasa hancur, seolah batu besar dijatuhkan ke dasar laut paling dalam.
Napasnya sesak.
'Apakah aku benar-benar sudah digantikan? Kalau iya, kenapa Merry menyuruhku tetap datang ke lokasi syuting hari ini?' pikirnya gelisah.
"Ketua Hendrawan memang mencariku tadi malam. Dia merasa kau terlalu hijau, terlalu baru di industri ini. Jadi mereka tidak setuju menggunakanmu. Namun…"
Galang berhenti.
Kirana menggigit bibir.
'Tidak bisakah kau bicara langsung tanpa menggantung perasaanku?'
"Tapi kau sangat beruntung, Kirana. Ada investor lain yang sangat terkesan dengan penampilanmu. Jadi pastikan kau memberikan yang terbaik. Jangan mengecewakan mereka."
"Apa? Saya tidak jadi dikeluarkan dari proyek ini?"
Perasaan Kirana langsung terangkat tinggi, seolah baru saja diseret keluar dari jurang.
"Sutradara Galang! Anda hampir membuat saya kena serangan jantung!" keluhnya kesal namun lega.
"Hahaha. Anak muda zaman sekarang rapuh sekali mentalnya," canda Galang.
"Tolong jelaskan sekali lagi dengan jelas. Saya diganti atau tidak?"
"Kau belum digantikan. Sama sekali belum. Investor baru itu menanamkan modal enam puluh miliar rupiah. Jumlah itu jauh melampaui gabungan investasi keluarga Yudhoyono dan Starlight Entertainment. Secara otomatis, dia sekarang memegang kendali penuh dan berhak menentukan keputusan akhir."
"Bukankah sejak awal investornya hanya keluarga Yudhoyono dan Starlight Entertainment? Dari mana datang investor ketiga?"
'Siapa yang mau menggelontorkan uang sebesar itu di saat terakhir?' batin Kirana.
"Dananya masuk tepat sebelum rapat keputusan. Nanti kau juga akan tahu siapa orangnya," jawab Galang riang, seolah baru mendapat napas baru.
Total anggaran produksi kini membengkak menjadi seratus sepuluh miliar rupiah.
Anggaran fantastis untuk ukuran drama televisi.
Terlebih, investor itu secara spesifik menyukai akting Kirana. Artinya posisinya kini sangat aman. Ia tidak mungkin diganti hanya karena keinginan Hendrawan.
Meski begitu, tanda tanya besar masih menggantung di kepalanya.
Siapa sebenarnya investor misterius itu?
"Baik! Terima kasih banyak, Sutradara! Saya tidak akan mengecewakan Anda!"
Begitu telepon ditutup, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Seorang anak kecil berambut agak gondrong dan sedikit berantakan muncul dengan mata masih mengantuk.
Kael.
Kirana refleks berteriak kecil lalu bergegas memeluknya. Ia menciumi pipi gembul bocah itu berkali-kali.
"Sayang! Kau bintang keberuntunganku! Tante tidak jadi pengangguran! Tante tetap bisa syuting!" serunya penuh kegembiraan.
Di luar kamar, dari kejauhan, Bryan Santoso berdiri mematung.
Wajahnya murung saat melihat Kirana menciumi putranya dengan hangat.
Ada sesak aneh di dadanya.
Padahal alasan di balik kebahagiaan Kirana sepenuhnya adalah campur tangan rahasianya.
'Lupakan. Selama aku bisa melihat senyumnya kembali, itu sudah cukup,' pikir Bryan.
Ia lalu berjalan mendekat.
"Kenapa kau terlihat begitu bahagia pagi ini?" tanyanya tenang.
Kirana masih memeluk Kael.
"Sutradara baru saja menelepon! Katanya aku tidak digantikan! Ada investor terbesar yang sangat terkesan dengan kemampuanku!"
"Begitu? Selamat," jawab Bryan datar, seolah tak tahu apa-apa.
Kirana melepaskan pelukan, mengusap dagunya.
"Tapi anehnya, Sutradara tidak mau memberi tahu siapa dia. Yang jelas, orang itu pasti punya selera luar biasa, mata yang jeli melihat bakat… dan pasti sangat tampan."
Senyum tipis terukir di bibir Bryan.
"Benarkah kau berpikir begitu?"
"Tentu saja."
Namun tiba-tiba wajahnya meredup.
"Tapi… aku mungkin akan berada di lokasi syuting seharian. Kadang sampai malam. Lalu bagaimana dengan Kael?"
Bryan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap putranya.
Seolah mengerti, Kael berlari ke kamarnya.
Kirana langsung tegang. Ia mengira bocah itu akan mengunci diri lagi.
Namun beberapa saat kemudian, Kael kembali membawa tablet.
Di layar tertulis satu kata besar:
SEMANGAT!
Mata Kirana langsung memanas.
"Terima kasih, sayang. Kau benar-benar malaikat pelindung Tante."
Bryan memandang mereka.
Untuk pertama kalinya, ada kelembutan asing di matanya saat menyaksikan pelukan tulus itu.
-+++-
Proses syuting akhirnya resmi dimulai hari ini di MNC Studios, Jakarta. Kompleks studio besar itu tampak sibuk oleh lalu-lalang kru dan peralatan teknis yang megah.
Adegan pertama yang direkam adalah jamuan kerajaan di pendopo istana.
Dalam cerita, sang Raja menerima utusan dari negeri seberang. Pangeran Ketujuh, Cakra Bima yang diperankan aktor Raka Pramudya, bersama selir liciknya Yenara yang diperankan oleh Aruna Yudhoyono, terlibat adu kecerdasan sengit dengan para utusan tersebut.
Karakter Kirana—Laura alias Putri Laura Diah—hanya mendapat porsi kecil dalam adegan besar ini. Ia diminta duduk anggun di sisi singgasana, menjadi hiasan istana yang menawan sekaligus pendiam.
Walau porsinya minim, tantangan fisiknya tidak main-main.
Busana adat kerajaan yang terdiri dari banyak lapisan kain harus ia kenakan di tengah panasnya Jakarta dan sengatan lampu studio. Pendingin ruangan yang tersedia nyaris tak membantu.
Kostum Kirana jauh lebih rumit dibanding pemain latar lain. Kain tebal bertumpuk, dodot panjang menjuntai, kemben berlapis yang ketat, ditambah mahkota emas berhias manik-manik seberat beberapa kilogram.
Baru satu kali pengambilan gambar, punggungnya sudah basah kuyup oleh keringat. Namun dari luar, tak seorang pun menyadarinya. Ia tetap menjaga postur sempurna, seolah tubuhnya tidak sedang tersiksa.
Tiba-tiba suara lantang memecah suasana.
"Cut!"
Dua asisten Aruna langsung bergegas menghampiri sang aktris. Satu orang mengipasinya dengan kipas lipat besar, sementara yang lain menyerahkan air mineral dingin. Bahkan kursi istirahat Aruna sudah dilengkapi bantalan pendingin khusus.
Berbanding terbalik dengan itu, Kirana tidak memiliki asisten pribadi. Ia bahkan belum sempat meneguk air sejak syuting dimulai berjam-jam lalu.
Karena masih harus lanjut ke adegan berikutnya, ia juga tidak diizinkan melepas kostum berat itu. Ia hanya bisa sedikit melonggarkan bagian leher agar angin tipis menyentuh kulitnya yang memerah.
Di depan monitor, semua orang memuji akting Aruna. Sutradara Galang mengangguk puas melihat performanya yang stabil.
Namun beberapa detik kemudian, perhatian Galang beralih ke layar yang menampilkan close-up Kirana.
Meski tanpa dialog dan hanya muncul sekilas, ekspresi Kirana luar biasa. Ia tampak santai, nyaris bosan dengan hiruk-pikuk jamuan.
Namun di balik tatapan matanya yang tajam, tersimpan kesan meremehkan sekeliling—seolah ia penguasa bayangan yang mampu menjatuhkan kerajaan hanya dengan satu jentikan jari.
Kekhawatiran Galang tentang kemampuan aktingnya lenyap seketika.
Tiba-tiba keheningan lokasi pecah oleh teriakan antusias asisten produksi.
"Mbak Aruna, lihat! Pacar Anda datang!"
Semua orang langsung tahu siapa yang dimaksud.
Dengan pakaian kasual bermerek yang kontras dengan kostum kerajaan di sekitarnya, Aditya Pratama melangkah masuk. Dua staf mengikuti di belakang sambil membawa kotak-kotak besar berisi es krim premium untuk dibagikan kepada kru.
"Wow, Haagen-Dazs! Terima kasih, Pak Aditya!"
"Mbak Aruna beruntung banget, hari pertama syuting langsung dijenguk pacar setampan ini!"
"Romantis banget sih, jadi iri!"
Suara pujian dan gosip memenuhi ruangan.
"Kenapa mulut kalian masih saja mengoceh saat makan es krim?" Aruna pura-pura cemberut manja, padahal dalam hati ia menikmati perhatian itu.
Dengan langkah anggun, ia mengambil satu cup es krim lalu menghampiri Kirana.
"Kak Kirana, silakan. Ini dari Bang Aditya untuk menyegarkan suasana."
"Terima kasih." Kirana menerimanya dengan sopan.
Ia tahu betul wanita di depannya tidak pernah bosan berperan sebagai malaikat baik hati—terutama saat Aditya ada. Melihat sandiwara itu sebenarnya melelahkan.
Untungnya, keahlian utama Kirana adalah berakting.
Jadi ia sama sekali tak keberatan ikut memainkan peran kecil ini demi menjaga ketenangan lokasi.
Setelah kembali duduk di samping Aditya, Aruna menatap pria itu dengan ragu, seolah memendam sesuatu.
"Bang Aditya… sebenarnya aku sedikit khawatir tentang Kak Kirana…"
"Kenapa? Ada apa?" tanya Aditya cepat, nada penasarannya sulit disembunyikan.
"Kau tahu acara pembukaan di hotel tadi malam? Papa datang dan melihat Kak Kirana di sana."
"Aku tidak tahu apa yang dia katakan sampai membuat Papa marah besar. Papa bahkan sempat bicara soal rencana mengeluarkan Kak Kirana dari proyek ini secara paksa…"
"Bagaimana bisa begitu? Kenapa Kirana melakukan itu?" dahi Aditya berkerut.
"Aku juga tidak tahu pasti. Saat aku mencoba menenangkan Papa, wajah beliau sudah merah padam karena marah."
"Lalu sekarang apa yang terjadi? Sepertinya Kirana tidak jadi dikeluarkan?" Aditya melirik ke arah Kirana di kejauhan.
Wanita itu tampak fokus membaca naskah. Peluh mengalir di pelipisnya, wajahnya agak pucat di bawah lampu rias yang tajam. Namun anehnya, justru itu membuat auranya semakin menarik di mata Aditya.
Aruna tampak semakin ragu, taktik halus untuk membuatnya makin penasaran.
"Papa memang menelepon tim produksi tadi malam. Awalnya mereka sudah setuju mengganti pemain. Tapi pagi ini tiba-tiba ada investor misterius menanamkan enam puluh miliar rupiah."
"Syaratnya cuma satu: Kirana harus tetap memerankan Putri Laura Diah… Aku hanya khawatir…"
Wajah Aditya mengeras. Ia terdiam lama sebelum akhirnya berkata pelan,
"Aku sudah mengenal Kirana lama, Aruna. Dia bukan tipe wanita yang melakukan hal rendah demi posisi."
"Bang Aditya… kau terlalu naif melihat dunia ini. Kau tahu sendiri betapa gelapnya industri hiburan. Siapa yang bisa menjamin seseorang tidak berubah setelah masuk ke lingkaran itu?"
"Aku beruntung punya Papa dan kau yang selalu mendukungku. Tapi Kak Kirana…"
Ia berhenti sengaja, memberi jeda dramatis.
"Kak Kirana tidak dekat dengan keluarganya. Dia juga selalu menolak bantuan kita. Bang Adit pasti tahu apa yang biasanya dialami gadis cantik tanpa uang, tanpa kekuasaan, tanpa pengaruh… Apa yang harus dia korbankan demi dukungan investor enam puluh miliar?"
Nada Aruna terdengar simpati, tetapi menyisakan racun.
Aditya terdiam. Kecurigaan perlahan tumbuh di benaknya.
"Mbak Kirana, ada seseorang di depan yang mencarimu!" teriak Lila dari kejauhan.
Kali ini suaranya jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya.
Pada saat itu, hampir semua orang di lokasi syuting menoleh ke arah pintu masuk. Bukan tanpa alasan—apa yang datang kali ini terlalu mencolok untuk diabaikan.
Mawar merah.
Ratusan, bahkan mungkin ribuan tangkai mawar segar perlahan dibawa masuk oleh para petugas pengirim bunga.
Dalam hitungan detik, studio yang tadinya terasa kering dan berdebu berubah menjadi lautan merah yang harum. Pemandangan itu terasa absurd di tengah suasana kerja yang penuh kabel dan lampu sorot.
Kirana berdiri mematung sambil memegang kartu kecil yang terselip di antara bunga-bunga itu.
Wajahnya yang semula cerah mendadak pucat.
Di kartu itu hanya ada satu kalimat pendek:
Ingatlah untuk menjemputku — Raja Peri Jahat.
"Nona Kirana, mohon tanda tangani bukti pengiriman ini," ujar salah satu kurir sopan.
"Ini… tidak bisa saya tolak saja? Kalau dibiarkan di sini, bunga-bunga ini akan mengganggu pekerjaan kru," kata Kirana hati-hati, meski jantungnya berdegup kencang.
"Mohon maaf, Nona. Kami sudah berjanji kepada pelanggan bahwa kami baru boleh pergi setelah Anda menandatangani tanda terima secara langsung."
Kurir itu tampak gugup, jelas takut gagal menyelesaikan tugas dari klien kelas atasnya.
Di samping Kirana, manajer properti buru-buru menimpali, "Terima saja, Kirana. Tidak masalah. Kebetulan kita memang butuh banyak mawar asli untuk adegan taman istana nanti."
"Justru ini membantu anggaran properti kita," tambahnya antusias.
Karena sudah diberi izin dan tak ingin mempersulit kurir, Kirana menghela napas panjang. Ia memijat pelipisnya sebentar, lalu akhirnya menandatangani tanda terima itu.
Sekitar mereka, bisik-bisik langsung bermunculan.
"Ya ampun… banyak banget mawarnya!"
"Romantis banget sih… kira-kira siapa yang ngirim?"
"Pasti pengagum rahasia superkaya. Hari pertama syuting saja sudah dapat ribuan bunga!"
Dari pojok ruangan, Vidya—asisten Aruna—menyela santai dengan nada sinis, "Kelihatannya saja banyak. Kalau beli borongan di pasar bunga, sebenarnya tidak mahal kok."
Namun belum ada yang sempat menanggapi, seorang pria lain masuk ke studio.
Ia berpakaian formal rapi dan membawa sebuah kotak kecil berbalut beludru hitam.
"Kirana," katanya sopan sambil menyerahkan kotak itu.
Semua orang langsung menahan napas, penasaran.
Kirana membuka kotak itu perlahan dengan ekspresi waspada.
Begitu tutupnya terangkat—
Cahaya berkilau langsung memantul.
Di dalamnya terletak sebuah berlian besar yang memancarkan kilap menyilaukan.
Di sampingnya ada kartu kecil bertuliskan tiga kata:
Lama tidak bertemu.
Di bawahnya hanya ada inisial:
YS.
Wajah Kirana yang sudah pucat kini berubah muram.
'Sial. Jadi mereka berdua memang sengaja menjebakku?' batinnya kesal. 'Aku cuma ingin bekerja dengan tenang. Kenapa mereka harus muncul bersamaan begini…'
Ia mengenali keduanya.
Dua pengirim itu berasal dari masa lalu yang ingin ia kubur sedalam mungkin—mantan kekasihnya saat masih tinggal di luar negeri.
Belum setengah hari syuting berjalan, Kirana sudah menerima ribuan bunga dan berlian mahal.
Gosip kru pun meledak.
"Astaga, itu berlian asli?"
"Gede banget!"
"Level pengagumnya bukan main ya…"
Bahkan Vidya kali ini tak bisa menjatuhkan Kirana secara terbuka. Ia hanya berbisik sinis, "Siapa tahu cuma kaca murah."
Kirana duduk lesu di kursinya. Bahunya merosot.
Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja menerima pengumuman kiamat pribadi.
Masa lalu yang ia hindari akhirnya datang mengetuk pintu.
Ia menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah sutradara.
"Maafkan saya, Sutradara Galang. Saya benar-benar tidak bermaksud mengganggu pekerjaan kru dengan kiriman-kiriman ini…"
Galang justru tertawa santai.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Wajar kalau wanita secantik kamu punya banyak pengagum fanatik. Lagi pula bunga-bunganya bisa kita pakai sebagai properti gratis."
Tidak jauh dari sana, Aruna berdiri dengan senyum elegan.
Namun di balik wajah tenangnya, rahangnya mengeras.
Cemburu mendidih di dadanya.
Bagaimana mungkin gadis yang dulu ia anggap remeh sekarang dipuja pria-pria berkuasa?
Sementara ia sendiri harus berjuang lewat intrik demi perhatian yang sama.
Sebelum adegan berikutnya dimulai, Kirana menjauh dari kerumunan dan mencari sudut sepi. Ia menekan ikon panggilan di ponselnya.
"Hei, sayang. Kiriman spesialku sudah sampai?" suara pria di seberang terdengar santai dan menggoda.
"Yono! Persetan dengan bunga konyolmu itu!" desis Kirana. "Kau sengaja mau mempermalukanku, ya?"
"Hahaha. Kau wanita pertama yang dapat ribuan mawar dariku. Bukannya berterima kasih, malah marah. Sedih sekali aku."
"Jangan alihkan topik. Apa maumu sebenarnya?"
"Aku cuma mau mengingatkan janjimu menjemputku di bandara nanti."
"Kau masih berani minta itu setelah kekacauan ini?" Kirana mengertakkan gigi. "Jangan-jangan kau ingin aku datang bawa golok empat puluh meter."
"Galak sekali. Jadi kau mau ingkar janji?"
"Syarat awalku menjemputmu adalah kalau kau memberi pinjaman delapan belas koma empat miliar. Sekarang aku tidak butuh lagi. Masalah investasiku sudah selesai. Aku juga sudah kirim pesan padamu."
"Aku tidak peduli pesanmu. Kau sudah berjanji. Aku bahkan sudah mempercepat proses pencairan dana supaya bisa kau pakai."
Suaranya berubah dingin.
"Kau paling benci berutang budi, kan? Menurutmu ini bukan utang budi?"
Kirana menekan dahinya yang berdenyut sambil mondar-mandir.
"Aku tidak akan bahas soal trik bungamu," katanya. "Tapi kau tahu jadwal kepulanganmu bulan depan sudah bocor. Fans dan media pasti memenuhi bandara."
"Kau mau aku muncul di tengah kerumunan itu? Mau aku dicabik hidup-hidup?"
Hening sebentar.
"Atau…" lanjut Kirana tajam, "kau masih dendam karena aku mencampakkanmu dulu?"
"Begitu pikiranmu?" Yono tertawa pelan. "Padahal aku justru memberimu kesempatan terkenal dalam semalam."
"Ada banyak aktris kecil yang bermimpi dapat kesempatan seperti ini."
"AKU TIDAK BUTUH TERKENAL DENGAN CARA ITU!"
"Baiklah," suara Yono mendadak dingin. "Kalau kau tidak datang, aku sendiri yang akan mengumumkan ke media bahwa kau mencampakkanku dengan kejam."
Dada Kirana terasa sesak.
"Aku tidak peduli kalau harus kehilangan muka. Yang penting semua orang tahu betapa kejamnya dirimu," lanjutnya tenang—terlalu tenang.
"Kau benar-benar gila…" bisik Kirana.
Kesalahan terbodoh dalam hidupnya adalah pernah berpacaran dengan pria bernama Yono Barsa.
"Kirana kecilku," katanya lembut, "kau pikir aku tidak tahu cara menghadapi keras kepalamu?"
Kirana tersenyum tipis.
Senyum pasrah yang berbahaya.
"Baik. Aku akan menjemputmu. Puas?"
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan pelan,
"Tapi jangan menyesal nanti."
Sebenarnya, ia tahu menghadapi pria seperti Yono tidak sulit jika ia berpikir dingin. Yono hanya terluka harga dirinya karena dicampakkan. Ia cuma ingin membuat masalah kecil untuk melampiaskan ego.
Yang jauh lebih berbahaya justru pria berinisial YS—pengirim berlian tadi.
'Lupakan dulu,' pikirnya lelah. 'Selalu ada jalan keluar.'
"Mbak Kirana, ada seseorang lagi yang mencarimu di depan—"
Suara Lila tiba-tiba terdengar lagi dari kejauhan.
Kali ini, Kirana benar-benar ingin melarikan diri dari studio itu dan menghilang dari muka bumi.
'Siapa lagi sekarang? Kenapa hari ini semua orang seolah bersekongkol mencariku bersamaan? Apa wajahku baru saja dipasang di poster buronan se-Jakarta?' batin Kirana, kelelahan mental dan fisik.
Penderitaannya hari ini ternyata belum berakhir.
Semua kru di lokasi syuting kembali bersemangat dan penuh rasa ingin tahu. Mereka bertanya-tanya apakah kiriman kali ini akan lebih mewah daripada ribuan mawar atau berlian besar sebelumnya.
Di salah satu sudut ruangan, Vidya menatap dengan ekspresi jijik tanpa berusaha menyembunyikannya.
"Dasar orang-orang tua murahan! Mereka cuma tahu cara menghambur-hamburkan uang demi aktris baru! Selera rendah!"
"Nona Kirana... saya... halo!" Seorang gadis muda berpakaian sederhana muncul di hadapan Kirana.
Wajahnya malu-malu, bahkan tampak gugup, seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar yang tak terampuni.
Melihat wajah polos dan ketakutan itu, amarah Kirana yang sempat memuncak langsung mereda. Ia merasa pernah melihat gadis ini sebelumnya.
"Tidak apa-apa. Jangan takut. Kau mencariku untuk mengantarkan sesuatu?" tanya Kirana selembut mungkin, walau kelelahan masih terasa jelas di suaranya.
"Iya, saya diperintah membawakan ini untuk Anda." Gadis itu membuka wadah yang ternyata kotak pendingin putih bersih.
Saat tutupnya terangkat, uap dingin mengepul keluar. Di dalamnya ada tiga botol kaca cantik berisi cairan merah, kuning, dan hijau pekat.
"Ini... apa?" Bibir Kirana berkedut. Karena terlalu banyak menonton drama intrik istana untuk pendalaman peran, reaksi pertamanya justru waspada.
'Jangan-jangan ada yang mau meracuniku di hari pertama syuting?' batinnya.
"Ini minuman buatan Tuan Muda Kecil kami. Ada jus semangka segar, jus jeruk, dan jus kacang hijau dingin," jelas gadis itu sopan.
"Siapa sebenarnya Tuan Muda kalian?" dahi Kirana berkerut. Ia mencoba mengingat apakah pernah mengenal tuan muda kaya dengan hobi unik membuat jus.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk catatan kecil yang ditempel di salah satu botol.
Begitu membaca catatan itu, Kirana menemukan satu kalimat yang ditulis dengan tangan mungil, sedikit kaku namun rapi:
"SEMANGAT, TANTE KIRANA!"
Di bawahnya terdapat gambar hati merah kecil yang digambar dengan sangat hati-hati.
Seketika, Kirana bisa membayangkan wajah Kael yang pasti tersipu sambil mengerucutkan bibir mungilnya dengan ekspresi serius saat menggambar hati itu.
"Ini... dari Harta Kecilku..." gumamnya pelan.
Sorot mata Kirana yang tadinya tajam penuh kewaspadaan berubah lembut dan hangat. Suasana hatinya yang sempat kacau karena ulah Yono dan YS langsung mereda, digantikan ketenangan yang dalam.
Awalnya, ia khawatir tampil terlalu mencolok di awal kembalinya ke dunia hiburan.
Ia takut memicu gosip, kecurigaan rekan kerja, atau masalah yang tidak perlu.
Namun sekarang, setelah melihat ketulusan Kael, pikirannya berubah. Mengapa ia harus terus memikirkan pendapat orang-orang yang bahkan tidak peduli pada kebahagiaannya?
Jika ia terus hidup dalam ketakutan terhadap penilaian orang lain di industri sekejam ini, bukankah hidupnya hanya akan habis untuk kelelahan sia-sia?
Dulu, karena terlalu memikirkan pandangan kaum elit yang meremehkannya, sikap dingin orang tua kandungnya, dan perasaan Aditya, ia tanpa sadar kehilangan kepercayaan diri serta jati dirinya.
Ia pernah menjadi rapuh.
Pemahaman itu sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak ia kembali ke Indonesia. Hanya saja, rentetan kejadian hari ini sempat menggoyahkan prinsipnya lagi.
Sekarang ia sadar.
Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Ia harus melangkah maju dengan hati nurani bersih.
Suatu hari nanti, ia akan membuktikan pada semua orang bahwa posisinya saat ini diraih murni karena kekuatan dan bakatnya—bukan belas kasihan, bukan uang siapa pun.
Kirana tersenyum tulus sambil memegang botol jus dari Kael.
Ia tahu, mulai sekarang ia hanya akan berjuang demi orang-orang yang benar-benar peduli dan mencintainya dengan tulus.
Bersambung...