NovelToon NovelToon
Still You

Still You

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.

Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.

Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.

Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.

Still you.

Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Pria, Satu Wanita

Kantor pusat Calié Group, siang itu.

Cali sedang menjelaskan konsep campaign terbaru di ruang meeting kecil.

Kenzy duduk di sebelahnya.

Arka duduk di seberang.

Suasana… profesional.

Di permukaan.

“Untuk campaign musim ini, kita akan pakai konsep ‘Timeless Confidence’,” jelas Cali.

Kenzy mengangguk.

“Aku sudah siapkan shortlist model pria untuk jadi visual pair kamu.”

Arka yang sejak tadi diam, akhirnya bicara pelan.

“Model pria?”

Nada datar.

Kenzy santai.

“Ya... Supaya terlihat balance. Market sekarang suka visual chemistry.”

Arka mengangguk kecil.

“Tidak perlu.”

Kenzy tersenyum tipis.

“Kenapa?”

Arka menatap lurus. Tenang sekali.

“Brand itu sudah cukup kuat berdiri sendiri.”

Jeda satu detik.

“Dan wajah Cali tidak perlu didampingi siapa pun untuk terlihat dominan.”

Arka mengedipkan satu matanya pada Cali dan tersenyum miring.

Cali menghela napas pertama hari itu.

Kenzy menahan senyum.

“Baiklah. Kalau begitu mungkin kita bisa pakai saya saja untuk sample shoot internal.”

Arka menoleh perlahan.

“Maaf?”

Kenzy santai.

“Hanya untuk konsep. Supaya fotografer punya referensi.”

Arka menyandarkan punggung.

Senyumnya muncul.

Oh, itu senyum yang penuh rencana.

“Silakan.”

Kenzy mengangkat alis.

“Silakan?”

Arka mengangguk.

“Supaya saya bisa lihat… angle mana yang harus saya evaluasi ulang.”

Cali memijat pelipis.

Ini meeting atau arena gladiator?

Esoknya mereka mulai pemotretan

 Studio kecil di lantai atas.

Fotografer sedang mengatur kamera.

Kenzy berdiri di samping Cali untuk contoh pose.

Tidak menyentuh.

Hanya berdiri agak dekat.

Arka berdiri di belakang kamera.

Tangannya terlipat.

Tatapan?

Tidak berkedip.

“Lebih dekat sedikit, Pak Kenzy,” kata fotografer.

Kenzy mendekat setengah langkah.

Arka tersenyum tipis.

“Cukup.”

Fotografer bingung.

“Tapi, Pak”

“Saya bilang Cukup....”

Nada masih sopan.

Tapi aura ruangannya berubah 2 derajat lebih panas.

Kenzy kali ini sengaja.

“Cali, boleh saya pegang tangan kamu? Supaya lebih natural.”

Cali baru mau jawab.

Arka berjalan mendekat.

Tanpa banyak kata…

Ia berdiri di sisi Cali.

Lalu, dengan gerakan santai, mengambil tangan Cali.

Mengangkatnya sedikit.

Menatap fotografer.

“Seperti ini maksudnya?”

Hening.

Studio mendadak sunyi.

Kenzy berkedip sekali.

Cali membeku.

Arka masih cool.

Tangannya hangat.

Genggamannya mantap.

Terlalu natural.

Fotografer tergagap.

“I-itu… bagus, Pak.”

Klik.

 Foto terambil.

Kenzy tertawa kecil.

“Wah, ternyata Tuan Wiryamanta punya bakat modeling.”

Arka menatapnya.

“Tidak.”

Jeda.

“Saya hanya tidak suka orang lain belajar memegang sesuatu yang bukan miliknya.”

BOOM.

Cali langsung menarik tangannya.

“Bisa nggak kalian profesional sedikit...sedikit aja!”

Ia memandang keduanya.

“Ini kantor, bukan taman kanak-kanak.”

Kenzy tersenyum tak bersalah.

Arka memasukkan tangan ke saku.

Cool lagi.

Seyelah semuanya beres , pemotretan selesai Cali hendak kembali ke ruangannya.

Cali berjalan di lorong, menghela napas panjang.

Arka mendekat.

“Kamu marah?”

“Harusnya siapa yang marah?”

Arka menatapnya serius.

“Aku tidak suka dia terlalu dekat.”

"Kenzy itu partner ku, kami berdua sudah sejalan selama tiga tahun ini."

“Kenzy hanya bekerja.”

Arka mendekat satu langkah.

“Aku juga.”

Nada rendah.

Bergetar tipis.

“Bedanya… aku menahan diri.”

Cali menahan napas.

Dari jauh, Kenzy melihat mereka.

Ia tersenyum kecil.

Lalu berkata pelan pada dirinya sendiri,

“Jadi ini yang namanya… api yang belum padam.”

 Besoknya...

Kenzy datang membawa kopi untuk Cali.

“Americano, tanpa gula. Seperti biasa.”

"Wah...Tahu aja...aku sedang membutuhkannya" ucap Cali sumringah

Sebelum Cali mengambil,

Tangan lain sudah lebih dulu menyambar.

Arka.

Ia melihat label gelas, memeriksanya.

Lalu menyerahkannya ke Cali.

“Sudah saya cek. Aman.”

Cali menatapnya.

“Kamu kira dia racuni aku?”

Arka menatap Kenzy.

“Belum tentu.”

Kenzy hampir tertawa keras.

Cali benar-benar memegang dahinya sekarang.

Dua pria dewasa.

Sama-sama sukses.

Sama-sama elegan.

Tapi kalau soal Cali?

IQ turun 20 poin.

1
Azahra Wicaksono
👏👏 happy ending 🥰
Retno Isusiloningtyas
aaaaaaa.....
😭😭😭
Azahra Wicaksono
bagus banget thorr nangis aku tuh😭 kasian Aurora
Azahra Wicaksono
suka banget visualnya thorrr😍
Agustin Hariyani: terimakasih readers ku...
total 1 replies
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr👍
Azahra Wicaksono
seru bangettt thorrr, lanjutttt
Azahra Wicaksono
suka bangetttt😍
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!