NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asisten yang Hebat

Dari kejauhan Manajer hotel mendekati dan menyambutnya dengan wajah pucat pasi.

​"Kami sudah melakukan apa yang Anda perintahkan," lapor sang manajer dengan suara pelan bergetar.

​Frans melangkah lebar menuju kamar 105, sampai disana ia melewati garis pembatas, masuk sambil memakai sarung tangan. Bau sisa alkohol dan aroma kimia yang tajam menusuk penciumannya. Di atas tempat tidur, tubuh kaku mata-matanya, Siska terbaring dengan mata melotot dan busa di sudut bibir.

​Frans mendekat, ia tidak merasa jijik sedikit pun. Ia justru menemukan sesuatu yang janggal. Di tangan Siska yang mengepal erat, terdapat helaian halus robekan kain yang sangat ia kenal.

​Ia segera mengirimkan foto robekan kain itu kepada Brian. Pesannya singkat. "Mereka meninggalkan bukti, Tuan. Serigala itu sudah masuk ke kandang kita."

​Brian berjalan, berdiri mematung di dekat jendela, matanya menelisik ke setiap penjuru ruangan, mencoba mencari petunjuk yang mungkin terlewatkan. Samar-samar, ia mendengar percakapan dari tim forensik yang sedang memeriksa jenazah di atas tempat tidur.

​"Wanita malang ini sempat melawan dengan hebat. Lihatlah, kuku-kukunya bahkan sampai mengelupas karena mencoba berontak," ujar salah satu petugas forensik dengan nada prihatin.

​Frans, yang berdiri tak jauh dari sana, seketika memejamkan mata. Rahangnya mengeras, mencoba menahan gejolak emosi dan rasa bersalah yang menghantam dadanya. Ia tak sanggup lagi mendengar kenyataan pahit tentang penderitaan wanita yang selama ini setia bekerja untuknya itu.

​Tanpa sepatah kata pun, Frans berbalik dan melangkah keluar dari kamar, diikuti oleh manajer hotel yang tampak gelisah. Di lorong yang sunyi, manajer itu menyerahkan sebuah flashdisk berisi salinan rekaman CCTV kepada Frans.

​"Ini bukti yang Anda minta, Tuan Frans," ucap manajer itu dengan suara berbisik.

​Frans menyambar benda itu, lalu bergegas menuju lobi. Ia langsung masuk ke dalam mobil pengganti yang sudah disiapkan oleh pihak manajemen hotel, siap untuk memburu siapa pun yang bertanggung jawab atas kekejian ini.

...***...

Di dalam mobil yang melaju membelah sisa malam, Frans segera membuka laptopnya. Tangannya sedikit gemetar saat memasukkan flashdisk dari manajer hotel tadi. Layar menunjukkan koridor lantai 105 yang remang-remang.

​Frans memajukan durasi rekaman dengan teliti. Matanya tidak berkedip, hingga tiba pada pukul 22.15. Seorang pria bertubuh tegap dengan topi hitam yang menunduk dalam terlihat keluar dari kamar Siska.

Langkahnya tenang, seolah tidak melakukan pembunuhan keji.

​Frans menghentikan gambar tepat saat pria itu melewati kamera di sudut lorong. Meski wajahnya tertutup masker dan topi, ada satu detail yang membuat napas Frans tertahan. Di pergelangan tangan pria itu, terdapat sebuah tato berbentuk kalajengking dengan ekor yang melilit, sebuah simbol yang sangat ia kenal.

​"Kau..." desis Frans dengan suara rendah yang penuh dendam.

​Ia segera mengambil ponselnya, memotret layar laptop tersebut, dan mengirimkannya kepada Hendra melalui pesan singkat.

​'Aku menemukan ekor kalajengking itu lagi, Tuan. Dia pelakunya. Kita tidak hanya berurusan dengan pembunuh bayaran biasa.'

Frans menyandarkan punggungnya di kursi mobil, menatap kosong ke arah layar laptop yang baru saja ia tutup. Pikirannya melayang jauh ke beberapa tahun silam. Ia baru menyadari satu hal penting. Tuan Adrian Aditama pernah menjalin kerja sama besar dengan seorang pengusaha misterius. Saat itu, semuanya tampak legal, namun belakangan Frans baru mengetahui bahwa pria itu ternyata adalah pemimpin sebuah kartel yang sangat berbahaya.

​"Pantas saja tidak ada satu pun bukti yang tertinggal saat kematian Tuan Adrian dulu," gumam Frans dengan rahang mengeras.

​Frans kini yakin sepenuhnya. Hilangnya bukti-bukti kematian Adrian Aditama bukan karena ketidaksengajaan. Ini adalah rencana yang sangat rapi. Ia menduga kuat bahwa ada keterlibatan antara jaringan kartel tersebut dengan seseorang di lingkaran terdekat Adrian sendiri. Seorang pengkhianat yang bermain cantik.

​Siska, mata-matanya, baru saja dibungkam karena mungkin dia sudah hampir menemukan kebenaran itu.

"Kalian pikir bisa menghapus jejak selamanya?" Frans tersenyum sinis, sebuah senyum yang menjanjikan pertumpahan darah. "Jika tidak ada bukti yang kalian tinggalkan, maka alu sendiri yang akan memaksa kalian menjadi bukti itu."

​​Sinar matahari pagi mulai menembus kaca mobil mewah yang membawa Brian menuju kantor pusat. Di sampingnya, Hendra tangan kanan kepercayaannya duduk dengan sigap.

Brian baru saja membaca pesan yang dikirimkan Frans semalam. Matanya meredup saat membaca profil keluarga Siska.

​"Hendra," panggil Brian tenang namun tegas. "Pastikan keluarga Siska mendapatkan tunjangan seumur hidup. Berikan perhatian khusus pada suaminya yang lumpuh dan biaya pendidikan anaknya sampai lulus kuliah. Jangan sampai mereka kekurangan satu sen pun."

​Hendra mencatat perintah itu dengan patuh. Brian tidak ingin kematian orang-orang setianya berakhir sia-sia.

​Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan gedung pencakar langit Aditama Group. Di lobi utama, Frans sudah menunggu dengan wajah kaku. Begitu Brian melangkah masuk, suasana seketika berubah mencekam. Semua jajaran direksi dan staf menunduk hormat, tak berani menatap langsung mata pria itu.

​Publik mengenal Brian sebagai aktor papan atas yang penuh pesona, namun di dalam gedung ini, ia adalah sosok yang sama sekali berbeda. Begitu mengambil alih kepemimpinan Aditama Group, Brian berubah menjadi pria yang tegas, disiplin, bahkan cenderung kejam bagi siapa pun yang berani bermain-main dengannya.

​Brian berjalan melintasi lobi dengan langkah mantap. "Ke ruang rapat sekarang, Frans. Aku ingin mendengar laporan lengkap mu tentang kartel itu," perintahnya tanpa menoleh, auranya mendominasi seluruh ruangan.

Pintu ruang rapat VIP tertutup rapat, hanya menyisakan Brian, Frans, dan Hendra di dalam ruangan yang kedap suara itu. Brian duduk di kursi kebesarannya, menatap tajam ke arah layar besar yang menyala.

​"Jelaskan padaku, Frans. Siapa tikus yang berani membuka pintu untuk kartel itu?" suara Brian terdengar rendah, namun penuh ancaman.

​Frans membuka sebuah berkas digital. "Berdasarkan rekaman CCTV dan data transaksi yang dihapus secara paksa, kartel ini tidak mungkin masuk tanpa akses dari dalam, Tuan. Mereka adalah jaringan 'Black Scorpio' pengusaha misterius yang dulu sempat bekerja sama dengan Tuan Adrian."

​Frans kemudian menampilkan foto tiga orang petinggi Aditama Group di layar. "Ada tiga orang yang berada di posisi teratas daftar kecurigaan saya. Dermawan dari divisi keuangan, Rizal sang kepala operasional, dan Syarif dari dewan komisaris."

​Brian menyipitkan matanya, memperhatikan satu per satu wajah di layar. "Alasannya?"

​"Darmawan melakukan transfer dana gelap ke rekening luar negeri dalam sebulan terakhir. Rizal adalah orang yang mengatur jadwal pengamanan hotel saat Siska terbunuh. Sedangkan Syarif... dia adalah orang yang paling vokal menentang Anda, mengambil alih perusahaan ini. Dia punya hubungan lama dengan pemimpin kartel itu," jelas Frans tanpa ragu.

​Brian bangkit dari duduknya, berjalan pelan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. "Kumpulkan mereka di ruang rapat utama dalam sepuluh menit. Katakan saja aku ingin meninjau ulang laporan audit tahunan."

​Brian berbalik, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Aku ingin melihat siapa di antara mereka yang tangannya akan gemetar saat aku menyebut nama 'Black Scorpio' di depan wajah mereka."

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!