Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Haru Bu Marni
Leon tampak sibuk. Tangan mungilnya meremas-remas sebuah plastik kresek, menghasilkan bunyi kresek-kresek yang entah mengapa terdengar seperti musik paling merdu di telinga Arkan. Tawa kecil bayi itu pecah setiap kali plastik itu mengempis.
“Pak Dokter, perkenalkan ini dia perawat professional kita yang baru saja turun gunung!”
Suara berat penuh canda itu memecah keheningan. Pak Teddy berdiri tegak dengan gaya formal yang dibuat-buat, tangannya mengarah pada sosok di sampingnya. Bu Marni, yang pagi itu tampak segar dengan daster motif bunga, langsung menyikut pinggang suaminya dengan wajah bersemu merah.
“Bapak ah! Malu-maluin saja di depan Pak Dokter,” gerutu Bu Marni pelan, namun matanya berbinar senang.
Arkan terkekeh pelan. Ia selalu menganggumi kesetian pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun merawat rumah dan hidupnya ini.
“Selamat ya, Pak Teddy, Bu Marni. Akhirnya resmi jadi kakek dan nenek. Bagaimana rasanya?”
“Luar biasa, Pak Dokter. Terima kasih banyak atas hadiah yang Bapak berikan untuk cucu kami. Kami benar-benar tidak menyangka,” ucap Pak Teddy tulus, suaranya sedikit bergetar karena senang. “Kami janji akan bekerja lebih giat lagi di sini.”
Arkan hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. “Kalian sudah seperti keluarga sendiri. Itu belum seberapa dibanding bantuan kalian berdua di sini.”
Bu Marni melangkah mendekat, memperhatikan Leon yang kini tampak tenang di pangkuan ayahnya. “Pak Dokter, Nak Leon sekarang terlihat jauh lebih segar dan tenang. Apa ini karena pengaruh ‘gadis muda’ itu?”
Jemari Arkan bergerak perlahan, membelai rambut halus di puncak kepala Leon. Tatapannya melembut, ada kilas emosi yang dalam di sana. “Bener, Bi. Semua ini karena Maya. Maya memberikan sisa harapannya melalui setiap tetes ASI untuk Leon. Tanpanya, mungkin Leon tidak akan sekuat ini.”
Suasana mendadak hening sejenak, penuh haru. Bu Marni menyeka sudut matanya yang sedikit basah. Ia tahu perjuangan Arkan membesarkan Leon sendirian di tengah kesibukannya yang luar biasa.
“Oh iya, Pak Dokter,” Bu Marni mengingatkan. “Bukannya hari harus segera ke rumah sakit, ya?”
Arkan tersentak kecil, lalu melirik jam Rolex di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul 08:30 pagi. “Bibi benar. Ada jadwal operasi jam 10 nanti, dan sorenya harus mengontrol pasien.”
Dengan gerakan cekatan namun hati-hati, Arkan bangkit dari kursi santainya. Ia menyerahkan Leon yang masih asyik dengan kreseknya ke gendongan Bu Marni. “Seperti biasa, aku titip Leon ya, Bi.”
“Siap, Pak Dokter. Jangan khawatir,” sahut Bu Marni sambil menimang Leon dengan penuh kasih.
“Satu lagi, Bi,” Arkan berhenti sejenak sebelum melangkah. “Jangan lupa berikan ASI milik Maya yang ada di tempat penyimpanan. Pastikan suhunya pas saat diberikan pada Leon. Jangan terlalu panas agar nutrisinya tetap terjaga.”
“Tenang saja, Pak Dokter. Semuanya sesuai prosedur seperti biasanya,” Bu Marni menyakinkan dengan senyum menenangkan.
Arkan mengangguk. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia membungkuk sedikit dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Leon.
PLAK! Sebuah tamparan kecil dari telapak tangan mungil Leon mendarat tepat di pipi Arkan.
“Ayah pergi kerja dulu ya, Sayang. Jangan nakal sama Bibi Marni.” Arkan pun berbalik, melangkah lebar masuk ke dalam rumah.
Punggung Arkan perlahan menghilang di balik pintu rumah itu. Keheningan sejenak menyelimuti taman, hanya menyisakan suara gesekan daun mangga dan tawa kecil Leon. Pak Teddy dan Bu Marni masih berdiri di sana.
“Bapak masih ingat jelas, Bu,” suara Pak Teddy memecah kesunyian, nadanya berat karena kenangan. “Waktu Neng Lily meninggal dunia tiga bulan lalu, rasanya rumah ini seperti kehilangan hidupnya. Pak Dokter, bapak belum pernah melihat beliau seterpuruk itu. Wajahnya pucat, matanya kosong, tapi dia harus tetap berdiri tegak karena ada bayi kecil ini.”
Bu Marni mengangguk pelan, jemarinya mengusap pipi gembul Leon yang sedang memperhatikannya dengan mata bulat. “Iya, Pak. Ibu juga tidak akan pernah lupa. Waktu itu Nak Leon baru saja lahir, masih merah sekali. Saat kita kehilangan Neng Lily, ibu rasanya ikut hancur. Mendiang itu orang yang sangat baik, sopan, dan ramah pada siapa saja. Tidak pernah sekali pun dia meninggikan suara pada kita.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Bu Marni. Bayangan wajah lembut Lily saat menyapa mereka di pagi hari seolah melintas kembali.
“Setelah mendiang dimakamkan, Nak Leon tidak berhenti menangis berhari-hari. Tangisannya itu seperti menusuk hati. Bayi mungil ini terus mencari ibunya, mencari pelukan yang belum sempat memberikan cinta sepenuhnya,” sambung Bu Marni. Akhirnya, air mata yang terus dibendung jatuh membasahi pipinya.
Melihat istrinya menangis, Pak Teddy segera merogoh saku dan mengambil sapu tangan, lalu mengusap air mata istrinya dengan lembut.
“Sudah, Bu, jangan menangis di depan Nak Leon. Lihat, dia sedang memperhatikan kita dengan wajah bingung begitu,” bisik Pak Teddy menenangkan. “Ayo, Ibu harus tersenyum. Kita tidak boleh membawa kesedihan lagi ke dekatnya.”
Bu Marni menghirup napas dalam-dalam, berusaha menata emosinya. Ia memaksakan sebuah senyum lebar sambil menggoda Leon. “Eh, iya. Maafkan Bibi Marni ya, Sayang.”
Melihat perubahan ekspresi Bu Marni, Leon tiba-tiba memberikan reaksi yang tak terduga. Bibir mungilnya tertarik lebar, dan sebuah tawa melengking yang renyah keluar dari mulutnya.
“Ehehehe! Aaaaa!”
“Ya ampun, Pak! Bapak dengar itu? Bapak dengar ketawa Nak Leon tadi?” tanya Bu Marni dengan wajah penuh keheranan sekaligus bahagia. “Dulu dia begitu cengeng dan rewel, hampir setiap malam kita terjaga karena tangisannya.
Pak Teddy terkekeh, hatinya ikut menghangat. “Dengar, Bu. Jelas sekali. Karena sekarang Nak Leon sudah bahagia, jadi kita juga harus ceria. Aura di rumah ini juga terlihat perlahan-lahan mulai membaik.”
Bu Marni mengangguk, sebuah tekad baru muncul di wajahnya. “Benar, Pak. Dan sepertinya, kita juga harus menjaga ‘gadis muda’ itu baik-baik. Dek Maya sudah jadi penyelamat bagi Nak Leon. Ibu harus pastikan Maya tidak boleh sakit, dia harus makan makanan yang penuh nutrisi agar kualitas ASI-nya tetap terbaik untuk Nak Leon.”
“Bapak setuju! Nanti bapak bantu carikan buah-buahan segar dari pasar untuknya,” sahut Pak Teddy semangat.
Di bawah naungan pohon mangga yang rindang, Pak Teddy dan Bu Marni kembali asyik bermain dengan Leon. Mereka adalah saksi hidup perjalanan Arkan. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini sebagai dokter muda, jauh sebelum mengenal Lily. Mereka berdua ada di saat senang dan susahnya Arkan, apa lagi saat Lily meninggal dunia.
Sebelum bertemu dengan Maya. Putri semata wayang Pak Teddy dan Bu Marni melahirkan di kampong halaman. Sebagai orang tua, hati mereka terbagi.
******
“Bapak dan Ibu pergi saja. Ini momen penting untuk putri kalian,” ucap Arkan dengan tegas namun penuh pengertian.
“Tapi Pak Dokter, Nak Leon bagaimana? Dia sangat pemilih soal susu,” tanya Bu Marni cemas.
Selama tiga bulan sejak kelahiran Leon, Arkan sudah mencoba berbagai macam pendonor ASI, namun tubuh mungil Leon sering menolaknya, entah itu alergi, ruam, atau terdapat sebuah penyakit yang dibawa oleh sih pendonor.
“Ada Yudha. Walaupun masih muda, dia sangat sayang pada keponakannya. Kami akan sanggup menjaga Leon,” Arkan meyakinkan mereka.
Selama di kampong, pikiran Pak Teddy dan Bu Marni tak pernah benar-benar lepas dari rumah Arkan. Mereka tahu betapa hancurnya Arkan yang hampir putus asa. Setiap hari selama tiga bulan, Arkan bolak-balik ke bank ASI, menemui puluhan pendonor, hingga berkonsultasi dengan kolega sesame dokter. Arkan hampir menyerah, namun setiap kali melihat Leon yang ringkih namun terus berjuang untuk bernapas, semangatnya kembali bangkit.
Hingga suatu malam, ponsel Pak Teddy bordering. Nama “Pak Dokter Arkan” tertera di layar ponsel.
“Pak, aku sudah menemukannya,” suara Arkan di telepon terdengar senang yang belum pernah mereka dengar sejak meninggalnya Lily. “Saya sudah mendapatkan pendonor ASI yang cocok untuk Leon.”
Di telepon itu, Arkan juga menjelaskan panjang lebar bagaimana pertemuan tak terduga dengan Maya terjadi. Ada rasa marah di wajah Pak Teddy dan Bu Marni setelah mendengar penderitaan Maya. Namun, Pak Teddy dan Bu Marni harus menyingkirkan rasa itu saat ini. Mereka berusaha tak melukai Maya.
****
"Ciluk baa!" Bu Marni bermain dengan Leon, Pak Teddy ia juga ikut bermain.
"Aaaaa!"
Suara tawa Leon terdengar cukup kuat, membuat Pak Teddy dan Bu Marni senang.
...❌ Bersambung ❌...