NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 - Keputusan yang Tidak Dicatat Sejarah

-~-Keputusan yang Tidak Dicatat Sejarah

Benteng Marquis Florence masih berdiri.

Itu fakta yang menenangkan, tapi juga menipu.

Arthur tiba menjelang senja. Tidak ada teriakan kemenangan, tidak ada sorak prajurit. Gerbang terbuka dengan cepat terlalu cepat seolah semua orang ingin ia masuk sebelum malam benar-benar turun.

Di dalam benteng, suasana terasa… bergeser.

Bukan rusak. Bukan kacau.

Terlalu rapi.

“Menara jam berhenti tepat pukul tiga dini hari,” lapor seorang perwira. “Tidak rusak. Tidak macet. Seolah… waktunya menolak bergerak.”

Arthur menatap menara itu lama. Jarum jam berhenti tepat di antara dua angka posisi yang tidak wajar bagi mekanisme biasa.

“Bukan gangguan fisik, hmmm” gumamnya.

Lucien berdiri di sampingnya, bersandar pada tongkat. “Bukan sihir biasa juga sih. Ini respon sistemik. Dunia mempertanyakan stabilitas titik ini.”

Arthur tidak suka kata itu. Titik.

Marquis Florence menyambut mereka di aula dalam keadaan jauh lebih tenang dari yang Arthur perkirakan. Wajahnya keras, tapi matanya tajam bukan ketakutan, melainkan perhitungan.

“Jadi ini akibatnya” kata sang marquis. “Sejak kau terlibat terlalu dalam.”

Arthur tidak membantah. “Aku datang bukan untuk meminta maaf.”

Florence tersenyum tipis. “Bagus. Aku juga tidak ingin permintaan maaf.”

Mereka duduk berhadapan. Tidak ada pelayan. Tidak ada saksi.

“Ada simbol yang muncul di dinding barat,” lanjut Florence. “Hanya terlihat oleh prajurit tertentu. Anehnya, mereka semua pernah berada di perbatasan Nostradus.”

Arthur mengangguk. “Itu bukan kebetulan.”

Florence mencondongkan badan. “Arthur, katakan dengan jujur. Apa yang sedang kita hadapi?”

Arthur menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak perang ini dimulai, ia tidak menjawab sebagai komandan atau pewaris.

“Kita sedang diuji,” katanya pelan. “Bukan oleh Duke New Gate. Bukan oleh enam organisasi.”

Florence mengernyit. “Lalu oleh siapa?”

Arthur menatap lantai marmer yang dingin. “Oleh sesuatu yang memastikan dunia ini tetap berjalan sesuai pola lama.”

Keheningan menekan ruangan.

Lucien akhirnya bicara. “Dan Arthur… adalah anomali yang belum diputuskan apakah akan dihapus atau dimanfaatkan.”

Florence tertawa kecil bukan karena lucu, tapi karena pahit. “Luar biasa. Jadi aku bertaruh seluruh wilayahku pada variabel yang belum ditentukan.”

Arthur mengangkat kepala. “Aku tidak memintamu bertaruh.”

“Tidak,” balas Florence cepat. “Tapi dunia sudah memaksa kita.”

Ia berdiri. Langkahnya mantap. “Baik. Kalau dunia ingin menguji, kita jawab. Tapi dengan caraku.”

Arthur menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”

Florence mengeluarkan satu gulungan dokumen tua, segelnya hampir pudar.

“Ini,” katanya, “perjanjian lama antara wilayah Harloon dan Wilayah Pusat. Tidak pernah diaktifkan. Tidak pernah dilanggar.”

Arthur membaca cepat. Matanya menyempit.

“Jika aku mengaktifkan ini,” lanjut Florence, “Kekaisaran Amarum tidak bisa secara resmi menyerangku tanpa mengakui pelanggaran hukum kuno.”

Lucien terkejut. “Itu akan memaksa mereka bergerak di bayangan.”

Florence mengangguk. “Dan bayangan adalah tempat anomali berkembang.”

Arthur menutup gulungan itu perlahan.

“Ini akan mempercepat segalanya” katanya.

Florence menatapnya lurus. “Aku sudah tua, Arthur. Aku tidak butuh dunia baru. Tapi aku ingin melihat apakah dunia ini layak dipertahankan.”

Arthur berdiri.

“Kalau begitu...” katanya, “aku akan mengambil satu langkah.”

Malam itu, Arthur memerintahkan sesuatu yang tidak tercatat dalam laporan perang mana pun:

> Seluruh pasukan Florence diperintahkan berhenti bergerak selama satu hari penuh.

Tidak menyerang. Tidak bertahan. Tidak bernegosiasi.

Hanya diam.

Keputusan itu membuat para komandan panik. Mata-mata bingung. Duke New Gate murka.

Dan di Wilayah Pusat Kekaisaran Valerion

seorang pejabat tinggi menatap laporan itu lama, lalu berbisik:

“Dia mencoba melihat siapa yang tidak bisa menunggu.”

Di saat yang sama, jauh di bawah tanah ibu kota, mekanisme kuno itu berbunyi dua kali.

Lebih keras.

**

-~-Hari Ketika Tidak Ada Perintah

Hari itu tercatat dalam arsip militer sebagai hari kosong.

Tidak ada panah dilepaskan.

Tidak ada bendera digeser.

Tidak ada terompet perang ditiup.

Dan justru karena itu semuanya bergerak.

Di perbatasan timur wilayah Florence, pasukan Duke New Gate berhenti tanpa komando jelas. Para perwira saling menatap, menunggu sinyal yang tidak kunjung datang.

“Apakah ini jebakan?” bisik seorang kapten.

“Kalau iya, jebakan macam apa yang tidak memaksa kita bergerak?” jawab yang lain.

Tidak ada jawaban.

Di kemah Duke Polein, suasana lebih buruk. Para tentara bayaran yang dibayar mahal mulai bertanya-tanya. Tentara bayaran tidak takut mati mereka takut menunggu tanpa alasan.

“Setiap jam tanpa pertempuran” ujar seorang komandan bayaran, “membuat kami kehilangan kendali.”

Kabar itu menyebar cepat.

Dan di Wilayah Pusat Kekaisaran Valerion kota marmer dan besi bernama Aurelion prime hari diam itu terasa seperti tamparan.

Di ruang sidang tertutup, tujuh pejabat tinggi duduk mengelilingi meja bundar. Tidak ada lambang keluarga. Tidak ada pakaian kebesaran. Hanya wajah-wajah yang terbiasa membuat dunia bergerak.

“Marquis Florence melanggar logika perang” kata salah satu dari mereka.

“Tidak” balas yang lain. “Dia melanggar ritme.”

Seorang pria tua dengan jubah abu-abu akhirnya berbicara. Suaranya pelan, tapi membuat ruangan senyap.

“Bukan Florence.”

Semua menoleh.

“Arthur Moren..” lanjutnya. “Anak itu yang mengubah alurnya.”

Seorang pejabat muda menyela, “Dia hanya menghentikan pasukan. Itu bukan strategi itu kebodohan.”

Pria tua itu tersenyum tipis. “Kalau begitu… mengapa kalian semua gelisah?”

Tidak ada yang menjawab.

**

Di benteng Florence, Arthur berdiri di menara pengawas. Ia tidak tidur. Toxen berdiri sedikit di belakang, seperti biasa tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

“Sudah ada tiga laporan pergerakan aneh” kata Toxen. “Bukan pasukan. Bukan mata-mata biasa.”

Arthur mengangguk. “Mereka yang tidak tahan diam.”

Lucien datang membawa peta. “Kelompok Vastorci menarik dua unitnya. Duke New Gate kehilangan disiplin internal. Dan...” ia berhenti sejenak, “...enam organisasi itu mulai bergerak saling berlawanan.”

Arthur menatap peta. Garis-garis merah dan hitam tidak lagi rapi.

“Bagus” katanya pelan. “Mereka mulai saling melihat.”

Lucien menatapnya lama. “Kau sadar, kan? Setelah ini, tidak ada jalan kembali ke konflik biasa.”

Arthur tersenyum kecil bukan bangga, bukan senang.

“Aku tidak ingin konflik biasa.”

Malam itu, Hendry yang sudah terlalu tua untuk medan perang meminta bertemu Arthur. Mereka duduk di ruang kecil dengan satu lilin.

“Tuanku dulu, ayahmu” kata Hendry perlahan, “selalu bertanya kapan harus menyerang. Kau… justru bertanya kapan harus berhenti.”

Arthur menunduk sedikit. “Apakah itu salah?”

Hendry menggeleng. “Itu berbahaya. Tapi dunia berubah oleh orang berbahaya, bukan oleh orang benar.”

Arthur terdiam.

**

Menjelang fajar, pesan rahasia tiba.

Bukan dari musuh.

Bukan dari sekutu.

Dari Borein.

Isinya singkat:

> Hari diam membuat satu dari enam mulai panik.

Dan yang panik… biasanya menyimpan rahasia paling kotor.

Arthur melipat kertas itu.

Hari diam berakhir tepat saat matahari terbit.

Arthur mengangkat tangannya.

“Gerakkan pasukan” perintahnya.

“Tapi bukan ke garis depan.”

Para komandan terkejut.

“Kita bergerak ke dalam” lanjut Arthur. “Ke gudang, jalur suplai, kontrak lama, dan janji-janji yang belum ditepati.”

Di kejauhan, di Aurelion prime, lonceng kuno berbunyi tiga kali.

Dan seseorang entah siapa akhirnya berkata:

“Dia tidak sedang memenangkan perang.”

“Dia sedang memaksa dunia memilih sisi.”

Di akhir malam itu, satu dokumen rahasia dari Wilayah Pusat bocor ke tangan Arthur

dokumen yang mencantumkan nama Moren sebagai variabel tidak stabil sejak dua puluh tahun lalu.

Dan di bagian bawahnya… tanda tangan yang seharusnya sudah lama mati berada disana...

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!