NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Mr. X adalah Agung

Zavier kemudian menggeser tabletnya, menampilkan sebuah foto di mana Agung dan Maya sedang berdiskusi di dalam kelas. Dalam foto itu, Agung tampak duduk sangat dekat, merangkul bahu Maya dan mengelus puncak kepalanya dengan tatapan penuh kepemilikan.

“Kenapa kau menunjukkan foto ini?” tanya Arkan dengan dahi mengerut, rasa cemburu tiba-tiba membakar dadanya melihat kedekatan mereka.

“Dia adalah Mr. X,” jawab Zavier datar.

Bola mata Arkan membesar sempurna. Napasnya tercekat, seolah oksigen di ruangan itu hilang seketika. “Apa?! Kenapa kau baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari awal?!” teriak Arkan murka. Ia berdiri dan mencengkeram erat kerah baju Zavier, membuat anak buah Zavier langsung bergerak hendak menyerang. Namun, Zavier mengangkat tangannya, menghentikan mereka.

Perlahan, Zavier melepaskan genggaman tangan Arkan dari bajunya. “Tenang, tenang, Arkan. Kalau dari awal aku tahu kasus Maya serumit ini, Shiti mungkin hari ini hanya tinggal nama.”

Arkan kembali duduk dengan napas memburu. Zavier membenarkan kerah bajunya dan melanjutkan, “Membu*nuh Shiti itu mudah. Tapi Mr. X? Pemuda itu akan sangat sulit dilumpuhkan.”

Arkan memijat pelipisnya yang berdenyut. “Apakah Vanya tahu siapa Agung…atau Mr. X itu?”

“Vanya pasti tahu siapa Agung sebagai muridnya. Tapi, Vanya tidak tahu, siapa Maya dan kasus apa yang pernah menimpa gadis malang itu,” jelas Zavier.

“Lalu, kenapa Vanya menerima Agung masuk ke sana? Umurnya saja jauh berbeda!” tanya Arkan emosional.

Zavier membuka tabletnya kembali, mengakses file curian dari computer Vanya. “Dia masuk menggunakan identitas asli, sebagai anak pindahan. Itu hal yang tidak perlu dicurigai. Lagi pula, kepindahan Agung sudah cukup lama, dua bulan sebelum Maya masuk kesekolah itu. jadi, tidak ada bukti yang menjelaskan jika Agung mengikuti Maya.”

Arkan berdiri. “Besok aku harus datang ke sekolah dan mengurus surat kepindahan Maya.”

Zavier ikut berdiri, tatapannya tajam. “Jangan!”

“Kau tidak berhak melarangku!” bentak Arkan.

“Aku berhak melarangmu, karena kini Maya adalah klienku!” balas Zavier tak kalah tegas. “Coba gunakan ot*akmu, Arkan. Jika kau memindahkan Maya, apakah Mr. X tidak akan ikut pindah? Pemuda itu pasti akan mengikutinya. Apalagi dia adalah seorang sosiopat. Kalau hal itu terjadi, Maya akan sangat sulit kujaga.”

“Jadi, aku harus bagaimana?!” teriak Arkan frustasi.

“Cobalah tenang, dan biarkan aku menyelesaikan tugasku,” sahut Zavier dingin.

Arkan menunjuk wajah Zavier dengan jari gemetar, bola matanya merah menyala layaknya seorang pecandu yang sedang sakau. “Jika misimu gagal, kepalamu sendiri yang akan aku ledakkan,” ancam Arkan dengan nada rendah yang mematikan, lalu berbalik pergi meninggalkan gudang bawah tanah itu tanpa menoleh lagi.

Zavier tertegun sejenak, ia memegang kepalanya sendiri, merasakan hawa dingin mencekam sisa dari ancaman Arkan barusan.

***

Sementara itu, Arkan berjalan menuju mobilnya dengan pikiran yang berkecamuk. Bayangan tawa dan senyum tulus Maya melintas, dengan fakta mengerikan yang baru diketahuinya. Ia tidak menyangka jika awal kehancuran masa depan Maya direnggut oleh seorang pemuda remaja yang mengerikan. Tragisnya, kehancuran itu berlanjut di tangan Shiti, ibu tirinya sendiri yang seharusnya melindungi.

**

Kembali di ruang bawah tanah, Zavier menyalakan televisi raksasanya kembali. Ia memutar lagu dangdut dengan beat cepat, mencoba melepaskan kesesakan yang mengikat dadanya dan mengusir bayangan mengerikan dari foto-foto jasad korban Mr. X.

***

Setelah menempuh perjalanan panjang yang menyesakkan dada, mobil Arkan akhirnya memasuki gerbang rumahnya. Pak Teddy, sempat bertanya-tanya dalam hati, keheranan melihat Arkan yang tak biasanya pergi dan pulang menjelang pagi ini.

Sambil memperhatikan dari kejauhan, Pak Teddy tersentak melihat Arkan turun dari mobil dengan keadaan kacau balau, langkahnya tidak beraturan, dan wajahnya tampak hancur.

Spontan, kedua kaki Pak Teddy berlari menghampiri. “Pak Dokter? Apakah Pak Dokter baik-baik saja?” tanya Pak Teddy cemas, berusaha mensejajarkan langkah di samping Arkan yang berjalan terhuyung.

Arkan tidak menjawab. Napasnya berat. Tanpa menatap Pak Teddy. Ia menyodorkan kunci mobil dengan tangan gemetar. “Tolong parkirkan, Pak.”

Pak Teddy menghentikan langkahnya, menerima kunci itu dengan ragu. Melihat sorot mata Arkan yang kosong namun penuh amarah, ia memutuskan untuk tidak banyak bertanya lagi.

“Bapak harap Pak Dokter baik-baik saja,” gumam Pak Teddy cemas, matanya terus tertuju pada punggung Arkan yang kini menghilang di balik pintu rumah.

****

Begitu menginjakkan kaki di ruang tamu, langkah Arkan terhenti. Maya berdiri di tengah ruangan yang redup, melipat kedua tangan di depan dada dengan raut wajah cemas.

“Kak… Kakak kenapa?” tanya Maya cemas, melangkah kecil mendekati Arkan.

Arkan menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kusut dan mata yang merah menahan amarah serta kesedihan. “Maya, ini sudah hampir pagi. Kenapa kamu belum tidur?” Arkan berusaha mengalihkan perhatian.

“Awalnya aku ingin tidur, Kak. Tapi melihat Kakak tak kunjung pulang, aku memutuskan untuk menunggu,” jawab Maya pelan.

Arkan kembali melangkah dengan gontai menuju anak tangga, mengabaikan kecemasan Maya. Sementara itu, dari balik dinding pembatas, Bu Marni memperhatikan mereka dengan tatapan iba.

“Maya, ini sudah hampir pagi. Sebaiknya kamu tidur,” ucap Arkan lagi, kali ini dengan nada datar dan tatapan kosong menembus dinding.

Maya masih mengikuti langkah Arkan, mencoba meraih tangan besar itu untuk menenangkannya. Namun, Arkan menepisnya kasar, lalu mencengkeram kedua lengan Maya dengan kuat.

“Maya! Apa kau tidak mendengarkanku?! Ini sudah hampir pagi, sebaiknya kau tidur!” teriak Arkan. Bola matanya tampak kosong, menyeramkan, dan memancarkan tekanan batin yang luar biasa.

Maya tersentak hebat. Rasa takut bercampur sedih membuat air matanya luruh seketika. Ia segera menepis tangan Arkan dari lengannya dan berlari menaiki anak tangga sambil menangis tersedu-sedu.

Sementara itu, Bu Marni hanya bisa menghela napas panjang, merasa kasihan melihat Maya yang tidak bersalah harus menjadi sasaran emosi Arkan. “Sepertinya ada masalah yang sangat berat yang disimpan Pak Dokter,” gumam Bu Marni lirih, sebelum akhirnya berlalu pergi.

**

Di bawah, Arkan terpaku menatap kedua telapak tangannya yang gemetar, menyadari perbuatan kasarnya. Saat melihat Maya berlari di lantai dua sambil mengusap air mata, rasa penyesalan langsung menghujam jantungnya.

“Maya!” Arkan ikut berlari mengejar, memanggil nama gadis itu dengan nada panik dan putus asa.

Emosi Arkan masih membakar dadanya, namun rasa bersalah lebih cepat menghujam ketika melihat langkah mungil Maya masuk kamar. Maya menjatuhkan diri ke atas ranjang, tengkurap sambil meredam tangisnya di balik bantal, berusaha sekuat tenaga agar Leon tidak terbangun.

Arkan melangkah perlahan masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya terangkat hendak menggapai tangan Maya, namun ia urungkan karena takut Maya kembali menepisnya.

“May, aku…aku sungguh tidak sengaja,” bisik Arkan parau. “Aku tidak bermaksud membentakmu.”

Maya menarik bantal dari wajahnya hanya untuk menutupi kepala, seolah menolak mendengar suara Arkan. “Sudah malam. Sebaiknya Kakak kembali ke kamar Kakak,” usir Maya di sela isak tangisnya.

Arkan menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Tangan besarnya perlahan mengambil bantal yang menutupi kepala Maya. “Aku tidak bisa tidur kalau kamu masih terluka karena perkataanku.”

Maya berusaha meraih bantal itu kembali, namun Arkan menahannya. Melihat tingkah kekanak-kanakan Maya yang justru membuatnya gemas, bibir Arkan perlahan membentuk senyum tipis. Ia meletakkan bantal di ujung ranjang, lalu kedua tangannya membalikkan posisi tidur Maya menjadi telentang.

Gadis itu terkejut dan terdiam, hanya bisa menutup wajahnya yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya.

“Tidur sana! Bukankah ini sudah malam!” bentak Maya di sela sisa tangisnya, membuat Arkan tertawa kecil. Kepenatan yang sedari tadi menghimpit kepala Arkan seakan menguap begitu saja.

Arkan melepaskan sepatunya, lalu merebahkan diri di samping Maya. “Baiklah, aku akan tidur di sini,” ucap Arkan santai, memiringkan tubuhnya menghadap Maya.

Maya melirik dari balik lengan yang menutup wajahnya. Ia terkejut dan spontan terduduk saat menyadari jarak mereka begitu dekat. “Kak, bukan tidur di sini! Tapi tidur di…”

Belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya, Arkan menarik tubuh Maya, menjadikan tubuh mungil itu sebagai gulingnya. Maya berusaha melepaskan diri dari pelukan itu, namun tenaga Arkan jauh lebih kuat. Akhirnya, Maya menyerah dan pasrah saat mendengar suara dengkuran halus dari mulut Arkan.

“Kak…Kakak sudah tidur?" tanya Maya pelan.

Ia sedikit menoleh, menatap wajah Arkan yang tampak tenang dalam tidur. Namun, di ujung ekor mata Arkan yang terpejam, terlihat sisa air mata yang mengering. Maya tertegun, menyadari beban berat yang ternyata dipikul pria itu.

...❌ Bersambung ❌...

1
Dewi Payang
Dokter Arkan memang beda🤭
Dewi Payang
Dan jaman dulu banyak pula bu yh mati karena beranak.....😭
Dewi Payang
Dua²nya pak dokter, mungkin juha karena oak dokter sudah tua🤣🤣🤣 ups🤭
Mita Paramita
semangat Thor nulisnya 🔥🔥🔥aku selalu kasih like👍
Dewi Payang
Gimana rasanya Dina, bobok sama pria kumuh, ups🤭🤭🤭🤭
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
~~N..M~~~
/Casual/ mataku dan otakku mulai ternodai oleh arkan
~~N..M~~~
Jangan sedih Yudha.
Chici👑👑
Like + nonton iklan
sari. trg: makasih /Smile/, kk
total 1 replies
Chici👑👑
mokondo emang mesti di sleding kanyutt nya/Doubt/
Chici👑👑
sungguh berat jadi maya🤧.. maaf thor aku baru baca lagi
Chici👑👑: Kaka author mampir juga yuk di novel kedua ku judul nya GADIS POLOS UNTUK DOKTER KULKAS
total 2 replies
~~N..M~~~
jaga maya, ya yudha
~~N..M~~~
harta, martabat menggelapkan pikiran seseorang
~~N..M~~~
sabar ya, may. aku yakin semuanya akan berakhir
~~N..M~~~
kau pikir bagus kali tuh anggun
~~N..M~~~
jngan kasih kendor. jngan takut juga may
~~N..M~~~
pingin peluk yudha
~~N..M~~~
sofia kejam sekali kau pada yudha. Ternyata, masa kecil yudha menyedihkan
~~N..M~~~
syukurnya arkan dan yudha tak memiliki sifat yg sama dgn mama dan ppanya
~~N..M~~~
wah, pasti dulu bu marni pernah duel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!