NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:552
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 | SURAT TANPA NAMA

“Ada terlalu banyak hal yang harus disingkirkan dan diselesaikan sebelum revitalisasi, Pak. Geng-geng meskipun kecil, mereka tersebar di banyak titik, punya bisnis dan kepentingan masing-masing,” kata Kepala Otoritas Pelabuhan yang berkepala plontos dengan nada tertekan. Gurat-gurat cemas menghiasi wajahnya yang seperti sudah dihantam nasib buruk berkali-kali, perutnya meluah dalam beberapa lipatan oleh seragam biru pudar yang kancing-kancingnya mengancam ingin lepas.

“Para preman itu menguasai sebagian besar dermaga lama. Mereka mengatur bongkar muat ilegal, menarik uang keamanan, dan memanfaatkan kekosongan pengawasan untuk melakukan aktivitas penyelundupan,” lanjutnya. “Mereka tidak akan tinggal diam jika tahu ladang utama nafkah mereka akan dilenyapkan. Saya khawatir mereka akan menimbulkan kekacauan besar.”

Archilles Meridian masih bertahan dalam posisi yang nyaris tak terusik. Telunjuknya mengetuk meja gaharu dengan ritme lambat, sementara matanya tertuju pada peta yang membentangkan seluruh titik lokasi di Pelabuhan Merrow, menjajaki satu per satu lingkaran-lingkaran kecil yang merepresentasikan lokasi operasional masing-masing geng.

“Kejayaan masa lampau benar-benar menghantui dengan cara yang menyebalkan,” kata Archilles dengan suara yang nyaris menyerupai gumaman. “Kota ini telah meremukkan satu kakinya sendiri dua puluh tahun lalu setelah membiarkan Halcyon mengambil alih jalur perdagangan dengan tawaran yang sebenarnya bisa ditanggulangi sejak dini. Kita terlalu takut untuk mengambil konsekuensi, terlalu tunduk pada kebijakan. Dermaga-dermaga uzur Merrow yang meringkuk di bawah kendali kelompok kriminal adalah harga yang harus kita bayar untuk ketidakcakapan itu.”

Kepala Otoritas Pelabuhan meremas tangannya yang dingin di bawah meja. “Lalu kita harus bagaimana, Pak? Menangkap basah mereka ketika sedang melakukan tindakan ilegal? Pihak kepolisian mungkin akan mempertimbangkannya.”

“Kita tidak bisa melakukannya, Tuan Shimon. Penangkapan hanya bisa menghabisi satu-dua kelompok, dan justru akan menjadi pemercik bagi geng-geng lain untuk memberontak dan bertindak semakin liar. Kita tidak bisa mengambil risiko sebesar itu.” Archilles menautkan jemarinya di atas meja, tatapannya tertuju lurus pada Shimon yang semakin menegapkan punggungnya. “Kita pakai cara yang lebih bersih.”

Udara di dalam ruangan bernuansa putih tanpa terlihat sedikit pun noda dan jejak debu itu terasa semakin dingin. Shimon melirik pria bersetelan terlampau rapi di sebelah Archilles, kacamata tanpa bingkai bertengger di pangkal hidungnya. Cara pria itu memandang, bagaimana ia memperlihatkan gestur dan ekspresinya, Shimon langsung bisa menyimpulkan bahwa Benedict Zillmann, sekretaris Archilles, adalah orang yang terlalu kaku dan formal. Tidak ada gunanya meminta pria itu meyakinkan Archilles untuk membatalkan rencana revitalisasi yang berbahaya ini. Benedict pasti akan mendukung apa pun rencana Archilles tanpa merasa perlu untuk bertanya.

“Kita mulai dari Dermaga Satu, salah satu dari sedikit dermaga yang masih kita kuasai. Kita adakan aktivitas terlebih dahulu, proyek revitalisasi menyusul kemudian,” kata Archilles, membuyarkan lamunan dangkal Shimon. “Saya mendapat informasi bahwa Caldera Maritime Logistics sedang ada konflik kepentingan dengan Pelabuhan Halcyon. Perusahaan ini mengangkut komponen turbin angin lepas pantai. Mereka membutuhkan dermaga dengan kedalaman tertentu, area bongkar luas, dan jadwal sandar yang tidak bisa diganti sesuka hati.”

Benedict meletakkan map hitam yang sudah terbuka di depan Archilles, menerakan diagram, grafik, dan laporan ringkas. Keterlambatan sandar rata-rata meningkat tiga puluh persen dalam dua tahun terakhir, kontainer rusak dengan alasan administratif, izin bongkar yang tertahan tanpa kejelasan.

“Kita akan gunakan kesempatan ini untuk menjalin kerja sama dengan mereka, menjadikan Caldera sebagai permulaan. Kita tawarkan Dermaga Satu sebagai dermaga khusus Caldera untuk sementara waktu. Jadwal sandar tetap, pengamanan resmi kota, dan intensif selama masa transisi. Sekali kita berhasil membuktikan proteksi tetap berjalan ketat bahkan di sarang bandit, kapal-kapal lain akan datang dengan sendirinya.”

Shimon membasahi bibirnya yang gelap karena terlalu banyak mengisap rokok. “Saya tidak yakin mereka akan tinggal diam. Mereka hidup dari arus barang.”

“Anda keliru, Tuan Shimon. Mereka hidup dari kekosongan, dari reruntuhan yang ditinggalkan oleh pemilik sah.” Archilles tersenyum samar, rautnya menyiratkan pengertian. “Jika arus barang kembali berada di bawah kendali kota, ruang gerak mereka akan menyempit dengan sendirinya.”

“Bagaimana jika mereka beraksi keras?”

“Maka itu akan menjadi kewenangan pihak berwajib. Setiap gangguan dapat dikategorikan sebagai ancaman terhadap infrastruktur vital. Mereka tidak akan ditangkap karena melakukan aktivitas ilegal, melainkan karena mengganggu ketertiban pada fasilitas publik. Kalaupun ada penyelidikan lanjutan oleh pihak kepolisian, dan ditemukan sejumlah bukti mengenai bisnis ilegal mereka, maka itu tidak ada urusannya lagi dengan kita. Anda tidak perlu khawatir akan keselamatan Anda dan keluarga. Mereka tidak akan menuduh Anda sebagai pengadu.”

Mata Shimon membeliak seketika seiring napasnya yang tertahan. Rasa-rasanya wajahnya sudah memanas sekarang. Archilles tahu tentang kekhawatirannya?

Berurusan dengan kelompok kriminal selalu menjengkelkan, mengimpitnya dalam dinding sempit yang sewaktu-waktu bisa meremukkan kepala dan tulang-tulangnya. Selama ini Shimon hidup dalam ketakutan dan mati langkah. Sekali ia keliru mengambil keputusan, leher istri dan anak-anaknya bisa kapan pun digorok oleh mereka.

Setelah beberapa detik, Shimon akhirnya bisa mengembuskan napas lega. “Saya mengerti,” ucapnya. “Tetapi, bagaimana Anda bisa yakin Caldera akan menerima tawaran ini?”

Senyum Archilles semakin kentara. “Karena kita menawarkan kendali.” Archilles meletakkan pulpen mengilap yang baru digunakannya untuk menandai beberapa area peta ke samping map, bahasa tubuhnya masih selalu tenang. “Posisi mereka di Halcyon adalah sebagai penyewa, tetapi di Merrow mereka adalah mitra strategis. Tidak ada antrean politik, tidak ada kepentingan ganda. Hanya ada jadwal, kontrak, dan kepastian. Andaikan mereka menolak, kita masih punya beberapa opsi lain, tidak perlu khawatir.”

Shimon mengangguk dengan wajah berseri, ia menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin hingga tak bersisa, lalu menatap Archilles dengan sorot penuh rasa syukur. “Sepertinya saya tidak akan bermimpi buruk malam ini.” Ia terkekeh pelan sejenak, lantas beranjak berdiri. “Saya sangat menantikan kelanjutan rencana ini, Pak Archilles. Dan terima kasih banyak karena sudah memikirkan cara agar saya tidak tersudut. Saya ingin segera keluar dari sini agar bisa menangis tanpa terlihat memalukan.”

Archilles tertawa kecil, ikut bangkit berdiri, dan menjabat tangan Shimon. “Saya akan paparkan secara lebih rinci di rapat besar seminggu lagi, pastikan Anda datang tepat waktu. Terima kasih sudah memenuhi undangan saya untuk datang kemari.”

Archilles merebahkan punggungnya pada kursi dan melemaskan leher begitu pintu ruang rapat ditutup dengan hati-hati oleh Shimon. “Berikan aku surat-surat yang tiba hari ini, Ben. Masih ada satu jam lagi sebelum terlalu larut untuk makan malam.”

Benedict mengangguk singkat, mengeluarkan setumpuk amplop dari tas kulit hitamnya yang selalu mengilat dan tidak pernah dihinggapi debu. Ia mengangsurkan amplop cokelat dengan logo Kota Brighton dengan gerakan efektif yang luwes.

“Yang pertama dari Wali Kota Brighton, ucapan selamat atas pembukaan Museum Halstone. Tidak memerlukan tanggapan, kecuali Anda ingin membalas secara personal,” Benedict berkata dengan nada kaku monoton seperti biasa, tidak ada ekspresi berarti yang ia tampilkan. Ia meletakkan amplop berikutnya. “Kedua, undangan jamuan amal dari Dewan Seni. Nama Anda tercantum sebagai tamu kehormatan dalam acara makan malam, tetapi mereka juga membuka opsi apabila Anda ingin mengirim perwakilan.”

Archilles mulai membuka satu per satu amplop, menekuri tulisan-tulisan rapi dalam surat-surat formal, sementara Benedict menuturkan secara ringkas surat yang tengah dibaca Archilles. Permohonan izin penggunaan alun-alun kota untuk demonstrasi buruh transportasi umum, laporan bulanan dari Dinas Kebersihan, permohonan audensi pribadi dari keluarga Martinez, surat rekomendasi pengangkatan anggota dewan kota, ucapan terima kasih dari yayasan amal, petisi lingkungan, undangan forum tertutup … surat-surat datang bertumpuk setiap hari, seperti tidak ada habisnya.

Ketika Archilles baru ingin mendiskusikan tentang masalah limbah industri dalam petisi lingkungan, Benedict sudah lebih dulu meletakkan amplop putih kecil di depan Archilles. Tidak ada nama dan alamat pengirim, amplop itu praktis polos dan bersih. Archilles menoleh pada Benedict, namun pria itu tetap bungkam, memandang dinding putih ruangan yang membosankan.

Menghela napas samar, Archilles membuka amplop itu, menarik secarik kertas yang dilipat dengan rapi. Tulisan tangan yang kentara memakai pulpen murahan, jejak terburu-buru yang terlihat dari tulisan yang agak miring di sana-sini segera menyambutnya. Sudut bibirnya spontan tertarik samar, ia mengenali tulisan dengan ekor huruf ‘j’ dan ‘g’ yang terlalu menginterupsi susunan huruf di bawahnya, juga huruf ‘d’ dengan lengkungan bersambung di atasnya, pun bisa menerka merk pulpen yang digunakan.

Aku sudah menerima suratmu. Yah, aku langsung membakarnya karena isinya menyebalkan.

Pembukaan surat itu yang tanpa salam dan sapaan membuat sebentuk senyum tertera di bibir Archilles.

Aku sudah merencanakan menu bombastis untuk minggu ini dan kau bilang kau tidak bisa datang? Yang benar saja! Kuharap kau mangkir karena sedang dikejar-kejar arwah Hector yang ingin membalas dendam hanya karena nama kalian mirip—Kian sudah memberitahuku bahwa Achilles (tanpa ‘r’) yang digdaya itu mengarak mayat Hector dengan kejam. Cukup masuk akal, kuyakin orang Yunani Kuno tidak bisa membaca alfabet Latin. Sebaiknya gunakan alasan seperti ini kalau ingin berdalih.

Aku baik-baik saja—setidaknya saat menulis surat ini aku hanya ingin menggoreng Bastian setelah dia menumpahkan minyak goreng satu wadah hingga dapur mendadak menjadi arena seluncur; bawa sepatu seluncur kalau datang kemari, rupanya kita tidak perlu menunggu hingga musim dingin tiba. Tapi selebihnya, aku sangat sehat.

Ada banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu, tapi wajah sekretarismu membuatku sangat tertekan seolah jika aku mengulur waktu lima menit lagi, dia akan langsung memasukkanku ke mesin penggiling. Jadi, akan kusampaikan inti surat ini. Baca baik-baik!

Kau akan terkejut melihatku saat kita bertemu lagi.

Hehe.

Benedict baru saja melirikku tajam. Aku langsung merinding.

Baiklah, kalau begitu, selamat malam, Pak Wali Kota. Semoga kau selalu dalam lindungan keselamatan.

Tertanda, SV (Benedict bilang untuk menuliskan singkatan namaku saja. Mengesalkan sekali!)

n.b. Apa sekretarismu produk teknologi terbaru? Produk kanebo? Atau baru melakukan botoks? Aku menulis surat sambil khawatir ada pelanggan yang duduk di atasnya karena salah mengira Ben sebagai kursi; dia benar-benar tidak bergerak sedikit pun selama aku menulis! Coba kapan-kapan kita tes dengan melemparkan Kian yang bermulut jahanam itu ke wajah Benedict. Kalau dia tidak berkedip, kita langsung kabur.

n.b. (2) Jangan berpikir kau keren hanya karena tulisan tanganmu indah. Itu sungguh bukan apa-apa. Aku sama sekali tidak berdebar ketika membaca suratmu!

Archilles menggeleng kecil, perlahan melipat lagi surat itu dengan lipatan yang presisi seperti semula, memasukkannya kembali ke dalam amplop. Ia mengangkat wajah singkat untuk menilik jam di dinding, helaan napasnya semakin berat.

“Rupanya sudah terlambat untuk makan malam.” Archilles melirik Benedict yang masih bergeming di sampingnya. “Sesekali, tersenyumlah sedikit, Ben. Kau menakuti banyak orang dengan wajah seperti itu.”

...****...

1
Amaya Fania
ini sih top banget, ga berhenti bilang gila sepanjang baca. bahasanya cantik parah dan nggak kerasa AI sama sekali. humornya dapet, alurnya berat tapi seru, karakter2 nya gampang disukai. terus perselingkuhan tapi tanpa cinta dan masing2 karakter punya agenda yang masih belum ketebak, bikin mikir 👍

ayo lanjut kak
Amaya Fania
humornya kian sama alkaios 🤣
sama2 orang aneh jadi nyambung obrolannya
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!