Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Flashback On
Hujan deras mengguyur Jakarta selama tiga hari berturut-turut, seolah langit ikut merasakan kegelisahan yang menggerogoti jiwa Arga. Selama tujuh puluh dua jam itu, Arga tidak tidur. Matanya memerah, tubuhnya kuyu, dan pakaiannya lembap oleh keringat dan air hujan.
Ia telah mendatangi setiap tempat yang mungkin dikunjungi Siska, rumah kost temannya, perpustakaan, taman kota, hingga rumah orang tua Siska di pinggiran kota, namun hasilnya nihil. Siska menghilang seperti ditelan bumi setelah pertengkaran hebat mengenai garis dua di alat tes kehamilan itu.
Arga duduk di bangku halte depan kampus, kepalanya tertunduk lesu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kotak kecil berisi cincin perak murah yang ia beli dengan uang tabungan makannya selama sebulan. Ia berniat melamar Siska secara resmi, ingin meyakinkan wanita itu bahwa mereka bisa melaluinya bersama.
"Di mana kau, Siska..." bisiknya parau. Suaranya hilang ditelan deru mesin bus yang lewat.
Tiba-tiba, sebuah taksi berhenti di depan halte. Pintu terbuka, dan sesosok wanita keluar dengan langkah yang sangat pelan, hampir terseret. Arga tersentak. Itu Siska.
Namun, itu bukan Siska yang ia kenal. Wajahnya yang biasanya berseri kini sepucat kertas. Matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam, dan bibirnya pecah-pecah. Ia mengenakan jaket tebal yang kedodoran, tangannya terus memegangi perutnya seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Siska!" Arga berlari menghampirinya, mencoba menopang tubuh wanita itu agar tidak jatuh. "Kau dari mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana! Kau sakit? Kita ke dokter sekarang, ya?"
Siska menepis tangan Arga dengan sisa tenaganya. Ia tidak menatap mata Arga. Ia berjalan menuju bangku halte dan duduk dengan kaku. Arga berlutut di depannya, wajahnya penuh kecemasan yang murni.
"Mas... jangan ribut. Aku butuh duduk," suara Siska terdengar kering, dingin, dan kosong.
"Kau berdarah?" Arga melihat noda kecil kemerahan di bagian bawah rok Siska. Jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk. "Bayi kita... apa terjadi sesuatu? Apa kau jatuh? Katakan padaku, Siska!"
Siska akhirnya menoleh. Ia menatap Arga dengan tatapan yang sangat datar, seolah-olah semua emosi kemanusiaannya telah terkuras habis dalam tiga hari terakhir. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan perlahan.
"Sudah tidak ada, Arga," ucapnya lirih namun sangat jelas.
Arga tertegun. "Maksudmu... kau keguguran? Kita harus ke rumah sakit sekarang! Mungkin masih ada harapan, mungkin..."
"Aku tidak keguguran," potong Siska. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar amplop besar berwarna cokelat. "Aku sudah mengurusnya. Di sebuah klinik di daerah terpencil. Semuanya sudah selesai."
Dunia Arga seakan runtuh seketika. Langit-langit halte seolah menekan kepalanya. Ia melepaskan pegangannya pada lengan Siska, tangannya gemetar hebat. "Kau... kau menggugurkannya? Kau membunuh anak kita, Siska?"
Siska tidak meneteskan air mata. Ia justru mengeluarkan selembar kertas lain dari amplop tersebut, sebuah surat resmi dengan kop surat berbahasa Inggris.
"Lihat ini, Arga," Siska menyodorkan kertas itu tepat di depan wajah Arga yang hancur. "Ini surat penerimaan beasiswa penuhku ke London. Mereka sudah mengirimkan tiket pesawatnya untuk keberangkatan malam ini. Jika aku tetap mempertahankan janin itu, aku harus membuang surat ini ke tempat sampah. Aku harus tinggal di sini, menikah denganmu, dan hidup dalam kemiskinan selamanya."
"Kau membunuh darah dagingmu sendiri hanya untuk selembar kertas ini?" suara Arga meninggi, bergetar karena amarah dan duka yang tak terperikan. "Kita bisa berjuang, Siska! Aku berjanji akan membahagiakanmu!"
"Janji tidak bisa membeli tiket pesawat ke London, Arga!" Siska berdiri, meskipun wajahnya tampak meringis kesakitan. "Anak itu... dia hanya akan menjadi beban. Dia hanya akan membuat kita miskin, membuatku terjebak di dapur sementara teman-temanku menaklukkan dunia. Aku tidak mau menjadi ibumu yang mencuci baju tetangga hanya untuk makan! Aku ingin menjadi orang besar!"
Arga menatap Siska dengan rasa jijik yang mulai merayap di sela-sela rasa cintanya. Pria di hadapannya menyadari bahwa wanita yang selama ini ia puja sebagai malaikat, ternyata memiliki hati yang lebih dingin dari es di kutub. Siska lebih mencintai angka-angka di rekening bank dan prestise jabatan daripada nyawa yang sempat berdenyut di rahimnya sendiri.
"Kau monster, Siska," bisik Arga. "Kau bukan wanita yang kucintai."
"Mungkin," jawab Siska dingin sambil merapikan jaketnya. "Tapi monster ini akan berangkat ke London malam ini dan memulai hidup baru yang mewah. Sementara kau... kau bisa tetap di sini dengan idealisme dan kemiskinanmu."
Siska melangkah menuju jalan raya, melambaikan tangan pada sebuah taksi yang lewat. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Arga yang masih terduduk lemas di bangku halte.
"Jangan mencariku lagi, Arga. Anggap saja aku sudah mati, bersama bayi itu," ucap Siska tanpa secercah penyesalan pun di matanya.
Pintu taksi tertutup. Mobil itu melaju menjauh, membawa pergi wanita yang pernah menjadi pusat semesta Arga, sekaligus membawa pergi separuh jiwa Arga yang kini hancur berkeping-keping. Arga berteriak di tengah hujan yang menderu, namun suaranya tenggelam. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kotak cincin perak itu, dan melemparkannya ke dalam selokan yang alirannya deras.
Malam itu, Arga berjalan tanpa arah di bawah guyuran hujan. Ia kehilangan anaknya, ia kehilangan kekasihnya, dan yang paling parah, ia kehilangan kepercayaannya pada cinta. Ia merasa seperti mayat hidup yang berjalan di tengah keramaian Jakarta.
Flashback Off - Kembali ke Sel Tahanan
Arga tersentak dari ingatannya saat terdengar suara gesekan kunci sel. Pintu besi itu terbuka, memantulkan cahaya lampu koridor yang menyilaukan.
"Arga Mandala? Ada pengacara yang ingin menemuimu," ucap penjaga penjara.
Arga mendongak. Ia mengira itu adalah pengacara kiriman Pak Roy atau mungkin utusan Siska yang datang untuk menekannya. Namun, saat ia melangkah ke ruang kunjungan, sosok yang menantinya bukanlah pria dengan setelan jas mahal.
Di balik kaca pembatas, duduk seorang wanita dengan pakaian sederhana namun rapi. Wajahnya memancarkan ketenangan yang selama ini menjadi satu-satunya obat bagi jiwa Arga yang trauma.
"Nabila..." bisik Arga.
Nabila menempelkan telapak tangannya di kaca pembatas. Matanya sembab, namun ada kilat kekuatan di sana. "Mas... aku di sini. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkanmu."
Melihat Nabila, Arga teringat bagaimana wanita ini dulu menemukannya di titik terendah hidupnya dan perlahan-lahan menjahit kembali hatinya yang koyak. Arga menyadari bahwa sejarah sedang berulang, Siska kembali mencoba membunuhnya, bukan lagi membunuh janin di rahimnya, melainkan membunuh masa depan dan nama baiknya.
"Nabila, maafkan aku... aku seharusnya jujur padamu tentang dia sejak dulu," ucap Arga dengan suara pecah.
"Kita akan bicara soal itu nanti, Mas," potong Nabila tegas. "Sekarang, fokuslah. Aku sudah mempelajari kasusmu. Aku akan menjadi pengacaramu. Aku tidak akan membiarkan Siska Roy memenangkan permainan ini untuk kedua kalinya."
Arga menatap istrinya dengan penuh haru. Pertempuran sepuluh tahun lalu ia kalah karena ia hanya seorang mahasiswa miskin yang tak berdaya. Namun kali ini, ia memiliki Nabila. Dan ia bersumpah, ia tidak akan membiarkan pengkhianatan berdarah Siska terulang kembali.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰