"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak bertemu Yusuf
Hari pertama libur, tidak di sangka akan menempuh perjalanan panjang pulang ke kampung halaman.
Lebih dari lima jam, perjalanan melelahkan itu terbayar ketika tiba di gerbang desa yang masih berdiri kokoh.
Teringat dulu ketika Alang membawanya pergi setelah kebakaran. Bahkan makam kedua orang tua itu tak pernah Niken kunjungi. Dimana, apakah di makamkan dengan layak? Apakah Warga masih mengingat kejadian itu? Niken memasang masker yang sejak awal di bawanya.
"Jangan khawatir, ada aku." ucap Saga.
Niken menoleh, mungkin tuan Saga sudah tahu ceritanya dari Alang, tapi soal sikap warga yang menghakimi mereka, tentu Niken sendiri yang menyaksikan dan merasakan betapa takutnya.
"Kau tahu, ini lahan milik siapa?" tanya Saga, melihat sebuah lahan yang terbengkalai, penuh rumput liar dan semak setinggi orang dewasa, padahal letaknya ada di tengah kampung.
Niken menatap lahan yang di tunjuk Saga, saking fokusnya hingga tangannya terulur menyentuh kaca yang tertutup.
Mobil pun menepi.
"Aku akan membelinya." ucap Saga.
"Hah! Tuan membelinya? Siapa yang menjual lahan milik bapak?" tanya Niken.
"Katanya, adik haji Ibrahim." ucap Saga. Membuat Niken terdiam.
Tak lama kemudian, sebuah mobil pun turut berhenti di depan mereka.
"Mau turun?" tanya Saga.
Niken menggeleng, meskipun hati ingin tapi kalah dengan ketakutannya.
"Kau tidak mau bertemu paman mu?" tanya Saga lagi, melepaskan sabuk pengaman di tubuh Niken.
"Paman?" tanya Niken, mencoba mengingat siapakah yang menjadi pamannya.
"Ya, ku dengar namanya Yusuf?" kata Saga, hatinya sungguh berharap kalau Yusuf ini adalah orang yang sama seperti yang di kenal Mak Puah.
Tapi, ternyata yang datang hanyalah perwakilan dan kepala desa saja. Saga sempat bertanya tentang Yusuf itu, kata mereka, sosok Yusuf itu lebih muda dari usianya, yaitu empat puluh tahun tertera di surat jual beli.
Kalau lebih muda, berarti Yusuf itu bukan seorang kiyai.
Saga menatap Niken cukup lama. Dalam keadaan terdesak begini Saga masih berharap Nikenlah orang yang bisa menolongnya. Walaupun terkadang rasa ingin bertahan hidup itu bagai mengambang, hanya mengharap dapat menikmati sedikit kebahagiaan. Dan Nikenlah yang di inginkannya.
"Ada apa?" tanya Niken.
"Kamu yakin, cuma anak angkat haji Ibrahim. Karena yang ku dengar, dia sangat menyayangimu?" tanya Saga.
Niken mengangguk. "Mas Alang yang bilang begitu." jawab Niken.
Saga tersenyum kecut, menggeleng pelan. "Kamu percaya?"
"Mungkin saja, karena aku tidak pernah tahu keluarga lain dari bapak maupun ibu."
Sejenak, mereka saling diam duduk di dalam mobil, menikmati suasana desa yang tenang.
"Sudahlah." Saga menutup kaca di sisinya.
"Tuan Saga." Niken memanggilnya, Saga menoleh hingga urung memutar kunci mobil.
"Ya?"
"Tuan sampai tahu tempat ini, sampai ingin tahu tentang Yusuf. Apakah, ada hubungannya dengan perempuan yang di bicarakan Mak Puah?" tanya Niken.
Tatapan mereka saling mengunci, menuntut kejujuran.
Saga menarik nafasnya yang berat. "Ya, tapi sepertinya hanya sampai di sini saja. Aku sudah tidak ingin berburu hal yang tak pasti. Waktu ku sudah tidak banyak. Cepat atau lambat Gendis akan menjeratku hingga tak berdaya, tak memiliki jalan keluar."
"Jadi, aku ingin menikmati hidup semampuku. Kalau tuhan berkehendak, tak ku cari pun dia akan mendekat. Mau punya anak atau tidak, itu hanya sebatas keinginan, kalau di kabulkan, aku akan sangat bersyukur."
Wajah Saga lebih tenang, tak lagi rumit dan tegang seperti hari biasa, walaupun agak terluka.
"Tuan Saga."
"Hem?"
"Aku tulang wangi satu suro." ucap Niken, menatap Saga yang tak berpaling menatap pemandangan di depannya.
Seketika pria itu menoleh.
"Tapi, aku tidak memiliki tanda lahir di bahu." ucap Niken lagi.
Saga menatap Niken hingga memutar posisi duduknya. Ia menelisik wajah polos Niken, anak rambut yang berantakan itu semakin membuatnya cantik.
"Kalau aku berguna, aku bersedia. _"
Saga masih memandangi gadis itu, pria sudah matang seperti dirinya tentu tahu arti ucapan Niken. Ada sedikit ruang di hatinya yang goyah setelah di khianati Alang. Dengan segala pesona, serta kekayaan yang dia miliki, mungkin saja Niken membuka hati. Tapi masalahnya....
Niken segera membenahi posisi duduknya, sadar jika saat ini dia terlihat murahan, menawarkan diri kepada Saga. Tentu Saga tak akan meliriknya. Niken menutup wajahnya dengan tangan.
"Maaf." ucap Niken, meremat jarinya sendiri yang mendadak kaku, memalukan.
"Niken." Saga meraih tangan niken, menggenggamnya erat. "Jujur saja_"
"Tuan Saga, Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf." Niken menunduk, memohon Saga melepaskan dirinya. "Aku tidak akan mengulanginya lagi! Aku_"
Saga merengkuhnya, gadis yang ketakutan itu seketika jadi diam karena bibirnya di bungkam.
Ciuman sekilas tapi cukup menggetarkan. Jantung Niken jadi berdegup kencang.
"Kamu tidak salah, aku memang menginginkanmu." ucap Saga. Mengakhiri kecanggungan diantara mereka. "Mau kau orangnya atau bukan, aku hanya ingin sedikit kebahagiaan, bersamamu."
Niken menghembus nafas yang masih sesak. Bahwa di sini nyawanya mulai di pertaruhkan. Tapi, sebuah kata tak mungkin berhasil diucapkan kecuali sudah di takdirkan.
Mobil kembali melaju menuju pusat kecamatan, melewati gubuk kayu yang pernah Niken tinggali, malam ini Saga memutuskan menginap di penginapan sebelum akhirnya besok menemui Rasni. Akan menikahkan Dewi dan Alang secepatnya.
"Mengapa menginap di sini?" tanya Niken.
"Mau menginap di rumah Dewi, takut kamu tidak nyaman." jawab Saga, menggenggam tangan Niken sejak tadi, hanya sebentar saja melepaskan, lalu menggandengnya lagi.
Saga menyewa dua kamar bersebelahan. Setelah makan malam di lobi hotel dengan menu seadanya ala desa, keduanya masuk ke kamar masing-masing.
Sudah hampir tengah malam, ponsel Saga berdering heboh, tak mau berhenti sebelum diangkat. Nama Gendis tertera di sana.
"Saga! Kamu pergi tak izin padaku!" bentak Gendis di telepon.
Pintu kamar Saga di ketuk, ia menjawab sambil membuka pintu. "Aku sedang menenangkan diri, rumah itu sudah tak nyaman."
"Terserah, harus cepat pulang kalau tidak mau menyesal." jawab Gendis.
Niken masuk dengan rambut kusut, Saga mematikan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Saga.
"Di sebelah, sangat berisik." ucap Niken.
Benar, di kamar Saga pun masih dapat di dengar betapa berisiknya penghuni kamar depan, tepatnya berhadapan dengan pintu kamar Niken. Selain itu, sejak tadi Saga memperhatikan bahwa banyak anak muda berkeliaran, melirik kamar Niken. Itu pula yang membuat Saga tak juga beristirahat.
"Masuklah." Saga menutup pintunya.
"Aku tidur di bawah juga tidak apa-apa." ucap Niken, takut mengganggu.
Saga melempar ponselnya, kemudian memeluk Niken erat.
"Mengapa harus di bawah, tempatmu sekarang di sampingku."
Niken terkejut, menoleh wajah yang kini mengendus lehernya, Seketika membuat merinding seluruh tubuhnya.
"Tuan Saga, aku_"
Saga terkekeh, mengangkat Niken tidur di ranjang yang berderit. Niken sendiri merasa geli tidur di penginapan seperti ini.
"Ayo tidur, besok kita sibuk." Saga menyelimuti Niken hingga menutup dada, ia sendiri berbaring di samping Niken, memeluknya seperti malam itu.
Niken menahan senyumnya, pelukan Saga malam itu juga yang membuatnya berani hari ini. Kalau hanya kasihan, bukan pada Niken rasa kasihan itu harus diberikan, begitulah yang dipikirkanya.
"Mengapa belum tidur?"
"Hah?" Niken terkejut, Saga memperhatikan dirinya. "Besok, aku harus bekerja." ucap Niken, gugup.
Saga terkekeh, semakin memeluk Niken erat.
"Niken, kalau besok kita menikah, apa kamu sudah siap?"
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis