Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendarat di Munich dan Kejutan Apartemen Sempit
Perjalanan udara selama belasan jam ternyata sanggup membuat seorang Ghea berubah dari gadis enerjik menjadi seonggok kerupuk yang layu karena kelembapan udara kabin. Saat roda pesawat Boeing 777 itu menyentuh landasan Bandara Munich Franz Josef Strauss, Ghea terbangun dengan rambut yang sudah tidak karuan arahnya dan bekas iler yang (untungnya) hanya dia yang tahu.
"Ar... kita udah sampai di Planet Mars ya?" tanya Ghea linglung sambil melihat ke luar jendela yang hanya menampilkan hamparan aspal abu-abu dan langit mendung yang dingin.
Arlan, yang anehnya tetap terlihat rapi dan segar seolah-olah dia baru saja keluar dari salon (padahal dia juga ikut tidur), hanya membetulkan letak kacamatanya. "Ini Munich, Ghea. Suhu di luar 2 derajat Celcius. Gue saranin lo pakai jaket tebal lo sekarang kalau nggak mau jadi patung lilin di pintu keluar."
Begitu pintu pesawat terbuka, udara dingin Eropa langsung menyerbu masuk seperti mantan yang minta balikan: menusuk dan tidak tahu diri.
"WADIDAW! DINGINNYA KOK GINI BANGET?!" teriak Ghea sambil gemetaran, langsung merapatkan jaket bulu pemberian Mama Arlan. "Ini mah bukan dingin lagi, Ar. Ini mah kayak masuk ke dalem freezer toko daging!"
Proses imigrasi berjalan lancar karena Arlan punya dokumen riset resmi dari universitas rekanan. Pak Bagus tidak ikut, karena Papa Arlan ingin melatih kemandirian mereka (dan mungkin karena tiket ke Jerman mahal banget).
Mereka menaiki kereta S-Bahn menuju pusat kota. Ghea menempelkan wajahnya di kaca kereta, matanya berbinar melihat bangunan-bangunan tua yang estetik dan tertata rapi. "Ar, liat deh! Rumahnya kayak di film-film Disney! Gue berasa jadi Cinderella yang lagi magang jadi peneliti."
"Jangan lupa, Cinderella pulang jam dua belas malam. Kalau lo, lo harus selesai verifikasi data riset jam delapan malam tiap hari," sahut Arlan datar sambil mengecek peta digital di ponselnya.
"Duh, Robot! Nggak bisa apa sehari aja nggak bahas data? Kita lagi di Jerman nih! Guten Morgen! Danke! Tuh, gue udah jago bahasa Jermannya!"
"Itu doang mah bocah TK juga bisa, Ghe."
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras energi (dan membuat Ghea hampir menangis karena beratnya koper yang isinya catokan dan mie instan), mereka akhirnya sampai di depan sebuah gedung apartemen tua namun elegan di kawasan Maxvorstadt, dekat dengan universitas.
"Ini kuncinya, nomor 402," Arlan membuka pintu kayu yang berat.
Mereka melangkah masuk. Apartemen itu khas Eropa: langit-langit tinggi, jendela besar, dan lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak. Apartemennya cantik, bersih, dan sangat minimalis. Masalahnya cuma satu...
Ghea memutar tubuhnya 360 derajat. Matanya membelalak. "Ar... bentar. Gue ada masalah sama penglihatan gue atau gimana ya?"
"Masalah apa?" Arlan sedang menaruh tasnya di atas meja.
"Gue cuma liat SATU tempat tidur, Ar. Satu. Single. Kecil. Dan cuma ada satu bantal," Ghea menunjuk ke arah sudut ruangan di mana sebuah kasur empuk dengan selimut putih tebal berada.
Arlan terdiam. Dia segera mengecek email konfirmasi reservasi dari pihak universitas. Wajahnya perlahan berubah warna dari pucat menjadi sedikit kemerahan. "Eh... di sini tertulis... Studio Apartment for shared researchers. Gue pikir shared itu maksudnya ada dua kamar, atau setidaknya dua kasur."
"Terus sekarang gimana?! Gue tidur di mana?! Masa gue tidur di dalem koper?! Atau gue tidur di lantai yang dinginnya bisa bikin ginjal gue beku?!" Ghea mulai panik.
Arlan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tenang, Ghe. Gue bakal tidur di sofa. Sofa ini kelihatannya cukup... eh, keras." Arlan mencoba duduk di sofa kecil di ruang tengah yang panjangnya bahkan tidak sampai satu setengah meter. Kaki jenjang Arlan menjuntai ke lantai dengan posisi yang sangat tidak ergonomis.
"Ar, kalau lo tidur di situ seminggu, tulang punggung lo bakal berubah bentuk jadi tanda tanya," Ghea merasa kasihan. "Lagian ini kan salah sistem. Besok kita komplain ke pihak universitas."
"Malam ini kita bagi wilayah. Kasur itu milik lo. Sofa ini teritori gue. Jangan ada yang melanggar perbatasan negara," ucap Arlan tegas, mencoba menutupi kegugupannya.
Malam pertama di Munich dimulai dengan makan malam yang sangat "Indonesia". Ghea membongkar "Paket Darurat" dari Juna. Bau harum mie instan goreng aroma bawang memenuhi apartemen elit di Munich itu.
"Ar, sruput mienya dong. Biar jetlag-nya ilang," Ghea menyodorkan garpu berisi mie ke arah Arlan.
Arlan menerima suapan itu. Rasanya luar biasa enak di tengah suhu dingin yang menggigit. "Gue nggak nyangka, benda ini bakal jadi penyelamat di hari pertama."
Setelah makan, Ghea bersiap tidur. Dia memakai piyama tebal gambar beruang. Sementara Arlan meringkuk di sofa dengan selimut tipis, mencoba memejamkan mata di tengah derit kayu lantai yang terdengar horor.
"Ar... lo nggak kedinginan?" tanya Ghea dari balik selimut kasur yang empuk.
"Enggak. Suhu tubuh gue stabil," bohong Arlan. Padahal giginya sudah gemertak menahan dingin karena pemanas ruangan di apartemen tua itu butuh waktu lama untuk panas.
"Ar, kalau lo kedinginan, lo boleh kok... eh... maksudnya... pindah ke karpet bawah kasur. Di situ lebih deket sama pemanas," ucap Ghea malu-malu.
"Nggak perlu, Ghea. Tidur sana. Besok kita harus ke kampus jam delapan pagi. Profesor Hans nggak suka orang yang telat."
Ghea akhirnya terlelap karena kelelahan. Tapi Arlan? Dia tidak bisa tidur. Bukan cuma karena sofanya keras dan dingin, tapi karena dia bisa mendengar suara napas teratur Ghea dari jarak yang sangat dekat. Arlan menatap langit-langit apartemen.
"Gue di Jerman. Sama Ghea. Di apartemen yang cuma punya satu kasur," bisik Arlan pada dirinya sendiri. "Variabel ini bener-bener di luar kendali kalkulasi gue."
Tiba-tiba, terdengar suara krrrkkk... krrrkkk...
Ghea mengigau. "Ar... jangan... jangan ambil catokan gue... bratwurst-nya satu... sausnya banyakin..."
Arlan tersenyum kecil di kegelapan. Dia bangun sebentar, berjalan ke arah kasur, dan merapikan selimut Ghea yang hampir merosot. "Dasar Tikus Akreditasi. Udah sampai Jerman juga mimpinya tetep makanan."
Keesokan paginya, mereka disambut oleh salju pertama musim itu yang turun perlahan di luar jendela. Ghea melompat kegirangan seperti anak kecil.
"SALJUUUU! AR! LIAT! ADA SALJU BENERAN!" Ghea langsung berlari ke jendela.
Namun, kegembiraan itu terhenti saat mereka sampai di kampus Technische Universität München (TUM). Di depan laboratorium, mereka bertemu dengan seorang mahasiswi Jerman berambut pirang yang sangat cantik, memakai jas lab, dan membawa tumpukan jurnal.
"Ah, you must be Arlan from Indonesia? I'm Elena, your research partner here. Professor Hans told me everything about your brilliant work," ucap gadis itu dengan aksen Jerman-Inggris yang sangat seksi.
Elena kemudian melirik ke arah Ghea dengan tatapan bingung. "And... who is this? Your little sister?"
Ghea langsung membusungkan dadanya (meskipun terhalang jaket tebal). "I am his official research assistant! And I am NOT his little sister!"
Elena tersenyum remeh. "Assistant? Interesting. Can you help me calibrate this mass spectrometer, then?"
Ghea melongo. Mass apa tadi? Spektro-melon?
Arlan melihat situasi mulai memanas. Dia tahu, tantangan di Jerman bukan cuma soal kasur sempit atau bahasa, tapi juga soal saingan intelektual yang levelnya jauh di atas Shinta.
Ghea menatap Arlan, seolah bilang: Robot, jagain gue! Cewek pirang ini auranya lebih serem daripada soal Fisika tersulit lo!