NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Setiap Akhir adalah Awal

Pada malam hari peresmian pameran fotografi Alya, seluruh galeri seni lokal dipenuhi oleh tamu undangan – mulai dari seniman ternama, pemerintah daerah, hingga anak-anak muda dari berbagai komunitas kreatif di Jawa Timur. Pameran yang diberi judul “Kehidupan di Balik Angin dan Awan” mendapatkan sambutan yang luar biasa. Setiap foto yang dipajang menceritakan cerita yang dalam tentang kehidupan masyarakat di pegunungan – bagaimana mereka bertahan hidup dengan kondisi alam yang keras namun tetap menjaga kebersamaan dan keindahan budaya mereka.

Arga datang bersama tim dari kantornya dan beberapa siswa dari sekolah seni di Batu. Ia berdiri di depan salah satu foto yang menjadi favoritnya – foto seorang nenek yang sedang membuat kerajinan tangan dari anyaman bambu, dengan senyum yang penuh kedamaian di wajahnya. Di bawah foto tersebut tertulis caption: “Kreativitas bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Ia ada di dalam setiap orang yang memiliki hati untuk melihat keindahan dalam hal-hal sederhana.”

“Kamu suka foto ini ya, Arga?”

Arga menoleh dan melihat Alya berdiri di belakangnya, mengenakan gaun panjang warna biru muda yang elegan. Wajahnya bersinar dengan kebahagiaan dan kebanggaan yang jelas. Di sisinya, Sultan berdiri dengan jas gelap yang rapi, memberikan dukungan penuh pada istrinya.

“Ya, Alya,” jawab Arga dengan senyum. “Foto ini sangat mendalam. Ia berbicara banyak tentang arti kehidupan dan kreativitas.”

“Foto ini aku ambil saat melakukan kunjungan ke desa di lereng Gunung Semeru,” ucap Alya, mulai menjelaskan tentang proses pembuatan karya tersebut. “Nenek itu bernama Mbok Sri. Dia telah membuat kerajinan anyaman bambu selama lebih dari empat puluh tahun, dan kini dia mengajarkan keterampilan itu kepada anak-anak muda di desanya agar budaya tersebut tidak punah. Aku merasa dia adalah contoh nyata tentang bagaimana kreativitas bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.”

Saat Alya menjelaskan dengan penuh semangat, Arga melihat bagaimana Sultan memperhatikan istrinya dengan penuh cinta dan perhatian – selalu memberikan dukungan ketika Alya perlu mengambil napas atau ketika ada tamu yang datang untuk memberikan pujian. Ia melihat betapa cocoknya kedua orang tersebut, bagaimana mereka saling melengkapi dan membantu satu sama lain untuk tumbuh. Dan dalam hati, Arga merasa sangat bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat untuk melepaskan Alya dengan tulus.

Di tengah acara, Alya mengajak Arga untuk naik ke atas panggung. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang telah mendukungnya dalam menyusun pameran ini, termasuk Arga yang telah membantu dalam hal promosi dan pendataan kunjungan.

“Dan ada seseorang yang ingin aku ucapkan terima kasih secara khusus,” ucap Alya saat mengambil mikrofon, menatap arah Arga dengan mata yang penuh rasa hormat. “Arga Pratama – orang yang pertama kali membuatku merasa bahwa karya fotografiku berharga. Meskipun perjalanan kita bersama tidak berlanjut hingga hari ini, dia telah mengajarkanku banyak hal tentang cinta, kehilangan, dan pentingnya tetap kuat dalam mengejar impian kita. Tanpa dia, mungkin aku tidak akan menjadi fotografer yang ada di depanmu hari ini.”

Suara tepuk tangan memenuhi ruangan galeri. Arga merasa sedikit malu tapi juga sangat bangga. Ia berdiri dan memberikan senyum pada Alya, dengan penuh rasa syukur atas semua yang telah mereka lalui bersama.

Setelah acara berakhir dan tamu mulai pulang, Arga, Sultan, dan Alya duduk bersama di teras luar galeri yang menghadap pemandangan kota Malang yang diterangi oleh cahaya malam. Mereka membicarakan banyak hal – tentang masa depan pameran Alya yang akan dilanjutkan ke beberapa kota di Indonesia, tentang perkembangan kerja sama antara kantor Arga dengan sekolah seni di Batu, hingga tentang rencana Sultan untuk mengembangkan program pendukung bagi para pelaku usaha kreatif di Jawa Timur.

“Kamu tahu tidak, teman-teman,” ucap Sultan sambil memegang tangan Alya. “Hidup ini seperti sebuah buku yang terus ditulis setiap harinya. Kadang-kadang kita menemukan halaman yang menyakitkan atau membuat kita bingung, tapi setiap halaman tersebut adalah bagian penting dari cerita kita. Dan kadang-kadang, kita perlu mengembalikan buku yang telah selesai kita baca agar kita bisa mulai membaca bab baru yang lebih indah.”

Arga mengangguk, memikirkan buku yang pernah ia kembalikan pada Alya beberapa bulan yang lalu – sebuah buku yang menjadi simbol dari pelepasannya dan awal dari perubahan besar dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa cinta tidak selalu harus berakhir dengan pernikahan atau hubungan romantis yang abadi. Kadang-kadang, cinta terbaik adalah cinta yang membuat kita bisa melepaskan orang yang kita cintai dengan penuh kasih, sehingga mereka bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya – dan pada saat yang sama, memungkinkan kita untuk menemukan jalannya sendiri dalam hidup.

Saat mereka berpisah di pintu galeri, Alya memberikan sebuah amplop kecil pada Arga. “Ini untukmu,” ucapnya dengan senyum lembut. “Karya fotografiku yang aku hasilkan dari lokasi yang sama dengan foto yang kamu simpan di meja kerjamu. Aku ingin kamu memiliki yang baru – sebagai tanda bahwa kita semua telah melangkah maju dan menemukan kebahagiaan kita masing-masing.”

Arga menerima amplop dengan hati-hati. Setelah Sultan dan Alya pergi, ia membukanya dan melihat sebuah foto pemandangan kota Malang saat matahari terbit – warna-warni langit yang indah dengan latar belakang pegunungan yang megah. Di bagian belakang foto tertulis tulisan tangan Alya: “Setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru. Semoga kamu selalu menemukan keindahan dalam setiap langkah perjalanan hidupmu.”

Arga menyimpan foto dengan hati-hati di dalam tasnya. Di perjalanan pulang, ia melihat kota Malang yang semakin ramai dengan aktivitas malam hari – lampu-lampu yang berkelap-kelip, orang-orang yang sedang berkumpul bersama keluarga dan teman, serta kehidupan yang terus berjalan dengan penuh semangat. Ia berpikir tentang semua hal yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir – dari saat ia menerima undangan pernikahan Sultan dan Alya hingga saat ini, di mana ia telah menemukan tujuan baru dalam hidupnya.

Ia menyadari bahwa cinta sejati memang ada – tidak hanya dalam bentuk hubungan romantis antara dua orang, tapi juga dalam bentuk persahabatan yang tulus, dukungan yang tanpa pamrih, dan kesediaan untuk membantu orang lain menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Dan untuk Arga, itu adalah pelajaran paling berharga yang pernah ia dapatkan dari seluruh perjalanan hidupnya – sebuah pelajaran yang akan selalu ia bawa dalam setiap langkah yang ia tempuh ke depannya.

Beberapa minggu kemudian, foto pemandangan Malang saat matahari terbit yang diberikan Alya terpajang di dinding kantor Arga, tepat di sebelah foto-foto karya anak-anak muda dari sekolah seni Batu. Setiap pagi, ketika ia datang bekerja, gambar itu selalu mengingatkannya akan makna dari setiap langkah yang ia tempuh.

Program kerja sama dengan sekolah seni berjalan dengan sangat lancar. Anak-anak muda mulai menunjukkan hasil karya yang luar biasa – dari fotografi dokumenter hingga produk kreatif berbasis budaya lokal yang siap memasuki pasar. Arga bahkan menerima undangan untuk berbagi pengalaman di sebuah konferensi nasional tentang kewirausahaan kreatif di Jakarta.

Saat ia sedang menyiapkan materi presentasinya, teleponnya berbunyi. Ada pesan dari Sultan: “Arga, Alya dan aku baru saja mendapatkan kabar baik – kami akan menjadi orang tua dalam beberapa bulan lagi. Kami ingin kamu menjadi salah satu orang pertama yang tahu. Terima kasih telah menjadi bagian penting dari perjalanan kami.”

Arga tersenyum lebar, merasakan hati penuh dengan kebahagiaan. Ia mengetik balasan sambil melihat ke arah foto di dindingnya – sebuah bukti bahwa cinta yang tulus memang akan selalu menemukan jalan untuk berkembang dan memberikan berkah bagi semua orang yang terlibat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!