NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Cinta Murni
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32.

Kios kini kembali sepi. Hanya satu dua mahasiswa yang datang membeli makanan atau hanya sekedar membeli minuman dan roti.

Rizky terlihat membersihkan meja kerjanya.. memasukkan lap top kios ke dalam laci mejanya.

“Aku ke kampus sebentar,” suaranya tegas didengar oleh lima karyawannya.

“Ya Mas, hati hati.” Jawab ke lima karyawannya hampir bersamaan.

“Kalian bisa istirahat secara bergilir, di lantai dua.” Ucap Rizky sambil bangkit berdiri. “Kalau Mbak Aurley sedang istirahat, transaksi dicatat di buku dulu.” Lanjutnya sambil sekilas menoleh ke Aurely yang masih fokus di depan layar kasir.

“Siap Mas.”

Aurely akhirnya mengangkat wajahnya saat Rizky benar-benar melangkah keluar kios. Suara mobilnya menjauh pelan, menyatu dengan jalan desa yang kembali lengang.

Ia menutup layar kasir, mencatat sisa transaksi terakhir di buku, lalu berdiri. Bahunya terasa berat, tapi bukan berat yang menyesakkan.

“Aku mau istirahat sebentar San.” Ucapnya pada Santi yang duduk sambil minum es teh.

“Iya Rel, nanti aku susul.” Jawab Santi.

Aurely melangkah ke tangga samping kios, naik perlahan ke lantai dua. Di atas, udara terasa lebih longgar. Ada tiga kamar di lantai dua. Di masing pintu ada papan kecil, tertulis. Karyawan Wanita, Karyawan Pria, Pimpinan.

Aurely belum masuk ke kamar karyawan wanita. Ia berdiri di balkon yang menghadap jalan desa. Dari sana, ia bisa melihat hamparan rumah warga, pepohonan yang tumbuh tanpa aturan rapi, hamparan sawah, jalan sempit yang membelah desa. Kampus di desa itu tampak di pandangan matanya.

Ia menatapnya lama. Kampus.. dunia itu masih ia rindukan.

Bayangan koridor fakultas yang selalu ramai, suara langkah mahasiswa yang tergesa, papan pengumuman yang penuh selebaran, dan rutinitas pagi yang dulu sering ia keluhkan… tapi kini terasa begitu jauh.

Ia memeluk lengannya sendiri.

“Pengen balik kuliah…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Bukan karena ia tidak bersyukur berada di sini. Tapi ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal di dunia kampusnya, di ruang kelas, di meja panjang perpustakaan, ruang ruang seminar, di mimpi yang dulu ia susun dengan rapi.

Angin siang menyentuh wajahnya. Aurely menghembuskan napas panjang, membiarkan rindu itu hadir tanpa ditolak. Ia tahu, rindu bukan tanda lemah. Rindu hanya penanda bahwa ia pernah punya harapan, dan harapan itu belum sepenuhnya mati.

Kedua matanya mulai berkaca kaca. “Tapi Ayah dan aku belum punya uang.” Ucapnya lirih, “dan aku mungkin belum bisa bagi waktu seperti Mas Rizky.”

Langkah kaki terdengar dari belakang. Salah satu karyawan pria naik untuk istirahat, lalu tersenyum sopan dan memberi ruang. Aurely membalas senyum kecil.

Aurely masih bersandar di pagar balkon, menatap langit yang mulai berubah warna.

Mungkin ia belum bisa kembali ke dunia kampusnya, sekarang. Mungkin jalannya memang memutar.

Tapi hari ini, di kios kecil di desa itu , ia belajar satu hal: hidup tidak selalu berjalan sesuai jadwal kampus. Kadang ia berhenti dulu, bekerja, menguat, menyembuhkan diri—baru kemudian melanjutkan.

“Pelan juga nggak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri.

Di saat Aurely membalikkan tubuhnya akan melangkah menuju ke kamar untuk istirahat. Suara langkah kaki dari tangga kembali terdengar. Dan tak lama kemudian sosok Santi muncul.

“Rel, Kok masih berdiri di situ,” ucap Santi sambil terus melangkah, “jangan takut ada CCTV di sini kok. Mas Yatno dan Mas Lutfi yang kerja di sini juga baik baik orangnya kok.”

“Iya San, aku juga tahu Mas mas yang kerja di sini baik baik.” Ucap Aurely sambil tersenyum.

Santi sejenak menatap wajah Aurely. Ia melihat kedua mata Aurely yang masih basah, “kamu habis menangis ya? Capek?” tanya Santi lalu menggandeng tangan Aurely diajak masuk ke dalam kamar istirahat karyawan wanita.

Di dalam kamar itu ada satu kasur yang tampak bersih dan baru tergelar di lantai keramik.

Santi langsung duduk selonjor bersandar santai di dinding. “Aku juga capek Rel, tapi hati nyaman kerja di sini.” Ucapnya sambil menatap Aurely yang juga ikut duduk santai, “he he dan di sini banyak vitamin A Rel, cuci mata lihat mahasiswa mahasiswa. “ lanjut Santi sambil membaringkan tubuhnya di kasur.

Aurely tersenyum kecil mendengar ocehan Santi, tapi senyumnya tak bertahan lama. Ia menarik napas pelan, lalu memeluk lututnya sendiri.

“San…” suaranya ragu, seolah sedang menimbang keberanian. “Aku tuh sebenarnya… pengen balik kuliah, kalau melihat mereka dan kampus.”

Santi yang semula selonjoran langsung mengangkat kepala. Ia memiringkan tubuhnya, menatap Aurely lebih serius. “Balik kuliah?” ulangnya pelan, bukan terkejut—lebih seperti memastikan.

“Iya,” Aurely mengangguk. “Tadi aku lihat kampus dari balkon , rasanya dada aku aneh. Kayak… ada yang manggil.”

Ia tersenyum getir. “Aku kangen duduk di kelas, kangen ngerjain tugas sambil ngeluh, kangen capeknya jadi mahasiswa.”

Santi terdiam sejenak, membiarkan Aurely bicara tanpa dipotong.

“Tapi aku juga sadar posisi aku sekarang,” lanjut Aurely lirih. “Ayah masih berjuang, keuangan belum stabil. Aku kerja di sini juga buat bantu. Aku takut… kalau aku maksain kuliah, aku malah ninggalin tanggung jawab.”

Matanya kembali berkaca-kaca. Namun pandangan matanya menerawang jauh..

Santi bangkit duduk, lalu menepuk kasur di sampingnya. Ia mendekat, bahunya bersentuhan dengan bahu Aurely.

“Rel,” katanya pelan tapi tegas, “kan ada beasiswa, kamu ajukan saja. Banyak kok teman temanku yang dapat.”

Aurely menoleh.

“Kalau aku nggak bisa, karena aku sudah capek kalau disuruh mikir pelajaran. Tapi kalau kamu berhenti kuliah bukan karena malas,” lanjut Santi. “Kamu berhenti karena hidup lagi minta kamu bertahan di tempat lain. Itu beda.”

Ia tersenyum kecil. “Dan soal balik kuliah… mimpi nggak punya tanggal kedaluwarsa, Rel.” Ucapnya mantap, “Kamu bisa kuliah di kampus sini atau di Universitas Terbuka.”

Aurely mengusap sudut matanya. “Tapi aku takut berharap. Takut nggak bisa bagi waktu.”

“Harap dikit nggak apa-apa,” jawab Santi ringan. “Nggak usah langsung jauh. Hari ini cukup bilang ke diri sendiri: aku masih mau. Itu aja.”

Aurely terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi rasanya menghangatkan.

“Mas Rizky bisa kuliah sambil kerja,” gumam Aurely. “Aku tahu tiap orang beda, tapi kadang aku pengen bisa sekuat itu.”

Santi terkekeh kecil. “Rel, orang kuat itu bukan yang paling sibuk. Tapi yang tetap jalan walau pelan.”

Ia menoleh sambil tersenyum nakal. “Dan siapa tahu, suatu hari nanti kita bukan cuma cuci mata lihat mahasiswa… tapi kamu balik jadi salah satunya.”

Aurely tertawa kecil, kali ini lebih ringan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap langit-langit kamar.

“Terima kasih ya, San,” ucapnya pelan. “Udah mau dengerin.”

Santi menguap panjang. “Curhat mah gratis. Yang bayar nanti kalau kamu wisuda, traktir aku.”

Aurely tersenyum, matanya terpejam perlahan.

Di kamar kecil lantai dua kios itu, di antara lelah dan ragu, sebuah harapan kecil kembali menemukan tempatnya untuk bernapas.

Wajahnya lebih tenang. Rindu itu masih ada, tapi tidak lagi menekan dada. Ia siap turun lagi ke bawah, ke meja kasir, ke pekerjaan, ke hari yang sedang ia jalani sekarang.

Saat Aurely sudah kembali di kursi kasir nya.. dari arah depan kios, satu orang laki laki berjalan tergesa masuk ke dalam kios.

“Mana pemilik kios ini?” tanyanya menatap tajam Aurely.

1
Siti Naimah
ibunya Rizky Bu Retno kelihatan nya galak ya? semoga saja Aurel aman.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
Siti Naimah
penasaran banget deh...kok ada aja yang tahu kehidupan keluarga Aurel..
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
Siti Naimah
itulah Aurel.. biarpun hidup di desa namanya peluang untuk maju tetep saja ada.makanya harus ikhtiar dan selalu optimis 💪
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
pokok e ttp smgt mbk yu
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
ahhhh tepat sasaran deh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hahahahha hayo mulai deh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
lha tetbawa juga hadeh rel knp suka kali gyu dikit2 mewek sih jd lebih kuat napa
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hahh saiapa itu
Ranti Calvin
👍
Siti Naimah
nha..Aurel sekarang kamu dapat ilmu kan?tentang kisah hidupnya Bu Wiwid.
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tuuh kan... ceu @Ai Emy Ningrum bener kan.. 🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
lha ada apa cari2 pemilik
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
ehh .. ngaku juga
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hayao siala tuhh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
wehh lucu ini orng dia di bantu mlh ngejek pula hadeh dasar org muna wis angel
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
healah sastro2 kok ya segituya
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
heheh mulut orang mah suka gtu rel
harus kuat dan tahan banting
Siti Naimah
wah Aurel sama Rizky kayaknya mulai akrab deh ..semoga aja Aurel bisa segera melupakan pacarnya yg tidak baik itu😍
Nancy Nurwezia
apa yang diketik aurel... bikin penasaran ya thor..
Nancy Nurwezia
santi nya pulang duluan ya.. kok nggak nunggu aurel..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!