Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 : Saat Bumi Mendengarkan.
[PoV Shen Yu]
Aku duduk di beranda rumah kayu, dibungkus kain tipis yang katanya cukup untuk bayi yang sehat.
Menurutku itu kebohongan kolektif orang dewasa yang tidak pernah harus duduk diam selama berjam-jam sambil menatap dunia.
Dari posisiku, aku bisa melihat kebun kecil di belakang rumah.
Yu Yan ada di sana.
Dia berlutut di tanah, punggungnya sedikit membungkuk, rambutnya diikat sederhana agar tidak mengganggu pandangan. Gerakannya pelan, hampir ragu, seperti seseorang yang terbiasa disakiti oleh hal-hal yang seharusnya jinak.
Aku memperhatikannya bukan karena bosan.
Aku memperhatikannya karena … ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Qi di lembah tetap tenang, seperti biasanya. Aliran Qi bumi stabil, berlapis, tua. Tapi di sekitar Yu Yan, ada perubahan kecil—sangat kecil—mungkin tidak akan disadari siapa pun yang tidak pernah mati sekali dan lahir kembali dengan indera berlebihan.
Ketika tangannya menyentuh Zi Xing Cao. Aku merasakannya. Bukan lonjakan. Bukan ledakan.
Justru sebaliknya.
Seperti suara yang tiba-tiba berhenti di tengah ruangan ramai.
Qi di sekitar dadanya yang biasanya berdenyut tidak beraturan, gelap dan lapar kini tidak bereaksi.
Aku mengerjap.
Oh ...
Menarik.
Yu Yan membeku, dan aku bisa menebak apa yang dia rasakan. Biasanya, pada titik ini, wajahnya akan menegang. Bahunya akan kaku. Napasnya akan terhenti sepersekian detik sebelum rasa sakit datang.
Tapi tidak sekarang.
Qi bumi tidak ditarik ke arahnya. Tidak disedot. Tidak diserang. Ia hanya … mengalir seperti biasa.
Dan simpul itu.
Untuk pertama kalinya sejak aku menyadarinya.
Diam.
Yu Yan duduk perlahan di tanah. Gerakannya hati-hati, seolah takut jika dunia menyadari apa yang baru saja terjadi dan memutuskan untuk menghukumnya karena berani berharap.
Dia meletakkan kedua tangannya ke tanah.
Aku menahan napas, bukan karena tegang tapi karena refleks lama dari kehidupan sebelumnya.
Jangan ganggu eksperimen yang menjanjikan.
Qi bumi mulai merespons.
Bukan pada Yu Yan.
Pada niatnya.
Tidak ada teknik. Tidak ada metode. Tidak ada pola sirkulasi yang dipaksakan. Dia bahkan tidak mencoba menyerap apa pun. Dia hanya … hadir.
Dan bumi menyukai itu.
Aku bisa merasakan aliran Qi hijau tua itu melewati kebun, menenangkan, berat, penuh kesabaran. Ia tidak naik ke meridian. Tidak masuk ke dantian. Ia hanya lewat, seperti sungai yang mengizinkan batu kecil berada di dasarnya tanpa perlu memindahkannya.
Simpul gelap itu tidak bergerak.
Tidak lapar.
Tidak defensif.
Seolah ini bagian yang paling mengganggu sekaligus mengesankan. Seolah simpul itu tidak mengenali situasi ini sebagai ancaman.
“… Hah,” gumamku pelan, suara bayi yang terdengar tidak berarti bagi siapa pun kecuali diriku sendiri.
Selama ini, semua orang termasuk Yu Yan menganggap simpul itu sebagai musuh.
Padahal mungkin … Ia hanya makhluk yang salah diberi makanan.
Yu Yan membuka matanya perlahan. Wajahnya tidak berubah drastis. Tidak ada pencerahan dramatis. Tidak ada air mata.
Tapi bahunya turun sedikit.
Itu cukup.
Aku menyandarkan kepalaku ke tiang kayu, membiarkan matahari menyentuh wajahku.
Baiklah.
Kalau ini jalannya, maka ini bukan soal menghilangkan simpul itu.
Ini soal mengajarinya cara hidup.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami tiba di lembah ini, aku yakin pada satu hal.
Yu Yan tidak lagi berjalan sendirian melawan dirinya sendiri. Dan dunia akhirnya berhenti menyerangnya balik.